Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

Apakah Penderita HIV/AIDS Boleh Hamil dan Punya Anak?

Bagikan


Menjawab 6 Pertanyaan Seputar Kehamilan dan HIV/AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), dan seseorang mungkin saja terjangkit HIV namun tidak menderita AIDS.

Orang yang terinfeksi HIV mungkin tidak mengembangkan AIDS selama 10 tahun atau lebih namun seseorang yang positif HIV dapat menularkan virus ke orang lain lewat darah yang terkontaminasi, air mani atau cairan vagina bersentuhan dengan kulit yang rusak atau selaput lendir.

Orang yang terinfeksi AIDS tidak dapat melawan penyakit seperti biasanya dan lebih rentan terhadap infeksi, seperti kanker atau masalah kesehatan lainnya yang dapat menyebabkan kematian.

Nah, apakah penderita HIV/AIDS boleh punya anak? Berikut adalah sejumlah pertanyaan yang paling sering ditanyakan terkait kehamilan dan HIV/AIDS:

1. Haruskah Ibu Hamil Diuji Tes HIV/AIDS?

Perempuan yang sedang berencana hamil atau yang sedang hamil harus diuji untuk HIV sesegera mungkin.

Tak hanya sang ibu, suami juga harus diuji. Penelitian merekomendasikan bahwa semua perempuan usia subur yang mungkin telah terpapar HIV harus diuji sebelum hamil.

Deteksi dini pada HIV akan semakin baik guna mencegah dampak yang lebih membahayakan bagi kehamilan.

Baca Juga : 6 Selebritis yang Terjangkit HIV/AIDS, Bahkan Ada yang Hingga Meninggal

2. Apakah HIV/AIDS Mempengaruhi Kehamilan?

Dalam banyak kasus, HIV tidak akan melewati plasenta dari ibu ke bayi. Jika ibu sehat, plasenta membantu memberikan perlindungan bagi bayi yang sedang berkembang.

Faktor-faktor yang dapat mengurangi kemampuan pelindung plasenta termasuk infeksi in-uterine, infeksi HIV lanjut atau malnutrisi.

Konsumsilah makanan sehat dengan perhatian yang diberikan untuk mencegah kekurangan zat besi atau vitamin dan penurunan berat badan serta intervensi khusus untuk penyakit menular seksual atau infeksi lain (seperti malaria, infeksi saluran kemih, tuberkulosis atau infeksi saluran pernafasan.

3. Risiko Penularan HIV/AIDS Selama Kehamilan

Jika seorang perempuan terinfeksi HIV, risiko penularan virus ke bayinya berkurang jika ia tetap berusaha untuk sesehat mungkin.

Jadi, penderita HIV/AIDS boleh hamil dan punya anak asal dirinya menjaga kesehatan.

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan seperti merokok, penyalahgunaan obat, kekurangan vitamin A, infeksi, dan menyusui.

Baca Juga : Ini Cara agar Ibu Tak Tularkan HIV/AIDS ke Bayi saat Melahirkan dan Menyusui

4. Mungkinkah Bayi Akan Terkena HIV/AIDS Positif?

Bayi dapat terinfeksi HIV di dalam rahim, selama persalinan atau saat menyusui.

Jika ibu tidak menerima pengobatan, 25 persen bayi yang lahir dari ibu dengan HIV akan terinfeksi oleh virus. Dengan pengobatan persentase itu dapat dikurangi menjadi kurang dari 2 persen, menurut penelitian.

5. Pengobatan yang Aman untuk Ibu Hamil dengan HIV/AIDS

Layanan Kesehatan Publik umumnya akan merekomendasikan bahwa ibu hamil yang terinfeksi HIV untuk melakukan pengobatan dengan obat-obatan sebagai upaya pencegahan.

Hal ini selain untuk melindungi kesehatan, juga untuk membantu mencegah infeksi agar tidak menulari bayi yang belum lahir.

Tak hanya itu, sekarang ini juga banyak obat anti HIV yang sering digunakan untuk mencegah penularan HIV perinatal.

Meski aman tetap biasanya terdapat efek samping seperti mual, muntah dan jumlah sel darah merah atau putih rendah.

Baca Juga : Mengapa Pengobatan HIV/AIDS Berlangsung Seumur Hidup?

6. Bagaimana HIV/AIDS Memengaruhi Persalinan?

Jika tidak ada langkah pencegahan yang diambil, risiko penularan HIV selama persalinan diperkirakan 10-20%.

Kemungkinan penularan lebih besar jika bayi terkena darah atau cairan yang terinfeksi HIV. Risiko penularan meningkat 2% setiap jam setelah selaput ketuban telah pecah.

Bedah caesar dilakukan sebelum persalinan dan atau ketuban pecah dapat secara signifikan mengurangi risiko penularan HIV perinatal.

Dan hasil studi juga menunjukkan bahwa perawatan dengan obat, bahkan untuk jangka waktu yang singkat, dapat membantu mengurangi risiko pada bayi.

Nah, itulah penjelasan dari pertanyaan apakah penderita HIV/AIDS boleh hamil dan punya anak. Karena teknologi kedokteran sudah canggih, ternyata jawabannya adalah ya.

Namun, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, ya, Moms!

(MDP)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.