Gratis Ongkir minimum Rp 300.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Masalah Fertilitas | Jan 19, 2018

Menggunakan Obat Penyubur (Clomiphene) Agar Cepat Hamil, Amankah?

Bagikan


Seberapa besar tingkat keberhasilan Clomiphene? Jika Mama mempertimbangkan obat penyubur populer ini, Mama mungkin ingin tahu apakah cara ini akan berhasil.

Bagi wanita dengan masalah ovulasi, tingkat keberhasilannya cukup bagus. Antara 70 dan 80 persen wanita yang memakai Clomiphene atau Clomid akan berovulasi selama siklus pengobatan pertama mereka. 

Apakah Clomiphene (Clomid)?

Clomiphene citrate (nama merek: Clomid atau Serophene) adalah obat penyubur oral yang sangat terpercaya yang diandalkan atas keamanan, efektivitas dan biayanya yang relatif rendah. Clomiphene biasanya digunakan untuk:

  • Mengobati wanita yang memiliki anovulasi (tidak berovulasi) seperti siklus menstruasi yang berhenti atau tidak teratur (menginduksi ovulasi)
  • Mengatasi kondisi yang disebut luteal phase defect  dengan meningkatkan sekresi progesteron selama paruh kedua siklus dan membuat siklus menstruasi lebih mudah diprediksi.
  • Clomiphene juga dapat digunakan untuk meningkatkan ovulasi pada wanita yang sudah berovulasi (ovulation augmentation).
Baca Juga: Ingin Hamil tapi Haid Tidak Teratur?

Bagaimana Cara Kerja Clomiphene?

Clomiphene bekerja pada FSH—hormon perangsang folikel—yang menyebabkan tubuh wanita menumbuhkan folikel dan akhirnya melepaskan sel telur yang diharapkan akan dibuahi. Obat penyubur ini bekerja seakan-akan mengelabuhi tubuh agar percaya bahwa ada sedikit estrogen.

Jika tubuh yakin ada sedikit estrogen, maka akan menghasilkan lebih banyak GnRH, menyebabkan hipofisis memompa lebih banyak FSH dan LH yang akhirnya memicu pelepasan telur dari ovarium.

Dr. Didi Kusmarjadi, SPOG menyatakan bahwa Clomiphene biasanya diberikan dalam bentuk pil yang diminum sehari sekali selama 5 hari, dimulai 2 sampai 5 hari setelah hari pertama menstruasi. Dosis awal Clomiphene biasanya adalah 50 mg/hari selama 5 hari, dan dapat ditingkatkan setiap bulan hingga 50 mg sehari.

Biasanya dokter akan melakukan serangkaian tes sebelum memberikan Clomiphene dengan mempertimbangkan berikut:

  • Lakukan tes darah FSH siklus hari ke-3 untuk memastikan sel telur memiliki kualitas yang cukup baik.
  • Lakukan analisis sperma sebelum memulai Clomiphene.
  • Pastikan saluran tuba falopi tidak tersumbat.
  • Menurunkan berat badan, yang akan membantu hamil lebih cepat.

Bagaimana Tingkat Keberhasilan Kehamilan Clomiphene dan PCOS?

Sekitar 50% wanita yang berovulasi dengan Clomiphene akhirnya berhasil hamil. Tetapi itu juga tergantung pada usia wanita dan faktor lainnya. Bayi tabung (IVF) dengan Clomiphene dapat memperbaiki peluang kehamilan.

Bagi wanita dengan PCOS di bawah usia 35, tingkat keberhasilan IVF adalah sekitar 70% untuk kehamilan dengan satu siklus IVF, dan sekitar 60% untuk kelahiran hidup (keguguran mencatat angka yang berbeda). 

Adakah Efek Samping Clomiphene?

Sebelum memulai konsumsi Clomiphene, pertimbangkan beberapa efek samping obat penyubur itu:

  • Flushing atau rasa panas, kemerahan seperti gejala menopause
  • Nyeri ovulasi dan peningkatan sensitivitas
  • Penglihatan kabur, penglihatan ganda atau ‘traces’, (komplikasi yang dapat menyebabkan perawatan dihentikan)
  • Suasana hati berubah-ubah
  • Mual
  • Payudara lunak
  • Sakit kepala
  • Kekeringan vagina
  • Menurunkan produksi lendir serviks, yang mempersulit sperma masuk ke rahim.
  • Berdampak negatif terhadap produksi estrogen, yang akhirnya mencegah penebalan lapisan rahim pada waktu yang diperlukan.
  • Kemungkinan mengalami respons berlebihan terhadap pengobatan, yang dikenal sebagai sindrom hiperstimulasi ovarium, yang ditandai dengan perut kembung, mual dan diare, dan pada kasus yang lebih parah, termasuk sesak napas, sulit buang air kecil dan nyeri dada.
  • Kehamilan kembar bisa menjadi risiko pengobatan dengan clomiphene.

Bagaimana tingkat keberhasilan Mama dengan Clomiphene?

(ROS)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.