Bayi

BAYI
19 April 2020

5 Mitos tentang Nebulisasi, Masih Mau Percaya?

Konon, nebulisasi bisa menyebabkan kecanduan. Benarkah? Atau cuma mitos?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Saat ini, penggunaan nebulizer bukan menjadi pilihan utama. Ketakutan utama yang dimiliki orang tua mengenai penggunaan nebulizer adalah ‘kecanduan’ dan hanya untuk ‘penderita asma’. Namun ternyata, hal tersebut tidak sepenuhnya benar.

Rahul Varma MBBS, DCH dokter Spesialis Anak, Ahli Neonatologi mengatakan, setiap orang yang baru melakukan nebulisasi mungkin memiliki beberapa kesalahpahaman. Padahal, nebulizer hanyalah sebuah alat.

“Ini adalah alat yang memberikan obat cair dalam bentuk kabut yang dihirup ke paru-paru. Ini adalah benda yang memiliki listrik yang dioperasikan. Pasien bernapas melalui corong mulut atau masker wajah,” ujarnya.

Baca Juga: Perlukah Memiliki Nebulizer untuk Anak Batuk Pilek?

Mitos Seputar Nebulisasi pada Bayi

Selain hal tersebut, ternyata beberapa hal tentang nebulizer yang digunakan pada bayi ini hanya mitos. Mari cek faktanya di sini.

Mitos #1: Nebulizer Sebabkan Kecanduan

Ternyata 5 Hal Tentang Nebulisasi Ini Hanya Mitos -1.jpeg

Foto: Babydollhospital.com

Mitos nebulizer pada bayi yang pertama ini adalah menyebabkan kecanduan. Padahal, Nebulizer hanyalah sebuah metode di mana obat dikirim untuk mencapai organ dalam tertentu untuk mengurangi risiko.

Hal ini sama sekali tidak menimbulkan kecanduan, karena obat yang digunakan di dalamnya tidak mengandung potensi kecanduan.

“Nebulisasi adalah cara pemberian obat dan tidak menyebabkan kecanduan. Kecanduan adalah atribut obat (atau obat); itu tidak tergantung pada mode pengiriman. Jika ada obat yang memiliki potensi kecanduan, itu akan untuk setiap mode pengiriman yaitu oral, intravena, intramuskuler dan sebagainya,” ujarnya.

Mitos #2: Miliki Banyak Efek Samping

Ternyata 5 Hal Tentang Nebulisasi Ini Hanya Mitos -2.jpg

Foto: Gettyimages.com

Selama menggunakan nebulizer, obat langsung dikirim ke paru-paru sebagai lokasi di mana dia harus bekerja. Ini menurunkan kemungkinan efek samping, jika dibandingkan dengan obat-obatan oral yang menyebar ke seluruh tubuh sebelum mencapai paru-paru.

“Efek samping jauh lebih sedikit dengan nebulizer. Karena obat dikirim langsung ke paru-paru. Sedangkan obat oral dalam bentuk sirup dan tablet dispersal pertama kali masuk ke perut, di mana mereka diserap dan kemudian didistribusikan dalam tubuh sehingga efek samping lebih banyak,” tambah dia.

Baca Juga: Amankah Nebulizer untuk Bayi?

Mitos #3: Hanya Dapat Digunakan oleh Penderita Asma

Ternyata 5 Hal Tentang Nebulisasi Ini Hanya Mitos -3.jpg

Foto: Doctorima.com

Mitos nebulizer pada bayi selanjutnya adalah hanya dapat digunakan oleh penderita Asma. Padahal, Nebulizer bisa digunakan dalam banyak kondisi pada anak-anak. Misalnya penyakit COPD, HRAD, WALRI, bronchiolitis, alergi, dan sebagainya.

“Fungsi paling umum itu membantu melalui melebarkan saluran pernapasan (bronkodilatasi) atau mengurangi edema (dalam kasus epinefrin digunakan). Untuk anak-anak sulit mengeluarkan dahak, jadi penggunaan nebulisasi mungkin membantu,” tandasnya.

Mitos #4: Nebulizer Itu Rumit

Ternyata 5 Hal Tentang Nebulisasi Ini Hanya Mitos -4.jpg

Foto: Cannabismd.com

Sebenarnya, penggunaan nebulizer sangat sederhana. Cukup masukkan obat, hubungkan tabung jika menggunakan masker dan nyalakan. Plus, tidak seperti inhaler, nebulizer tidak memerlukan koordinasi tindakan apa pun.

Jika saat menggunakan inhaler sambil harus menekan tabung sambil menarik napas ke dalam secara bersamaan, tetapi dengan nebulizer dapat bernapas dengan normal dan mudah.

“Dengan nebulizer, anak dapat bernapas dengan normal. Bahkan, anak Anda dapat melakukannya sendiri dan mungkin merasa itu adalah kegiatan yang menyenangkan,” kata Rahul.

Baca Juga: Anak Batuk Pilek, Jangan Asal Inhalasi Pakai Nebulizer!

Mitos #5: Penggunaan Dosis pada Inhaler atau Nebulizer Tidak Sesuai

Ternyata 5 Hal Tentang Nebulisasi Ini Hanya Mitos -5.jpg

Foto: Depositphotos.com

Hal itu tidak sepenuhnya benar. Ketika menggunakan inhaler namun tidak benar mengoordinasikan pernapasan dengan dispersi obat, Moms tidak akan mendapatkan dosis obat yang penuh.

Menurut sebuah laporan dari American College of Chest Physicians, hingga 70 persen pengguna inhaler melakukan kesalahan tersebut.

Namun, saat menggunakan nebulizer, Moms akan selalu mendapatkan dosis penuh setiap waktu dan sesuai yang dibutuhkan.

Nah, itulah beberapa mitos seputar nebulisasi. Selain yang dipaparkan di atas, apakah ada lagi mitos nebulizer pada bayi yang pernah Moms dengar?

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait