Rupa-rupa

16 Juni 2021

Ngunduh Mantu: Mengetahui Arti dan Rangkaian Acaranya

Mengetahui lebih dalam tentang pentingnya tradisi ngunduh mantu.
placeholder

Foto: shutterstock.com

placeholder
Artikel ditulis oleh Floria Zulvi
Disunting oleh Karla Farhana

Ngunduh mantu adalah sebuah tradisi yang membuat momen pernikahan terlihat spesial dan juga unik. Ngunduh mantu sendiri sering dijadikan sebuah prosesi pelengkap bagi pernikahan adat Jawa dan juga adat Sunda.

Meski, ngunduh mantu sendiri bukanlah sebuah kewajiban, namun banyak orang yang tetap ingin menyelenggarakan salah satu dari prosesi pernikahan adat tradisional ini.

Ngunduh mantu adalah sebuah pesta lanjutan. Pesta ini dijadikan momentum sebagai cara keluarga pengantin pria untuk memberi tahu kepada sanak saudara atau tetangga bahwa mereka memiliki anggota keluarga baru yaitu pengantin perempuan.

Jika dilihar dari bahasa, ngunduh dalam Bahasa Jawa memiliki arti panen atau memanen. Sementara mantu adalah menantu. Jadi ngunduh mantu berarti memanen mantu. Artinya keluarga laki-laki mempunyai mantu perempuan dari anak laki-lakinya.  

Dalam praktiknya, mungkin satu daerah dengan daerah lainnnya di Jawa berbeda satu sama lainnya dalam mengadakan acara. Meski demikian, prosesinya tidak akan berbeda jauh.

Biasanya ngunduh mantu ini dilakukan oleh pasangan yang keluarganya tinggal secara berjauhan. Tradisi ini pun dilakukan 5 har setelah resepsi pernikahan dilakukan.

Bedanya, tradisi ini biasanya digelar lebih sederhana jika dibandingkan dengan pesta resepsi. Lalu, apa saja sih prosesi ngunduh mantu yang biasa dilaksanakan? Ini dia!

Baca Juga: Mengharukan, 5 Artis Ini Memilih Tidak Menikah Lagi Setelah Suami Meninggal

Rangkaian Prosesi Ngunduh Mantu

Ngunduh Mantu

Foto: instagram.com/backdrop_bojonegoro

Ada beberapa rangkaian yang perlu dilakukan dalam prosesi ngunduh mantu. Dilansir dari Mahligai Indonesia, berikut rangkaian yang perlu dilakukan agar tradisi ini terasa lengkap.

  • Hal pertama yang perlu dilakukan biasanya dari kehadiran keluarga pengantin perempuan serta pasangan yang baru menikah. Sepasang pengantin dan kedua orang tua pengantin wanita beserta rombongan hadir di rumah besan (orangtua pengantin pria), diiringi Gendhing Boyong Pengantin.
  • Hal kedua yang akan dilakukan adalah penyambutan pengantin dan juga keluarga perempuan. Orang tua pengantin pria menyambut kehadiran besan (orang tua pengantin wanita) bersama kedua pengantin. Ibu pengantin pria segera melingkarkan kain motif Sidomukti (atau sejenisnya) di bahu kedua mempelai. Selanjutnya berjabat tangan dengan besan. Rangkaian prosesi diiringi Gending Boyong Basuki.
  • Sungkeman pun tidak boleh dilupakan, ya. Kedua mempelai diiringi kedua orang tua menuju pelaminan. Sebelum kedua mempelai duduk dipelaminan, terlebih dahulu melakukan sungkem ke kedua orang tua.
  • Rangkaian terakhir, kedua mempelai duduk di pelaminan, diapit kedua orang tua. Kedua orangtua mempelai pria selaku pemangku hajat duduk di sebelah kanan pengantin. Sementara kedua orang tua mempelai wanita duduk di sebelah kiri pasangan pengantin.

Dalam melakukan tradisi adat ngunduh mantu, terdapat beberapa istilah yang perlu dipahami agar acara berjalan dengan lancar. Berikut istilah dari prosesi tersebut!

Baca Juga: 6 Kebiasaan Sehari-hari yang Tanpa Disadari Mengancam Pernikahan

Mengenal Berbagai Macam Istilah Tradisi Ngunduh Mantu

Ngunduh Mantu

Foto: instagram.com/eniriasputri

Ngunduh mantu sendiri memiliki beberapa istilah yang patut untuk dipahami. Yuk ketahui lebih dalam mengenai tradisi ini!

1. Pangombyong

Dilansir dari WeddingMarket, prosesi pernikahan adat Jawa dalam ngunduh mantu yang pertama bernama pangombyong. Pangombyong sendiri adalah sebuah prosesi ketika kedua pengantin, orang tua, dan keluarga yang mengantar bersiap untuk melakukan prosesi ngunduh mantu.

Nah, biasanya di sini semua anggota yang akan ikut sudah merias wajah. Pengantin pun sudah siap dengan baju pengantinnya.

Pangombyong sendiri memiliki nama lain pengiring yang merupakan awal dari dimulainya acara ngunduh mantu. Kedua pengantin pun akan pergi meninggalkan orang tua pengantin wanita dan diantarkan oleh rombongan pengiring.

Rombongan pengiring tersebut sendiri biasanya terdiri dari keluarga besar, kerabat hingga tetangga dekat.

Nah, setelah tiba di rumah pengantin pria atau di tempat acar ngunduh mantu dolaksanakan, rombongan akan disambut dengan Gendhing Boyong Pengantin.

Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Rasa Cemburu dalam Pernikahan Secara Wajar

2. Imbal Wicara

Ngunduh Mantu

Foto: instagram.com/andrifidian

Ketika rombongan pangombyong sudah tiba di rumah pengantin pria atau tempat yang sudah dipilih untuk ngunduh mantu, acara pun akan masuk ke jadwal berikutnya.

Nah, di sini Imbal Wicara akan dilakukan. Imbal Wicara adalah salah satu prosesi ngunduh matu yang berupa dialog dari keluarga pengantin wnita kepada pengantin pria.

Maksud dari dialog ini adalah untuk menyerahkan pengantin wanita kepada pengantin pria dan keluarganya.

Di sini, kedua pengantin pun akan diberikan dua cangkir air minum. Air minum itu diberikan dengan cara diminumkan oleh kedua orang tua dari pengantin pria. Prosesi yang satu ini pun memiliki nama khusus yakni Ujukan Tirto wening.

Tujuan dari prosesi ini adalah menunjukkan lambang kasih sayang orang tua kepada anak laki-laki dan juga menantunya. Sementara itu air sendiri adalah sebuah simbol dari harapan orang tua agar kedua pengantik bisa selalu diberikan kejernihan dalam berpikir dan memutuskan sesuatu ketika dilanda kebingungan.

Beningnya air pun menjadi lambang dari kejernihan cara berpikir mereka.

Baca Juga: Suami Takut Dengan Istri, Apa Dampaknya Bagi Pernikahan?

3. Sindur Binayang

Langkah selanjutnya dari prosesi tradisional ini bernama Sindur Binayang. Sindur Binayang sendiri adalah sebuah proses ketika ayah dari pengantin Pria menyampirkan kain sindur di pundak kedua pengantin.

Sembari memegang bagian ujung kain, sang ayah pun kemudian menuntun keduanya hingga duduk di pelaminan.

Setelah itu, ayah pengantin pria akan berjalan di bagian depan barisan dan diikuti oleh kedua pengantin. Jika sudah, ibu pengantin pria pun mengikuti di belakangnya semabari memegangu pundak kedua pengantin.

Biasanya, di adat Jawa prosesi ini akan diikuti oleh alunan gending ketawang boyong basuki.

Ketika tiba di pelaminan, kedua pengantin serta orang tua akan berdiri dengan sejajar sembari menyaksikan tari gombyong. Lalu sebelum duduk di kursi pelaminan, pengantin pun biasanya melakukan proses sungkeman.

Dalam melakukan prosesi ini biasanya akan memakan waktu paling lama sebanyak 30 hingga 40 menit saja. Prosesi ini adalah runutan acara yang paling panjang jika dibandingkan dengan yang lain.

Baca Juga: Rumah Tangga Bermasalah, Perlukah Mengunjungi Psikolog Pernikahan?

4. Sambutan

Nah acara selanjutnya yang akan dilakukan dalam prosesi unduh mantu adalah sambutan. Biasanya sambutan akan disertai ucapan terima kasih dari perwakilan keluarga pengantin pria.

Usai sambutan diberikan, acara ini biasa ditutup dengan acara makan bersama.

Ya, susuan dalam prosesi ngunduh mantu di adat Jawa memang tidak memakan waktu yang lama. Bahkan bisa selesai dalam waktu 1 hingga 1,5 jam saja.

Acara pun bisa ditambahkan dengan pembacaan doa, tausiyah, juga sesi foto yang biasnaya dilakukan.

Dalam ngunduh mantu adat Sunda, istilah yang digunakan pun berbeda. Biasanya adat Sunda sendiri menamainya dengan mulung mantu yang berarti mengambil mantu.

Susunan acara yang digunakan di adat Sunda pun bisa dibilang hampir sama. Namun, penggunaan bahasa serta istilahnya tentu saja akan berbeda.

Nah, itu tadi Moms! Tradisi ngunduh mantu memang bisa dibilang tak memakan waktu banyak. Namun untuk sebagian orang, tradisi ini sangat penting sehingga tingkat kemewahannya pun bisa saja disamakan dengan acara yang gelar ketika resepsi.

  • http://mahligai-indonesia.com/pernikahan-nusantara/prosesi-adat/ngunduh-mantu-pengantin-8740
  • https://weddingmarket.com/artikel/susunan-acara-ngunduh-mantu
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait