Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

Perilaku Bayi | Jan 12, 2018

Mengenal Fase Growth Spurt Pada Bayi, Kapan Terjadi dan Apa yang Harus Dilakukan?

Bagikan


Mengenal Fase Growth Spurt Pada Bayi, Kapan Terjadi dan Apa yang Harus Dilakukan?

Growth spurt. Istilah ini mungkin sering Moms dengar. Growth spurt adalah lonjakan pertumbuhan. Pada bayi, momen ini ditandai dengan pertambahan berat badan, panjang badan dan lingkar kepala yang lebih cepat. Si Kecil pun dapat mencapai tonggak perkembangan atau mampu menguasai keterampilan tertentu dengan pesat.  

Bagi banyak ibu, tanda growth spurt yang paling nyata adalah ketika bayi lebih banyak menyusu. Ya, Si Kecil tampak sangat lapar dan lahap menyusu. Perbedaannya ketika disusui, butuh waktu yang lebih lama dari biasanya.

Baca Juga: Ini Tanda-tanda Keterlambatan Perkembangan Bayi yang Harus Mama Tahu

Ketika bayi Moms sedang mengalami lonjakan pertumbuhan, ia mungkin butuh jam tidur yang lebih banyak atau justru lebih sedikit dari biasanya. Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa bayi yang mengalami lonjakan pertumbuhan menjadi rewel dan tidak tenang. Ini tentu dapat mengganggu proses tidur di malam hari.

Baca Juga : Cara Bermain dengan Bayi Usia 0-12 Bulan yang Optimalkan Perkembangannya

Lalu, kapan sebenarnya lonjakan pertumbuhan ini terjadi dan berlangsung berapa lama? Growth spurt dapat terjadi kapan saja. Ada yang terjadi selama 1 hari saja tapi ada juga yang hingga seminggu lamanya.

Beberapa ahli percaya bahwa lonjakan pertumbuhan cenderung terjadi pada masa-masa tertentu di tahun pertama bayi. Yaitu: pada usia 2 minggu, 3 minggu, 6 minggu, 3 bulan, dan 6 bulan.

Yang perlu dipahami, pola pertumbuhan setiap bayi berbeda-beda. Jadi, Moms tak perlu khawatir bila Si Kecil sepertinya tak mengalami lonjakan pertumbuhan pada saat itu. Mungkin growth spurt-nya terjadi di kemudian hari.

Baca Juga : Ini Bahayanya Jika Bayi Dibawah Usia 6 Bulan Diberi Minum Air Putih

Nah, selain minum ASI lebih banyak atau makan lebih lahap, ini tanda-tanda lain dari lonjakan pertumbuhan bayi yang bisa Moms kenali: 

1. Waktu Tidur Berubah

Tepat sebelum dan selama terjadi lonjakan pertumbuhan, bayi mungkin tampak lebih mudah mengantuk dari biasanya. Ia jarang terbangun di malam hari dan lebih sering tidur siang pertanda menyalurkan energinya untuk bertumbuh.

Suatu studi menyebutkan, selama masa lonjakan pertumbuhan, bayi bisa tidur sampai 4,5 jam lebih dari biasanya. Tidak jelas mengapa hal ini terjadi, tapi diduga saat ia tidur berlangsung pula proses produksi Human Growth Hormone (HGH).

HGH ini sangat penting untuk pertumbuhan, sehingga tidur memberi ‘bahan bakar’ yang dibutuhkan bayi tumbuh. Meski begitu, di masa lonjakan pertumbuhan ini sebagian bayi malah tampak kurang tidur. Ia lebih sering terbangun di malam hari dan tidur siang hanya sebentar.

Baca Juga : Manfaat dan Cara Agar Bayi Tidur Nyenyak

2. Rewel

Selama lonjakan pertumbuhan, bayi mungkin tampak lebih gelisah dan manja atau tak mau lepas dari Moms. Ia ingin selalu bersama Moms di sepanjang waktu dan menangis bila ditinggalkan. Padahal, biasanya dia tenang dan tak menangis bila ditinggal. 

Tidak diketahui secara pasti apa yang menyebabkan perubahan perilaku ini.  Mungkin bayi merasa lelah karena energinya tercurah di  masa lonjakan pertumbuhan tersebut.

Jadi, bila bayi tampak lebih rewel tak usah khawatir berlebihan. Mungkin sebagai tanda ia akan menguasai keterampilan baru, seperti berguling atau merangkak! Menyenangkan, bukan?

Baca Juga : Tahapan Perkembangan Bayi (Minggu 1 - 52)

Lalu, apa yang harus Moms lakukan di masa lonjakan pertumbuhan ini?

  1. Tanggapi isyarat yang ditunjukkan Si Kecil dan berikan apa yang dibutuhkannya. Misal, apakah ia membutuhkan makanan tambahan, tidur siang, atau mungkin sekadar pelukan.
  2. Di satu sisi, kebutuhan bayi sepertinya meningkat, tapi di sisi lain Moms khawatir produksi ASI tak melimpah. Padahal, tak perlu cemas karena secara otomatis payudara akan menghasilkan banyak ASI untuk mencukupi kebutuhan Si Kecil.
  3. Biarkan bayi menyusu sesering dan selama yang ia inginkan. Ini justru membantu produksi ASI terus melimpah.
  4. Cukupi kebutuhan makanan Moms, ya. Perhatikan zat gizi yang terkandung dalam asupan harian dan jangan lupa selalu minum banyak cairan.
  5. Jika bayi Moms sudah diberi susu formula, mungkin ia tampak mudah lapar meski sudah diberi makan. Tidak apa-apa bila Moms memberinya susu botol tambahan, jika ia menginginkannya.

Baca Juga : 6 Kecerdasan Bayi Usia 0-6 Bulan

(HIL)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.