Trimester 3

14 Mei 2021

Mirror Syndrome: Gejala dan Cara Pengobatannya

Sindrom ini sebenarnya jarang ditemukan dalam kasus kehamilan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Floria Zulvi
Disunting oleh Adeline Wahyu

Mirror Syndrome menjadi salah satu kondisi yang membuat ibu yang sedang hamil menjadi khawatir akan kesehatan kandungannya.

Bagi yang belum mengetahui soal kondisi ini, mirror syndrome adalah kondisi yang pernah menimpa pasangan selebriti Irish Bella dan Ammar Zoni.

Pasangan selebriti ini harus menerima kenyataan anak kembar yang ada di kandungan Irish Bella meninggal dunia. Nah, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan mirror syndrome ini dan apa penyebabnya?

Dilansir dari sebuah jurnal yang berjudul Mirror Syndrome: A Systematic Review of Fetal Associated Conditions, Maternal Presentation and Perinatal Outcome menyebutkan mirror syndrome atau ballantyne syndrome biasanya didefinisikan sebagai perkembangan edema ibu yang berhubungan dengan hidrops janin.

Sindrom ini pun sangat jarang terjadi meski beberapa kasus sudah dipublikasikan.

Cara pengobatan dari mirror syndrome sendiri pun hanya satu yakni segera mengeluarkan janin yang ada di dalam kandungan. Jadi, sang janin akan dilahirkan secara prematur.

Baca Juga: 5 Kandungan Berbahaya dalam Sabun Bayi, Bisa Sebabkan Iritasi Kulit!

Dalam juurnal tersebit disebutkan bahwa kondisi mirror syndrome, yang merupakan salah satu penyebab preeklamsia.

Kondisi ini mengakibatkan plasenta kandungan Irish lepas sehingga aliran darah tidak mengalir ke janin dan menyebabkan kematian pada bayi kembar tersebut.

Kondisi ini pun biasanya baru dimulai ketika usia kehamilan mencampai 16 hingga 34 minggu. Sebenarnya apa itu mirror syndrome? Yuk kita kenali lebih lanjut, Moms.

Mengetahui Lebih Dalam tentang Mirror Syndrome

mirror syndrome

Foto: Orami Photo Stock

Dilansir dari situs Very Well Family, mirror syndrome terjadi pada kehamilan ketika janin memiliki kelebihan cairan yang tidak normal, sehingga mengakibatkan ibu mengalami preeklamsia, suatu bentuk hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Ini adalah kondisi yang langka. Namun, ketika itu terjadi, sangat serius dan berpotensi mengancam jiwa.

Komplikasi kehamilan seperti mirror syndrome bisa membuat stres dan terasa menakutkan, tetapi mengenali gejalanya dan berkonsultasi dengan dokter adalah langkah pertama untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat.

Tindakan dini itu penting ketika ada sesuatu yang tidak biasa selama kehamilan, karena bisa membuat semua perbedaan.

Baca Juga: Waspadai Ciri-ciri Preeklamsia pada Ibu Hamil

Penyebab Mirror Syndrome

mirror syndrome

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip dari jurnal US National Library of Medicine, penyebab terjadinya sindrom ini melibatkan isoimunisasi rhesus, sindrom transfusi kembar-kembar (Twin-To-Twin Transfusion Syndrome), infeksi virus, malformasi janin, dan tumor janin atau plasenta.

Sindrom ini biasanya disebabkan oleh hidrops janin, yang merupakan kumpulan cairan dalam janin. Cairan dapat menumpuk di bawah kulit, di perut, di sekitar paru-paru, atau di sekitar jantung.

Mirror syndrome dapat terjadi mulai 22,5 hingga 27,8 minggu usia kehamilan. Kasus ini merupakan kasus yang jarang terjadi pada seorang wanita hamil yang menderita sindrom cermin yang terkait dengan gagal jantung.

Setelah persalinan dan tindakan pengobatan lainnya, gejala gagal jantung biasa akan hilang.

Baca Juga: Mengenal Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS), Salah Satu Risiko Komplikasi pada Kehamilan Kembar

Gejala Mirror Syndrome

mirror syndrome

Foto: Orami Photo Stock

Sangat penting bagi ibu hamil untuk segera mengetahui terjadinya sindrom ini sejak ini untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Terkadang gejala kondisi ini bisa bertumpuk dengan kondisi lainnya, seperti preeklampsia, jadi diperlukan diagnosis yang tepat.

Biasanya gejala yang ditunjukan oleh mirror syndrome, seperti:

  • Tekanan darah yang tinggi
  • Pembengkakan parah dan signifikan
  • Protein ditemukan dalam urin (mudah didiagnosis dengan tes urin)
  • Pertambahan berat badan yang signifikan dan berlebihan dalam waktu singkat

Kadang-kadang sindrom ini akan muncul dalam tes darah melalui hemodilution (suatu kondisi di mana ada lebih banyak plasma dalam darah dan jumlah sel darah merah yang lebih rendah). Ini terjadi karena kelebihan cairan yang menumpuk di dalam tubuh.

Meskipun sangat jarang ditemukan, sindrom ini bisa menyerang ibu hamil mana saja. Makanya, Moms harus tetap berhati-hati dan segera berkonsultasi dengan dokter ketika sudah menemukan gejalanya.

Baca Juga: Penyebab Down Syndrome dan Cara Deteksi Dini Sejak dalam Kandungan

Cara Pengobatan Mirror Syndrome

mirror syndrome

Foto: Orami Photo Stock

Ketika mengalami sindrom ini, tentu saja hal yang paling diharapkan adalah mendapatkan pengobatan dengan cepat. Sayangnya, satu-satunya cara untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan cara mengeluarkan janin dengan segera.

Bila usia janin belum matang, ibu akan melakukan persalinan prematur. Seperti yang sudah disebutkan di atas, sindrom ini biasanya baru akan muncul di minggu ke 16 atau ke 34 dalam masa kehamilan.

Biasanya, persalinan prematur pun akan dilakukan dengan memberikan obat yang bisa merangsang ibu untuk melakukan persalinan dengan segera.

Atau Moms juga bisa memilih untuk melakukan operasi caesar agar Si Kecil bisa lahir dengan segera.

Pada umumnya, usai bayi lahir dokter pun akan melakukan berbagai macam tindakan. untuk mengeluarkan kelebihan cairan yang berada dalam tubuh Si Kecil.

Tak sampai sana, dokter pun biasanya akan memberikan obat-pbatan agar tidak terjadi gagal jantung dan untuk membantu ginjal dalam membuang kelebihan cairan tubuh.

Nah tindakan selanjutnya, bayi yang lahir dengan prematur tersebut umumnya akan dirawat secara intensif di NICU atau Neonatal Intensive Care Unit.

Baca Juga: 6 Pertanyaan yang Perlu Ditanyakan ke Dokter Kandungan pada Kunjungan Pertama

Komplikasi pada Pengidap Mirror Syndrome

mirror syndrome

Foto: Orami Photo Stock

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, kondisi ini sangatlah terjadi pada ibu hamil, Moms. Namun, meskipun mirror syndrome sangat arang ditemukan, namun kondisi in sangat berbahaya bagi ibu hamil dan juga janinnya.

Dalam beberapa kasus, sindrom ini bisa memicu anemia serta gagal jantung pada ibu yang sedang hamil. Sementara itu, pada janin yang dikandung, mirror syndrome bisa menyebabkan keguguran atau mati di dalam kandungan.

Tentunya, hal ini tak ingin dialami oleh ibu hamil, bukan? Karena itu, sebaiknya Moms melakukan pencegahan agar tidak terkena kondisi ini.

Baca Juga: Tips Agar Cepat Melahirkan di Usia Kandungan 38 Minggu, Yuk Cari Tahu!

Pencegahan yang Bisa Dilakukan

mirror syndrome

Foto: Orami Photo Stock

Seperti yang sudah dijelaskan, meski jarang terjadi, mirror syndrome perlu dicegah. Namun sayangnya, pencegahan yang dilakukan pun sangat sulit.

Hal terbaik yang bisa Moms lakukan agar tidak terkena sindrom ini atau bisa mengetahui lebih awal adalah dengan melangsungkan pemeriksaan kehamilan yang rutin ke dokter kandungan.

Tujuannya tentu saja untuk memeriksakan dan memantau kondisi ibu dan juga janin.

Ketika Moms sering dan rutin memeriksakan diri dan kandungan ke dokter, Moms bisa memantau kondisi Si Kecil serta dokter pun bisa mengetahui kondisi kesehatan Moms.

Terlebih dokter pun bisa mendeteksi lebih awal jika ada kelainan yang mungkin saja menimpa ibu dan juga janin.

Mirror syndrome memang sulit dicegah, namun bukan berarti tidak bisa. Jangan lupa untuk periksakan kandungan secara rutin ya, Moms!

  • https://www.verywellfamily.com/mirror-syndrome-4587193
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20357423/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4659014/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait