Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Health | Mar 14, 2018

Mengenal Amyotrophic Lateral Sclerosis, Penyakit yang Diderita Stephen Hawking

Bagikan


Stephen Hawking yang terkenal sebagai seorang ahli fisika teoretis tutup usia hari ini, 14 Maret 2018 pada umur 76 tahun. Sebagai seorang profesor ia dikenal akan kontribusinya di bidang fisika kuantum, terutama karena teori-teorinya mengenai teori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, dan radiasi Hawking. Salah satu yang ia tulis adalah A Brief History of Time, yang sempat tercantum dalam daftar bestseller di Sunday Times London selama 237 minggu lamanya.

Semasa hidup, Stephen Hawking tak hanya dikenal sebagai seorang ilmuwan semata tetapi juga sebagai seorang penyandang tetraplegia atau kelumpuhan yang disebabkan oleh ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) atau sebuah penyakit fatal yang menyerang sel saraf. ALS atau yang kerap disebut juga sebagai penyakit motor neuron (MND) biasanya bagi para penderitanya hanya mampu bertahan 2 hingga 5 tahun setelah timbul gejala. Namun lain halnya dengan Stephen Hawking yang mampu bertahan hingga 47 tahun setelah divonis ALS.

Baca juga: Stephen Hawking Meninggal Dunia, Ini 3 Pelajaran Hidup yang Bisa Kita Ambil Darinya

Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)

Penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) merupakan sebuah penyakit yang menyebabkan kematian neuron motoric. Dimana hal ini berarti otak kehilangan kemampuan untuk mengendalikan gerakan otot. Ketika otot dalam diafragma dan dinding dada gagal, penderita akan kehilangan kemampuan untuk bernapas tanpa bantuan ventilasi.

Terdapat dua jenis penyakit ALS yaitu neuron motor atas atau sel saraf di otak dan neuron motorik bawah atau sel saraf di sumsum tulang belakang. Neuron motor inilah yang kemudian mengendalikan semua gerakan refleks atau spontan di otot lengan, kaki, dan wajah. Selan itu, neuron motor juga berfungsi memberitahu otot-otot untuk berkontraksi sehingga kita bisa berjalan, berlari, mengangkat benda ringan di sekitar, mengunyah dan menelan makanan, dan bahkan bernapas.

Gejala ALS

Stephen Hawking menderita penyakit ALS sejak usianya 21 tahun dengan gejala awal ketika dia kesulitan mengikat tali sepatu yang membuatnya sadar ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya. Gejala awal ALS memang terbilang amat ringan dan sering diabaikan, seperti berkedut, kram atau kaku otot, lemah otot lengan atau kaki, bicara melantur atau kesulitan mengunyah dan menelan. Sedangkan gejala lanjutannya adalah seperti kesulitan bernapas dan mengalami kelumpuhan. Untuk kematian sendiri biasanya disebabkan oleh kegagalan pada otot-otot pernapasan.

ALS tidak memengaruhi kemampuan seseorang untuk melihat, mencium, merasakan, mendengar, atau mengenali sentuhan. Karena pada penderita biasanya mempertahankan kontrol otot mata dan fungsi kandung kemih dan usus, meskipun pada tahap akhir penyakitnya, pasien membutuhkan bantuan untuk ke kamar mandi.

Walaupun penyakit ini biasanya tidak merusak kecerdasan dan pikiran seseorang, beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa beberapa pasien ALS mungkin mengalami perubahan pada fungsi kognitif, seperti depresi dan masalah dengan pengambilan keputusan dan memori.

Baca juga: Stephen Hawking Meninggal Dunia, Ini 4 Film Tentang Kisah Hidupnya

Penyebab dan Pengobatan ALS

Penyebabnya ALS memang tidak diketahui dan sekitar 90% kasus terjadi secara sporadis. Pada sekitar 10% orang, penyakit ini menurun pada anggota keluarga. Bahkan para ilmuwan menduga terdapat ketidakseimbangan kadar glutamat dalam tubuh dan penyakit autoimun sebagai penyebab penyakit ALS.

Sementara pada pengobatannya sendiri adalah dengan perawatan yang bertujuan untuk mengontrol gejala dan mendukung penderita untuk bertahan selama mungkin. Perawatan tersebut salah satunya adalah dengan obat riluzole, yang mungkin memperpanjang umur dan pada beberapa orang mungkin memperlambat perkembangan ALS.

Terdapat obat-obatan lain yang mungkin membantu mengontrol gejala kejang, kesulitan menelan, kram, sembelit, nyeri, dan depresi. Selang perut mungkin digunakan untuk memberi makan jika pasien tersedak. Terakhir, langkah lain yang dapat ditempuh adalah dengan pendidikan dan konseling yang dapat membantu menenangkan kondisi psikis seseorang yang memiliki ALS.

(MDP)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.