Pengasuhan Anak (Parenting)

"Kenapa Aku Dicubit Hanya Karena Nggak Mau Tidur Siang, Ma?!"

Seri: Mengajarkan Disiplin Pada Usia Balita (Toddler) dan Anak-Anak (Kids)
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Orami

Cerita Pengantar

Adeekk…. Ayo tidur siang sekarang!” Teriak Mama Tika.
Nggak mauuuu, aku masih mau main!” Jawab Adi sambil asyik bermain lego.

Duuuh, kenapa sih kamu kalau disuruh tidur siang, susah banget. Ayo tidur, Mama temenin…”

Nggak mauuuu!” Adi malah semakin menaikan desibel suaranya. Sontak, Mama Tika merasa sikap Adi yang membantah membuatnya bertambah emosi.

“Adi! beresin lego-nya, tidur siang sekarang!” Mama Tika melampiaskan amarahnya dengan mencubit tangan Adi.

“Awwww sakiitt Maaaa," teriak Adi. Matanya berkaca-kaca, dan menunjukkan sorot takut kepada Mamanya.

“HUAAAAA….. Kenapa sih Mama cubit aku?? Adek kan cuma nggak mau tidur siang, Mama galakk!” Adi menangis.
Mama Tika terdiam, dalam hati merasa menyesal telah mencubit Adi. Sembari berusaha menenangkan Adi, Mama Tika merenung.

“Iya ya, kenapa aku harus mencubit Adi, sih?”


Moms and Dads,

Apakah pernah mengalami hal yang sama dengan cerita di atas? Atau kondisi ini sering terjadi di rumah saat ini? Sebenarnya, bagaimana ya untuk bisa menerapkan disiplin tanpa harus menjadi galak dan kasar kepada anak? Dalam Orami Eduseries Seri Mengajarkan Disiplin Pada Usia Balita (Toddler) dan Anak-Anak (Kids) ini, Moms and Dads akan belajar mengenai:

  1. Mengenal karakter anak generasi alpha
  2. Haruskah orang tua menjadi galak untuk menerapkan disiplin pada anak?
  3. Apa yang terjadi pada anak saat orang tua menerapkan pola asuh galak?
  4. Tips menerapkan disiplin tanpa menjadi galak


Bagian 1: Mengenal Karakter Anak Generasi Alpha

dede2.png

Moms and Dads, sudah tahukah tentang istilah generasi alpha?

Istilah generasi alpha dikemukakan oleh Mark Mc. Crindle melalui tulisan di Business Insider, untuk sebutan anak-anak yang lahir di tahun 2011 – 2025. Generasi ini disebut paling akrab dengan teknologi digital sehingga mereka disebut juga sebagai digital native.

Anak dari generasi ini memiliki karakteristik sebagai generasi yang memiliki pola pikir yang terbuka, sehingga mereka menjadi individu yang memiliki keberanian untuk menyuarakan kebutuhannya sejak usia muda.

Generasi alpha juga digambarkan tidak mudah untuk puas dalam menerima pandangan dan pendapat tertentu sehingga mereka banyak bertanya dan kritis ketika suatu aturan ditetapkan. Sayangnya, karakteristik itu yang kemudian sering disalah artikan sebagai sikap yang “membangkang” atau sulit diatur oleh orangtua.


Catatan Kecil:

Moms and Dads, anak-anak tidak serta merta bertumbuh menjadi orang yang sempurna tanpa kesalahan. Ketidakmampuan mereka dalam mengikuti aturan yang ditetapkan sebaiknya tidak dilihat sebagai reaksi pembangkangan, melainkan sebagai bagian dari proses tumbuh kembang seorang anak. Jadi, kesabaran sangat dibutuhkan dalam menghadapi proses ini.


Bagian 2: Haruskah Orang Tua Menjadi Galak untuk Menerapkan Disiplin Pada Anak?

pusing2.jpg

Moms and Dads, pernahkah Anda mendengar bahwa semakin galak orang tua, maka akan semakin penurut anaknya? Seringkali disiplin dimaknai sebagai suatu keharusan yang tidak bisa ditawar atau dinego, yang kemudian dimunculkan dalam perilaku galak dan kasar seperti memukul, mencubit, saat menetapkan aturan bagi anak-anak.

Padahal menurut James Drever, seorang psikolog, disiplin diartikan sebagai kemampuan untuk mengendalikan diri sesuai dengan tata aturan atau norma yang berlaku di dalam lingkungan. Jadi fokus utama dalam proses disiplin bukan pada siapa yang memegang kontrol lebih kuat, tetapi pada bagaimana cara membangun sikap pengendalian diri yang lebih baik.

Pandangan tersebut memberikan makna baru pada konsep disiplin dalam mendidik anak, yaitu sikap galak tidak akan bisa membuat anak nurut / mengikuti aturan. Sebab, sikap galak justru akan melibatkan tarik-menarik kekuatan (adu kuat) antara orang tua dan anak daripada memberikan ruang pertumbuhan kontrol diri pada anak. Kontrol diri atau pengendalian diri justru muncul ketika anak memiliki pemahaman yang benar mengenai pentingnya suatu tatanan atau aturan.


Catatan Kecil:

Moms and Dads, galak dan konsisten (tegas) merupakan dua hal yang berbeda. Anak-anak perlu mendapatkan aturan yang konsisten, namun cara ini tidak perlu diterapkan dengan sikap yang galak kepada anak. Melalui cara bicara yang lembut pun, anak-anak bisa memahami aturan asalkan aturan tersebut diterapkan secara konsisten. Banyak-banyakin sabarnya ya Moms and Dads 😊


Bagian 3: Apa yang Terjadi Pada Anak Saat Orang Tua Menerapkan Pola Asuh Galak?

bengong.jpg

Moms and Dads, orang tua yang galak biasanya memiliki tuntutan yang tinggi terhadap anaknya dan kurang bisa menoleransi kesalahan yang dilakukan seorang anak. Seolah anak harus patuh mengikuti seluruh tata aturan tanpa ada cela.

Padahal, mengingat karakter anak-anak generasi alpha, sikap patuh dan super nurut tentunya akan sulit untuk didapatkan dengan mudah. Belum lagi dengan kemampuan berpikir anak yang masih dalam tahap perkembangan awal, sehingga pasti akan sulit bagi anak untuk mengikuti seluruh tata aturan secara sempurna.

Di bawah ini adalah beberapa ciri dari orang tua yang galak dan efeknya kepada anak:

  1. Sering Mengkritik Anak, Jarang Memuji
    Siapapun pasti akan senang dipuji, tetapi orang tua yang galak akan lebih banyak mengkritik daripada memberikan pujian. Selalu ada saja yang nampak kurang, sehingga komunikasi yang dilakukan lebih banyak memberikan kritik.

    Ada juga orang tua yang merasa sudah memberikan pujian, tetapi lupa bahwa esensi dari pujian adalah tidak perlu diikuti oleh kritik, misalnya, “Wah terima kasih sudah membawakan minuman untuk Mama, tetapi lain kali bawanya hati-hati supaya airnya tidak tumpah”. Kalimat ini terdengar seperti memuji, tetapi sebenarnya dikategorikan sebagai kritik, bukanlah pujian, ya Moms and Dads.

    Jadi, sebaiknya jika Moms and Dads ingin memberikan pujian, lakukanlah tanpa perlu embel-embel kritik, misalnya, “Wah, terima kasih, ya Nak sudah membawakan minuman untuk Mama. Kamu sangat perhatian.”

    Hati-hati Moms and Dads, sikap yang selalu mengkritik merupakan salah satu faktor yang menyebabkan anak bertumbuh menjadi pribadi yang takut mengungkapkan ide dan kurang percaya diri.

  2. Banyak Marah, Kasar dan Teriak dalam Mengasuh Anak
    Pernah dengar petuah bijak yang mengatakan, “Kemarahan membuat kita berteriak, karena saat itulah hati kita saling menjauh, sehingga sulit untuk mendengar dan saling memahami?"

    Rasanya pepatah tersebut cukup cocok untuk situasi ini, karena teriakan dan kemarahan tidak akan membuat anak menurut dan mendekat, tetapi semakin menjauhkan hati mereka. Anak-anak yang bertumbuh dengan makian dan pukulan, hanya akan bertumbuh menjadi orang dewasa yang pemarah. Mereka tidak belajar mengenai kontrol diri, yang sebenarnya menjadi tujuan dari disiplin.

    Berdasarkan buku dari dr. Nurul Afifah (2019) yang berjudul Don’t be Angry, Mom: Mendidik Anak tanpa Marah, diungkapkan bahwa anak-anak yang memiliki orang tua yang terbiasa mendidik dengan kemarahan, memiliki kecenderungan bertumbuh dengan isu rasa kepercayaan diri, tertutup ataupun depresi selain adanya isu kesehatan lainnya.

  3. Kaku dan Sulit Menerima Perubahan
    Moms and Dads, anak adalah pribadi yang dinamis, kebutuhannya bisa beragam dan berubah-ubah dalam waktu singkat. Jika orang tua memiliki pribadi yang kaku, hal ini akan menimbulkan benturan kebutuhan antara orangtua dan anak.

    Orang tua dengan tipe kaku ini, biasanya akan menumbuhkan anak-anak yang sulit untuk menerima kegagalan dan perubahan, mereka membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa melihat secara utuh ada hal-hal lain yang berada di luar kontrol mereka.

    Moms and Dads, menjadi dinamis bukan berarti menjadi lemah, melainkan untuk menumbuhkan sikap fleksibilitas dalam memandang sesuatu.

    “Dinamis bukan berarti tidak memiliki tata aturan yang baku atau mudah di nego. Menjadi dinamis lebih untuk menunjukkan pada kemampuan Anda dalam memahami kebutuhan anak secara lebih baik”. Misalnya, waktu tidur jam 9 malam, tetapi karena hari ini ada kumpul keluarga besar, maka anak-anak diizinkan untuk tidur lebih malam dari biasanya. Nah, orang tua yang kaku, biasanya tidak akan mentolerir hal ini, waktu tidur jam 9 adalah harga mati yang harus diikuti secara patuh.

Catatan Kecil:

Moms and Dads, anak-anak akan semakin sulit diatur ketika ia merasa tidak nyaman. Dan rasa nyaman ini tentunya hanya bisa didapatkan ketika ia merasa yakin bahwa dirinya dicintai seutuhnya oleh kedua orang tuanya.

Saat Moms and Dads terus menerus mengkritik, marah dan tidak menerima perubahan, anak-anak akan melihatnya sebagai sikap penolakan terhadap diri mereka, sehingga mereka pun akan semakin terus berusaha untuk mencari-cari perhatian dengan cara yang paling ekstrem sekalipun.


Bagian 4: Tips Menerapkan Disiplin Tanpa Menjadi Galak

papa.jpg

Berikut adalah beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh Moms and Dads untuk membuat anak berhasil menyesuaikan diri dengan aturan yang diterapkan di rumah:

  1. Sesuaikan dengan Umur, Jenis Kelamin dan Karakter Anak
    Semakin kecil umur anak, maka orang tua harus semakin sederhana dalam menentukan aturan yang ingin diterapkan. Moms and Dads, perlu melakukannya dengan konsisten.

    Moms and Dads, arti dari konsisten adalah memiliki pola yang sama dan dilakukan berulang-ulang, misalnya, sebelum tidur harus menggosok gigi dulu. Kegiatan ini harus dilakukan setiap hari secara konsisten, baik sedang berada di rumah ataupun menginap.

    Hindari memberikan aturan yang mustahil dilakukan oleh anak ya, Moms and Dads, misalnya, meminta anak umur 3 tahun untuk duduk diam tanpa kegiatan apapun adalah mustahil. Anak-anak pada umur tertentu, biasanya di umur 2 – 5 tahun menjadi jauh lebih aktif dibandingkan umur yang lain, karena pada umur tersebut anak sedang melakukan ekplorasi. Ditambah lagi, ada perbedaan keaktifan antara anak laki-laki dan perempuan.

    Anak-anak dengan karakter yang kuat (strong will children) membutuhkan strategi disiplin yang berbeda dari anak-anak dengan karakter yang lain. Anak dengan karakter strong will memiliki ego yang kuat mengenai kebutuhan dirinya. Sehingga, untuk membuatnya memahami suatu aturan, Moms and Dads perlu memberikan penjelasan yang baik untuk memenangkan hatinya.

  2. Walk The Talk
    Menurut Piaget, seorang psikolog yang berkecimpung dalam perkembangan anak, anak yang berusia 0 – 7 tahun akan lebih mudah mencerna sesuatu melalui pengalaman langsung dan pengulangan yang konsisten.

    Jadi, Moms and Dads, saat menerapkan sebuah aturan, pastikan bahwa hal tersebut juga dilakukan oleh semua orang di lingkungan rumah ya. Misalnya, Moms and Dads menerapkan untuk tidak memakai gadget saat makan malam bagi anak, maka sebaiknya orang tua juga mengikuti aturan yang sama.

    Hal ini akan membuat anak semakin mudah paham, karena semua orang melakukan hal yang sama, tanpa terkecuali. Anak juga menjadi lebih mudah untuk diarahkan dan mengikuti aturan ketika ia merasa bahwa peraturan tersebut adalah untuk semua orang.

  3. Gunakan Bahasa yang Padat, Singkat, dan Mudah Dicerna
    Anak-anak yang masih kecil tentu memiliki pemahaman bahasa yang terbatas. Jadi, hindari untuk menggunakan kata atau kalimat yang panjang saat memberikan aturan. Biasakan untuk menatap mata saat memberikan instruksi ataupun saat menegur anak, karena akan membantu anak untuk belajar menghubungkan antara ekspresi muka, intonasi suara dan perilaku. Hal ini akan sangat membantu untuk mengembangkan kemampuan emosi dan empatinya.

    Moms and Dads, hindari bahasa dalam bentuk sindiran atau sarkasme pada anak-anak yang lebih kecil, karena akan membingungkan mereka, misalnya, “Bagus ya…. Sekarang sudah pintar melawan Mama!” Padahal maksud Moms and Dads adalah ingin menegur sikapnya yang melawan, hati-hati karena anak bisa keliru memahami, lho.

    Anak-anak tidak bisa mengingat seluruh peraturan yang Anda miliki, jadi dengan mengingatkan mereka berulang kali dalam berbagai situasi akan sangat membantu mereka untuk memahami konsep aturan dan harapan yang diinginkan oleh orang tua. Demikian juga saat bermain, Anak-anak perlu diberikan peraturan sebelum memulai permainan, dan diingatkan kembali setelahnya.

  4. Kelola Emosi dengan Baik
    Orang tua yang lelah akan cenderung lebih mudah tersulut emosinya. Biasanya saat merasa Lelah, perilaku anak yang sebenarnya cukup wajar akan dilihat sebagai hal yang mengganggu sehingga emosi menjadi mudah naik, dan akhirnya marah-marah.

    Sadari kondisi psikologis diri sendiri ya, Moms and Dads. Saat anak dan orang tua sedang berada dalam amarah atau kesal, sebaiknya keduanya mengambil waktu untuk menenangkan diri sendiri. Menjauhkan diri sejenak, keluar dari situasi yang mengganggu adalah salah satu strategi yang tepat agar tidak memperkeruh, daripada memaksakan diri untuk menghadapinya.

  5. Dekatkan Hati Melalui Bahasa Kasih
    Anak tidak hanya perlu untuk mengetahui mengenai tata aturan yang berlaku, namun mereka juga perlu tahu bahwa orang tuanya mencintainya secara utuh, tanpa syarat, tanpa sebab.

    Menerapkan disiplin hanya bisa diraih ketika hati anak-anak mau nurut 100%, yang hanya bisa diraih dari hubungan baik yang dijalin antara orangtua dan anak.

    Lima bahasa kasih dari Gary Chapman dapat Anda coba untuk semakin menunjukkan cinta kasih dan meraih hati anak. Bahasa kasih dapat berupa memberikan pujian, memberikan hadiah, menyediakan waktu berkualitas, memeluk dan memberi perhatian kepada kebutuhan anak. Ayo coba kenali, yang mana ya bahasa kasih anak Anda?

    Moms and Dads, Anak tidak akan selalu mengingat deretan aturan, tidak pula mengingat tentang barang-barang mewah yang Anda berikan, tetapi anak akan selalu mengingat tentang perasaan dicintai sepenuhnya oleh orang tuanya. Dan hal ini sudah cukup bagi mereka untuk mau mengikuti aturan yang dibuat dengan sukacita.

Catatan Kecil:

Moms and Dads, mengasuh anak tidak ada rumus pasti. Kita bisa saja menerima saran A, B, C dan D dari banyak sumber, akan tetapi, sesungguhnya, yang terpenting bukanlah seberapa banyak saran yang bisa Anda temukan, tetapi seberapa percaya diri Moms and Dads dalam mengasuh anak-anak yang dipercayakan kepada Anda.

Semakin Moms and Dads merasa percaya diri maka semakin baik pula kemampuan Anda untuk bisa mendengarkan kebutuhan anak, dan tidak melulu memaksakan kehendak pribadi sebagai orang tua. Semangat ya Moms and Dads….

QUOTE PENUTUP.png


Moms and Dads, bagikan pengalaman membaca Anda, yuk!

Klik di sini!


Baca seri Orami Eduseries lainnya!


Pranala Luar/Referensi

  • Papalia, Diane E, Olds, Sally Wendkos. (1995) . Human Development (6th ed). Mc.Graw-Hill, Inc.
  • Berk, Laura E. (1997) . Child Development (4th ed).Allyn and Bacon.
  • https://lektur.id/arti-galak/
  • https://www.seputarpengetahuan.co.id/2017/08/20-pengertian-disiplin-menurut-para-ahli.html#10_James_Drever_Sisi_Psikologis
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait