Program Hamil

6 Oktober 2021

Inseminasi Buatan untuk Membantu Cepat Hamil, Bagaimana Caranya?

Cari tahu penjelasannya berikut ini, Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Defara Millenia
Disunting oleh Amelia Puteri

Berbagai upaya akan dilakukan pasangan untuk memiliki keturunan, baik melalui cara alami hingga bantuan teknologi, seperti inseminasi buatan.

Melansir Human Reproduction, inseminasi buatan atau inseminasi artifisial adalah metode perawatan kesuburan menggunakan pemasukkan sel sperma secara langsung ke serviks atau rahim dengan tujuan memperoleh kehamilan.

Sel sperma yang digunakan juga terlebih dahulu “dipilah” dan dipilih yang terbaik agar dapat meningkatkan peluang kehamilan.

Jika Moms masih belum mengetahui banyak hal tentang inseminasi buatan, simak penjelasannya lebih lanjut berikut ini.

Baca Juga: Benarkah Batuk Bisa Jadi Tanda Gagal Jantung? Kenali Gejala Lain dan Pengobatannya

Prosedur Inseminasi Buatan

Prosedur Inseminasi Buatan

Foto: Orami Photo Stock

Melansir American Pregnancy Association, tingkat keberhasilan inseminasi buatan apabila dilakukan secara rutin mencapai 20%.

Untuk menjalani inseminasi buatan, kondisi Moms harus dipastikan dalam keadaan sehat, terutama kondisi tuba falopinya.

Inseminasi buatan sebaiknya tidak dilakukan pada wanita yang memiliki kelainan pada tuba falopi, seperti tersumbatnya tuba falopi akibat radang panggul.

Berikut ini prosedur melakukan inseminasi buatan:

1. Pemeriksaan Kesehatan

Sebelum menjalani prosedur inseminasi buatan, yang harus Moms lakukan pertama kali adalah menemui dokter untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.

Dalam tahap ini, dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan. Pemeriksaan seperti tes kesuburan harus dilakukan bersama dengan pasangan untuk mengetahui kondisi kesuburan kedua belah pihak.

Dari pihak pria, dokter akan memeriksa kualitas dan kuantitas sperma. Sementara itu, dari pihak wanita akan diperiksa kemampuan ovulasinya.

Kemungkinan, dokter juga akan memeriksa kondisi tuba falopi. Pasalnya, kesehatan tuba falopi menjadi salah satu kunci berhasil atau tidaknya inseminasi buatan.

Saluran penghubung antara ovarium dan rahim ini harus dalam kondisi terbuka (tidak tersumbat) dan sehat.

Tidak hanya itu, dokter juga akan menilai kadar hormon Moms dan pasangan untuk mengetahui apakah semua hormon berada pada angka yang normal.

Dokter juga akan memeriksa apakah rahim Moms cukup kuat sebagai tempat tinggal janin selama masa kehamilan nanti.

2. Stimulasi ovarium

Setelah melalui masa pemeriksaan kondisi kesehatan, kini saatnya memasuki fase stimulasi ovarium.

Dokter akan memberikan obat kesuburan sambil memeriksa kondisi Moms secara rutin melalui ultrasound dan tes darah.

Obat kesuburan minum yang umumnya disarankan dokter pada saat prosedur IUI adalah clomid atau letrozole.

Clomid mendorong pelepasan hormon dari kelenjar pituitari yang merangsang tubuh untuk melepaskan hormon luteinizing (LH) dan hormon perangsang folikel.

Hormon tersebut membantu mendorong pelepasan telur dan juga mendorong telur untuk matang. Namun, dokter mungkin juga memberikan Moms obat-obatan lain pada saat menjalani program inseminasi buatan.

Misalnya, human chorionic gonadotropin (HCG) dalam sediaan injeksi.

Ini merupakan replikasi hormon di dalam tubuh yang bisa memicu folikel ovarium wanita untuk melepaskan sel telur.

Stimulasi ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah telur yang diproduksi ovarium. Semakin banyak telur yang bisa diambil dan dibuahi selama prosedur, semakin besar pula kesempatan Moms untuk hamil.

Selama stimulasi ovarium ini, dokter akan memantau pertumbuhan dan perkembangan folikel dengan cara melakukan tes darah dan USG setiap beberapa hari.

Tes darah dilakukan untuk mengetahui kadar estradiol. Sementara itu, USG dilakukan untuk memastikan apakah Anda menghasilkan sel telur yang sehat atu tidak.

Pemantauan sangat penting dilakukan untuk menentukan seberapa banyak dosis obat, apakah perlu ditingkatkan atau diturunkan, serta menentukan kapan telur matang.

Maka dari itu, dokter bisa menentukan kapan waktu yang paling tepat untuk menyuntikkan sperma ke dalam tubuh agar terjadi pembuahan.

Baca Juga: 14 Cara Mengusir Tawon di Pohon dan di Rumah, Aman dan Mudah

3. Mempersiapkan sperma

Langkah selanjutnya dari inseminasi buatan adalah persiapan sperma.

Dalam tahapan ini, pria akan memberikan sampel air mani atau bisa juga menggunakan donor sperma yang telah disiapkan.

Sebelum disuntikkan ke dalam vagina, sampel sperma akan dicuci terlebih dahulu. Proses pencucian sperma ini sebenarnya merupakan pemilihan sel sperma yang sehat dan tidak.

Dalam proses ini, sperma yang sehat akan dipisahkan dengan sperma yang kualitasnya buruk. Sperma yang baik adalah sperma yang memiliki konsentrasi dan motilitas (pergerakan) yang tinggi untuk mencapai telur.

Proses pencucian sperma ini juga dilakukan untuk menghilangkan bahan kimia beracun yang mungkin akan bereaksi negatif oleh tubuh Anda.

Sperma yang kurang bagus juga berpotensi mengganggu proses pembuahan sel telur.

Apabila sampel spema tidak terlalu banyak tetapi kualitasnya sempurna, proses pembuahan akan lebih mudah sehingga ada peluang terjadi kehamilan.

4. Memasukkan sperma

Proses inseminasi buatan akan dilakukan pada masa subur atau ovulasi.

Biasanya sekitar 24-36 jam setelah lonjakan hormon LH yang mengindikasikan ovulasi akan segera terjadi. Saat sel sperma telah siap, proses inseminasi akhirnya bisa dimulai.

Biasanya, proses ini membutuhkan waktu selama 1-2 jam.

Dokter akan memasukkan kateter yang sangat kecil, ramping, dan juga fleksibel ke dalam rahim melalui vagina dan leher rahim Moms.

Jika alat tersebut telah sampai di dalam rahim, dokter akan melepaskan sel sperma dengan harapan sel tersebut berhasil membuahi sel telur.

Inseminasi buatan ini berlangsung singkat dan relatif tidak menimbulkan rasa sakit. Banyak wanita menggambarkannya mirip dengan pap smear.

Moms mungkin akan mengalami kram selama prosedur dan pendarahan ringan sesudahnya.

Dokter juga akan meminta Moms untuk berbaring selama sekitar 15 hingga 45 menit untuk memberi kesempatan sperma mulai bekerja. Setelah itu, Moms bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

Baca Juga: Mengenal Induksi Ovulasi, Alternatif Program Hamil Selain Bayi Tabung

Jenis Inseminasi Buatan

Salah satu contoh inseminasi buatan yang sudah sering digunakan oleh banyak pasangan di berbagai belahan dunia tidak lain adalah IUI (inseminasi intrauterin).

Namun, selain IUI, sebenarnya masih ada pula beberapa jenis inseminasi buatan lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat Moms simak di bawah ini.

Baca Juga: Saya Sukses Hamil Alami, setelah 7 Tahun Menunggu dan Hampir Inseminasi

1. Intrauterine Insemination (IUI)

4 Inseminasi Buatan Untuk Membantu Cepat Hamil 1

Foto: invitra.com

IUI merupakan inseminasi buatan yang umumnya direkomendasikan bagi pasangan dengan infertilitas faktor pria, infertilitas akibat endometriosis, dan infertilitas dengan penyebab yang tidak diketahui.

Selain itu, wanita yang memiliki lendir serviks sangat kental yang mencegah sperma untuk mencapai sel telur juga dapat menjalani IUI.

Sebuah penelitian Journal of Andrology membuktikan bahwa, tingkat keberhasilan kehamilan untuk IUI lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah siklus ICI yang sama.

Hal ini kemungkinan karena penempatan dan persiapan sperma yang lebih terkonsentrasi secara langsung.

“Untuk memulai proses IUI, seorang wanita harus minum obat untuk meningkatkan kesuburan. Dokter akan menyiapkan sampel semen dengan memisahkan sperma dari cairan mani,” kata Tanmoy Mukherjee, MD, seorang ginekolog dan ahli endokrinologi reproduksi yang berbasis di New York, seperti dikutip dari Parents.

“Selanjutnya, dokter akan mencampur sperma dengan cairan khusus, kemudian memasukkannya melalui vagina menggunakan kateter. Ketika kateter mencapai rahim, dokter akan mengeluarkan sperma di dalamnya,” lanjutnya.

Menurut Dr. Mukherjee, berikut merupakan rata-rata tingkat keberhasilan IUI pada pasangan dengan beberapa kondisi yang berbeda:

  • 8-10% untuk pasangan dengan infertilitas faktor pria.
  • 5,5% untuk pasangan dengan infertilitas faktor tuba.
  • 18-20% untuk pasangan dengan infertilitas yang penyebabnya tidak diketahui.

Baca Juga: 6 Penyebab Telinga Bayi Bau, Jangan Dianggap Sepele!

Prosedur ini dapat digunakan untuk berbagai jenis masalah kesuburan.

Dalam kasus yang melibatkan ketidaksuburan pria, ini sering digunakan ketika jumlah sperma sangat rendah atau ketika sperma tidak cukup kuat untuk berenang melalui serviks dan naik ke saluran tuba.

Ketika masalahnya adalah infertilitas wanita, terkadang dilakukan jika Moms memiliki kondisi yang disebut endometriosis atau memiliki sesuatu yang tidak normal pada organ reproduksi Moms.

Metode ini mungkin juga tepat jika lendir serviks Moms tidak reseptif.

Itu berarti lendir yang mengelilingi serviks mencegah sperma masuk ke rahim dan saluran tuba. Inseminasi buatan memungkinkan sperma melewati lendir serviks sepenuhnya.

Dokter juga sering menyarankan inseminasi buatan ketika mereka tidak dapat mengetahui alasan pasangan tidak subur.

2. Intravaginal Insemination (IVI)

4 Inseminasi Buatan Untuk Membantu Cepat Hamil 2

Foto: shouryatesttube.com

Mengutip Verywell Family, IVI adalah jenis inseminasi buatan yang paling sederhana dan melibatkan penempatkan sperma ke dalam vagina seorang wanita.

Metode inseminasi ini dapat digunakan pada wanita yang tidak memiliki masalah kesuburan apa pun. Termasuk wanita yang sering mengalami rasa sakit ketika berhubungan seksual (bukan karena masalah medis).

Sayangnya, IVI memiliki tingkat keberhasilan yang cenderung lebih rendah daripada IUI sehingga tidak umum digunakan dan lebih sering dilakukan di rumah masing-masing pasien.

Saat menjalani IVI, penting untuk menggunakan sperma yang memiliki motilitas dan morfologi yang baik.

Sperma yang "mentah" atau tidak dicuci aman untuk digunakan dalam IVI, namun dapat mengurangi peluang Moms untuk hamil karena sampel mentah mungkin mengandung sperma berkualitas lebih rendah.

Dengan menggunakan sperma yang disiapkan melalui pemurnian sperma, Moms mungkin dapat meningkatkan peluang kehamilan karena prosedur ini memisahkan sel sperma yang mati atau lambat.

Baca Juga: Apa Bedanya Bayi Tabung dan Inseminasi Buatan?

3. Intracervical Insemination (ICI)

4 Inseminasi Buatan Untuk Membantu Cepat Hamil 3

Foto: ivfcentreinindia.com

Inseminasi Intracervical (ICI) adalah salah satu prosedur inseminasi buatan tertua dan paling umum, sejak tahun 1880-an.

Mirip dengan inseminasi intrauterine (IUI), ini melibatkan penempatan sperma langsung ke saluran reproduksi wanita untuk meningkatkan kemungkinan kehamilan.

Perbedaan utamanya adalah prosedur ICI menempatkan sampel sperma di dekat serviks, bukan rahim seperti pada IUI.

Dari serviks, sperma bergerak naik ke rahim dan masuk ke saluran tuba untuk membuahi sel telur. Karena sperma ditempatkan lebih jauh dari tuba falopi daripada di prosedur IUI, harga ICI biasanya jauh lebih rendah.

Adapun langkah-langkah metode ini antara lain:

  • Pemantauan ovulasi menggunakan berbagai metode seperti kalender, USG, atau mengukur suhu tubuh. Dalam tahap ini biasanya dokter juga akan meresepkan obat khusus untuk menginduksi ovulasi agar sel telur yang dihasilkan lebih banyak.
  • Sampel sperma kemudian disiapkan dan dimasukkan ke dalam vagina atau leher rahim menggunakan jarum suntik khusus.
  • Setelah menjalani transfer sperma, pasien wanita biasanya disarankan untuk berbaring selama 15-30 menit untuk memudahkan sperma berherak dari serviks ke rahim. Setelahnya, pasien dapat kembali melakukan aktivitas fisik secara normal.
  • Dalam sekitar 2 minggu atau lebih lama, dokter akan melakukan tes kehamilan untuk menentukan keberhasilan ICI.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Human Reproduction, ICI memiliki tingkat keberhasilan (terjadi kehamilan) sekitar 37,9% setelah 6 siklus perawatan.

4. Intratubal Insemination (ITI)

4 Inseminasi Buatan Untuk Membantu Cepat Hamil 4

Foto: invitra.com

NY Reproductive Wellness menyebutkan bahwa ITI dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama yaitu dengan memasukkan sperma ke dalam tuba falopi menggunakan bantuan kateter.

Sementara cara kedua lebih invasif dan melibatkan pemasukkan kamera ke dalam perut untuk menemukan saluran telur sehingga sperma dapat ditempatkan pada saluran itu secara langsung.

Dalam beberapa kasus, cara kedua terbukti lebih dapat membantu pasangan dengan masalah ovulasi (tidak berovulasi secara teratur) atau memiliki lendir serviks terlalu kental yang dapat menurunkan motilitas (pergerakan) sperma.

Baca Juga: Prosedur IVF, Ini Pengertian, Tahapan, Risiko, Tingkat Keberhasilan, dan Biayanya

Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan

tingkat-keberhasilan-inseminasi-buatan.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Tingkat keberhasilan inseminasi buatan bervariasi.

Namun, terdapat beberapa alasan yang memungkinan keberhasilan inseminasi buatan menjadi lebih rendah, di antaranya:

  • Usia wanita yang lebih tua
  • Kualitas sel telur atau sperma yang buruk
  • Kasus endometriosis yang parah
  • Banyak kerusakan tuba falopi, biasanya akibat infeksi jangka panjang
  • Penyumbatan saluran tuba, jenis inseminasi buatan IUI tidak akan berfungsi dalam kasus ini

Selain itu, perlu Moms ketahui bahwa prosedur inseminasi buatan ini mungkin tidak akan berhasil untuk semua orang. Beberapa pasangan mencobanya beberapa kali sebelum hamil, sementara yang lain mungkin tidak berhasil sama sekali.

Biasanya, dokter akan menyarankan Moms dan pasangan untuk mencoba inseminasi buatan setidaknya tiga hingga enam kali dengan hormon yang dapat disuntikkan sebelum beralih ke perawatan lain.

Namun, jika inseminasi buatan tidak membantu, ada cara lain yang dapat dicoba sehingga bisa hamil, seperti fertilisasi in vitro dengan telur Moms sendiri atau dengan telur donor.

Pastikan untuk membandingkan biaya sebelum Moms memilih klinik atau rumah sakit untuk inseminasi buatan. Hal ini karena harganya sangat bervariasi satu sama lain.

Baca Juga: 12 Manfaat Kulit Sapi untuk Kesehatan, Mengobati Sakit Maag Hingga Menurunkan Berat Badan

Nah itu dia Moms penjelasan mengenai inseminasi buatan. Sebelum memutuskan untuk melakukannya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter ya.

  • https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.2164/jandrol.111.013276
  • https://academic.oup.com/humrep/article/30/3/603/662550
  • https://www.webmd.com/infertility-and-reproduction/guide/artificial-insemination
  • https://academic.oup.com/humrep/article/30/3/603/662550
  • https://www.healthline.com/health/artificial-insemination#outlook
  • https://americanpregnancy.org/getting-pregnant/intrauterine-insemination/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait