Kesehatan Umum

22 September 2021

Meski Terasa Nikmat, Ketahui Bahaya Makanan Kemasan Berikut Ini

Pastikan Moms paham betul bahaya makan makanan kemasan berikut ini!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Rizky
Disunting oleh Amelia Puteri

Moms pasti pernah menyajikan makanan kemasan untuk keluarga bukan? Makanan kemasan adalah makanan yang dibungkus dengan rapi, bersih, dan ia memiliki masa kedaluwarsa untuk dijual atau dikonsumsi dalam jangka waktu yang bisa Moms perkirakan.

Makanan olahan, seperti makanan siap saji, makanan kemasan, daging olahan, dan sejenisnya memang diyakini dapat menyebabkan efek kesehatan yang negatif.

Sebagian besar makanan kemasan tetap membutuhkan beberapa tingkat pemrosesan, dan sebenarnya tidak semua makanan kemasan buruk bagi tubuh.

Kecuali untuk makanan kemasan yang diproses secara kimia, atau juga disebut makanan ultra-olahan.

Makanan kemasan jenis ini cenderung tinggi gula, bahan pengawet, karbohidrat olahan, dan lemak trans. Karena itu, mereka adalah penyumbang utama obesitas dan penyakit di seluruh dunia.

Parahnya, dalam beberapa dekade terakhir, asupan makanan kemasan ultra-olahan ini telah meningkat secara drastis di seluruh dunia.

Makanan ini sekarang menyumbang 25 hingga 60 persen dari asupan energi harian seseorang di sebagian besar dunia.

Jika Moms ingin tahu apa saja bahaya makanan kemasan dan olahan bagi kesehatan, mari simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Baca Juga: Kenapa Soda Kemasan Botol Kaca Lebih Enak Diminum? Ini Penjelasannya

Mengenal Bahaya Makanan Kemasan dan Olahan

makanan kemasan

Foto: Orami Photo Stock

Makanan kemasan dan olahan biasanya mengandung kadar gula tambahan yang tinggi. Istilah "makanan olahan" dapat menyebabkan kebingungan karena sebagian besar makanan memang perlu diproses dengan cara tertentu.

Pemrosesan mekanis, seperti menggiling daging sapi, memanaskan sayuran, atau dengan pasteurisasi makanan, tidak serta merta membuat makanan menjadi tidak sehat.

Asalkan pengolahan tidak menambahkan bahan kimia, jenis makanan kemasan ini cenderung tidak mengurangi kesehatan makanan.

Namun, ada perbedaan antara pemrosesan mekanis dan pemrosesan kimia. Makanan yang diproses secara kimia seringkali hanya mengandung bahan olahan dan zat buatan, dengan sedikit nilai gizi.

Makanan ini cenderung menambahkan bahan kimia penyedap, warna, dan pemanis.

Sementara itu, makanan ultra-olahan ini kadang-kadang disebut makanan "kosmetik", dibandingkan dengan makanan utuh. Beberapa contoh makanan ultra-olahan meliputi:

  • Makanan beku atau siap saji.
  • Makanan yang dipanggang, termasuk pizza, kue, dan kue kering.
  • Roti kemasan.
  • Produk keju olahan.
  • Sereal sarapan.
  • Kerupuk dan keripik.
  • Permen dan es krim.
  • Me instan dan sup.
  • Daging yang dilarutkan, seperti sosis, nugget, fish finger, dan ham olahan.
  • Soda dan minuman manis lainnya.

Baca Juga: Ada Virus Corona di Kemasan Seafood Beku?

Makanan kemasan jenis ini cenderung terasa enak dan seringkali tidak mahal. Namun, biasanya mengandung bahan yang bisa berbahaya jika dikonsumsi berlebihan, seperti lemak jenuh, tambahan gula, dan garam.

Makanan ini juga mengandung lebih sedikit serat makanan dan lebih sedikit vitamin daripada makanan utuh.

Satu studi besar dari The British Medical Journal yang melibatkan lebih dari 100.000 orang dewasa, menemukan bahwa makan 10 persen lebih banyak makanan kemasan yang diolah ini dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, penyakit jantung koroner, dan gangguan serebrovaskular di atas 10 persen.

Para peneliti mencapai kesimpulan ini setelah memperhitungkan asupan lemak jenuh, natrium, gula, dan serat.

Studi besar lainnya yang juga dipublikasikan dalam The British Medical Journal dengan melibatkan hampir 20.000 orang dewasa, menemukan bahwa makan lebih dari 4 porsi makanan olahan setiap hari dikaitkan dengan peningkatan risiko semua penyebab kematian.

Untuk setiap porsi tambahan, semua penyebab risiko kematian meningkat sebesar 18 persen. Efek makan makanan kemasan lainnya adalah penambahan berat badan yang terjadi tanpa disadari.

Baca Juga: Beda Arti, Ini Penjelasan Tanggal-Tanggal di Label Kemasan Makanan!

Kandungan Tidak Sehat dalam Makanan Kemasan

makanan kemasan

Foto: astroawani.com

Di bawah ini, ada beberapa kandungan yang biasanya ada pada makanan kemasan yang membuatnya tidak sehat dan berisiko meningkatkan risiko penyakit:

1. Gula Tambahan

Makanan kemasan cenderung mengandung tambahan gula dan, seringkali, sirup jagung fruktosa tinggi. Gula tambahan tidak mengandung nutrisi penting tetapi ia tinggi kalori.

Mengonsumsi gula tambahan secara berlebihan juga dapat menyebabkan makan berlebihan secara kompulsif. Ini juga terkait dengan kondisi kesehatan seperti obesitas, sindrom metabolik, diabetes tipe 2, dan peradangan pada tubuh.

Makanan dan minuman olahan adalah salah satu sumber utama gula tambahan dalam makanan.

Minuman manis juga merupakan sumber yang sangat penting dan seseorang cenderung mengonsumsi lebih banyak gula daripada yang mereka sadari dalam minuman ringan.

Mengurangi gula tambahan dengan cara minum air mineral sebagai pengganti soda misalnya, adalah cara cepat dan efektif untuk membuat diet lebih sehat.

2. Bahan Kimia Buatan

Daftar bahan di bagian belakang kemasan makanan olahan seringkali penuh dengan zat yang tidak dapat dikenali.

Beberapa adalah bahan kimia buatan yang telah ditambahkan produsen untuk membuat makanan terasa lebih enak. Makanan olahan sering mengandung jenis bahan kimia berikut:

  • Pengawet, yang menjaga makanan agar tidak cepat rusak.
  • Pewarna buatan.
  • Penyedap kimia.

Selain itu, makanan olahan dapat mengandung lusinan bahan kimia tambahan yang tidak tercantum pada labelnya. Misalnya, "rasa artifisial" adalah campuran eksklusif.

Produsen tidak harus mengungkapkan dengan tepat apa artinya, tetapi biasanya ini adalah kombinasi bahan kimia.

Baca Juga: Sering Minum Teh Dalam Kemasan, Hati-Hati Dengan Hal Ini

3. Karbohidrat Olahan

Karbohidrat adalah komponen penting dari diet apa pun. Namun, karbohidrat dari makanan utuh memberikan manfaat kesehatan yang jauh lebih besar daripada karbohidrat olahan dalam makanan kemasan.

Tubuh memecah karbohidrat halus, atau sederhana, dengan cepat, yang menyebabkan lonjakan cepat kadar gula darah dan insulin.

Ketika tingkat ini kemudian turun, seseorang mungkin mengalami keinginan untuk makan makanan tertentu (ngidam) dan energi rendah.

Karena karbohidrat olahan sering menyebabkan peningkatan dan penurunan gula darah, mengonsumsinya dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2.

4. Rendah Nutrisi

Makanan kemasan dan olahan umumnya sangat rendah nutrisi penting, dibandingkan dengan makanan utuh.

Dalam beberapa kasus, produsen menambahkan vitamin dan mineral sintetis untuk menggantikan nutrisi yang hilang selama pemrosesan.

sementara makanan utuh memberikan senyawa sehat tambahan yang tidak dimiliki makanan kemasan atau olahan.

Buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian, misalnya, mengandung senyawa tanaman yang menyehatkan dengan efek antioksidan, antiinflamasi, dan anti karsinogenik.

Ini termasuk flavonoid, antosianin, tanin, dan karotenoid.

Cara terbaik untuk mendapatkan berbagai nutrisi penting adalah dengan makan makanan utuh, tidak diproses, atau sedikit diproses.

5. Rendah Serat

Serat makanan memiliki berbagai manfaat kesehatan. Hal ini dapat memperlambat penyerapan karbohidrat dan membantu orang merasa lebih puas dengan kalori yang lebih sedikit.

Serat juga bertindak sebagai prebiotik, memberi makan bakteri ramah di usus, dan dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung.

Sebagian besar makanan kemasan sangat rendah serat, karena serat alami hilang selama pemrosesan. Oleh karena itu, Moms wajib beralih ke makanan berserat tinggi yang sehat dan alami.

6. Kalori Instan

Cara produsen mengolah makanan membuatnya sangat mudah dikunyah dan ditelan.

Karena banyak serat yang hilang selama pemrosesan, sehingga dibutuhkan lebih sedikit energi untuk makan dan mencerna makanan kemasan daripada makanan utuh.

Akibatnya, lebih mudah untuk makan lebih banyak produk ini dalam waktu yang lebih singkat.

Jika seperti ini, maka seseorang bisa mengonsumsi lebih banyak kalori daripada yang seharusnya seperti yang ada pada makanan utuh.

Hal ini kemudian meningkatkan peluang seseorang untuk mengambil lebih banyak kalori daripada yang mereka gunakan, yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak disengaja.

Baca Juga: Aqua Mengandung Partikel Plastik, Ini Cara Memilih Air Minum Kemasan yang Aman

7. Lemak Trans

Makanan kemasan seringkali tinggi lemak tidak sehat dan murah. Misalnya, mereka sering mengandung minyak biji atau sayuran olahan, yang mudah digunakan, murah, dan tahan lama.

Produsen membuat lemak trans buatan dengan menambahkan hidrogen ke minyak nabati cair, membuatnya lebih padat.

Lemak trans juga bisa meningkatkan peradangan dalam tubuh.

Lemak trans juga meningkatkan kadar lipoprotein densitas rendah, atau kolesterol "jahat", dan menurunkan kadar lipoprotein densitas tinggi, atau kolesterol "baik".

Makan lemak trans dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.

Misalnya, menurut sebuah studi dari U.S. National Library of Medicine, peningkatan 2 persen dalam asupan energi dari lemak trans dikaitkan dengan peningkatan 23 persen risiko kardiovaskular.

Cara terbaik untuk menghindari minyak olahan dan lemak trans adalah dengan menghindari makanan kemasan dan olahan.

Moms dapat menggantinya dengan alternatif yang sehat, seperti minyak kelapa atau minyak zaitun.

Itu dia Moms, ragam penjelasan mengenai bahaya makanan kemasan dan efek makan makanan kemasan.

  • https://www.bmj.com/content/365/bmj.l1451
  • https://www.bmj.com/content/365/bmj.l1949
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31336535/
  • https://www.reuters.com/article/us-health-diet-processed-food-idUSKCN1T61YX
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/318630
  • https://www.livestrong.com/article/13723864-effects-of-processed-foods/
  • https://www.verywellfit.com/processed-food-3898404
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait