COVID-19

4 September 2020

Viral Kasus Happy Hypoxia di Banyumas, Ini Penjelasannya

Tiga pasien tersebut tidak memiliki gejala umum COVID-19 yakni batuk, demam, dan diare.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Lolita
Disunting oleh Dina Vionetta

Sebanyak tiga dari tujuh pasien positif COVID-19 di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, meninggal dunia karena mengalami happy hypoxia.

Meski begitu, menurut Bupati Banyumas Achmad Husein, tiga pasien yang meninggal dunia tersebut tidak memiliki gejala umum COVID-19 yakni batuk, demam, dan diare.

Baca Juga: Silent Hypoxia, Gejala Baru COVID-19 yang Menyerang Diam-diam

Berkomunikasi dengan Dokter Spesialis Paru-paru

Viral Happy Hypoxia di Banyumas

Foto: Orami Photo Stocks

Setelah mengetahui bahwa happy hypoxia telah memakan korban, Husein lantas berkomunikasi dengan dokter paru-paru untuk mengetahui lebih lanjut tentang happy hypoxia tersebut.

Husein mengungkapkan bahwa gejala happy hypoxia merupakan gejala baru COVID-19 yang menyebabkan penderitanya tidak merasakan gejala COVID-19 seperti pada umumnya.

Namun, Husein menyebut bahwa penderita happy hypoxia ini akan selalu terlihat dan merasa gembira.

"Orangnya kelihatannya gembira-gembira saja, enggak ada batuk, pilek, panas, tetapi saturasi oksigen yang ada di dalam darah ini lama-lama turun," ungkap Husein mengutip dari Kompas.com.

"Ini (orang yang mengalami happy hypoxia) turun di bawah 90, turun, turun, turun 80, sampai kemudian 75. Kalau sudah begitu (orangnya) langsung ngos-ngosan dan tidak sadarkan diri," lanjut Husein.

Padahal saturasi oksigen yang normal ialah di atas angka 90 persen. Saturasi oksigen yang kurang akan membuat penderita mengalami sesak napas dan meninggal dunia.

Gejala yang memiliki nama lain silnet hypoxia ini merupakan salah satu gejala COVID-19 yang mulanya tidak tampak berbahaya, namun kondisi ini dapat menyerang tubuh secara mendadak dan cepat.

Menurut British Journal of Anaesthesia, disebutkan bahwa pasien dengan hipoksia ekstrem cenderung tenang, kooperatif, dan stabil secara hemodinamik (kekuatan yang harus dikembangkan jantung untuk mempertahankan aliran darah).

Tetapi, secara tiba-tiba akan terjadi dekompensasi pernapasan mendadak dan cepat. Bentuk dari dekompensasi pernapasan ini seperti sesak napas yang cukup parah.

Baca Juga: Ahli Dermatologi Temukan Kemungkinan Gejala Baru Virus COVID-19

Meminta Masyarakat Waspada

Viral Happy Hypoxia di Banyumas

Foto: Orami Photo Stocks

Karena penderita happy hypoxia tidak menunjukkan gejala COVID-19 seperti pada umumnya, Husein lantas meminta masyarakat untuk lebih mawas diri terhadap kesehatan.

Jika masyarakat merasa sesak napas diharapkan bisa langsung ke rumah sakit untuk memeriksakan diri agar penyebaran COVID-19 tidak meluas.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait