Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Sex & Relationship | Oct 26, 2018

Mempertahankan Pernikahan Demi Anak, Salahkah?

Bagikan


Keputusan bercerai bukanlah hal mudah, terlebih jika melibatkan anak. Perceraian bisa menambah stres masing-masing individu, keluarga, dan tentunya anak-anak.

Rasa sakit hati dan kemarahan biasanya lebih utama ketimbang memikirkan apa yang terbaik untuk anak.

Jadi, sebelum berakhir dengan perceraian, pasangan sebaiknya melakukan introspeksi, konseling, berbicara dari hati ke hati, berbicara dengan teman dan keluarga, dan melakukan usaha lainnya.

Namun, jika semua itu tidak berhasil, Moms pasti akan berpikir apakah baik jika tetap mempertahankan pernikahan demi anak?

Baca Juga: Perceraian Membuat Anak jadi Pemalu, Benarkah?

Dampak Mempertahankan Pernikahan Demi Anak

Dikutip dari Parents.com, Terapis Pernikahan dan Keluarga Jeff Palitz mengatakan, ketika pernikahan itu sehat dan orang tua bekerja sama menuju kesehatan jangka panjang dan kebahagiaan pernikahan dan keluarga, itu selalu lebih baik untuk anak-anak.

Tetapi, tidak ada jaminan juga bahwa tetap berada dalam mahligai pernikahan akan membuat semuanya jadi lebih baik ketimbang bercerai.

Jeff menuturkan, ketika orang tua tidak bahagia, hubungan mereka akan menjadi tidak sehat. Hubungan tidak sehat ini juga bisa lebih berbahaya untuk anak-anak.

Menurut Jeff, perilaku orang tua di rumah akan ditiru anak-anak ketika mereka dewasa nanti.

Mereka akan belajar bahwa ini yang namanya pernikahan dan begini cara untuk mengatasi konflik dalam pernikahan. Hal ini tentu salah.

“Banyak orang mengelak. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak bertengkar di depan anak-anak atau bahwa anak-anak mereka tidak melihat apa yang terjadi,” ungkap Jeff. Tapi, Jeff bisa memastikan bahwa pemikiran tersebut salah.

Selama hari demi hari dan tahun demi tahun, pesan-pesan ini terakumulasi, dan semakin menjalar.

Ini meningkatkan kemungkinan anak-anak dari pasangan yang rumah tangganya tidak sehat akan mengulang pola yang sama dengan yang mereka lihat saat tumbuh.

Baca Juga: 4 Cara Memberi Tahu Anak Kalau Orang Tua Akan Bercerai

Keputusan untuk Bercerai

Untuk kondisi tersebut, perceraian bisa jadi jalan terbaik. Namun, perceraian pun bukan sembarang perceraian, melainkan perceraian yang dilakukan dengan cara yang matang dan kolaboratif.

Menurut Jeff, ada banyak alasan untuk percaya bahwa anak-anak bisa baik-baik saja dalam jangka panjang ketika orang tua mereka memutuskan untuk bercerai.

“Bukan bercerai atau tidaknya yang akan menentukan baik atau tidaknya kondisi anak-anak. Melainkan sikap orang tua setelah mereka berpisah,” ungkapnya.

Orang tua yang sudah berpisah harus tetap bersikap sopan, menghindari perkataan kasar dan saling menyalahkan, bekerja sama untuk menciptakan strategi pengasuhan terpadu dan memberi anak-anak mereka waktu, perhatian, dan kepastian yang konsisten.

Dengan begitu mereka akan memiliki kesempatan yang sangat baik untuk melihat anak-anak tumbuh bahagia meski mereka sudah bercerai.

Pada akhirnya, intinya adalah orang tua yang tidak bahagia tidak akan memiliki anak-anak yang bahagia.

Dan mempertahankan hubungan tidak sehat demi anak justru akan menghasilkan anak-anak yang juga punya kecenderungan untuk memiliki hubungan tidak sehat di masa yang akan datang.

(AND)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.