Kesehatan

KESEHATAN
16 Juni 2020

6 Mitos Tentang Haid dan Faktanya

Ada banyak mitos haid yang sampai sekarang masih beredar dan dipercaya masyarakat
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Serenata Kedang
Disunting oleh Intan Aprilia

Siklus haid merupakan proses normal yang terjadi pada wanita selama masa subur, dari masa pubertas hingga menopause.

Menurut Journal of Family Medicine and Primary Care, haid merupakan salah satu indikator timbulnya pubertas yang dimulai di usia 11 dan 14 tahun.

Meskipun menjadi fenomena unik bagi wanita, haid selalu dibayang-bayangi mitos dalam masyarakat.

Mitos Haid dan Faktanya

Budaya yang berbeda di seluruh dunia menyebabkan beredarnya mitos-mitos terkait haid.

Secara turun menurun, Moms tentu sering disuguhkan dengan berbagai pantangan yang tidak boleh dilakukan ketika haid.

Padahal, sebagian besar mitos tersebut datang hanya didasarkan oleh kepercayaan saja yang beredar di masyarakat, tanpa didukung oleh fakta-fakta penelitian secara ilmiah.

Agar Moms tidak merasa khawatir, berikut adalah beberapa mitos tentang haid dan faktanya.

1. Masa Haid Pasti Berlangsung Tepat Seminggu

Mitos Haid dan Faktanya 1.jpg

Foto: freepik.com

Tidak semua kondisi tubuh wanita sama, sehingga siklus menstruasi pada tiap-tiap orang juga berbeda.

Siklus ini biasanya berlangsung selama 28 hari, tetapi tak jarang juga ada wanita yang mengalami siklus lebih lama ataupun lebih pendek.

Siklus menstruasi dikendalikan oleh hormon yang kompleks dan diproduksi oleh otak, kelenjar hipofisis, dan hipotalamus bersamaan dengan ovarium.

Periode yang normal berlangsung selama 3-8 hari yang akan datang lagi setiap 21-35 hari.

Namun, berbagai faktor bisa memengaruhi siklus menstruasi seperti fluktuasi berat badan, emosi, dan obat-obatan.

Baca Juga: Berapa Lama Siklus Menstruasi yang Normal?

2. Berhubungan Seks Selama Haid Tidak Menyebabkan Kehamilan

Mitos Haid dan Faktanya 2.jpeg

Foto: unsplash.com

Ini merupakan mitos haid paling umum yang diyakini banyak pria dan wanita di seluruh dunia.

Puncak kesuburan terjadi selama ovulasi yang biasanya dimulai sekitar 12 hingga 16 hari sebelum haid selanjutnya dimulai.

Sperma juga diyakini dapat hidup dalam saluran genital Moms hingga 5 atau 7 hari yang bisa membuahi sel telur jika bertepatan dengan ovulasi.

Jadi, seks selama menstruasi bisa saja mengakibatkan kehamilan jika dilakukan mendekati masa subur.

3. Rasa Sakitnya Biasa Saja

Mitos Haid dan Faktanya 3.jpg

Foto: freepik.com

Rasa sakit yang dialami saat menstruasi sangatlah berbeda dengan beberapa keadaan lain yang pernah dialami.

Bahkan beberapa wanita harus berhenti bekerja dan meringkuk di tempat tidur untuk menghilangkan rasa kram pada perut.

Kondisi ini dikenal dengan nama medisnya yakni dismenore.

Dilansir dari Clinical Evidence, sekitar 20 persen wanita diyakini memiliki dismenore yang cukup parah sehingga mengganggu aktivitas mereka sehari-hari.

Baca Juga: Nyeri Saat Haid, Kenali Tipe Dismenore

4. Tidak Diperbolehkan Berenang

Mitos Haid dan Faktanya 4.jpeg

Foto: unsplash.com

Mitos haid ini populer sebelum adanya tampon menstruasi. Saat ini, sangat aman bagi Moms untuk berenang selama haid.

Olahraga intensi rendah seperti berenang, bisa membantu mengurangi kram dan kelelahan yang Moms alami.

Journal Brain Plasticity menemukan bahwa berolahraga bisa memperbaiki suasana hati dengan penurunan ketegangan dan depresi.

Saat di dalam air, tekanan menghentikan aliran darah sementara. Kecuali jika Moms tertawa, batuk, dan bersin, maka tekanan bisa berubah kembali.

Saat keluar dari kolam pun, aliran haid akan kembali normal. Untuk itulah, tampon menstruasi sangat dianjurkan bagi Moms yang hendak berenang.

Perlu diperhatikan juga bahwa air kolam mengandung klorin yang bisa mengiritasi vagina dan vulva.

Hal ini bisa menyebabkan terjadinya infeksi jamur atau bacterial vaginosis (BV).

Mandi setelah berenang bisa mengurangi paparan klorin. Hindari juga duduk dengan pakaian renang yang basah.

Jika Moms merasakan gatal berkelanjutan, segera periksakan ke dokter.

5. Darah Haid Memiliki Bau yang Kurang Sedap

Mitos Haid dan Faktanya 5.jpg

Foto: freepik.com

Darah menstruasi itu sendiri sebenarnya tidak memiliki bau. Jika pun menghasilkan bau, hal ini terjadi karena aroma unik yang dihasilkan tubuh di tiap wanita berbeda.

Bau ini berasal dari darah yang keluar dari rahim dan ketika dicampur bakteri tubuh, menghasilkan bau yang kurang segar.

Menurut Journal Annual Review of Microbiology vagina adalah rumah bagi berbagai jenis bakteri sehat, termasuk lactobacillus.

Kehadiran darah, air mani, atau urin di vagina juga dapat memengaruhi pH dan menyebabkan bau yang berbeda.

Jadi, bukan darah haid itu sendiri yang memiliki bau tak sedap, melainkan darah yang sudah bercampur dengan cairan vagina lainnya.

Baca Juga: Arti Perbedaan Warna Darah Menstruasi

6. Kehilangan Banyak Darah

Mitos Haid dan Faktanya 6.jpg

Foto: freepik.com

Mitos haid yang selanjutnya adalah bahwa Moms bisa banyak kehilangan darah saat mens.

Rata-rata wanita akan kehilangan darah sekitar 10 ml hingga 80 ml selama menstruasi. Rentangnya ini beragam, tergantung dari kondisi tubuh tiap wanita.

Namun, jika Moms merasakan aliran menstruasi yang tidak biasanya, maka hal ini bisa jadi gejala penyakit Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) ataupun endometriosis.

Menstruasi merupakan fenomena unik bagi wanita. Namun, masih banyak mitos haid yang beredar dan membuatnya menjadi tabu.

Mitos seperti yang disebutkan diatas sangat berdampak pada kondisi mental dan kesehatan Moms.

Tantangan dalam menghadapi mitos-mitos itu harus diimbangi dengan pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang haid.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait