Newborn

NEWBORN
14 Desember 2020

Normalkah Bayi Jika BAB Bayi Berbusa? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Waspada jika BAB bayi Berbusa
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Baru saja diganti, Moms harus mengganti popok Si Kecil lagi. Sebagai ibu baru pasti ada sedikit rasa khawatir ketika mendapati Si Kecil yang baru lahir terus bolak-balik mengeluarkan kotoran alias buang air besar.

Ciri-ciri untuk Patokan Pup Normal atau Tidak

Tenang saja, Moms. Justru ini saatnya Moms mulai berhitung berapa kali dalam sehari Si Kecil buang air besar alias pup. Ada beberapa ciri yang bisa Moms gunakan sebagai patokan apakah pupnya normal atau tidak.

Baca Juga: Perbandingan Buang Air Besar: Bayi Minum ASI Eksklusif VS Susu Formula

1. Frekuensi pup

Jika Si Kecil adalah bayi ASI maka normal baginya untuk buang air besar sebanyak 1-8 kali dalam satu hari karena ASI sangat mudah dicerna. Sedangkan, untuk bayi yang diberikan susu formula biasanya buang air besar 2 kali sehari tetapi bisa juga lebih, tergantung pada sistem pencernaannya.

"Beberapa bayi buang air besar usai menyusu, tetapi ada juga yang setiap tiga hari. Ini semua normal," kata Tanya Remer Altmann, dokter anak yang juga editor dari The Wonder Years: Helping Your Baby and Young Child Successfully Negotiate the Major Developmental Milestones.

Ketika Si Kecil buang air setiap habis disusui selama beberapa minggu pertamanya, justru ini adalah pertanda baik. Sebab itu artinya dia mendapatkan banyak air susu.

2. Warna dan tekstur pup

Bayi yang diberi ASI dan susu formula memiliki sedikit perbedaan pada kotorannya. Untuk bayi yang diberi ASI warna kotorannya cenderung seperti berwarna kuning seperti saus mustard dengan tekstur sangat lembek dan sedikit berair.

Sedangkan untuk bayi yang diberikan susu formula warna kotorannya cenderung lebih tua atau berwarna kuning pucat, cenderung kecoklatan, atau hijau kecoklatan. Tekstur kotoran lembut, tetapi tidak selembek bayi dengan ASI.

Satu lagi yang perlu Moms ingat adalah tak perlu panik saat menemukan pup pertama Si Kecil berwarna kehitaman dan juga lembek. Itu disebut mekonium. Mekonium terdiri dari lendir, sel kulit, dan juga cairan ketuban. Pup seperti ini akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari.

Baca Juga: Bayi Terkena Diare, Apakah Perlu Diobati Antibiotik?

3. Aroma pup

Kotoran bayi yang diberi ASI secara umum tidak bau sama sekali. Sedangkan, kotoran bayi yang diberi susu formula memiliki sedikit bau. Walau demikian, aroma yang ditimbulkan masih sangat normal dan tidak membuat seisi ruangan mencium aromanya.

Aroma pada pup bayi ini juga tergantung pada frekuensi Si Kecil BAB. Seperti yang diungkapkan Wendy Sue Swanson, M.D. dalam tulisannya untuk Parents, "Aroma pup sering kali merupakan cerminan dari berapa lama kotoran berada di usus," jelasnya.

Semakin lama mengendap di usus maka semakin banyak bakterinya dan semakin bau pula aromanya. Namun, beberapa bayi dengan aroma pup yang sangat asam atau berbau mungkin memiliki intoleransi atau alergi.

Jika Moms mendapati pup bayi sangat berbau seperti ini segera periksakan kondisinya ke dokter anak.

Selain kondisi di atas, Moms wajib waspada jika pup Si Kecil teksturnya terlalu encer. Itu adalah tanda-tanda diare. Sedangkan jika pup Si Kecil bentuknya sangat keras, membuatnya pantatnya merah, dan bau bisa jadi ini adalah tanda konstipasi.

Bagaimana jika pup bayi berbusa? Apa penyebab dan bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasan berikut ini.

Penyebab BAB Bayi Berbusa

BAB bayi berbusa

Foto: Orami Photo Stock

Beberapa penyebab paling umum dari BAB bayi yang berbusa bisa disebabkan karena hal berikut ini.

1. Bayi Kelebihan Laktosa

Kotoran bayi yang berbusa sangat umum terjadi pada bayi dan biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Kotoran berbusa pada bayi sering kali merupakan tanda bahwa mereka kelebihan laktosa, gula yang ditemukan dalam ASI.

ASI terdiri dari dua bagian: foremilk dan hindmilk. Foremilk keluar selama beberapa menit saat bayi mulai menyusu. Ini diikuti oleh hindmilk yang lebih kaya dan lebih tebal.

Baca juga: Apa Obat untuk Mengatasi Diare Pada Bayi Usia 9 Bulan?

Foremilk memiliki lebih sedikit nutrisi daripada hindmilk, dan jika bayi mendapatkan terlalu banyak foremilk, mereka tidak akan dapat mencerna laktosa dengan benar, yang dapat menyebabkan perubahan feses.

Jika tinja bayi sering berbusa, sebaiknya menyusu setidaknya selama 20 menit di satu sisi sebelum beralih ke sisi yang lain. Ini akan memastikan bahwa bayi menerima cukup ASI.

2. Infeksi

Penyebab umum BAB bayi berbusa bisa terjadi karena infeksi, pankreatitis, dan sindrom iritasi usus besar. Infeksi bakteri, parasit, atau virus dapat menyerang saluran gastrointestinal dan membuat gelembung gas, membuat tinja tampak berbusa.

Sumber infeksi yang umum adalah parasit Giardia. Anak mungkin terinfeksi setelah mengonsumsi air atau makanan yang terkontaminasi. Mereka mungkin juga bersentuhan dengan air yang terkontaminasi saat berenang, misalnya.

Gejala infeksi lainnya termasuk:

Diperlukan waktu antara 2 hingga 6 minggu untuk meredakan gejala infeksi ini.

3. Sindrom Iritasi Usus Besar

Orang dengan sindrom Iritasi Usus Besar (IBS) mungkin memiliki lendir di tinja mereka, yang dapat membuat tinja tampak berbusa. Gejala tambahan IBS meliputi:

  • sakit perut dan kram
  • diare
  • kembung
  • sembelit

Baca Juga: Diare pada Bayi, Bagaimana Cirinya dan Cara Mengatasinya?

4. Gangguan Malabsorpsi

Ketika tubuh tidak dapat secara efektif menyerap atau menggunakan nutrisi dalam makanan, ini disebut gangguan malabsorpsi.

Salah satu gangguan malabsorpsi yang umum adalah penyakit celiac. Ini melibatkan seseorang yang memiliki reaksi alergi terhadap konsumsi gluten, yang menyebabkan usus menjadi meradang dan gejala gastrointestinal lainnya seperti perubahan tinja.

Intoleransi makanan terhadap makanan lain dapat menyebabkan gejala serupa. Makanan ini meliputi:

  • telur
  • fruktosa
  • laktosa
  • makanan laut
  • gula alkohol, seperti manitol, sorbitol, dan xylitol

Tinja bayi mungkin berbusa setelah makan makanan jenis makanan tertentu. Mereka mungkin juga merasa kembung atau mual.

Cara Mengatasi BAB Bayi Berbusa

BAB bayi berbusa

Foto: Orami Photo Stock

Perawatan untuk kotoran berbusa tergantung pada penyebab yang mendasari. Dokter mungkin akan merekomendasikan untuk menghilangkan makanan yang sering menyebabkan intoleransi. Ini dapat membantu menentukan apakah satu atau lebih makanan ini bertanggung jawab atas gejala tersebut.

Jika didiagnosis dengan IBS, dokter atau ahli diet dapat membantu mengembangkan rencana makanan yang akan mengurangi gejala. Moms akan diminta untuk tidak memberikan bayi makanan yang umumnya menyebabkan gas.

Mungkin berguna untuk membuat buku harian makanan, untuk menentukan makanan mana yang menyebabkan gejala IBS.

Baca Juga: Intoleransi Laktosa Pada Bayi: Gejala, Penyebab, dan Jenisnya

Untuk infeksi Giardia, dokter akan meresepkan antibiotik dan menganjurkan minum banyak air putih dan minuman dengan elektrolit, untuk menghindari dehidrasi akibat diare.

Pankreatitis biasanya diobati dengan cairan infus dan obat pereda nyeri. Dalam beberapa kasus, antibiotik mungkin diperlukan. Jika seseorang menderita pankreatitis kronis, dokter mungkin merekomendasikan pembedahan, meskipun ini jarang terjadi.

Itu dia Moms penyebab dan cara mengatasi BAB bayi yang berbusa. Segera bawa anak ke dokter, jika Moms panik, ya.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait