Pernikahan & Seks

1 Februari 2021

Keputihan Setelah Berhubungan Seks, Apakah Berbahaya? Ini Penjelasannya!

Jaga organ intim agar tetap sehat ya, Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya Fiona
Disunting oleh Amelia Puteri

Keputihan adalah kondisi umum yang biasanya terjadi pada wanita. Tak jarang keputihan dianggap sebagai sesuatu yang sangat menakutkan bagi banyak wanita.

Selain menimbulkan rasa tidak nyaman, keputihan juga membuat tak percaya diri, terutama bagi wanita yang telah menikah.

Keputihan adalah sekresi vaginal abnormal pada wanita. Keputihan ditandai keluarnya cairan berwarnah putih kekuningan atau putih berbau dari saluran vagina.

Biasanya keputihan yang normal tidak disertai rasa gatal.

Sebagian wanita mengalami keputihan setelah berhubungan seks dengan tekstur dan warna yang berbeda.

Apakah keputihan setelah berhubungan adalah normal atau justru mengkhawatirkan? Simak penjelasannya berikut ini ya.

Baca Juga: Perbedaan Keputihan Tanda Hamil dan Tanda Haid

Keputihan Setelah Berhubungan Seks, Normalkah?

Mengenal Keputihan Setelah Berhubungan Seks.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Keputihan setelah berhubungan seksual disadari oleh sebagian wanita setelah satu atau dua hari berhubungan.

Menurut studi Vaginal Discharge, keputihan dapat terjadi akibat perubahan normal pada kadar estrogen.

Ketika kadarnya tinggi, estrogen merangsang serviks untuk menghasilkan sekresi (lendir), dan sejumlah kecil lendir dapat dikeluarkan dari vagina.

Sekresi cairan dari vagina dengan tujuan menyeimbangkan kadar pH. Biasanya, hal itu disebabkan oleh gairah seksual dan tidak disertai rasa sakit.

"Keputihan itu bisa normal atau tidak normal, ” kata dr. Oluwatosin Goje, MD seorang dokter kandungan di Amerika Serikat.

Tentu penyebab ini beragam. Jika pria ejakulasi ke dalam vagina, sebagian besar air mani akan keluar dari vagina sebagai keputihan.

Keputihan setelah berhubungan yang sehat adalah tekstur cairan bening, putih dan mengandung lendir serviks.

Perubahan warna atau tampilan keputihan dapat terjadi secara alami, sementara keputihan setelah berhubungan juga bisa mungkin menunjukkan infeksi dan masalah serius.

Penyebab umumnya termasuk vaginosis bakteri, infeksi jamur, dan IMS.

The Journal of Infectious Disease memaparkan, penggunaan kondom dapat mengurangi penularan penyakit seksual akibat jamur atau bakteri.

Penggunaan kondom telah dikembangkan sebagai metode yang efektif untuk mencegah penularan HIV.

Namun tak semua cairan ini dianggap sebagai keputihan setelah berhubugan seksual, vagina juga memiliki cairan bening dan tekstur cair yang biasa keluar saat berhubungan seksual.

Demikian pula, saat hamil, Moms mungkin memiliki perubahan hormon dalam tubuh.

Hal ini membuat mereka mengalami keputihan yang berat selama kehamilan. Beberapa kontrasepsi dengan hormon di dalamnya juga dapat membuat keputihan lebih sering terjadi.

Adapun keputihan setelah berhubungan masih tergolong normal apabila menunjukkan ciri-ciri seperti di bawah ini, seperti:

  • Tekstur cair atau encer
  • Warna bening atau sedikit putih
  • Jumlahnya sedikit
  • Hampir tidak berbau
  • Tidak menimbulkan rasa gatal atau nyeri

Keputihan setelah berhubungan seksual dengan ditandai pada pada warna dan kekentalan lendir, jumlah lendir yang berlebihan, dan disertai bau lendir yang tajam dan rasa gatal.

Penyebabnya biasanya karena kebersihan yang buruk, stres, infeksi, serta pemakaian obat-obatan dalam waktu lama.

Baca Juga: Keputihan saat Hamil: Penyebab, Jenis, dan Cara Mengatasi

Penyebab Keputihan Tidak Normal

Perbedaan Keputihan Setelah Berhuubungan Seksual Tidak Normal

Foto: Orami Photo Stocks

MenurutCleveland Clinic, keputihan setelah berhubungan dan ditandai rasa gatal dan panas biasanya disebabkan oleh jamur Candida albicans, infeksi jamur sering menghasilkan cairan putih kental.

Infeksi ini adalah penyebab paling umum dari keputihan. Hampir 30% wanita usia subur sering mengalami ini.

Keputihan setelah berhubungan seks dan keluarnya cairan dan bau menyengat, mungkin Moms perlu berkonsultasi ke dokter.

Penyebab dari keputihan di antaranya sebagai berikut:

  • Infeksi jamur (Kandidosis vulvovaginalis). Keputihan berwarna putih kekuningan berupa gumpalan-gumpalan seperti susu. Terasa sangat gatal, panas dan menyebabkan nyeri setelah berkemih dan nyeri saat berhubungan seksual.
  • Infeksi bakteri (Bakterial vaginosis). Keputihan berwarna keabu-abuan, bentuknya agak encer, berbau amis dan jarang berbusa, gatal dan rasa terbakar pada kemaluan.
  • Infeksi parasit (Trikomoniasis). Keputihan berwarna kuning kehijauan, bentuknya kental, berbau tidak enak dan berbusa, nyeri saat behubungan, perdarahan saat berhubungan, perdarahan di luar siklus menstruasi.
  • Alergi/Iritasi Bahan Kimia (krim, cairan, bahan semprot, wewangian). Keputihan akan menjadi lebih banyak, berwarna kuning keputihan, dapat encer atau kental. Keluhan yang dapat menyertai adalah rasa gatal, terbakar, nyeri dan kemerahan pada daerah kemaluan.
  • Petanda kanker. Keputihan berwarna kecoklatan, terdapat bercak darah dan berbau busuk. Keputihan dapat berlangsung dalam waktu lama, tidak respon terhadap pengobatan apapun dan dapat disertai rasa nyeri saat berhubungan seksual.

Baca Juga: Jangan Garuk Saat Keputihan Gatal! Simak Penjelasannya

Cara Mengatasi Keputihan Setelah Berhubungan

Penyebab keputihan setelah berhubungan seks bisa berasal dari kebiasaan sehari-hari.

Misalnya, memakai tisu untuk mengeringkan vagina sesudah buang air kecil maupun buang air besar.

Atau, memakai pakaian dalam yang ketat dan terbuat dari bahan sintetis yang tidak menyerap keringat sekaligus membuat vagina lembap. Celana ketat juga bisa menjadi penyebab keputihan.

Berikut cara mengatasi keputihan setelah berhubungan seksual yang kerap terjadi pada wanita.

1. Jaga Kebersihan Organ Intim

menjaga kesehatan vagina

Foto: Orami Photo Stock

Iritasi saat berhubungan seksual, penggunaan tampon, dan alat kontrasepsi juga bisa menjadi penyebab keputihan.

Oleh karena itu, cara mengatasi keputihan setelah berhubungan seks adalah selalu jaga organ intim dan menjalani kehidupan seksual yang sehat suntuk mencegah keputihan juga penyakit menular seksual lainnya.

Penyebab keputihan yang lainnya adalah malas mengganti pembalut. Oleh karena itu, saat menstruasi, Moms harus mengganti pembalut setiap 4-8 jam sekali. Demikian juga dengan pantyliner.

Area genital harus dijaga sebersih mungkin. Mencuci setiap hari tanpa sabun atau dengan sabun lembut non-allergenic (seperti sabun gliserin).

Pembilasan dan pengeringan secara menyeluruh juga dianjurkan. Mengganti pakaian dalam setiap mandi dapat membantu meredakan keputihan.

2. Pengobatan Antibiotik

Penyebab keputihan setelah berhubungan seks yang serius biasanya memerlukan pengobatan tertentu. Misalnya, infeksi bakteri diobati dengan antibiotik.

Beberapa tindakan umum dapat membantu meredakan gejala, meskipun tidak menghilangkan infeksi.

Antibiotik bisa berupa gel atau krim yang dimasukkan ke dalam vagina atau tablet yang diminum.

Obat antihistamin yang diminum juga dapat meredakan gatal. Beberapa antihistamin juga menyebabkan kantuk.

Baca Juga: Perbedaan Keputihan Tanda Hamil dan Tanda Haid

3. Mengompres Air Es

produk-vagina-yang-sebenarnya-tidak-diperlukan.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Menempatkan kompres es di area genital atau duduk di bak mandi air hangat dapat mengurangi rasa sakit dan gatal akibat keputihan setelah berhubungan seks.

Mandi dilakukan dalam posisi duduk dengan air hanya menutupi area genital dan rektal. Pemandian bisa dilakukan di bak mandi yang diisi dengan sedikit air atau di baskom besar.

Membilas area genital dengan air hangat yang diperas juga dapat meredakan nyeri.

4. Hindari Menggunakan Produk Wewangian

Menjaga kebersihan area genital perlu dipupuk sejak masa remaja.

Mereka perlu diajari kebersihan yang baik, seperti menyeka dari depan ke belakang, mencuci tangan setelah buang air besar dan buang air kecil, dan menghindari meraba area genital.

Begitu juga dengan menghindari produk wewangian untuk membersihkan area genital.

Jika suatu produk seperti krim, bedak, sabun, atau kondom terus-menerus menyebabkan iritasi, sebaiknya tidak digunakan.

Wanita disarankan untuk tidak menggunakan semprotan kebersihan wanita dan tidak menyemprotkan air. Produk ini tidak menghilangkan kotoran dan dapat memperburuknya.

Douching dapat meningkatkan risiko penyakit radang panggul.

Baca Juga: Mengalami Keputihan Hijau, Apakah Berbahaya?

Foto: Orami Photo Stocksnital dengan Benars

menjaga kesehatan organ kewanitaan-1

Foto: Orami Photo Stocks

Cara membersihkan vagina tidak sesuai usai buang air kecil pun bisa menjadi penyebab keputihan.

Moms harus membilas vagina dari vagina mengarah ke anus. Lalu, pastikan air yang dipakai bersih supaya tidak menyebabkan keputihan.

Bicara soal membasuh vagina, hindari pemakaian cairan pembersih vagina sebab kandungan desinfektannya bisa mematikan bakteri normal yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan vagina.

6. Periksakan ke Dokter

Bila keputihan setelah berhubungan seks tidak kunjung mereda dan disertai dengan luka, gatal, kemerahan, pembengkakan, atau rasa perih saat buang air kecil, sebaiknya juga segera periksakan diri ke dokter.

Jangan sepelekan hal ini, meskipun Moms sering merasakan keputihan. Keputihan bisa dikatakan tidak normal apabila karena infeksi bakteri atau jamur yang membahayakan area genital.

Dokter akan memberikan penanganan berdasarkan penyebab keputihan.

Itu dia Moms, penjelasan mengenai keputihan setelah berhubungan seksual dan cara mengatasinya. Semoga Moms dapat membedakan keputihan yang normal dan tidak, ya!

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait