Kesehatan

4 Juni 2021

Mengenal Skoliosis, Mulai dari Penyebab Hingga Pengobatan

Skoliosis merupakan kondisi tulang belakang yang melengkung secara tidak normal
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Lolita
Disunting oleh Amelia Puteri

Skoliosis merupakan kondisi tulang belakang yang melengkung secara tidak normal. Biasanya, lengkungan ini terjadi mulai dari atas bahu hingga bagian punggung bawah.

Apabila tulang belakang Moms melengkung menyerupai huruf 'S' atau 'C' kemungkinan Moms mengidap skoliosis.

Jika ditanya, apa penyebab skoliosis? Menurut American Association of Neurological Surgeons (AANS), sekitar 80 persen penyebab kasus skoliosis belum dapat diidentifikasi.

Namun, kondisi ini biasanya terjadi pada sejak anak lahir hingga berusia 7 tahun. Penyebab umumnya ialah cacat lahir, kelainan neurologis, dan kondisi genetik.

Nah, untuk mengetahui lebih lanjut terkait penyakit skoliosis, dalam artikel ini akan dibahas mengenai penyebab, cara mengobati, dan posisi tidur yang baik untuk penderita skoliosis.

Baca Juga: 7 Orang Terkenal Ini Ternyata Merupakan Penderita Skoliosis

Penyebab Skoliosis

skoliosis

Foto: Orami Photo Stocks

Melansir dari Medical News Today, penyebab skoliosis cenderung sulit diprediksi atau diketahui, namun ada beberapa gejala umum yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab skoliosis yakni:

1. Cerebral Palsy

Cerebral palsy ialah gangguan sistem saraf yang memengaruhi gerakan, belajar, mendengar, melihat, dan berpikir.

2. Distrofi Otot

Distrofi otot ialah gangguan kelainan genetik yang menyebabkan kelemahan otot.

3. Cacat Lahir

Cacat lahir yang memengaruhi tulang belakang bayi, seperti spina bifida juga bisa jadi penyebab umum skoliosis. Selain itu, infeksi tulang belakang dan cedera cenderung dialami oleh mereka yang memiliki riwayat skoliosis.

4. Gen Khusus

Para peneliti percaya bahwa setidaknya satu gen berperan dalam perkembangan skoliosis.

5. Skoliosis Sindromik

Skoliosis dapat berkembang sebagai bagian dari kondisi medis, termasuk neurofibromatosis atau sindrom Marfan.

6. Penyebab Lainnya

Postur tubuh yang buruk, membawa tas punggung atau tas, gangguan jaringan ikat, dan beberapa cedera dapat menyebabkan tulang belakang melengkung.

Penelitian mengungkapkan bahwa wanita cenderung lebih berpotensi mengalami skoliosis dibandingkan pria.

Baca Juga: Mengapa Bisa Terjadi Skoliosis Pada Anak?

Gejala-gejala Skoliosis

skoliosis

Foto: Orami Photo Stocks

Menurut jurnal Scoliosis and Spinal Disorder, sebenarnya, gejala skoliosis sangat bervariasi tergantung pada derajat skoliosis. Selain itu, gejala skoliosis biasanya sudah terlihat sejak bayi atau remaja. Gejalanya berbeda-beda, tergantung pada usia orang tersebut.

1. Gejala Skoliosis pada Remaja

Bentuk paling umum dari skoliosis muncul pada masa remaja dan dikenal sebagai skoliosis idiopatik remaja. Ini biasanya terjadi pada remaja berusia antara 10 dan 18 tahun. Gejala skoliosis pada remaja ialah:

  • Posisi kepala tidak tepat berada di tengah atau lurus dan selaras dengan tubuh serta leher.
  • Tulang rusuk pada bagian kiri dan kanan memiliki ketinggian yang berbeda.
  • Bentuk pinggul pada bagian kiri dan kanan juga tidak lurus atau terlihat lebih menonjol.
  • Ketika mengenakan pakaian, akan merasakan bahwa bahu atau atau tulang belikat terlihat lebih tinggi dibandingkan sisi lainnya.
  • Panjang kaki kiri dan kanan berbeda.
  • Beberapa jenis skoliosis dapat menyebabkan sakit punggung dan umumnya menyerang orang-orang yang lebih tua atau dewasa

Baca Juga: Cara Mengetahui Apakah Anak Menderita Skoliosis

2. Gejala Skoliosis pada Bayi

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa skoliosis juga bisa menyerang bayi yang baru lahir, sehingga penting untuk Moms mengetahui gejala yang dirasakan yakni:

  • Ada benjolan di salah satu sisi dada
  • Berbaring dengan tubuh condong ke salah satu sisi
  • Pada kasus yang lebih berat dapat menyebabkan nyeri dada, masalah jantung, paru-paru, dan sesak napas.
  • Jika bayi tidak mendapat pengobatan untuk skoliosis, mereka akan lebih berisiko mengalami masalah di kemudian hari, seperti gangguan fungsi jantung dan paru-paru.

Cara Mengobati Skoliosis

skoliosis

Foto: Orami Photo Stocks

Melansir dari Ortho Info, perawatan dan cara mengobati skoliosis tergantung pada banyak faktor, seperti tingkat kelengkungan tulang belakang, usia, perkembangan skoliosis, jumlah dan jenis kelengkungan, hingga pilihan pengobatan.

Namun, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengobati skoliosis, berikut penjelasannya.

1. Bracing

Menurut AANS, penderita skoliosis perlu menggunakan penjepit atau bracing jika skoliosis yang dimiliki masih berkembang dan kelengkungannya lebih dari 25 hingga 40 derajat.

Namun, perlu diketahui bahwa penggunaan bracing tidak akan meluruskan tulang belakang, tapi dapat mencegah lengkungan bertambah. Metode pengobatan ini lebih efektif untuk kasus-kasus yang terdeteksi sejak dini.

Mereka yang mengidap skoliosis harus memakai kawat penjepit selama 16 hingga 23 jam sehari hingga skoliosis yang diidapnya berhenti tumbuh dan berkembang.

Baca Juga: Mengenal Jenis-Jenis Skoliosis pada Bayi

2. Operasi

Pembedahan biasanya disediakan untuk orang dengan kurva lebih dari 40 derajat. Namun, bicarakan dengan dokter tentang opsi ini jika Moms telah didiagnosis menderita skoliosis dan merasa kelengkungan mengganggu aktivitas sehari-hari atau menyebabkan ketidaknyamanan.

Fusi tulang belakang adalah operasi skoliosis standar. Dalam prosedur ini, dokter menggabungkan tulang belakang menggunakan cangkok tulang, batang, dan sekrup.

Namun, ada beberapa risiko operasi fusi tulang belakang yang harus diwaspadai yakni:

  • Pendarahan berlebih
  • Kegagalan untuk sembuh
  • Infeksi
  • Rasa sakit luar biasa
  • Kerusakan saraf

3. Melakukan Kegiatan untuk Mengurangi Nyeri pada Skoliosis

Terapi tertentu dapat membantu mengatasi nyeri skoliosis, meskipun tidak akan membantu memperbaiki kelengkungannya.

Beberapa teknik memerlukan lebih banyak penelitian tetapi mungkin direkomendasikan oleh dokter seperti hidroterapi, pijat, stimulasi listrik, dan penyangga punggung.

Nah, berikut metode yang dapat membantu mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan.

  • Olahraga

Latihan dan peregangan untuk mengatasi gejala nyeri skoliosis. Meskipun tidak dapat mengatasi masalah yang mendasarinya, tapi olahraga penting untuk kesehatan secara umum dan dapat membantu tubuh serta otot tetap fleksibel.

  • Pengobatan Medis

Obat nyeri seperti asetaminofen (Tylenol) dan ibuprofen (Advil) dapat membantu mengurangi nyeri. Namun, konsultasikan hal ini dengan dokter spesialis dan penggunaan obat nyeri tersebut haruslah melalui resep dokter.

  • Perawatan Chiropractic

Sebuah studi 2011 menyarankan bahwa perawatan chiropractic dapat membantu mengurangi rasa sakit dan meningkatkan fleksibilitas saat hidup dengan skoliosis. Pastikan perawatan chiropractic ini dilakukan oleh ahlinya dan telah mengantongi izin praktek dan sertifikat skill.

Baca Juga: Penderita Skoliosis Melahirkan Normal, Bisakah?

Posisi Tidur Untuk Penderita Skoliosis

skoliosis

Foto: Orami Photo Stocks

Dalam jurnal Medline Plus, posisi tidur terbaik untuk penderita skoliosis adalah posisi yang meningkatkan kesehatan tulang belakang melalui penyelarasan tulang belakang dan memberikan kenyamanan. Berikut ini rekomendasi posisi tidur untuk penderita skoliosis.

1. Tidur Telentang

Posisi tidur terbaik untuk orang yang hidup dengan kelengkungan tulang belakang yang abnormal adalah telentang; ini juga merupakan posisi tidur terbaik bagi siapa pun.

Posisi ini mendukung kelengkungan tulang belakang yang normal dan alami, seperti kurva serviks (punggung atas) dan lordosis lumbal (kurva ke dalam punggung bawah).

Selain itu, tidur telentang dapat mendistribusikan berat badan secara merata ke seluruh tubuh sehingga tidak ada tekanan ekstra yang dibebankan pada salah satu bagian tulang belakang.

Baca Juga: Perbedaan Skoliosis Anak dan Dewasa. Kenali Sejak Dini Gejalanya!

2. Tidur Menyamping

Posisi terbaik berikutnya adalah tidur miring dengan bantal yang menopang kepala dalam posisi netral ke batang tubuh, dan batang tubuh dalam posisi netral ke panggul.

Bagi penderita skoliosis, sebaiknya menghindari posisi tidur tengkurap karena tidak mendukung keselarasan dan penyangga tulang belakang. Ini juga merupakan posisi tidur terburuk bagi orang pada umumnya.

Tidur tengkurap melengkungkan punggung, menempatkan punggung atas dan leher (kurva serviks) pada posisi yang tidak wajar. Ini memberi tekanan ekstra pada tulang belakang yang sudah mengalami ketegangan tulang belakang yang merugikan karena skoliosis.

Itu dia Moms, informasi mengenai kondisi skoliosis yang bisa terjadi. Jika Moms atau Si Kecil mengalaminya, konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat ya.

  • https://www.scoliosisreductioncenter.com/blog/best-sleeping-positions-for-scoliosis
  • https://www.scoliosisreductioncenter.com/blog/how-to-sleep-with-scoliosis
  • https://www.sleepadvisor.org/sleeping-with-scoliosis/
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/190940#risk-factors
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/scoliosis/symptoms-causes/syc-20350716
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait