Program Hamil

23 September 2021

Mengenal KB Steril, Prosedur Kontrasepsi yang Sangat Efektif Cegah Kehamilan

Bisakah hamil lagi setelah menjalani prosedur KB steril?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya Fiona
Disunting oleh Amelia Puteri

Beberapa pasangan suami istri mungkin memilih alat KB steril sebagai upaya proteksi atau mencegah kehamilan.

Ada beragam alasan yang dikemukakan kenapa lebih memilih KB steril ketimbang alat kontrasepsi lainnya.

Di antaranya adalah karena sudah tak menginginkan keturunan lagi, sudah memiliki lebih dari tiga anak, sudah berusia di atas 30 tahun atau bila kehamilan berisiko fatal.

Mari simak penjelasan lengkap mengenai KB steril di bawah ini, Moms!

Pengertian KB Steril

Beragam Jenis Alat KB steril dan Kelebihannya

Foto: Orami Photo Stocks

The American College of Obstetricians and Gynecologist memaparkan, KB steril adalah alat kontrasepsi yang sifatnya permanen dalam mencegah kehamilan.

Adapun metode KB steril pada wanita disebut tubektomi. Sedangkan, prosedur KB steril atau sterilisasi pada laki-laki disebut vaksetomi.

Nah, proses kerja KB steril tubektomi adalah dengan cara memotong atau mengikat saluran tuba falopi. Alhasil, sel telur tak mampu menemukan jalan menuju rahim.

Di sisi lain, sel sperma takkan mampu mencapai tuba falopi dan membuahi sel telur.

Lalu, seberapa ampuh KB steril ini dalam mencegah kehamilan?

Perlu kita pahami, tubektomi bersifat permanen. Jadi, tak seperti pil KB atau spiral yang dapat dihentikan kapan pun ketika Moms memutuskan untuk hamil.

Konon, kemampuan tubektomi untuk mencegah kehamilan mencapai 99,9 persen. Artinya, dari 100 wanita yang mengikuti prosedur tubektomi, kemungkinan hanya satu yang bisa hamil.

Jadi, tubektomi adalah metode kontrasepsi yang sangat ampuh dalam mencegah kehamilan, meski memang tak menjamin 100 persen, ya Moms.

Baca Juga: Makan Nanas Saat Hamil Bisa Bikin Keguguran, Mitos Atau Fakta?

Jenis-Jenis KB Steril

Tuba Implan untuk KB Steril.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

KB steril memiliki berbagai jenis ragam prosedur yang perlu pasangan suami istri ketahui. Ada beberapa metode KB steril yang bisa dipilih tergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing.

Nah, berikut prosedur sterilisasi yang bisa dilakukan:

1. Pembedahan Laparoskopi

Pada metode KB steril ini, Moms akan dibius total melalui punggung bawah. Kemudian, dokter dan ahli bedah akan membuat sayatan kecil pada area di atas pubis.

Lalu, dokter akan memasukkan alat laparoskopi melalui sayatan tersebut. Tujuannya, untuk menentukan letak tuba falopi serta peralatan bedah untuk menutup saluran tuba falopi.

Mengutip Cleveland Clinic, pasca pembedahan mungkin perut akan terasa seperti membengkak, dan ini adalah hal yang wajar. Selain itu, mungkin Moms mengalami mual ringan.

Perdarahan vagina juga mungkin terjadi hingga satu bulan setelah operasi, dan ini normal.

Banyak wanita tidak mengalami siklus menstruasi normal berikutnya selama empat hingga enam minggu setelah operasi.

Ketika siklus normal kembali, Moms mungkin melihat perdarahan yang lebih banyak dari biasanya untuk dua sampai tiga siklus pertama.

2. Minilaparotomy

Untuk prosedur KB steril ini, Moms akan dibius lokal. Pembedahan yang dilakukan mirip bedah laparoskopi. Namun, perbedaannya terletak dari teknik pemotongan saluran tuba falopi.

Pada bedah laparoskopi, saluran itu akan dipotong dan dijahit kembali. Sedangkan, minilaparotomy menggunakan teknik mengikat dan menjepit tuba falopi dengan alat khusus.

Dalam The Permanente Journal mengatakan bahwa minilaparotomy jauh lebih hemat biaya daripada laparoskopi dan nyeri yang dirasakan cukup lebih minimal.

Umumnya, jika tanpa komplikasi, pasien dengan tindakan minalaparotomy dapat langsung pulang tanpa memerlukan rawat inap.

Prosedur ini mungkin juga berguna dalam praktik urologi (misalnya untuk diseksi kelenjar panggul) dan dalam beberapa prosedur bedah umum.

Baca Juga: 10 KB yang Cocok Sebagai Cara Menunda Kehamilan Bagi Pengantin Baru yang Bisa Dicoba

3. Tuba Implan

Pada prosedur KB steril ini tidak dilakukan pembedahan. Tanpa ada metode pembiusan, dokter akan memasukkan seperti tabung kecil melalui vagina dan leher rahim hingga mencapai saluran tuba falopi.

Tuba implan ini tidak memotong atau mengikat saluran tuba falopi. Kemudian, untuk mengetahui apakah implan sudah tertanam dengan tepat dan baik, Moms akan diminta melakukan scan (pemindaian) menggunakan alat rontgen.

KB steril ini akan mengiritasi lapisan dalam tuba falopi dan meninggalkan bekas luka (jaringan parut). Bekas luka ini lama kelamaan dapat menutup tuba falopi dan mencegah sperma masuk untuk membuahi telur.

Metode KB steril ini dapat pulih dengan sempurna setelah tiga bulan pasca prosedur dilakukan.

Menurut penelitian, tingkat efektivitas tuba implan dalam mencegah kehamilan mencapai 99,8 persen. Metode ini memiliki kemungkinan efek samping, seperti mual, muntah, kram, pusing, perdarahan, atau keluar flek.

4. Vasektomi

Vasektomi, sebagai KB steril laki-laki, dilakukan dengan memotong sedikit lapisan pada kelamin laki-laki.

Prosedur bedah untuk KB steril pria atau kontrasepsi permanen ini, memblokir atau memotong setiap tabung vas deferens, mencegah sperma keluar dari air mani.

Sel sperma yang tinggal di testis akan diserap oleh tubuh. Sekitar 3 bulan setelah vasektomi, air mani tidak akan mengandung sperma, sehingga tidak dapat menyebabkan kehamilan.

Mengutip Center European of Journal Erology, ejakulasi setelah vasektomi tetap sama seperti sebelum prosedur. Tidak ada perubahan pada kemampuan Dads untuk berejakulasi atau munculnya cairan ejakulasi.

Satu-satunya perbedaan dalam ejakulasi adalah tidak adanya sperma di dalam air mani, ya.

Baca Juga: Vasektomi & Tubektomi, KB Permanen untuk Pria dan Wanita

Kemungkinan Hamil Usai KB Steril

positif-hamil-setelah-selesai-haid.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Pertanyaan ini sering diajukan bagi mereka yang ingin melakukan KB steril ini.

Apakah steril potong bisa hamil lagi? Setelah sterilisasi, beberapa wanita mungkin saja hamil melalui perawatan kesuburan.

Jenis prosedur sterilisasi yang pada awalnya dilakukan akan menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan jenis pengobatan yang paling mungkin berhasil dalam kehamilan.

Namun itu tergantung pada KB steril yang dipilih.

Lalu pertanyaan lain, adakah risiko dan komplikasi dari KB steril?

Sebenarnya, tubektomi atau KB steril pada wanita merupakan prosedur yang aman. Waktu pemulihan biasanya tak lebih dari satu minggu. Sangat jarang sekali terjadi risiko tubektomi berupa berupa kehamilan di luar rahim.

Risiko lain yang kemungkinan terjadi adalah perdarahan, infeksi karena luka yang tak sembuh secara sempurna dan cedera pada bagian perut.

Selain itu, ada beberapa komplikasi yang dapat meningkatkan risiko efek samping KB steril. Di antaranya adalah penyakit diabetes, obesitas, dan radang panggul.

Tentunya sebelum Moms memutuskan memilih metode KB steril, perlu dibicarakan dengan pasangan dan keluarga.

Pastikan Moms mempertimbangkan dengan matang. Pasalnya, prosedur ini bersifat permanen.

Mungkin Moms pernah mendengar informasi mengenai operasi pembatalan tubektomi.

Tindakan operasi ini bertujuan untuk memperbaiki saluran tuba falopi agar fungsinya dapat kembali normal dan kehamilan bisa terjadi lagi.

Namun, perlu kita tahu bahwa keberhasilan operasi ini tidak bisa dijamin. Bahkan, pada kebanyakan kasus, saluran tuba falopi justru tak bisa disambungkan kembali, meski perbaikan tuba falopi berhasil dilakukan.

Dengan kata lain, mengusahakan agar bisa hamil setelah menjalani KB steril tentu sangat sulit dibandingkan perempuan yang tak mengikuti tubektomi (KB steril).

Sekali lagi, KB steril merupakan prosedur kontrasepsi yang sangat efektif untuk mencegah kehamilan dan bersifat permanen. Jadi, bila Moms kemudian berubah pikiran, tentu akan sulit sekali dikembalikkan pada kondisi semula.

Baca Juga: Bagaimana Cara KB Alami dengan Menghitung Masa Tidak Subur?

Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum KB Steril

kb steril

Foto: Orami Photo Stock

Moms, KB steril sifatnya permanen. Jadi, Moms dan Dads harus betul-betul yakin dulu sebelum mengambil keputusan.

Dikutip dari Chapel Hill Obgyn, berikut ini beberapa pertanyaan yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan KB steril

Ingat, komunikasi terbuka dengan pasangan sangat penting saat mempertimbangkan melakukan KB steril.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:

  • Meskipun Moms mungkin siap untuk prosedur sterilisasi, apakah pasangan benar-benar mendukungnya?
  • Apakah Moms mempertimbangkan sterilisasi permanen hanya karena pasangan menginginkannya?
  • Apakah Moms memiliki masalah kesehatan mendasar yang harus kami pertimbangkan?
  • Jika Moms mengalami perubahan dalam keadaan hidup, jika Moms bercerai, apakah ada kemungkinan Moms ingin memiliki anak dengan pasangan baru nantinya?
  • Sudahkah Moms mendiskusikan semua opsi yang dipertimbangkan dengan dokter kandungan?

Nah, itulah beberapa hal yang wajib Moms ketahui tentang KB steril. Bagaimana Moms, akan memilih KB steril atau tidak? Jika masih bingung, bisa langsung berkonsultasi dengan dokter kandungan, ya!

Sumber

  • https://www.acog.org/womens-health/faqs/sterilization-for-women-and-men
  • https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/4933-sterilization-by-laparoscopy
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3108411/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5656365/
  • https://chapelhillobgyn.com/blog/best-options-for-permanent-birth-control/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait