Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Health | Mar 25, 2018

Organ Intim Bisa Terkena Kutu Kemaluan, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Bagikan


Organ Intim Bisa Terkena Kutu Kemaluan, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya!
Parasite pthirus pubis atau yang lebih dikenal sebagai kutu kemaluan, merupakan penyakit yang disebabkan oleh pedikulosis pubis atau phthiriasis pubis.

Parasit yang satu ini biasanya hidup pada rambut kemaluan manusia, mereka juga mengisap darah sebagai sumber makanannya. Tak jarang keberadaan mereka menyebabkan kegatalan pada area yang dihinggapinya.

Ternyata, selain berada di daerah kemaluan dan anus, parasit ini juga bisa ditemukan pada rambut kaki, dada, perut, punggung, ketiak, hingga area wajah, seperti kumis, dan jenggot. Bahkan pada kasus yang sangat jarang, kutu kemaluan juga dapat mendiami bulu mata dan alis mata lho.

Kutu kemaluan tidak hidup pada kulit dan rambut kepala, seperti yang dilakukan oleh kutu kepala, dikarenakan rambut kepala lebih halus dan tipis.

Penyebab Kutu Kemaluan

Penyakit kutu kemaluan dapat menyebar melalui kontak tubuh jarak dekat dengan orang lain yang terinfeksi, umumnya dari hubungan seksual pada vaginal, anal, dan oral, baik menggunakan alat kontrasepsi atau tidak. Kutu kemaluan juga dapat berpindah melalui kontak nonfisik, seperti berciuman, dan berpelukan.

Kutu kemaluan ukurannya sangat kecil, bahkan yang dewasa sekalipun hanya memiliki ukuran sepanjang 2 mm. Meski demikian, kutu kemaluan dapat terlihat dari warnanya yang kuning keabu-abuan, cokelat, atau merah.

Kutu kemaluan juga sering disebut crabs karena memiliki dua capit di bagian depan untuk mencengkeram bulu atau rambut. Kutu kemaluan ini tak dapat terbang maupun loncat sehingga, mereka hanya akan merayap dari rambut ke rambut untuk mengisap darah.

Baca Juga : Benarkah Memakai Cairan Pembersih Kewanitaan Setiap Hari Membuat Vagina Kering?

Pengobatan Kutu Kemaluan

Mengobati kutu kemaluan dapat menggunakan losion, krim, atau sampo antiparasit, sesuai dengan anjuran dokter. Tujuan pengobatan ini adalah menghilangkan kutu beserta telurnya.

Pengobatan kutu kemaluan dengan krim, losion, maupun sampo dapat diaplikasikan pada area terinfeksi atau bahkan pada seluruh tubuh, tergantung pada jenis obat yang digunakan.

Periksalah area yang terinfeksi selama dan setelah periode pengobatan kedua selesai untuk memastikan keberadaan kutu atau telur yang masih berisi pada area tersebut.

Bagi Moms yang sedang hamil, penting untuk melakukan komunikasi yang lebih jauh dengan dokter. Berlaku pula bila Moms sedang menyusui atau berusia di bawah 18 tahun.

Bagi Moms yang tidak juga membaik dengan pengobatan yang diberikan, dokter akan memberikan obat jenis lain karena mungkin kutu bersifat resisten atau kebal terhadap obat diberikan sebelumnya.

Jangan lupa untuk waspadai efek samping yang mungkin muncul, seperti gatal, kemerahan, iritasi, sengatan, atau perih pada kulit yang dioleskan obat insektisida.

Selain itu, disarankan pula untuk mencuci pakaian, seprai, dan handuk menggunakan mesin cuci dengan air panas untuk membasmi kutu kemaluan, sekaligus mencegah terulangnya infeksi.

Mencegah Kutu Kemaluan

Guna mencegah hadirnya kutu kemaluan, hindarilah menggunakan pakaian, handuk, atau seprai secara bergantian dengan seseorang yang terinfeksi.

Jika kutu kemaluan juga menyerang anggota keluarga yang lain, disarankan untuk melakukan pemeriksaan pada seluruh anggota yang belum terkena infeksi kutu untuk mencegah penyebaran.

Kutu kemaluan juga bisa menyebar melalui hubungan seksual sehingga Moms dan pasangan, selama tiga bulan terakhir, disarankan untuk menjalani tes penyakit menular seksual (PMS) untuk mencegah infeksi terulang. Sebaiknya hindari pula melakukan hubungan seksual selama perawatan masih berlangsung hingga sembuh total.

(MDP)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.