Trimester 2

1 April 2021

IUFD Adalah Hal yang Fatal di Masa Kehamilan, Apa Bedanya dengan Keguguran?

Obesitas merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan stillbirth
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Floria Zulvi
Disunting oleh Amelia Puteri

IUFD adalah hal yang menjadi mimpi buruk bagi semua perempuan yang tengah mengandung. Apalagi jika Moms sudah lama menantikan kehadiran Si Kecil.

Pada masa kehamilan, dua hal yang mungkin terjadi yaitu keguguran (miscarriage) dan IUFD (Intra Uterin Fetal Death). Stillbirth atau yang mungkin lebih dikenal dengan istilah IUFD adalah dua hal yang berbeda dengan keguguran.

Letak perbedaan keduanya adalah pada usia janin. Keguguran merupakan kematian janin dalam kandungan sebelum usianya mencapai 20 minggu atau disebut dengan trimester pertama.

Sementara stillbirth atau IUFD adalah kematian janin di atas usia 20 minggu, biasa disebut dengan trimester 2 atau 3.

Janin yang usianya telah di atas 20 minggu, telah memiliki ukuran tubuh kurang lebih 500gr dan organ yang sempurna. Sehingga harus dilahirkan dan buka dikuret seperti pada kasus keguguran.

Baca Juga: Faktor Risiko dan Penyebab Keguguran yang Paling Sering Terjadi

Penyebab Stillbirth atau IUFD

IUFD adalah

Foto: Orami Photo Stock

Tak sembarangan datang. Ternyata terdapat banyak sekali faktor yang menyebabkan terjadinya stillbirth pada ibu hamil. Jangan sampai tidak tahum ini adalah sederet penyebab kondisi stillbirth!

Dilansir dalam jurnal yang berjudul Stillbirth in Developing Countries: A review of causes, risk factors and prevention strategies, negara berkembang mewakili 98% dari perkiraan 3,3 juta stillbirth atau IUFD yang terjadi setiap tahunnya.

Sementara itu, di negara maju, masyarakatnya memiliki tingkat stillbirth terendah, yakni hanya 3 sampai 5 ibu hamil saja dalam 1.000 kelahiran.

Sementara itu negara berkembang memiliki tingkat sepuluh kali lipat lebih tinggi.

Penurunan angka kelahiran mati di negara maju disebabkan oleh penurunan angka intrapartum stillbirth. Hal tersebut disebabkan oleh peningkatan akses pada layanan kebinana termasuk pemantauan janin intrapartum yang lebih baik.

Operasi caesar pun pun memiliki dampak terkait dengan penurunan angka stillbirth yang terjadi di negara maju. Nah, yuk kita pahami apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya stillbirth atau IUFD ini.

Faktor penyebab stillbirth atau IUFD adalah:

1. Ketidakcocokan Rhesus

Salah satu penyebab terjadinya IUFD adalah ketidakcocokan rhesus.

Adanya ketidakcocokan rhesus atau darah antara ibu dan bayi dapat menjadi salah satu faktor IUFD, di mana hal ini umumnya terjadi dari pernikahan ras yang berbeda.

2. Bayi Terlilit Tali Pusar

Faktor kedua yang bisa menimbulkan IUFD adalah bayi yang terlilit tali pusar.

Gerakan bayi yang berlebih dapat menyebabkan bayi terlilit tali pusar atau tali pusar terpelintir, sehingga asupan nutrisi dan oksigen ke janin menjadi terhenti.

Selain dua hal diatas, hal yang mungkin menjadi faktor adalah; kelainan kromosom bayi, infeksi pada ibu hamil, trauma, kelelahan atau kurang istirahat.

Kemungkinan terjadinya stillbirth lebih besar pada ibu hamil dengan kondisi obesitas, pernah mengalami stillbirth, hamil kembar, preeklampsia, pernah melahirkan prematur dan memiliki penyakit kronis.

Gangguan pada plasenta juga bisa membuat pasokan nutrisi yang dibutuhkan janin jadi terganggu. Janin jadi kesulitan mendapatkan aliran darah dan juga oksigen.

Kondisi ini pun bisa menghambat perkembangan janin serta memicu terjadinya IUFD.

3. Perdarahan

Penyebab lain yang bisa menimbulkan kondisi stillbirth atau IUFD adalah perdarahan. Perdarahan bersifat berat yang terjadi di trimester akhir juga bisa menjadi penyebab stillbirth atau janin mati dalam kandungan.

Hal ini biasanya terjadi karena plasenta sudah mulai meluruh atau terpisah dari rahim sementara sang ibu belum memasuki masa persalinan. Kondisi ini pun disebut dengan absurpsi plasenta atau placenta abruption.

4. Kondisi yang Diidap Ibu

Salah satu hal yang bisa menjadi penyebab stillbirth atau IUFD adalah kondisi medis tertentu yang diidap oleh sang ibu.

Ketika ibu hamil memiliki penyakit seperti hipertensi, gangguan imunitas tubuh, diabetes, kurang gizi, listeriosis, toksoplasmosis, rubella, atau kondisi medis lainnya, hal tersebut bisa membuat janin mati dalam kandungan.

Infeksi lain yang bisa menjadi penyebab IUFD adalah malaria, HIV, dan juga sifilis.

Ketika mengalami preeklamsia juga bisa mengurangi aliran darah ke janin melalui plasenta sehingga bisa memicu terjadinya IUFD.

5. Usia Ibu Saat Mengandung

Faktor selanjutnya yang bisa menyebabkan IUFD adalah usia ibu ketika mengandung atau hamil. Ibu hamil yang sudah menginjak usia di atas 35 tahun atau kurang dari 15 tahun lebih rentan mengalami kondisi ini.

Jadi, pastikan dan rencanakan dengan matang kehamilan, Moms ya!

6. Pola Hidup Buruk Sang Ibu

Ketika hamil, Moms diharapkan memiliki pola hidup yang sehat agar janin dalam kandungan mendapatkan gizi dan nutrisi yang cukup untuk bertahan hingga saatnya dilahirkan nanti.

Ketika ibu hamil mengalami obesitas atau memiliki pola hidup yang tidak sehat seperti mengonsumsi minuman beralkohol atau merokok saat hamil, hal tersebut bisa memicu stillbirth atau IUFD.

Nah, bukanlah sebuah hal yang mustahil bahwa faktor bayi mengalami IUFD adalah kombinasi dari sejumlah faktor di atas. Meski demikian, dilansir dari jurnal yang berjudul Causes of Death Among Stillbirths, penyebab paling umum terjadinya kondisi IUFD adalah kelainan plasenta.

Baca Juga : Makanan Nanas Saat Hamil Bisa Bikin Keguguran, Mitos Atau Fakta?

Cara Mencegah IUFD

IUFD adalah

Foto: Orami Photo Stock

Perlu diakui bahwa tak semua kasus IUFD bisa dilakukan pencegahan. Kendati demikian, Moms masih bisa melakukan sesuatu untuk mengurangi risiko terkena kondisi ini.

Moms tentu ingin menghindari terjadinya stillbirth. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat Moms lakukan. Saat sebelum hamil, bila Moms telah mengetahui bahwa Moms memiliki risiko still birth makan konsultasikanlah kepada dokter kandungan.

Jelaskan sedetail mungkin apa saja yang Moms konsumsi, termasuk obat herbal sekalipun. Bila Moms seorang penderita diabetes atau hipertensi maka pastikan kondisi Moms terkendali sebelum hamil.

Begitu pula jika Mos mengalami obesitas, maka upayakan untuk menurunkan berat badan Moms sebelum hamil dan jangan sesekali mencoba menguruskan bada saat kehamilan.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah stillbirth atau IUFD adalah:

  • Berhenti merokok
  • Berhenti mengonsumsi minuman beralkohol dan obat-obatan berbahaya yang bisa membahayakan diri dan janin
  • Menghindari tidur dengan posisi terlentang saat usia kehamilan memasuki 28 minggu atau lebih

Jangan lupa untuk pemeriksaan kehamilan ke dokter kandungan atau bidan secara rutin untuk memantau kesehatan ia dan janin

Untuk ibu hamil yang memiliki risiko terkena IUFD, lakukanlah konsultasi ke dokter kandungan secara rutin.

Baca Juga: Benarkah Berhubungan Seks dengan Suami saat Hamil Memicu Keguguran?

Hal yang Harus Dilakukan Pasca Stillbirth

IUFD adalah

Foto: Orami Photo Stock

Stillbirth memang harus dikeluarkan sesaat setelah diketahui meninggal, kecuali terdapat masalah medis yang membahayakan Moms. Lebih cepat memang lebih baik namun tak perlu dipaksakan, batasnya adalah 14 hari atau sekitar 2 minggu.

Proses setelah melahirkannya pun akan sama, ASI Moms akan keluar, namun dokter biasanya akan memberikan penghenti ASI pada ibu bayi IUFD.

Setelah mengalami stillbirth, Moms tentu ingin melihat dan memeluk bayi yang sudah dilahirkan tersebut.

Bahkan Moms juga ingin memberikan nama bagi bayi mereka, sebagian ada yang ingin menciptakan kenangan dengan mengambil foto atau seikat rambut.

Trauma tentulah dirasakan, namun mencari tahu mengapa stillbirth dapat terjadi akan membantu proses berduka dan memberikan informasi jika Moms ingin hamil kembali di masa depan.

Penanganan IUFD pun berbeda dengan keguguran. Jika penanganan pada keguguran adalah proses kuret, maka penanganan untuk ibu yang memiliki kondisi IUFD adalah persalinan.

Baca Juga: Benarkah Berhubungan Seks dengan Suami saat Hamil Memicu Keguguran?

Ya, janin yang sudah meninggal biasanya akan dikelaurkan melalui proses persalinan normal. Jika bayi sudah meninggal sebelum tanggal persalinan, dokter akan melakukan tindak induksi untuk mempercepat prosesnya.

Namun, dalam beberapa kasus dokter mungkin akan merekomendasikan operasi caesar untuk membantu mengeluarkan bayi yang sudah meninggal di dalam perut.

Ketika mengalami kehamilan kembar, salah satu janin pun rentan mengalami IUFD. Jika ini terjadi, bantuan induksi tidak akan dianjurkan.

Biasanya dokter akan memeriksa kondisi janin lainnya terlebih dahulu untuk kemudian mengambil tindakan yang sesuai dengan kondisi ibu serta janinnya.

Pada umumnya, mempertahankan kedua janin dalam kandungan hingga saatnya lahir banyak disarankan oleh dokter.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait