Kesehatan Umum

1 November 2021

Kandidiasis, Jamur Vagina yang Pengaruhi Kesuburan?

Jangan anggap remeh infeksi jamur pada vagina!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Amelia Puteri

Pernahkah Moms bertanya-tanya, apakah infeksi jamur candida yang sering dikenal dengan kandidiasis berkaitan erat dengan sulit hamil?

Kandidiasis disebabkan oleh jamur candida atau candida albicans, salah satu jenis jamur yang hidup di saluran usus, namun bisa menyebar ke bagian tubuh lain, seperti vagina.

Kandidiasis adalah sebuah kondisi yang sebenarnya wajar berada di tubuh manusia. Meski demikian, ketika jumlahnya terlalu banyak, jamur ini bisa mengganggu kesehatan.

Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa kandidiasis vagina adalah infeksi vagina paling umum kedua di dunia.

Yuk ketahui lebih dalam mengenai kondisi ini agar Moms tahu cara mencegah dan juga pengobatannya!

Baca Juga: 5+ Jenis Infeksi Vagina yang Umum Terjadi dan Cara Mencegahnya, Catat!

Penyebab Kandidiasis Bisa Terjadi

jamur vagina.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Ada beberapa hal yang bisa membuat jamur candida bisa tumbuh dan meningkatkan terjadinya kandidiasis vaginalis. Salah satunya adalah efek samping dari pengobatan yang diberikan antibiotik.

Nah, Moms perlu berhati-hati nih jika menggunakan antibiotik jangka panjang. Hal tersebut dikarenakan obat antibiotik yang bisa mengubah keseimbangan jumlah kuman dan termasuk bakteri di vagina.

Kandidiasis pada vagina seringkali disebut dengan infeksi jamur vagina. Biasanya, jamur candida tidak menyebabkan kerugian.

Namun ada beberapa hal yang memicu matinya bakteri baik sehingga membuat candida tumbuh bebas, seperti penggunaan antibiotik secara berlebihan, konsumsi makanan tinggi gula, alergi, stres, dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat penyakit, seperti HIV atau AIDS.

Meskipun banyak dokter umumnya tidak mengenali candida sebagai penyebabnya, namun jamur ini terkait dengan endometriosis, fibroid (tumor jinak di dalam rahim), dan kista ovarium.

Jamur ini dapat dihubungkan dengan jumlah sperma rendah dan masalah motilitas (kemampuan sperma bergerak) pada pria. Jamur ini juga dapat membuat ketidakseimbangan hormon dalam tubuh.

Jumlah candida yang berlebihan dapat menghasilkan estrogen palsu, dan tubuh berpikir jamur ini telah menghasilkan tingkat estrogen yang memadai.

Inilah sinyal penurunan estrogen yang dapat menjadi menyebabkan masalah infertilitas. Candida juga dapat ditransfer ke pasangan Moms selama hubungan seksual.

Baca Juga: Waspada, Ini 7 Penyebab Vagina Sakit

Gejala Kandidiasis pada Vagina

gejala kandidiasis

Foto: Orami Photo Stock

Dilansir dari jurnal yang berjudul Vaginal Candidiasis, kondisi ini pernah dialami oleh 70% perempuan yang mengalami masalah vagina di beberapa titik dalah hidup mereka.

Perlu diketahui bahwa sekitar 8% perempuan pernah menderita kondisi ini secara berulang.

Berikut adalah gejala-gejala umum yang disebabkan oleh infeksi jamur candida:

  • Gatal ringan sampai parah bahkan iritasi pada vagina terutama pada vulva (bibir vagina).
  • Keputihan berair atau putih pekat, menggumpal mirip seperti keju, berbau seperti ragi atau roti.
  • Pembengkakan dan ruam kemerahan pada vulva, bahkan bisa menyebabkan luka.
  • Sensasi terbakar setelah atau selama hubungan seksual atau buang air kecil.
  • Rasa nyeri dan sakit pada vagina.

Gejala-gejala ini juga mirip dengan infeksi vagina lainnya.

Jika setelah pengobatan untuk infeksi jamur, baik secara alami atau medis, gejala itu tetap bertahan, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter agar dilakukan pengujian untuk menyingkirkan penyebab lain dari infeksi vagina.

Baca Juga: Mengenal Ratus Vagina, Perawatan Tradisional untuk Organ Intim Wanita

Cara Mengobati Kandidiasis

obat infeksi jamur vagina

Foto: Orami Photo Stock

Seperti yang sudah diketahui, gejala kandidiasis pada vagina selain rasa gatal ditandai dengan rasa sakit, pembengkakan, atau kemerahan pada vagina.

Gejala yang bisa dirasakan pun bisa bermacam-macam seperti perih saat buang air kecil dan saat berhubungan seksual, Moms.

Jadi jika mengalami hal ini, Moms perlu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu agar dokter bisa memastikan mengenai keluhan yang sedang Moms alami benar disebabkan oleh kandidiasis vaginalis.

Dokter pun biasanya melakukan pemeriksaan fisik untuk melakukan diagnosa kondisi ini.

Biasanya pemeriksaan dilakukan pada vagina dan panggul serta melakukan pemeriksaan penunjang, yakni pemeriksaan cairan vagina.

Dokter mungkin akan mengirim sampel cairan vagina untuk menentukan jenis jamur yang menyebabkan infeksi jamur. Mengidentifikasi jamur dapat membantu dokter meresepkan pengobatan yang lebih efektif untuk infeksi jamur berulang.

Ketika dokter sudah memastikan Moms menderita kondisi ini, Moms biasanya akan diberikan obat antijamur yang berbentuk macam-macam. Macam obat antijamur sendiri bisa berbentuk salep, krim atau obat yang dimasukkan ke dalam vagina.

Sementara itu, obat antijamur juga bisa tersedia dalam bentuk tablet yang bisa diminum.

Beberapa obat antijamur yang biasa diresepkan oleh dokter antara lain clotrimazole, fluconazole, atau bisa juga miconozale.

Sementara jika Moms merasa gatal yang sudah mengganggu, biasanya dokter akan memebrikan obat antihistamin untuk meredakan rasa gatal tersebut.

Jika gejala semakin parah, atau Moms sering mengalami infeksi jamur, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk melakukan beberapa pilihan perawatan, seperti:

  • Terapi vagina jangka panjang: dokter mungkin akan meresepkan obat antijamur yang diminum setiap hari hingga 2 minggu, diikuti seminggu sekali selama 6 bulan.
  • Obat oral multidosis: dokter mungkin meresepkan 2 atau 3 dosis obat antijamur untuk diminum alih-alih terapi vagina. Namun, terapi ini tidak dianjurkan untuk wanita hamil.
  • Terapi resisten azol: dokter mungkin merekomendasikan asam borat, kapsul yang dimasukkan ke dalam vagina. Obat ini bisa berakibat fatal jika diminum secara oral dan hanya digunakan untuk mengobati jamur candida yang resisten terhadap agen antijamur biasa.

Baca Juga: Radang Vagina: Ketahui Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya

Cara Mencegah Infeksi Kandidiasis

Lebih baik mencegah daripada mengobati adalah kalimat yang cocok untuk semua kondisi dan juga penyakit tak terkecuali kandidiasis vaganilis.

Daripada minum obat-obatan, Moms bisa mengatasi dan mencegah rasa gatal pada vagina dengan selalu menjaga kebersihan organ intim, lho!

Berikut cara yang bisa dilakukan;

1. Hindari Memakai Cairan Pembersih Vagina

jangan gunakan sabun untuk vagina

Foto: Orami Photo Stock

Ketika mengatasi kondisi ini, Moms tidak dianjurkan untuk menggunakan cairan pembersih vagina.

Cairan pembersih vagina yang sering digunakan bisa menghilangkan bakteri baik yang memiliki tugas untuk melindungi area kewanitaan.

Karena bakteri baik yang melindungi vagina hilang karena cairan ini, jamur penyebab kondisi ini pun akan tetap hidup.

2. Bersihkan Vagina dengan Benar

Nah, karena Moms tidak diperkenankan untuk menggunakan pembersih kewanitaan dengans sering, Moms tetap harus membersihkan vagina dengan benar.

Caranya adalah menggunakan air bersih dan gunakanlah sabun dengan bahan kimia yang lembut. Sabun pembersih kewanitaan yang memiliki bahan kimia tinggi biasanya akan menyebabkan iritasi.

Cobalah untuk menggunakan sabun yang tak mengandung pewangi dan antiseptik ya, Moms.

Saat membersihkan vagina, Moms perlu membasuh vagina dari arah bibir vagina menuju anus demi menghindari penyebaran kotoran dari anus ke dalam vagina.

Moms juga perlu menghindari kebiasaan menggaruk vagina karena bisa menimbulkan luka dan akhirnya infeksi.

Baca Juga: 7 Gambar Vagina untuk Mengenal Bentuk Organ Reproduksi Wanita, Sudah Tahu?

3. Melakukan Seks yang Aman

seks aman

Foto: Orami Photo Stock

Infeksi vagina yang disebabkan oleh jamur ini juga bisa hadir karena hubungan seks yang berisiko.

Jadi, ketika melakukan hubungan seksual dengan berganti pasangan, sebaiknya menggunakan kondom.

Penting juga bagi Moms untuk menggunakan pelumas seksual (lubricants) yang berbahan dasar air.

4. Gunakanlah Pakaian Dalam yang Menyerap Keringat dan Nyaman

Tak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali pakaian dalam yang menggemaskan. Namun, amankah pakaian dalam itu digunakan dalam kondisi ini?

Nah, sebaiknya Moms menghindari celana dalam dengan bahan sitetis seperti nilon. Hal tersebut dikarenakan nilon yang sulit untuk menyerap keringat.

Pakaian dalam sintetis juga dapat menyebabkan reaksi alergi dan hipersensitivitas yang dapat mengubah lingkungan vagina dan berkontribusi terhadap infeksi jamur.

Agar jamur tidak muncul dan menyebar, Moms bisa menggunakan pakaian dalam yang terbuat dari bahan katun. Biasanya, pakaian dalam yang dibuat dengan bahan ini akan lebih nyaman dan bisa menyerap keringat dengan baik.

Bisa juga memilih bahan pakaian dalam lain, seperti linen dan sutra yang mampu menyerap kelembapan, jadi bisa membuat Moms tetap kering.

Moms juga perlu membiasakan diri untuk mengganti pakaian yang basah dan lembap usai Moms melakukan aktivitas berat yang bisa membuat tubuh berkeringat seperti berolahraga, ya.

Baca Juga: Yuk, Kenali 7 Bagian Vagina dan Cara Memeriksanya!

5. Cuci Pakaian Dalam dengan Benar

cara tepat mencuci pakaian dalam

Foto: Orami Photo Stock

Celana dalam adalah pakaian yang langsung bersentuhan dengan vagina Moms. Oleh sebab itu, sebaiknya Moms memerhatikan cara membersihkannya dengan benar.

Cucilah pakaian dalam dengan suhu tinggi, seperti menggunakan air panas agar bakteri yang mungkin tumbuh di pakaian benar-benar mati.

6. Perhatikan Asupan Nutrisi

Perlu diketahui, makanan yang Moms konsumsi juga dapat berpengaruh pada kesehatan organ reproduksi. Jika Moms ingin terhindar dari infeksi jamur vagina, pastikan untuk selalu mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang.

Cobalah untuk makan yogurt atau mengonsumsi suplemen dengan kandungan lactobacillus. Probiotik merupakan pilihan populer untuk menyembuhkan atau mencegah infeksi jamur secara alami.

Hal ini karena probiotik dapat membantu mengembalikan keseimbangan bakteri normal tubuh, mencegah ragi Candida tumbuh di luar kendali dan menyebabkan infeksi.

Batasi juga konsumsi gula karena gula dapat membantu mendorong pertumbuhan ragi.

Makanan yang sebaiknya Moms hindari, yaitu:

  • Tepung putih dan biji-bijian gluten lainnya
  • Apa pun yang difermentasi dengan ragi, seperti minuman beralkohol
  • Beberapa produk susu, termasuk susu murni

Sebaliknya, konsumsilah makanan di bawah ini untuk pola makan yang sehat:

Baca Juga: Jangan Diabaikan, Ini 13 Cara Merawat Vagina agar Tetap Sehat

Itu dia informasi penting seputar kandidiasis, jangan lupa perhatikan kebersihan dan kesehatan vagina agar terhindar dari infeksi jamur yang tak nyaman.

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459317/
  • https://www.cdc.gov/fungal/diseases/candidiasis/genital/
  • https://www.everydayhealth.com/yeast-infection/guide/prevention/
  • https://www.healthline.com/health/vaginal-yeast-infection
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/5019-yeast-infections
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait