Pascamelahirkan

2 Agustus 2021

Menyusui Bukan Sekadar Tugas Ibu, Sadari Pentingnya Peran Suami dalam Pemberian ASI Eksklusif

Ibu menyusui berhak mendapatkan dukungan dari suami dan lingkungannya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Widya Citra Andini

Tahukah Moms, jika menyusui bukan sekadar tugas ibu?

Dalam rangka mendukung ibu menyusui di seluruh dunia, World Health Organization (WHO), UNICEF, dan berbagai organisasi lain menggelar kampanye global World Breastfeeding Week (WBW) atau Pekan ASI Dunia yang dirayakan pada 1-7 Agustus setiap tahunnya.

Kampanye global ini betujuan untuk meningkatkan kesadaran dan membangkitkan aksi-aksi yang berkaitan dengan menyusui.

Tahun ini, Pekan ASI Dunia berfokus pada kontribusi menyusui pada kelangsungan hidup, kesehatan, dan kesenjangan serta perlindungan terhadap ibu menyusui di seluruh dunia.

Tema ini selaras dengan kampanye WBW-SDG 2030 yang menyoroti hubugan antara menyusui dan kelangsungan hidup, kesehatan dan kesejahteraan perempuan, anak-anak, dan bangsa.

Menyusui secara eksklusif atau kerap disebut dengan ASI eksklusif, menurut WHO, mampu meningkatkan kekebalan tubuh Si Kecil dan menjaganya dari berbagai macam penyakit, seperti diare dan radang paru-paru.

Telah banyak penelitian yang dilakukan terkait manfaat dari menyusui terhadap kesehatan Si Kecil.

Untuk itu, WHO menyarankan para ibu untuk memberikan ASI eksklusif.

Pasalnya, program ini bukan hanya meningkatkan kesehatan anak, namun juga meningkatkan kecerdasan, mencegah anak obesitas, dan terjangkit diabetes saat dewasa nanti.

Di sisi lain, menyusui juga dapat menyelamatkan nyawa lebih dari 820.000 anak di bawah 5 tahun setiap tahunnya, dan juga mencegah 20.000 kasus kanker payudara pada perempuan setiap tahun.

Sayangnya, WHO mencatat tahun 2020 hanya 1 dari 2 anak di bawah usia 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif di Indonesia.

Bahkan, hampir 50% anak Indonesia tidak mendapatkan nutrisi yang mereka butuhkan selama 2 tahun pertama.

Kendala terkait ASI eksklusif tidak sampai di sini saja, Moms.

Di sisi lain, para ibu yang berjuang memberikan ASI eksklusif untuk buah hatinya juga menghadapi berbagai masalah, seperti kurangnya dukungan terhadap ibu menyusui dari lingkungan sekitar.

Padahal, dukungan terhadap ibu menyusui sangat penting dan akan memengaruhi kualitas dan kuantitas ASI yang diberikan kepada Si Kecil.

Baca Juga: 9 Tanda Bayi Cukup ASI yang Wajib Moms Ketahui!

Seberapa Besar Dukungan bagi Ibu Menyusui di Indonesia?

Dalam rangka merayakan Pekan ASI tahun ini, Orami mengadakan sebuah survey pada 176 ibu dengan berbagai latar belakang dan profesi mengenai dukungan yang mereka dapat selama masa menyusui.

Dari survei tersebut 52,3% merupakan ibu bekerja, 44,9% ibu rumah tangga, dan sisanya adalah wirausaha.

Hasil Survey Pekan ASI 1

Data menunjukkan, sebanyak 82,4% ibu rumah tangga mengaku mendapatkan dukungan untuk menyusui dari sang suami.

Sementara 70,3% mengaku sangat puas dengan bantuan dari suami di rumah selama ibu menyusui.

Meskipun begitu, hampir 5% ibu rumah tangga kurang puas dengan bantuan suami.

Pasalnya, meski sang suami berusaha untuk meringankan pekerjaan rumah, mereka tetap harus bekerja.

Sehingga, tak sedikit dari ibu rumah tangga yang mengaku kewalahan dengan pekerjaan rumah.

Selain itu, kendala yang kerap dialami ibu rumah tangga adalah perkara pembagian waktu antara menyusui dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga serta mengurus anaknya yang lain.

Akibatnya, ibu rumah tangga kerap kali tidak punya waktu untuk me time dan mengurus diri sendiri.

Di sisi lain, data juga menunjukkan 48,8% ibu bekerja mengaku tidak memiliki fasilitas ruang menyusui di kantornya.

Meski 47% ibu bekerja mengaku puas dengan dukungan pihak perusahaan tempatnya bekerja, tapi 17% dari mereka mengaku ruang menyusui di kantor memiliki fasilitas yang kurang lengkap.

Chart Kelengkapan Fasilitas Ruang Laktasi 1

Chart Kelengkapan Fasilitas Ruang Laktasi 2

Chart Kelengkapan Fasilitas Ruang Laktasi 3

Dari bagan di atas, cooler bag, peralatan menyusui, ice pack, alat peraga menyusui, serta media Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) tentang ASI jarang disediakan di ruang menyusui kantor.

Padahal, kelengkapan fasilitas ruang menyusui di kantor sangat penting dan merupakan bagian dari dukungan pihak perusahaan terhadap ibu menyusui.

Syarat Ruang Menyusui yang Layak

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2013 Tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui/Atau Memerah Air Susu Ibu Pasal 9, 10, dan 11, dijelaskan mengenai apa saja yang menjadi syarat utama kelayakan dan kelengkapan ruang menyusui di setiap kantor.

Kelengkapan dan kelayakan ruang laktasi atau menyusui ini merupakan bentuk dukungan pihak perusahaan kepada para ibu bekerja untuk memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya.

Lantas, apa saja yang menjadi syarat ruang laktasi layak dan memiliki fasilitas lengkap?

Syarat Ruang Menyusui yang Layak (Pasal)

Meski hampir setengah dari ibu bekerja yang mengisi survey Orami mengaku kantor tempatnya bekerja tidak menyediakan fasilitas ruang laktasi, tapi masih ada beberapa perusahaan di Indonesia yang begitu peduli.

Ini dengan cara memberikan dukungan terhadap ibu bekerja untuk menjalani program ASI eksklusif kepada buah hatinya.

Seperti perusahaan Halodoc yang menyediakan ruang laktasi untuk para ibu menyusui yang bekerja di perusahaan tersebut.

AVP Human Capital Halodoc, Ruth Novalinda mengatakan, ketersediaan ruang laktasi ini merupakan bentuk dukungan Halodoc terhadap ibu menyusui yang bekerja di perusahaan tersebut.

Testimoni Halodoc

Menurut Ruth, Halodoc menyediakan ruang laktasi di lantai 5 dengan ukuran 3x4 m.

Dalam ruangan tersebut tersedia sofa, lemari, dan kulkas demi kenyamanan ibu menyusui.

“Semakin nyaman dan menyenangkan proses menyusui atau memerah ASI, pasti ASI-nya akan semakin banyak. Jendelanya juga menghadap ke luar jadi benar-benar aman dan terjaga privasinya. Tersedia juga AC, tisu, meja, dan kulkas khusus ASI,” jelas Ruth saat diwawancara Orami.

Bukan hanya Halodoc saja, tapi Orami juga memberikan dukungan terhadap ibu menyusui.

Hal ini disampaikan Human Capital Department Orami, Desi Wulandari.

Menurutnya, pihak kantor telah memenuhi kebutuhan busui dengan baik, termasuk dukungan dari para rekan kerja di kantor.

“Dari suami dan keluarga berupa dukungan moral dan kebutuhan saat saya menyusui. Dari lingkungan tempat kerja ada tempat pumping, dan rekan kerja yang mengerti jika kita harus ada jadwal menyusui,” ungkapnya.

Di kantor Orami sendiri, tersedia ruang untuk menyusui di setiap lantai.

“Di kantor enaknya setiap lantai punya tempat pumping masing-masing 1 ruangan untuk 1 orang dengan 1 sofa dan meja, serta tisu dan hand sanitizer. Ruangannya cukup besar, cukup untuk 3 orang dengan sekat tembok dan tirai, 1 sofa besar, dan tempat cuci tangan. Di kantor, saya baru menemukan 1 tempat khusus dari 1 gedung yaitu dengan 1 sofa, tisu dan tempat cuci tangan,” jelasnya.

Selain Halodoc, PT Tiara Marga Trakindo (TMT) selaku induk perusahaan dari Grup TMT juga menyediakan ruang khusus laktasi bagi ibu yang bekerja di perusahaan tersebut.

Tenant Relation PT Triyasa Propertindo, Nila Damayanti, mengatakan perusahaan tersebut memiliki kepedulian yang tinggi untuk memastikan kenyamanan para ibu bekerja, salah satu lewat penyediaan fasilitas ruang laktasi.

"Di Gedung TMT sendiri, ruang laktasi yang disiapkan telah dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan sekaligus mendukung kenyamanan busui, mulai dari ruangan yang ber-AC, sofa yang nyaman, kulkas, lemari penyimpanan, dispenser air panas serta, wastafel."

Ruang laktasi yang sudah disediakan sejak 2013 ini, lanjutnya, bertujuan agar karyawan wanita tidak perlu merasa khawatir saat harus melakukan pumping di kantor karena fasilitas dan higienitas tetap terjamin.

Tidak hanya itu, dengan adanya fasilitas ini angka kehadiran di perusahaan pun bisa meningkat, ibu menjadi tidak sering izin atau terlambat karena alasan harus menyusui ataupun memerah ASI.

Namun, sayangnya, tidak semua perusahaan menyediakan ruang laktasi. Hal ini dialami Aulya Arifianty, Member WAG Working Moms Orami Community.

Menurut Aulya, kantor tempatnya bekerja belum menyediakan ruang laktasi sama sekali.

Testimoni Working Moms Aulya

Padahal, ruang laktasi dan dukungan terhadap ibu menyusui baik di kantor maupun di rumah dari lingkungan sekitar, terutama suami, sangat penting bagi keadaan mental dan fisik ibu.

Dukungan inilah yang akan mendorong ibu menyusui dapat memberikan ASI eksklusif kepada sang buah hati secara penuh.

Lantas, kenapa memberikan ASI kepada Si Kecil sangat penting, Moms?

Fakta-Fakta Penting Seputar Menyusui

Hak setiap ibu di seluruh dunia untuk memberikan ASI eksklusif harus diperjuangkan.

Pasalnya, menyusui bukan hanya menyehatkan sang buah hati, tetapi juga mendukung kesehatan Moms, lho!

Bahkan, menyusui juga bisa menyelamatkan jutaan nyawa di dunia. Berikut ini fakta-fakta menarik seputar menyusui.

1. Menyusui Membantu Anak Bertahan Hidup

Dilansir dari WHO, anak-anak yang menjalani program ASI memiliki antibodi lebih kuat dan memiliki payung pelingdung saat sistem kekebalan tubuh mereka berkembang, dibandingkan dengan anak yang tidak diberikan ASI.

Sementara, di negara-negara berpenghasilan tinggi, menyusui juga terbukti dapat mengurangi risiko kematian bayi mendadak hingga lebih dari sepertiga dari jumlah anak yang lahir.

Sebenarnya, Si Kecil memang bisa diberikan susu pengganti asi alias susu formula.

Namun, di negara kurang berkembang, anak-anak yang mengonsumsi susu formula memiliki kemungkinan meninggal akibat diare 25 kali lebih besar.

Sementara, kemungkinan untuk meninggal akibat pneumonia 4 kali lebih besar daripada anak-anak yang diberi ASI.

Bukan hanya soal kesehatan saja, menurut Pediatric Clinics of North America, ASI ekslusif pada anak hingga 8 bulan akan meningkatkan skor verbal IQ rata-rata 10,2 poin lebih tinggi, serta performa IQ rata-rata 6,2 poin lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak mendapatkan ASI.

Dalam penelitian Advances in Nutritional Research, telah membuktikan bahwa, bayi yang disusui 64% lebih kecil kemungkinannya untuk tertular infeksi gastroenteritis.

Bukan hanya itu saja, ASI juga dapat mencegah dan mengurangi kemungkinan Si Kecil untuk terjangkit dari berbagai penyakit dan gangguan kesehatan, seperti:

  • Leukemia limfoblastik akut
  • Diabetes tipe 2
  • Obesitas

ASI eksklusif juga tidak hanya baik untuk kesehatan fisik, tetapi juga mental.

Sebuah studi menunjukkan bahwa bayi berusia 8 bulan yang telah disusui untuk jangka waktu lebih dari 5 bulan, menunjukkan peningkatan respons atensi otak terhadap ekspresi bahagia sekaligus mengurangi perhatian pada ekspresi ketakutan.

2. Memberikan Kesehatan bagi Ibu

Bukan hanya memberikan kesehatan pada anak, menyusui ternyata juga bermanfaat untuk kesehatan ibu, lho!

Ketika menyusui, mood ibu menjadi lebih baik, jauh dari sres dan meningkatkan ikatan yang lebih kuat dengan Si Kecil.

Pasalnya, ibu menyusui memiliki respons otak yang lebih tinggi terhadap tangisan bayi mereka sendiri dan menunjukkan perilaku yang lebih sensitif daripada ibu yang memberi susu formula.

Adapun beberapa manfaat kesehatan lainnya bagi ibu antara lain:

  • Mencegah penambahan 20.000 kasus kanker payudara pada perempuan setiap tahunnya
  • Memicu keluarnya hormon oksitosin, sehingga lebih kecil kemungkinan didiagnosis dengan depresi pasca persalinan
  • Mengurangi risiko diabetes tipe 2
  • Mengurangi risiko terkena hipertensi, hiperlipidemia, dan penyakit kardiovaskular
  • Mengurangi risiko kanker ovarium

3. Menyelamatkan Perekonomian Negara

Jurnal medis The Lancet menunjukkan, menyusui dapat menambah $302 miliar atau Rp4.224.074,00 dalam perekonomian global.

Sementara, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti Burkina Faso, India, Malawi, Peru dan Zambia, dan negara-negara berpenghasilan tinggi seperti Norwegia, Swedia dan Finlandia, telah membuktikan dapat meningkatkan angka menyusui yang tinggi selama komitmen politik, kebijakan negara, dan program dijalankan dengan kuat.

4. Keberhasilan Menyusui Tergantung pada Dukungan Suami dan Keluarga

Menyusui ternyata bukan pekerjaan mudah. Berbagai penelitian menunjukkan, keberhasilan menyusui sangat tergantung pada dukungan suami dan keluarga.

Hal ini membuktikan kalau menyusui bukan hanya tugas ibu, melainkan juga tugas suami yang dapat diperkuat dengan dukungan lingkungan, terutama keluarga.

Melansir jurnal Health Prospect, sebanyak 95% ibu yang menerima dukungan suami untuk menyusui mengaku lebih percaya diri pada saat memberikan ASI eksklusif.

Sementara, seorang ibu yang kurang mendapatkan dukungan suami, ibu, adik, atau bahkan ditakut-takuti, cenderung akan beralih ke susu formula.

Bukan hanya dukungan suami saja yang memengaruhi keberhasilan menyusui, tetapi komentar yang menyudutkan pun dapat memengaruhi keberhasilan ASI eksklusif.

The Breastfeeding Network menulis, opini dan saran dari anggota keluarga yang terlalu menyudutkan ibu menyusui akan meningkatkan kecemasan berlebihan.

Ibu akan menjadi ragu terhadap diri sendiri. Hal ini tentu juga kan berpengaruh pada jumlah ASI yang diproduksi ibu.

5. Perlunya Dukungan Lingkungan Sekitar

Ada begitu banyak hambatan dan masalah yang dihadapi ibu menyusui. Salah satunya adalah pekerjaan.

Pekerjaan adalah salah satu hambatan utama untuk menyusui dan berkontribusi pada kesehatan ibu menyusui.

Pekerjaan juga menjadi salah satu alasan ibu untuk berhenti menyusui lebih awal dan lebih memilih menggunakan susu formula.

Di beberapa tempat, ibu menyusui menghadapi respon negatif ketika mereka menyusui di depan umum.

Untuk itu, dukungan terhadap ibu menyusui sangat diperlukan dari lingkungannya.

Bukan hanya pihak suami dan keluarga, tetapi juga pihak perusahaan tempatnya bekerja dan rekan-rekan serta teman di kantor.

Namun, sayangnya, banyak pihak yang tidak tahu dan tidak memiliki keterampilan untuk mendukung ibu menyusui.

Akan tetapi, Moms bisa menemukan berbagai kelompok konseling untuk mendapatkan dukungan.

Sebuah studi Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition menunjukkan, para ibu yang mengunjungi konseling meningkatkan inisiasinya untuk menyusui tepat waktu sebesar 86%.

6. Faktor Ibu Terpaksa Berhenti Menyusui

Moms, 60% ibu harus berhenti menyusui. Hal ini karena durasi menyusui dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain:

  • Masalah dengan laktasi dan pelekatan.
  • Kekhawatiran tentang nutrisi dan berat badan bayi
  • Kekhawatiran ibu tentang minum obat saat menyusui
  • Kebijakan kerja yang tidak mendukung dan kurangnya cuti orang tua.
  • Norma budaya dan kurangnya dukungan keluarga.
  • Praktik dan kebijakan rumah sakit yang tidak mendukung.

Melihat fakta di atas, menyusui bukanlah hal yang mudah dan memiliki banyak manfaat. Ibu menyusui seharusnya bisa menyusui dengan aman dan tenang.

Oleh karena itu, mari beri dukungan kepada ibu menyusui dan jangan anggap remeh agar semua masalah dapat teratasi dengan baik, Moms.

Apa saja jenis dukungan bagi ibu menyusui?

Jenis-Jenis Dukungan bagi Ibu Menyusui

Berikut ini sederet dukungan yang bisa diberikan kepada ibu menyusui, baik dari suami, keluarga, dan juga lingkungan.

1. Dukungan Ibu Menyusui dari Suami

Dads dapat memberikan banyak dukungan kepada ibu menyusui dengan berbagai cara, yaitu secara psikologis dan juga fisik.

  • Psikologis: Memberi motivasi dan menjadi pengingat. Suami harus selalu mendengarkan keluhan istri tentang pemberian ASI eksklusif.
  • Fisik: Mengerjakan pekerjaan rumah agar istri dapat istirahat sejenak, membantu mempersiapkan kebutuhan ibu menyusui, seperti asupan makanan hingga peralatan breast pumping.

2. Dukungan Ibu Menyusui dari Keluarga

Selain suami, ibu menyusui juga butuh dukungan dari anggota keluarga lainnya.

Misalnya orangtua, mertua, atau juga adik dan kakak dari Moms. Apa saja bentuk dukungannya?

  • Motivasi dan informasi yang akurat tentang menyusui.
  • Pemberian makanan pendamping ASI yang tepat bergantung pada informasi yang akurat dan dukungan terampil.
  • Jangan menghakimi dan menyalahkan ibu menyusui.

3. Dukungan Ibu Menyusui dari Fasilitas Kesehatan

Tak cukup dukungan dari pihak keluarga saja, ibu menyusui juga berhak mendapatkan berbagai macam dukungan dari fasilitas kesehatan.

Pasalnya, kontak kulit ke kulit yang dini dan tidak terputus antara ibu dan bayi harus difasilitasi dan didorong sesegera mungkin setelah lahir.

Untuk itu, melansir International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes, fasilitas kesehatan dan stafnya tidak boleh memberikan botol susu dan dot atau produk lain sebagai pengganti ASI.

Adapun dukungan lainnya yang bisa diberikan fasilitas kesehatan kepada ibu menyusui antara lain:

  • Melatih ibu menyusui cara memerah ASI.
  • Memberikan informasi dan mengajarkan keterampilan tentang menyusui.
  • Menyediakan pelayanan antenatal.
  • Memberikan konseling gizi yang sehat dan spesifik budaya kepada ibu menyusui.
  • Dukung ibu untuk mengenali dan menanggapi isyarat bayi mereka untuk menyusu.
  • Menciptakan kondisi yang akan memfasilitasi pemberian ASI eksklusif, seperti ruang dan fasilitas perawatan bersalin yang tepat, jatah makanan tambahan dan air minum.

4. Dukungan Ibu Menyusui dari Lingkungan Tempat Kerja

Sementara itu, ibu menyusui yang bekerja dapat dibantu untuk terus menyusui dengan diberikan kondisi yang memungkinkan.

Sebagai contoh, cuti hamil berbayar, pengaturan jam kerja di tempat, fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI, dan istirahat selama menyusui.

Pihak perusahaan juga harus menciptakan lingkungan yang mendukung hak ibu menyusui, serta memberikan pengetahuan tentang pentingnya menyusui.

5. Dukungan Ibu Menyusui dari Pemerintah

Selain pihak-pihak di atas, pemerintah juga wajib, lho, memberikan dukungan terhadap para busui di Indonesia.

Moms sebagai ibu menyusui memiliki hak atas dukungan tersebut. Lantas, apa saja dukungan yang bisa diberikan pemerintah untuk busui?

  • Menunjuk koordinator menyusui nasional dengan kewenangan yang sesuai.
  • Menetapkan komite menyusui nasional multisektoral yang terdiri dari perwakilan dari departemen pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan profesional kesehatan asosiasi.
  • Memastikan setiap fasilitas yang menyediakan layanan bersalin sepenuhnya menerapkan semua dukungan menyusui yang ditetapkan dalam pernyataan WHO/UNICEF tentang menyusui dan layanan bersalin.
  • Memberlakukan Undang-Undang imajinatif yang melindungi hak-hak menyusui bagi perempuan yang bekerja dan menetapkan sarana untuk penegakannya.
  • Memastikan bahwa sektor kesehatan dan sektor terkait lainnya melindungi, mempromosikan, dan mendukung secara eksklusif menyusui selama 6 bulan dan terus menyusui sampai usia 2 tahun atau lebih..
  • Memberikan pengetahuan pemberian makanan pendamping ASI yang tepat waktu, memadai, aman.
  • Memastikan bahwa makanan pelengkap olahan dipasarkan untuk digunakan pada usia yang sesuai dan aman, bergizi, serta memadai.

Baca Juga: Bagaimana Posisi Menyusui Bayi Kembar yang Benar?

Lantas, mengapa dukungan terhadap ibu menyusui ini sangat penting, Moms? Menurut Psikolog Klinis Anak & Remaja sekaligus Co-Founder Ohana Space Kantiana Taslim, M.Psi., dukungan suami, keluarga, dan lingkungan sangat penting.

Menurutnya, dukungan tersebut bisa menjadi faktor eksternal yang bisa membantu kelancaran menyusui.

“Bayangkan saja, kalau di dalam dirinya sudah stres ditambah tekanan dari luar, dari suami, keluarga, atau lingkungan. Hal ini bisa menambah keparahan kondisi ibu menyusui,” ugkapnya.

Lantas, bagaimana cara mengatasi stres pada ibu menyusui?

Kantiana menambahkan, dukungan dari suami atau keluarga bisa berbentuk motivasi, tetapi di satu sisi bisa juga menciptakan diskusi yang terbuka, membantu mencari alternatif terhadap masalah yang dihadapi pada ibu menyusui.

“Paling terpenting jangan judgemental atau menyalahkan ibu menyusui, jika terjadi masalah menyusui. Hal seperti itu sebenarnya harus diganti dengan pendekatan terbuka dan diskusi yang lebih enak sehingga mencari solusi bersama, daripada menyalahkan atau memaksa ibu menyusui selalu bisa,” tandasnya.

Lalu, apa yang terjadi jika ibu menyusui tidak mendapatkan dukungan dari lingkungannya, terutama sang suami?

Ratih menjelaskan, ada beragam dampak yang akan dirasakan para ibu menyusui.

Secara emosional, ungkap Ratih, ibu menyusui yang tidak mendapatkan dukungan bisa saja merasa sedih, memiliki pikiran negatif, dan emosinya tidak stabil.

“Nah, ini akan memengaruhi komunikasi dengan anaknya, namanya juga ibu baru anak pertama terus dia belum mengerti apa-apa tapi lingkungan tidak mendukung pasti akan stressful,” katanya.

Selain itu, Ratih juga mengungkapkan ada 3 masalah psikologis yang kerap kali terjadi pada ibu menyusui, yaitu:

  • Pertama, anak jadi bingung puting. Ibu baru dan anak nya bingung puting, ibunya stres anaknya ikutan stres, biasanya sering terjadi di penyesuaian di awal tapi seiring berjalannya waktu ibu sudah bisa melakukan penyusuan. Jadi sudah bisa menanganinya.
  • Kedua, bisa juga pada saat ibunya dianggap kualitas ASInya buruk, anaknya juga ditambah susu formula jadi ibu dianggap tidak bisa menyusui anak.
  • Ketiga, apalagi masalah ibu baru dan belum tau apa-apa terus kemudian di gurui oleh semua orang itu bisa menjadi masalah. Dan itu memicu stres sangat memicu stres.

Tanpa adanya dukungan yang baik terhadap ibu menyusui, stres pun menghampiri.

Namun, Moms tak perlu khawatir, karena ada berbagai cara untuk menanggulangi stres pada ibu menyusui.

Testimoni kantiana

Peran Suami dan Lingkungan dalam Menyukseskan Ibu Menyusui

Di antara semua dukungan, peran suami paling penting untuk menyukseskan ASI eksklusif.

Bantuan dan dukungan suami bukan hanya meringankan pekerjaan dan tugas busui di rumah, tetapi juga memengaruhi mood.

Testimoni Ratih

Hal ini disampaikan seorang ibu rumah tangga, Nur Fajrina. Menurutnya, peran suami, keluarga, dan lingkungan sangat penting baginya selama memberikan ASI eksklusif kepada Si Kecil.

Testimoni Nur Fajrina

Hal serupa juga disampaikan ibu rumah tangga lainnya, Weni Handayani. Baginya, dukungan keluarga dan kerabat sangat penting.

Salah satu dukungan yang ia dapat dari keluarga adalah asupan makanan bergizi yang dapat memperlancar ASI.

"Dukungan dari keluarga, kerabat juga teman-teman sesama ibu penting sekali menurut saya. Yang paling banyak aku dapat yaitu support. Nah, dari keluarga biasanya ikut menyediakan makanan bergizi seperti sayur dan buah untuk memperlancar ASI," ungkapnya.

Dukungan dari lingkungan terdekat terutama suami bukan hanya selama masa menyusui, Moms.

Menurut Syanti Soraya, seorang ibu rumah tangga berusia 25 tahun, dukungan suami justru dimulai sejak sebelum masa menyusui, sebelum bayi lahir.

"Kebetulan suami saya sangat sangat mendukung saya dari sebelum (melahirkan) sampai sekarang. Suami saya membantu menyiapkan alat pumping dan mencucinya, saat saya lelah menyusui saat awal melahirkan, suami saya memberikan susu yang sudah saya pumping. Menurut saya, itu merupakan dukungan yang sangat berarti. Jadi saya tidak begitu lelah dan selalu fresh," terangnya, saat diwawancarai tim Orami.

Dukungan suami yang baik terhadap busui juga dialami aktris terkenal Kimberly Rider.

Kimberly membagikan pengalaman dan tantangan yang ia lalui ketika tahu bahwa dirinya hamil anak kedua saat sedang menyusui.

Kimberly harus menjalani tandem nursing untuk memastikan kedua anaknya mendapatkan ASI.

Tandem nursing adalah kondisi di mana seorang ibu menyusui dua anak dengan usia berbeda dalam waktu bersamaan.

Meski tidak mudah, dia bersyukur karena mendapatkan dukungan dari sang suami.

testimoni Kimberly Rider

Bukan hanya suami Kimberly, ternyata banyak suami-suami lainnya yang juga berusaha memberikan dukungan untuk busui.

Menyadari akan pentingnya dukungan terhadap ibu menyusui, para ayah dari berbagai kalangan dan background bergabung dalam Gerakan Ayah ASI.

Ayah ASI adalah sebuah komunitas di mana para ayah dapat belajar dan saling berbagi informasi mengenai ASI eksklusif dan berbagai macam hal lainnya terkait ibu menyusui.

testimoni ayah asi

Ayah dan keluarga bukan satu-satunya pihak yang wajib memberikan dukungan.

Bagi ibu bekerja, pihak perusahaan dan kolega di kantor pun wajib memberikan dukungan terhadap ibu bekerja selama menyusui di kantor.

Salah satu ibu bekerja yang mendapatkan dukungan baik dari pihak perusahaan tempatnya bekerja adalah Moms Vania Ika Aldida, jurnalis di salah satu media online nasional.

Selama menyusui, Vani diberikan waktu untuk lebih banyak WFH dibandingkan WFO.

"Ditempat saya bekerja juga ada fasilitas berupa tempat untuk melakukan pumping yang dilengkapi dengan sofa, AC, dan freezer untuk menyimpan ASI ataupun ice gel," ungkapnya.

Namun, tidak semua ibu bekerja beruntung diberikan fasilitas sebuah ruangan laktasi khusus.

Member Orami Community, Founder Komunitas YesKamuBerharga, Lidya Debora, mengaku di kantornya bekerja tidak ada ruang laktasi. Dirinya berharap, setiap perusahaan menyediakan ruang laktasi khusus yang bersih.

"Di kantor, ruangan yang tersedia bukan ruang khusus menyusui, sebenarnya. Namun, boleh izin untuk pumping di ruangan tertentu yang tertutup dan bersih. Ya, sebaiknya perusahaan punya ruangan khusus ya, ada kulkas lebih baik dan kursi yang nyaman."

Baca Juga: Cita-citaku: ASI Eksklusif untuk Sang Buah Hati Kembar

Moms, menyusui bukan sekadar tugas ibu, dukungan dari lingkungan kerja, teman, dan terutama suami memberikan dampak yang sangat signifikan bagi kelancaran memberikan ASI eksklusif.


Ditulis oleh:

  • Defara Millenia Romadhona
  • Amelia Riskita Putri

Disunting oleh:

  • Meira Karla Farhana

Ilustrasi oleh:

  • Achyadi

  • https://www.who.int/news-room/facts-in-pictures/detail/breastfeeding
  • http://ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3508512/
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11795054/
  • https://www.thelancet.com/series/breastfeeding
  • https://www.breastfeedingnetwork.org.uk/anxiety/
  • https://www.who.int/nutrition/publications/code_english.pdf
  • https://www.researchgate.net/publication/320891854_Family_support_and_exclusive_breastfeeding_among_Yogyakarta_mothers_in_employment
  • https://www.who.int/news-room/facts-in-pictures/detail/breastfeeding
  • https://www.thelancet.com/series/breastfeeding
  • https://www.breastfeedingnetwork.org.uk/anxiety/
  • https://www.factretriever.com/breastfeeding-facts
  • https://www.cdc.gov/breastfeeding/data/facts.html
  • https://www.researchgate.net/publication/333514183_Husband's_Support_for_Breastfeeding_and_Breastfeeding_Efficacy_of_Nepalese_Mothers
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11795054/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3508512/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6096620/
  • https://apps.who.int/gb/archive/pdf_files/WHA55/ea5515.pdf
  • https://knepublishing.com/index.php/Kne-Life/article/view/3794/7853
  • https://www.who.int/elena/titles/full_recommendations/breastfeeding-support/en/
  • https://www.who.int/home/cms-decommissioning
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait