Kesehatan Umum

24 September 2021

Mengenal Kelainan Tulang Kifosis: Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Jika tidak ditangani dengan tepat, bisa mengganggu aktivitas
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Defara Millenia
Disunting oleh Adeline Wahyu

Kelainan tulang belakang atau spinal disorder adalah kondisi yang memengaruhi posisi susunan tulang belakang. Kelainan tulang belakang dibagi menjadi 3, yaitu kelainan tulang kifosis, lordosis, dan skoliosis.

Memiliki postur tubuh ideal bukan hanya membuat tampilan terlihat proporsional, tetapi juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan.

Ketika Moms memiliki postur tubuh yang baik akan memberikan banyak manfaat kesehatan, seperti mencegah terjadinya sakit kepala, nyeri otot, hingga melancarkan pernapasan.

Postur tubuh sangat berkaitan erat dengan kondisi tulang belakang. Sayangnya, kelainan pada tulang belakang sering dialami secara tidak sengaja dan menimbulkan gangguan pada postur tubuh.

Salah satu gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kelainan tulang belakang adalah tulang kifosis.

Lantas, apa itu kelainan tulang kifosis? Yuk kita simak penjelasan lebih lengkapnya mulai dari gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Baca Juga: 12 Manfaat Kulit Sapi untuk Kesehatan, Mengobati Sakit Maag Hingga Menurunkan Berat Badan

Pengertian Kelainan Tulang Kifosis

tulang Kifosis

Foto: Orami Photo Stock

Kifosis adalah salah satu kelainan tulang belakang yang membuat punggung atas menjadi membulat ke depan secara berlebihan hingga lebih dari 50 derajat. Akibatnya, kondisi ini membuat tubuh Moms menjadi terlihat bungkuk.

dr. Rizky Priambodo Wisnubaroto, Sp. OT Dokter Spesialis Bedah Ortopedi, RS Pondok Indah – Pondok Indah dan RS Pondok Indah – Puri Indah mengatakan bahwa, secara alami, tulang belakang manusia memiliki lengkukan ke luar atau kifosis pada area sekitar dada dan lengkungkan ke dalam pada area punggung bawah.

"Pasien yang memiliki sudut membungkuk atau kifosis berlebihan biasanya akan terlihat seperti selalu membungkuk dan tidak dapat membuat posisi badannya menjadi tegak." Ucap dr. Rizky Priambodo.

Kondisi tulang kifosis ini dapat terjadi pada usia berapa pun. Namun, paling sering menyerang wanita yang lebih tua. Pada bayi dan anak remaja, kelainan tulang belakang ini terjadi akibat malformasi atau tulang belakang yang terjepit dari waktu ke waktu.

Baca Juga: 16 Rekomendasi Drama Korea Terbaik dari Berbagai Genre, Wajib Tonton Banget!

Gejala Tulang Kifosis

tulang kifosis

Foto: Orami Photo Stock

Gejala tulang kifosis yang paling umum sebagian besar tidak mengalami nyeri otot, hanya saja seseorang akan terlihat membungkuk.

Namun jika tidak di atas dengan baik, gejala lain bisa dirasakan oleh penderita tulang kifosis, antara lain:

  • Nyeri punggung dan kaku.
  • Perbedaan pada tinggi bahu kanan dan kiri.
  • Perbedaan pada tinggi atau posisi skapula (tulang belikat).
  • Otot hamstring (otot belakang paha) terasa kencang.
  • Kepala terlihat lebih condong ke depan dibanding bagian tubuh lain.
  • Saat membungkuk, tinggi punggung atas terlihat tidak normal.

Gejala-gejala tulang kifosis mungkin tampak seperti masalah punggung lainnya atau mungkin akibat cedera atau infeksi.

Baca Juga: 10 Cara Melatih Keseimbangan Tubuh Si Kecil, Salah Satunya Berjinjit!

Penyebab Tulang Kifosis

kifosis

Foto: Orami Photo Stock

Melansir Journal of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, kelainan tulang kifosis dapat dialami oleh semua usia. Hanya saja, kondisi ini jarang terjadi pada bayi baru lahir karena postur tubuh yang buruk biasanya menjadi penyebabnya.

Berdasarkan penyebabnya, kifosis dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Scheuermann’s kyphosis

Scheurmann’s kyphosis terjadi ketika tulang belakang mengalami kelainan pada perkembangannya.

Lengkungan pada tulang kifosis jenis ini bisa sangat kaku dan memburuk seiring pertumbuhan, sehingga membuat pengidapnya tidak bisa berdiri lurus sehingga kerap menyebabkan rasa nyeri.

Scheurmann’s kyphosis umumnya terjadi sebelum masa puber dan lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibanding anak perempuan.

2. Congenital kyphosis

Penyebab tulang kifosis jenis ini terjadi akibat kelainan perkembangan tulang belakang saat masih di dalam kandungan.

Kelainan bisa terjadi pada satu atau lebih tulang belakang, dan dapat memburuk seiring pertumbuhan anak. Belum diketahui apa yang menyebabkan congenital kyphosis, namun kondisi ini diduga terkait dengan kelainan gen.

Dugaan tersebut muncul karena pada beberapa kasus, kondisi ini dialami anak dari keluarga dengan riwayat congenital kyphosis.

3. Postural kyphosis

Melansir Journal StatPearls, postural kyphosis adalah jenis tulang kifosis yang paling sering terjadi karena postur tubuh yang salah, misalnya karena bersandar di kursi dengan posisi yang terlalu membungkuk, atau akibat membawa tas sekolah yang terlalu berat.

Tulang kifosis jenis ini ditandai dengan kondisi tulang belakang yang melengkung hingga 50 derajat atau lebih. Bungkuk pada postural kyphosis tergolong lentur, dan dapat diperbaiki dengan fisioterapi rutin.

Postural kyphosis juga jarang menimbulkan nyeri, sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya.

Baca Juga: 5 Prosedur Pasang Behel hingga Jenis dan Biayanya yang Harus Diketahui

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kifosis, yaitu:

  • Penyakit osteogenesis imperfecta. Osteogenesis imperfecta atau penyakit tulang rapuh adalah kondisi tulang yang mudah patah, meskipun hanya menerima sedikit tekanan.
  • Usia. Bertambahnya usia membuat risiko tulang punggung untuk melengkung juga akan makin besar.
  • Spina bifida. Spina bifida adalah penyakit kelainan bawaan lahir akibat tidak sempurnanya pembentukan tulang belakang dan saraf tulang belakang.
  • Degenerasi bantalan sendi tulang belakang. Bantalan tulang belakang atau diskus akan menyusut seiring bertambahnya usia, dan memicu terjadinya
  • Penyakit Paget. Penyakit Paget adalah gangguan yang memengaruhi proses regenerasi tulang, sehingga memicu kerapuhan tulang.
  • Neurofibromatosis. Neurofibromatosis merupakan kelainan genetik yang memicu terbentuknya tumor di sistem saraf.
  • Distrofi otot. Distrofi otot adalah kelainan akibat faktor genetik yang menyebabkan otot melemah secara bertahap.
  • Fraktur kompresi. Fraktur kompresi atau patah tulang belakang akibat tekanan, dapat memengaruhi kelengkungan tulang belakang.
  • Kanker dan pengobatan kanker. Kanker atau penyebaran kanker pada tulang belakang, serta kemoterapi dan radioterapi, dapat membuat tulang belakang melemah dan rentan mengalami patah tulang.
  • Menurunnya kepadatan tulang dapat menyebabkan tulang belakang bengkok.
  • Tuberkulosis (TB). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri, yang seringkali menyerang paru-paru. Namun pada beberapa kasus, TB juga dapat memengaruhi tulang belakang.
  • Kondisi medis lain. Kifosis pada anak-anak bisa jadi berkaitan dengan penyakit tertentu, seperti sindrom Marfan dan sindrom Ehlers-Danlos.
  • Cedera tulang belakang.

Baca Juga: 8 Rekomendasi Taman Bermain Anak di Jakarta untuk Wisata Edukasi

Pengobatan Tulang Kifosis

Obat-obatan tulang kifosis

Foto: Orami Photo Stock

Pengobatan kelainan tulang kifosis biasanya akan disesuaikan dengan tingkat keparahannya. Sebelum memberikan pengobatan, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan berikut untuk menentukan kondisi kifosis yang dialami pasien.

  • Tanya jawab.
  • Pemeriksaan fisik.
  • Pemeriksaan pendukung, seperti Rontgen atau MRI tulang belakang, serta pemeriksaan laboratorium.

Setelah mengetahui diagnosis dan tingkat keparahan lordosis, dokter akan memberikan beberapa pilihan pengobatan, antara lain:

  • Obat-obatan, untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan.
  • Fisioterapi, untuk meningkatkan kekuatan otot dan melatih kemampuan gerak tubuh.
  • Program diet, untuk menurunkan berat badan.
  • Operasi, untuk kasus kifosis yang parah dan disertai gangguan pada saraf.

Kebanyakan kelainan tulang kifosis tidak memerlukan pengobatan, karena disebabkan postur tubuh yang salah. Dokter biasaya menganjurkan pasien memperbaiki postur tubuh dengan fisioterapi.

Namun, dr. Rizky Priambodo menyarankan apabila tulang membungkuk tersebut terlihat seperti semakin bertambah, disertai dengan rasa nyeri, gangguan neurologis, demam, atau penurunan berat badan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah ortopedi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Hotel di Jogja, Cocok untuk Honeymoon hingga Babymoon!

Nah itu dia Moms penjelasan mengenai kelainan tulang kifosis. Jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, kifosis bisa menimbulkan beragam keluhan yang dapat mengganggu kenyamanan dan aktivitas.

  • ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2907357/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK558945/
  • https://www.healthline.com/health/kyphosis
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/kyphosis/symptoms-causes/syc-20374205
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait