Kehamilan

KEHAMILAN
2 Juni 2020

6 Tips Lari untuk Ibu Hamil, Yuk Lakukan!

Olahraga lari saat hamil, kehamilan jadi lebih ringan dan memperlancar proses persalinan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Moms punya hobi lari, akan tetapi sedang hamil? Namun, badan juga tidak enak rasanya kalau tidak berlari. Mungkin Moms bertanya-tanya, boleh tidak ya tetap melakukan aktivitas lari selama kehamilan? Apakah berlari akan memengaruhi kehamilan? Berbahaya tidak ya?

Wajar saja Moms mempertanyakan hal tersebut. Saat hamil, tubuh memang mengalami perubahan. Tubuh bisa jadi bereaksi lain pada kebiaasan yang kita lakukan sejak sebelum hamil, termasuk olahraga lari.

Olahraga Lari saat Hamil

Nah, agar tidak bingung dan ragu-ragu, berikut hal-hal yang perlu Moms ketahui seputar olahraga lari saat hamil di bawah ini.

Baca Juga: Tiru 3 Olahraga Terbaik untuk Ibu Hamil yang Dilakukan Selebriti Indonesia Ini

1. Rutin Lari saat Hamil Membantu Proses Persalinan

Olahraga Lari saat Hamil, Boleh Tidak Ya - 1.jpg

Foto : americanpregnancy.org

American College of Obstetricians and Gynaecologists (ACOG) merekomendasikan untuk olahraga 20-30 menit setiap hari selama kehamilan. Olahraga dapat mengurangi risiko diabetes gestasional, kelahiran prematur, preeklampsia, memiliki bayi dengan berat lahir tinggi, dan operasi caesar. Selain itu, dapat meningkatkan perkembangan otak bayi.

Sedangkan untuk olahraga lari dapat membuat Moms merasa lebih baik dan menghilangkan kecemasan dan mempermudah proses persalinan.

“Wanita yang berolahraga selama kehamilan mengalami proses persalinan yang lebih mudah, merasa lebih baik setelah melahirkan, dan pemulihan mereka jauh lebih cepat,” kata Erin Dawson Chalat, M.D., dokter kandungan dan pelari di Maine.

2. Lari saat Hamil Aman Jika Tidak Ada Komplikasi

Olahraga Lari saat Hamil, Boleh Tidak Ya - 2.jpg

Foto allthingsgud.com

Jika komplikasi dalam kehamilan seperti pendarahan, masalah plasenta, atau preeklampsia, berlari bisa berisiko. Akan tetapi, bagi Moms yang tidak mengalami hal-hal tersebut sebaiknya menjaga rutinitas olahraga.

“Berlari tidak akan menyebabkan keguguran atau melukai bayi. Bayi itu cukup terisolasi dan dilindungi selama kehamilan," kata Dawson.

3. Lari Santai, Bukan Race

Olahraga Lari saat Hamil, Boleh Tidak Ya - 3.jpg

Foto: verywellfamily.com

Melakukan aktivitas lari saat hamil bukan berarti mengejar untuk mencapai waktu lebih cepat dengan target jarak tertentu. Akan tetapi, lakukan dengan santai. Sebab, menurut Chris Heuisler, seorang pelari maraton, pelatih lari, dan National Run Concierge Westin Hotels jika detak jantung ibu meningkat, maka hal yang sama terjadi pada bayi dalam kandungan.

"Jadi, jika ingin melakukan lari santai, boleh-boleh saja, tetapi jangan terlalu memaksakan diri yang dapat berdampak pada bayi,” jelasnya.

Baca Juga: 7 Tanda Bahaya Bagi Kehamilan Moms saat Olahraga dan Senam Hamil

4. Terhidrasi dengan Baik

Olahraga Lari saat Hamil, Boleh Tidak Ya - 4.jpg

Foto: thehealthy.com

Lari saat hamil ada kemungkinan berkeringat lebih banyak, maka pastikan untuk selalu terhidrasi dengan baik dan mengenakan pakaian yang longgar. Pada trimester pertama kehamilan, disarankan untuk bergerak atau berolahraga di dalam ruangan. Selain itu, agar terhidrasi dengan cukup minum banyak air sebelum, selama, dan setelah berlari.

Salah satu cara untuk memantau hidrasi adalah dengan menimbang sebelum dan setelah berlari. Setiap penurunan berat badan adalah cairan dan harus diganti dengan minum air yang cukup sesudahnya agar berat badan kembali ke angka semula.

5. Waktu Kehamilan yang Tepat untuk Berlari

Olahraga Lari saat Hamil, Boleh Tidak Ya - 5.jpg

Foto: elcaminowomen.com

Bagi sebagian orang, trimester pertama adalah yang tersulit yang dikarenakan rasa mual dan mudah lelah. Dawson mengatakan, berlari dapat membantu ibu merasa lebih baik, jika kondisi kehamilan memungkinkan untuk berlari.

”Namun, jika belum bisa mengonsumsi makanan apapun karena gejala mual pada trisemester pertama, maka yang terbaik adalah tidak lari,” jelasnya.

Pada trimester kedua saat mual mereda dan tenaga kembali pulih dapat mulai melakukan olahraga lari. ”Setelah pada trisemester pertama sudah mulai berlari meski dalam frekuensi yang sedikit, pada trisemster kedua dapat meningkatkan jarak tempuh,” ungkap Lindsay O'Brien, former All-American di Yale.

Sedangkan pada trimester ketiga, Moms tetap harus berhati-hati seperti berlari pada dua trimester pertama. Pada kebanyakan pelari, kecepatan berlari di trimester ketiga melambat sehingga jalan cepat merupakan pilihan yang lebih baik hingga menjelang hari prediksi kelahiran.

6. Gunakan Sepatu yang Tepat

Olahraga Lari saat Hamil, Boleh Tidak Ya - 6.jpg

Foto: depositphotos.com

Pakailah sepatu dengan ukuran yang pas. Cari sepatu lari yang empuk untuk penyerapan goncangan dan fleksibel di bagian telapak kaki.

"Kaki wanita cenderung membesar selama kehamilan, terutama selama trimester ketiga, dan sepatu reguler mereka mungkin menjadi terlalu ketat, yang membuat kaki rentan terhadap cedera kaki dan ketidakseimbangan," kata Heuisler.

Baca Juga: 3 Efek Buruk Olahraga Berat Untuk Ibu Hamil

Ingat Moms, lari saat hamil bukan untuk mencapai target tertentu sehingga jangan sampai merasa lelah, dengarkan tubuh, dan istirahatlah. Memaksakan diri berlari dengan memasang target waktu dan jarak bisa berbahaya bagi bayi dalam kandungan.

(SWN)

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait