Trimester 2

TRIMESTER 2
2 November 2020

3 Cara Mengatasi Polihidramnion, Kondisi Cairan Ketuban Tinggi saat Hamil

Ketahui juga apa saja penyebabnya yuk Moms!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Orami

Cairan ketuban bertindak sebagai bantalan untuk Si Kecil dalam kandungan. Tak hanya itu, cairan ketuban juga membantu dalam perkembangan paru-paru bayi, saluran pencernaan, dan otot.

Akan tetapi cairan ketuban tinggi atau banyak yang disebut polihidramnion pun dapat menyebabkan komplikasi pada kehamilan.

Menurut Fetal Medicine Foundation, Inggris, kondisi ini terjadi pada satu dari 100 kasus. Idealnya, dokter memeriksa kadar cairan ketuban melalui USG.

"Polihidramnion terdeteksi apabila ibu saat kehamilan memiliki lingkar perut tampak lebih besar dari seharusnya. Pada pemeriksaan USG sejak trimester 2 sudah dapat dilihat kecurigaan untuk kelebihan air ketuban," jelas dr. M. Charnaen Ibrahim, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya

Volume normal cairan ketuban harus antara 500-1000 ml. Jika melampau ini, kemungkinan ada masalah tertentu dalam kehamilan.

Baca Juga: Bocor Air Ketuban Saat Hamil, Pelajari di Sini!

Penyebab Polihidramnion

polihidramnion

Foto: Orami Photo Stock

Ibu hamil dengan polihidramnion sering kali tidak memiliki tanda atau gejala. Ketika gejalanya benar terjadi, Moms akan kesulitan bernapas, kontraksi prematur, atau jika polihidramnion parah maka nyeri di perut.

Lalu, apa penyebab polihidramnion pada ibu hamil? Berikut ulasannya.

1. Diabetes

Menurut Pusat Medis Universitas Rochester, wanita yang menderita diabetes sebelum kehamilan atau memiliki diabetes gestasional dapat berisiko terkena polihidramnion.

2. Twin to Twin Syndrome

Dilansir dari artikel keluaran C. S. Mott Children’s Hospital Michigan Medicine, dalam kondisi langka ini, si kembar berbagi plasenta.

Bayi yang mengirim darah ke kembarannya akan memiliki lebih sedikit cairan ketuban di sekitarnya dan bayi yang menerima akan memiliki volume cairan ketuban yang tinggi atau polihidramnion.

3. Cacat lahir

Anomali kongenital seperti atresia duodenum atau kondisi yang berhubungan dengan jantung atau paru-paru (hidrops fetalis) juga dapat menyebabkan penumpukan cairan. Berdasarkan artikel Children’s Minnesota, kondisi ini menyebabkan ibu hamil dengan polihidramnion.

Sementara itu, beberapa kondisi lain, seperti infeksi virus, anemia janin, dan masalah ginjal atau jantung, juga dapat menyebabkan peningkatan kadar cairan ketuban di dalam rahim.

Baca Juga: Waspada Emboli Air Ketuban yang Bisa Mengancam Jiwa

Cara Mengatasi Polihdramnion

polihidramnion

Foto: Orami Photo Stock

Polihidramnion jarang membutuhkan perawatan apa pun. Namun, USG terjadwal dilakukan untuk memonitor secara cermat indeks cairan ketuban dan kesehatan bayi.

Jarang terjadi tetapi dalam kasus polihidramnion yang parah, beberapa perawatan dapat direkomendasikan untuk mengurangi tingkat cairan ketuban menjadi gejala dengan sesak napas atau tanda dan gejala kontraksi preterm.

Baca Juga: Ketuban Pecah Dini, Harus Bagaimana?

Pilihan pengobatan mungkin berbeda tergantung pada faktor-faktor tertentu seperti keparahan kondisi, penyebabnya, gejala, dan usia kehamilan. Walaupun begitu, berikut ini perawatan yang biasanya dilakukan pada ibu hamil dengan polihidramnion:

1. Obat

Berdasarkan penyebab kelebihan cairan ketuban di dalam rahim, dokter kandungan meresepkan obat untuk mengurangi cairan.

Misalnya, jika polihdramnion disebabkan oleh kondisi janin, maka obat untuk mengobati kondisi itu ditentukan. Ini, pada gilirannya, menyesuaikan level cairan.

2. Amnioreduksi

Dalam prosedur ini, dokter memasukkan jarum ke dalam rahim untuk mengalirkan kelebihan cairan ketuban. Prosedur ini dapat menyebabkan sedikit ketidaknyamanan di perut.

3. Persalinan Dini

Dalam kasus komplikasi yang tampaknya berisiko bagi kesehatan ibu atau bayi, persalinan dini dijadwalkan bagi ibu hamil dengan polihidramnion.

Kasus polihidramnion yang parah dapat meningkatkan risiko persalinan prematur, solusio plasenta, infeksi, dan kelahiran mati. Tetapi diagnosis dan perawatan yang tepat pada waktunya dapat membantu mengurangi risiko ini.

"Keterlambatan untuk terapi sesuai penyebab terjadinya polihodramnion, akan berdampak pada munculnya infeksi, diabetes, atau memang adanya kelainan sirkulasi organ janin," kata dr. Ibrahim.

Pemeriksaan rutin selama kehamilan sangat penting untuk setiap ibu hamil. Ini membantu dalam mencari tahu masalah sejak dini, memberikan cukup waktu untuk mengelola masalah.

Baca Juga: Kondisi Polihidramnion pada Janin: Penyebab, Dampak, dan Pengobatannya

Karena polihidramnion bukan kondisi yang umum, tidak perlu terlalu khawatir tentang hal itu. Bahkan jika dokter kandungan mencurigai atau mendiagnosis Moms dengan kondisi tersebut, perawatan yang tepat waktu dapat membantu meminimalkan risiko.

Artikel Terkait