Parenting Islami

29 April 2021

Mengenal 7 Mustahik Zakat, Golongan Orang yang Berhak Menerima Zakat

Ternyata bukan hanya golongan fakir dan miskin yang berhak menerima zakat
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Daftar isi artikel

Siapa saja golongan orang yang berhak menerima zakat alias mustahik zakat? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Bagi umat Islam, zakat termasuk perkara yang wajib untuk ditunaikan. Hal ini dibuktikan dari keterangan dalam rukun Islam. Kewajiban berzakat juga telah diperintahkan secara jelas dalam Alquran.

Dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 43 Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”

Bahkan, perintah zakat ini diserukan secara berulang di dalam Alquran dalam berbagai ayat hingga sebanyak 32 kali.

Baca Juga: Moms dan Dads, Ini Tips Salat Tanpa Diganggu Anak

Mustahik Zakat

mustahik zakat.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Dalam zakat sendiri, ada istilah yang disebut sebagai mustahik zakat. Mustahik zakat merupakan golongan atau orang-orang yang berhak menerima zakat. Simak penjelasan lengkap mengenai orang atau golongan yang disebut sebagai mustahik zakat berikut ini.

1. Fakir dan Miskin

Golongan utama yang merupakan mustahik zakat, ialah kaum fakir dan miskin. Mengutip laman Dompet Dhuafa, pemberian zakat untuk fakir dan miskin ini dapat diberikan dalam dua cara, yaitu pemberian zakat yang tujuannya sebagai pemenuh kebutuhan hidup sehari-hari dan pemberian zakat yang tujuannya dapat digunakan sebagai modal berwirausaha.

Kaum yang dapat dikatakan sebagai fakir dan miskin menurut Zakat Global ialah orang yang tidak mempunyai harta atau hasil usaha (pekerjaan) untuk memenuhi kebutuhan pokok dirinya dan tanggungannya termasuk makanan, pakaian, tempat tinggal keperluan-keperluan lain. Jumhur Ulama berpendapat bahwa fakir dan miskin termasuk dua golongan tapi satu macam, dan yang dimaksud adalah mereka yang kekurangan dalam kebutuhan.

Sementara dilansir alhasanah, fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta atau mata pencaharian yang layak yang bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhannya baik sandang, papan dan pangan. Sedangkan miskin adalah orang yang memiliki mata pencaharian, tetapi tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.

2. Riqab

Riqab termasuk mustahik zakat. Secara bahasa yang dimaksud dengan riqab ialah jamak dari raqabah yang artinya adalah tengkuk (leher bagian belakang), seluruh tubuh dinamakan dengan satu anggota karena nilai anggota ini yang berharga.

Kata raqabah digunakan secara mutlak dengan makna hamba sahaya, jadi riqab adalah hamba sahaya yang dimiliki oleh seseorang.

Riqab dan di sini mencakup mukatab, yaitu hamba sahaya yang berakad dengan majikannya untuk menebus dirinya atau ghairu mukatab.

Dalam hal ini, zakat digunakan untuk membebaskan atau memerdekakan budak dari majikannya sehingga bisa hidup secara layak. Pemberian zakat terhadap riqab ini terjadi pada zaman awal perkembangan Islam.

Namun menurut penelitian dalam Majelis Ulama Indonesia Provinsi DKI Jakarta, riqab telah dihapus dalam mustahik zakat di Indonesia. Padahal, riqab atau budak yang dimaksud dapat disamakan dengan human trafficking atau perdagangan orang dan mereka termasuk berhak menerima zakat.

3. Gharimin atau Gharim

Mustahik zakat atau golongan penerima zakat berikutnya, yaitu Gharimin atau Gharim. Secara Bahasa, yang dimaksud dengan Gharimin atau Gharim adalah orang yang tengah terlilit hutang.

Salah satu golongan penerima zakat ini dikategorikan sebagai penerima zakat yang wajib kita berikan yang terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Ghârim limaslahati nafsihi (Terlilit hutang demi kemaslahatan atau kebutuhan dirinya)
  • Ghârim li ishlâhi dzatil bain ( Terlilit hutang karena mendamaikan manusia, qabilah atau suku)

Dijelaskan oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis bin Mursidi, kedua jenis al-ghârim di atas berhak menerima zakat tetapi dengan syarat tambahan pada ghârim linafsihi yaitu harus dalam keadaan miskin. Sedangkan untuk ghârim li ishlâhi dzatil bain maka boleh diberi zakat meski dia kaya.

Adapun syarat-syarat Gharim yang boleh menerima zakat, di antaranya:

  • Beragama Islam
  • Al-Faqr (miskin)
  • Hutang bukan karena maksiat
  • Tidak mampu mencari penghasilan lagi
  • Bukan keturunan Bani Hasyim (keturunan kerabat Rasulullah SAW)
  • Waktu pelunasan sudah jatuh tempo
  • Gharim bukan termasuk dalam tanggungan muzakki (orang yang berzakat)

Harta zakat dari baitul mal yang diberikan kepada ghârim yaitu seukuran hutang yang harus dilunasi.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Ghârim diberi zakat untuk menutup hutangnya walaupun sangat banyak.”

Ibnu Rusyd rahimahullah, penyusun kitab Bidâyatul Mujtahid menyatakan, “Ghârim diberi dari zakat sejumlah hutangnya jika hutangnya bukan karena maksiat.”

Dalam hal ini, sering terkumpul dua sifat yaitu faqir dan ghârim pada seseorang, maka boleh baginya menerima zakat untuk kemiskinannya dan melunasi hutangnya sehingga ia mendapat dua jatah.

Baca Juga: Ini 6 Tips Mengelola Keuangan Agar Jauh dari Hutang

4. Mualaf

Mualaf atau orang yang baru masuk Islam juga termasuk dalam mustahik zakat. Zakat yang diterima mualaf bertujuan untuk mendukung penguatan iman dan takwa mereka dalam memeluk agama Islam.

Dilansir dari laman Umma, penerima zakat dari golongan (asnaf) mualaf dapat dibagi menjadi empat, yaitu (1) orang yang baru masuk Islam, (2) golongan yang lemah akidahnya, (3) golongan yang rentan akidahnya, dan (4) pemilik kuasa dari non-Muslim yang dihindari keburukannya.

Selain itu, pemberian zakat pada mualaf juga memiliki peran sosial karena dapat mempererat tali persaudaraan.

5. Fisabilillah

Mustahik zakat selanjutnya ialah fisabilillah, seseorang atau sebuah lembaga yang memiliki kegiatan utama berjuang di jalan Allah dalam rangka menegakkan agama Islam.

Hal ini telah diterangkan dalam Alquran Surat At-Taubah ayat 60, Allah SWT berfirman yang artinya, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu´allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allâh dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allâh, dan Allâh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Para fisabilillah penerima zakat saat ini dapat berupa organisasi penyiaran dakwah Islam di kota-kota besar, maupun syiar Islam di daerah terpencil.

6. Ibnu Sabil

Ibnu Sabil yang termasuk mustahik zakat dalam hal ini ialah seseorang yang sedang dalam perjalanan dan kehabisan bekal sehingga tidak bisa meneruskan perjalanannya. Ibnu Sabil ini berhak menerima zakat, baik dari golongan mampu ataupun sebaliknya.

Dikutip dari Rumah Fiqih Indonesia, beberapa persyaratan yang dikemukakan oleh para ulama bagi ibnu sabil, agar berhak mendapatkan harta zakat, antara lain: muslim dan bukan Ahlul Bait, di tangannya tidak harta lain, bukan perjalanan maksiat, dan tidak ada pihak yang bersedia meminjamkannya.

7. Amil

Secara Bahasa, Amil ialah orang yang bertugas untuk mengumpulkan dana zakat yang telah diberikan oleh muzzaki (orang yang memberikan zakat).. Amil termasuk golongan terakhir yang berhak menerima zakat, setelah seluruh mustahik zakat di atas mendapatkan haknya.

Itulah orang-orang yang berhak mendapatkan zakat dalam agama Islam atau disebut juga sebagai mustahik zakat. Semoga informasinya bermanfaat dan dapat menambah ilmu pengetahuan agama, ya.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait