2-3 tahun

2-3 TAHUN
4 Januari 2021

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi TBC pada Anak

TBC merupakan penyakit infeksi menular yang berbahaya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya
Disunting oleh Amelia Puteri

Batuk yang tak kunjung sembuh, badan lemas, penurunan berat badan drastis, hal ini sangat perlu kita waspdadai tak hanya pada diri kita, tapi juga Si Kecil. Kondisi tersebut bisa menunjukan pada gejala TBC (tuberculosis).

Penyakit ini biasanya bukan ditularkan oleh teman-temannya, tapi dari orang dewasa yang mengidap penyakit ini. Lalu, bisa juga terjadi TBC pada anak.

Data dari World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa pada 2018, sekitar 10 juta orang di dunia menderita TBC. Sekitar 5,7 juta adalah pria, 3,2 juta wanita, dan 1,1 juta anak-anak.

Indonesia masuk ke dalam salah satu negara yang memiliki risiko TBC tertinggi. Negara yang paling tinggi risikonya adalah India, disusul oleh China, Indonesia, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh, dan Afrika Selatan.

Baca Juga: Anak Sering Batuk-Pilek, Apa Dampaknya?

TBC pada anak terjadi karena menghirup bakteri Mycobacterium Tuberculosis di udara yang disebarkan oleh orang dewasa pada saat batuk atau bersin.

Bakteri ini diam dan hidup di paru-paru, bahkan dalam kondisi kronis bisa menjalar ke bagian yang lain, seperti ginjal, tulang belakang, hingga ke otak.

Menurut jurnal yang disusun oleh Cold Spring Harbor Perspect Medicine, TBC pada anak merupakan penyebab utama penyakit paru-paru.

Baca Juga: Segera Ketahui Gejala dan Penanganan Batuk Rejan Pada Bayi

Penyebab TBC pada Anak

penyebab tuberkulosis pada anak

Foto: Orami Photo Stock

TBC anak disebabkan oleh bakteri. Paling sering disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis).

Banyak anak yang terinfeksi M. tuberculosis tidak pernah mengembangkan TBC aktif dan tetap dalam stadium TBC laten.

Bakteri TBC ini menyebar melalui udara ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, saat berbicara, bernyanyi, atau tertawa.

Tuberkulosis juga biasanya menyebar ketika orang dewasa yang terinfeksi batuk bakteri ke udara. Kuman ini dihirup oleh anak tersebut, yang kemudian terinfeksi.

Seorang anak biasanya tidak terinfeksi kecuali dia telah berulang kali melakukan kontak dengan bakteri.

Baca Juga: Ketahui Penyebab dan Bahaya Paru-paru Basah

Anak-anak yang berusia kurang dari 10 tahun, dengan TB paru jarang menulari orang lain, karena mereka cenderung memiliki sangat sedikit bakteri dalam sekresi lendirnya dan juga mengalami batuk yang relatif tidak efektif.

Untungnya, kebanyakan yang terkena TBC pada anak tidak jatuh sakit. Ketika bakteri mencapai paru-paru, sistem kekebalan tubuh menyerang mereka dan mencegah penyebaran lebih lanjut.

Anak-anak ini telah mengembangkan infeksi tanpa gejala yang hanya ditunjukkan oleh tes kulit yang positif. Namun demikian, anak yang bebas gejala tetap harus dirawat untuk mencegah terjadinya penyakit aktif.

Perlu diingat, TBC anak tidak mungkin menyebar melalui barang-barang pribadi, seperti pakaian, tempat tidur, cangkir, peralatan makan, toilet, atau barang lain yang pernah disentuh oleh penderita TB.

Aliran udara yang baik adalah cara terpenting untuk mencegah penyebaran TB.

Baca Juga: Apa Bedanya Penyakit TBC pada Anak dan Dewasa?

Gejala TBC pada Anak

gejala dan pengobatan tbc pada anak 2.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Tidak semua batuk adalah tanda TBC pada anak. Namun Moms perlu tahu gejala TBC pada anak yang cukup sering dialami.

Ada beberapa hal yang menjadi tanda-tanda atau gejala TBC pada anak. Berikut ini daftarnya menurut Mayo Clinic:

1. Penurunan Berat Badan Secara Drastis

Moms perlu waspada saat anak mengalami berat badan turun setiap bulan selama lebih dari dua bulan berturut-turut, apalagi jika berat badan anak turun secara drastis. Ini bisa menandakan Si Kecil mengalami TBC pada anak.

Moms juga harus khawatir jika berat badan anak tidak naik setelah adanya perbaikan gizi ataupun anak menjadi tidak nafsu makan hingga hilang nafsu makan (anoreksia).

2. Demam

Demam sebenarnya tidak berbahaya, karena kondisi ini adalah reaksi pertahanan tubuh melawan virus dan bakteri. Tapi, Moms perlu khawatir saat demam pada anak tak kunjung sembuh atau bahkan berulang tanpa sebab yang jelas.

Ini karena bisa menjadi gejala TBC pada anak.

Tapi biasanya demam yang diderita anak tidak tinggi, tapi berlangsung lama dan disertai keringat dingin.

Baca Juga: Makanan yang Bisa Meredakan Asam Lambung pada Anak

3. Badan Lemas

Anak tidak bersemangat untuk melakukan kegiatan, tampak terlihat lesu dan tidak aktif saat diajak bermain.

Jika kondisi ini disertai dua gejala sebelumnya, maka Moms sangat perlu khawatir dan berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, karena bisa jadi ini tanda TBC pada anak.

4. Berkeringat di Malam Hari

Pada umumnya tak sedikit bayi yang berkeringat di malam hari, tapi jika ditandai dengan gejala-gejala tadi, maka ini bisa jadi menunjukkan Si Kecil terkena tuberkulosis.

Dr Bern-Thomas Nyangwa, seorang Implementer TB MSF menegaskan, bahwa kita tidak bisa hanya melakukan pengamatan klinis saja, tapi harus ada tindakan karena ini berkaitan dengan kehidupan seorang anak, jadi kondisi ini bukan sesuatu yang bisa kita anggap dengan mudah.

Maka, jika Si Kecil memiliki gejala seperti di atas, alangkah lebih baiknya Moms berkonsultasi dengan dokter. Sehingga kita bisa melakukan pengobatan untuk mencegah kondisi TBC pada anak yang lebih serius.

5. Batuk Darah

TBC pada anak juga bisa dilihat dari ia mengalami batuk darah atau keluar lendir (sputum) sebagai salah satu tanda adanya TBC paru, seperti yang dijelaskan pada jurnal American Lung Association.

Anak mungkin mengalami gejala lain yang berkaitan dengan fungsi organ yang terpengaruh.

Selain batuk darah, nyeri tulang mungkin berarti bahwa bakteri telah menyerang tulang dan sebagai tanda TBC pada anak yang perlu tindakan segera.

Gejala ini juga dapat terjadi dengan penyakit lain, jadi penting untuk menemui penyedia layanan kesehatan dan memberi tahu mereka apakah anak menderita TBC.

Tahapan TBC pada Anak

gejala dan pengobatan tbc pada anak.jpg

Foto: Orami Photo Stock

TBC pada anak memiliki dua tahapan yang perlu Moms dan Dads ketahui agar lebih waspada mengenai penyakit ini.

1. Tahap Paparan (Infeksi)

Biasanya pada beberapa kasus TBC pada anak, terutama pada anak yang sudah lebih besar, infeksi ini umumnya hanya pada tahap paparan.

Pada hasil pemeriksaan tuberkulin akan menunjukkan bahwa ia pernah terpapar, tapi tidak ada keluhan maupun gejala apapun karena daya tahan tubuhnya yang kuat, sehingga pertumbuhan bakteri ini bisa dihambat dengan cepat.

Hal ini juga ditegaskan oleh Global Tubercolosis Institute, bahwa pada tahap paparan anak hanya terinfeksi bakteri TBC pasif di tubuh mereka, maka kuman tidak membuat ia sakit atau berlanjut ke tahap yang serius. Anak pun tidak bisa menularkan bakteri ini ke orang lain.

Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Radang Tenggorokan pada Ibu Menyusui

2. Tahap Penyakit TB Aktif

Bakteri akan berkembang dan terus menyebar apabila daya tahan tubuh Si Kecil lemah dan akan berlanjut pada tahap TB aktif yang tentunya akan menular bahkan jika dibiarkan akan berbahaya dan mengancam jiwa anak.

Ini dapat terjadi dalam beberapa minggu pertama setelah infeksi bakteri TB, atau mungkin terjadi beberapa tahun kemudian.

Tahapan TBC pada anak ini sifatnya dapat menular ke orang lain.

Diagnosis TBC pada Anak

diagnosis tuberkulosis pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Centers for Disease Control and Prevention mengutarakan, TBC pada anak agak sulit didiagnosis meskipun dengan tes labotarium. Berikut ini penyebab utama TBC pada anak menjadi tantangan dokter untuk didiagnosis, antara lain:

  • Sulit untuk mengumpulkan spesimen dahak dari bayi dan anak kecil.
  • Tes laboratorium yang digunakan untuk menemukan TB dalam dahak cenderung memberikan hasil positif pada anak-anak. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa anak-anak lebih mungkin mengidap penyakit TBC yang disebabkan oleh jumlah bakteri yang lebih sedikit (penyakit paucibacillary).

Maka dengan ini, diagnosis TBC pada anak sering dibuat tanpa konfirmasi laboratorium dan berdasarkan kombinasi faktor-faktor berikut:

  • Tanda dan gejala klinis yang biasanya berhubungan dengan penyakit TBC.
  • Tes kulit tuberkulin positif (TST) atau tes darah TB positif (IGRA).
  • Foto rontgen dada yang memiliki pola yang biasanya dikaitkan dengan penyakit TBC.
  • Riwayat kontak dengan orang yang mengidap penyakit TBC menular.

Anak-anak yang berisiko tertular TBC pada anak harus menerima tes kulit tuberkulin. Anak Moms mungkin memerlukan tes kulit jika ada anggota keluarga atau kontak dengan orang yang mengidap penyakit TBC.

Tes ini dilakukan di tempat dokter anak dengan menyuntikkan sepotong kuman TBC yang dimurnikan dan tidak aktif ke dalam kulit bagian lengan bawah. Jika sudah terjadi infeksi, kulit anak akan membengkak dan memerah di area suntikan tersebut.

Tes kulit ini akan mengungkapkan infeksi bakteri di masa lalu, bahkan jika anak tersebut tidak memiliki gejala dan bahkan jika tubuhnya berhasil melawan penyakit tersebut.

Baca Juga: Salah Kaprah, Ini 5 Mitos Tentang HIV yang Masih Sering Dipercaya

Seorang anak yang terpapar pada orang berisiko tinggi harus dites setiap 2 hingga 3 tahun sekali. Seorang anak dapat menjalani tes kulit TB dari usia 4 hingga 6 dan 11 hingga 16 jika dia:

  • Memiliki orang tua dari negara berisiko tinggi tuberkulosis.
  • Telah bepergian ke daerah berisiko tinggi.
  • Tinggal di daerah padat penduduk.

Pengobatan TBC pada Anak

gejala dan pengobatan tbc pada anak 3.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Apabila anak sudah divonis positif TBC pada anak, maka jangan menunda pengobatan.

Pengobatan juga tetap akan diberikan pada anak yang berada dalam tahapan paparan (infeksi) meskipun belum menunjukkan gejala-gejala TBC. Adapun pengobatan TBC pada anak, adalah sebagai berikut.

1. Obat TBC

Tapi, biasanya anak yang berada pada tahapan atau baru terinfeksi bakteri TBC ini akan diberikan obat antituberkulosis (OAT) selama sembilan bulan dan harus dikonsumsi setiap hari.

Menurut University of Rochester Medical Center, ada anak yang telah divonis terdiagnosis TBC aktif, biasanya akan diberikan tiga jenis OAT, yaitu isoniazid, pyrazinamid, dan rifampicin.

Obat-obat ini harus dikonsumsi selama 2 bulan setiap harinya. Lalu akan ada obat lanjutan untuk 4 bulan berikutnya dan yang diberikan hanya dua jenis obat lanjutan, yaitu rifampicin dan isoniazid.

Perlu Moms ketahui, OAT yang diberikan pada anak tidak sama dengan yang diberikan pada orang dewasa.

Moms sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan ahli TB anak sebelum pengobatan dimulai.

Baca Juga: 5 Sayur Terbaik untuk MPASI Pertama Bayi

Penting untuk diperhatikan bahwa jika seorang anak berhenti minum obat sebelum selesai penyakitnya, anak tersebut bisa sakit kembali. Jika obat tidak diminum dengan benar, bakteri yang masih hidup bisa menjadi resisten terhadap obat tersebut.

TB yang resisten terhadap obat lebih sulit dan lebih mahal untuk diobati, dan pengobatan berlangsung lebih lama (hingga 18 sampai 24 bulan).

2. Vaksinasi

Vaksin BCG, atau bacille Calmette-Guerin, adalah vaksin untuk mencegah penyakit TBC. BCG digunakan di banyak negara untuk mencegah penyakit TBC pada anak.

Namun, vaksin BCG umumnya tidak digunakan di Amerika Serikat, karena risiko infeksi bakteri TBC yang rendah dan efektivitas vaksin yang bervariasi.

Vaksin BCG sebaiknya hanya dipertimbangkan untuk orang-orang tertentu yang memenuhi kriteria khusus dan berkonsultasi dengan dokter TB.

Mencegah TBC pada Anak

pencegahan tuberkulosis pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Tentu, ada cara untuk mencegah terjadinya TBC pada anak. Sebab penyakit berbahaya ini menyerang organ vital manusia yaitu paru-paru yang dapat membahayakan ogan lainnya.

Moms bisa menerapkan pencegahan ini untuk menghindari kasus TBC pada anak-anak, antara lain:

1. Vaksinasi BCG

Cara utama pencegahan TBC pada anak-anak adalah dengan menggunakan vaksinasi BCG.

TBC juga dapat dicegah pada anak-anak dengan mendiagnosis dan mengobati kasus TBC aktif di kalangan orang dewasa. Biasanya orang dewasa, terutama orang dewasa dalam rumah yang sama, yang menyebarkan TBC ke anak-anak.

Anak-anak dengan TBC biasanya tidak menular, sehingga biasanya tidak akan menularkan TBC kepada anak-anak lain atau orang dewasa meskipun kadang-kadang bisa terjadi juga.

Vaksinasi BCG ini menjadi bagian dari imunisasi anak yang dilakukan sejak usia lahir hingga 18 tahun.

2. Tetap di Rumah

Jangan pergi bekerja atau sekolah atau tidur sekamar dengan orang yang terkena penyakit TBC.

Baik itu keluarga, saudara atau teman sekalipun. Asingkan diri di kamar berbeda selama beberapa hari untuk menghindari penularan dari tuberkulosis aktif.

Baca Juga: Waspada Batuk Berdarah, Mungkin 6 Penyakit Ini Penyebabnya

3. Atur Ventilasi Ruangan

Beri ventilasi ruangan. Kuman tuberkulosis lebih mudah menyebar di ruang tertutup kecil di mana udara tidak bergerak. Atur ventilasi dan buka jendela dan gunakan kipas angin untuk meniup udara dalam ruangan ke luar.

4. Gunakan Masker

Ketika sedang sakit gunakan masker saat ingin bepergian. Masker bedah dinilai lebih efektif dalam menahan air liur dan percikan ketika batuk dan bersin.

Selain maser, gunakan tisu untuk menutupi mulut setiap kali tertawa, bersin atau batuk. Upaya pencegahan ini dapat membantu mengurangi risiko penularan TBC pada anak.

Jika Si Kecil diketahui mengidap TBC dan sedang menerima pengobatan maka saran individu harus diberikan. Diperoleh dari dokter yang berpengalaman mengenai kapan anak dapat kembali ke sekolah.

Baca Juga: TBC Saat Hamil, Bagaimana Dampaknya pada Janin?

Skrining rumah tangga di mana orang dewasa terdiagnosis TBC untuk melihat apakah anak terpapar di rumah harus menjadi standar yang diterapkan di mana pun.

Jangan anggap remeh penyakit TBC pada anak, ya Moms, jika sudah tampak gejalanya segera konsultasikan dengan dokter untuk mencegah dan mengatasinya.

Artikel Terkait