Program Hamil

9 Juli 2021

Penting! Ini 14 Fakta Ovulasi yang Harus Kita Ketahui

Penting diketahui oleh Moms yang sedang program hamil
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Karla Farhana

Daftar isi artikel

Banyak beredar mitos dan fakta mengenai ovulasi yang kerap membingungkan para perempuan. Tapi, satu hal yang umum diketahui adalah ovulasi merupakan masa yang tepat untuk hamil. Masa ovulasi adalah waktu ketika sel telur matang dilepaskan dan siap dibuahi.

Selebihnya, banyak sekali mitos dan fakta ovulasi yang beredar di masyarakat. Sebelum Moms dibingungkan dengan mitos-mitos soal ovulasi, sebaiknya Moms pahami dulu fakta ovulasi.

Apa saja fakta tentang ovulasi? Berikut ini rangkumannya, disimak yuk Moms!

Baca Juga: Mengenal Tanda Ovulasi Gagal dan Pembuahan Gagal

Fakta Tentang Ovulasi

5 Tips Berhubungan Seks Saat Masa Ovulasi Agar Cepat Hamil

Foto: Orami Photo Stock

Memahami bagaimana ovulasi terjadi dan kapan itu terjadi dapat membantu Moms mencapai atau mencegah kehamilan. Ini juga dapat membantu Moms mendiagnosis kondisi medis tertentu sedari dini, lho.

1. Siklus Ovulasi

Rata-rata siklus menstruasi perempuan adalah 28 hari, tapi siklus normalnya antara 22 sampai 36 hari. Ovulasi normalnya terjadi dua minggu sebelum siklus menstruasi. Jadi, jika siklus menstruasi Moms 28 hari, ovulasi bisa terjadi sekitar hari ke-14.

Hormon yang disebut luteinizing hormone (LH) akan melonjak, memicu pelepasan sel telur atau ovum yang paling matang. Mengutip WebMD, pada saat yang sama, lendir serviks akan menjadi lebih licin untuk membantu sperma menuju ovum.

2. Masa Hidup Sel Telur

Pada masa ovulasi, sel telur akan hidup selama 24 jam setelah meninggalkan ovarium. Jadi, ketika Moms melakukan seks di hari ovulasi, kemungkinan untuk dibuahi dan hamil sangat besar.

Jika pembuahan tidak terjadi dalam waktu 24 jam setelah sel telur meninggalkan ovarium, sel telur akan luruh. Sperma dapat hidup selama sekitar 3-5 hari, jadi mengetahui kapan Moms berovulasi dapat membantu Moms dan pasangan merencanakan seks dengan kemungkinan hamil yang tinggi.

Bila sel telur tidak dibuahi oleh sperma selama masa ovulasi, sel telur akan hancur dan diserap dinding rahim atau luruh bersama menstruasi.

Baca Juga: Menemukan Kista Ovarium Saat Hamil, Tindakan Apa yang Harus Dilakukan?

3. Seks Sebelum Ovulasi

Banyak penelitian menemukan bahwa sperma bisa hidup hingga lima hari. Oleh karena itu, ide bagus untuk melakukan seks rutin beberapa hari sebelum ovulasi jika Moms sedang merencanakan kehamilan.

Idealnya, Moms pasti ingin sperma siap dan menunggu sel telur. Inilah sebabnya mengapa sebagian besar tanda-tanda ovulasi muncul pada hari-hari sebelum sel telur dilepaskan. Dua sampai empat hari sebelum berovulasi adalah waktu paling subur.

Dari 400 sperma yang bisa melewati vagina, masuk ke rahim, dan naik ke tuba falopi di mana sel telur berada, hanya satu sperma yang bisa menembus lapisan luar telur.

4. Menyebabkan Stres dan Nyeri

Ovulasi bisa memberikan dampak berbeda pada setiap orang, termasuk stres dan rasa nyeri. Jadi, jika Moms sedang merencanakan kehamilan, akan sangat baik untuk menghindari stres lain.

Meskipun banyak perempuan tidak mengalami tanda fisik saat mengalami ovulasi, satu dari lima perempuan mengalami nyeri di perut bagian bawah.

Baca Juga: 10 Penyebab Anovulasi (Tubuh Tidak Melepaskan Sel Telur) dan Cara Mengatasinya

5. Gejala Ovulasi

Ovulasi yang akan datang dapat menyebabkan peningkatan keputihan. Selain itu, ada pula gejala ovulasi lainnya dilansir melalui Healthline, seperti:

  • pendarahan ringan atau bercak
  • kelembutan payudara
  • dorongan seksual meningkat
  • nyeri ovarium yang ditandai dengan ketidaknyamanan atau nyeri di satu sisi perut, juga disebut mittelschmerz

Tidak semua orang mengalami gejala ovulasi, sehingga tanda-tanda ini dianggap sekunder dalam melacak kesuburan ya, Moms.

Baca Juga: Tak Mau Buang Waktu, Makin Banyak Pasangan Muda Ikut Program Bayi Tabung

6. Menentukan Jenis Kelamin

Bisakah ovulasi menentukan jenis kelamin?

Metode Shettles telah ada sejak tahun 1960-an. Ini dikembangkan oleh Landrum B. Shettles, seorang dokter di Amerika Serikat.

Shettles mempelajari sperma, waktu hubungan seksual, dan faktor-faktor lain, seperti posisi seksual dan pH cairan tubuh, untuk menentukan apa yang mungkin memengaruhi sperma mana yang mencapai sel telur lebih dulu.

Jenis kelamin bayi akan ditentukan oleh momen sperma bertemu dengan sel telur. Jika sperma membawa kromosom Y, Moms akan mengandung anak laki-laki. Jika sperma membawa kromosom X, Moms akan mengandung anak perempuan.

Maka dari itu, belum ada metode yang tepat apakah masa ovulasi bisa menentukan jenis kelamin Si Kecil ya, Moms.

7. Sel Telur pada Perempuan

Setiap perempuan terlahir dengan jutaan sel telur yang tidak matang. Sebanyak setengahnya diserap oleh ovarium sebelum mencapai usia dewasa muda. Setengah lainnya menunggu siklus ovulasi dimulai. Hanya 300-500 sel telur yang akan matang seumur hidup.

Hormon hCG akan diproduksi tubuh saat telur yang telah dibuahi menempel di dinding rahim. Butuh waktu beberapa hari sampai sel telur yang telah dibuahi menempel pada dinding rahim.

Saat lahir, seorang bayi perempuan memiliki sekitar 2 juta telur. Pada saat mencapai pubertas, jumlah ini turun menjadi sekitar 500.000.

Seiring bertambahnya usia, stabilitas genetik telur menurun. Inilah sebabnya mengapa wanita di atas usia 35 memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami:

  • Keguguran
  • Memiliki janin dengan bawaan penyakit
  • Kelainan genetik pada janin
  • Kemandulan

Baca Juga: Ini Faktor Penentu Yang Mempengaruhi Kesuburan

8. Menstruasi Ketika Tidak Ovulasi

Moms bisa menstruasi meskipun tidak mengalami ovulasi. Sebaliknya, Moms juga bisa mengalami ovulasi meskipun tidak menstruasi.

Beberapa perempuan mengalami pendarahan saat sel telur yang telah dibuahi menempel di dinding rahim. Kondisi ini kadang disalahartikan sebagai menstruasi.

Baca Juga: Ingin Sukses Program Hamil, Pasangan Harus Lakukan 4 Hal Ini

9. Pengaruh Hormon Saat Ovulasi

Ovulasi terjadi karena dua hormon berbeda, yakni luteinizing hormone (LH) dan follicle stimulating hormone (FSH). Kedua hormon ini memicu produksi kantong-kantong di ovarium.

Setiap bulannya, satu kantong akan membesar dan memproduksi telur. Biasanya hanya satu telur yang dilepaskan untuk setiap siklus. Kantong ini juga yang akan memulai memproduksi estrogen. Estrogen akan memberi tanda kepada tubuh untuk menebalkan dinding rahim untuk persiapan penempelan telur.

Saat dilepaskan di masa ovulasi, ukuran sel telur lebih kecil dari kepala jarum pentul.

Langsung setelah sel telur dikeluarkan, kantongnya akan memproduksi progesteron yang akan mencegah pelepasan sel telur lain pada siklus ini.

Sifat progesteron yang mencegah pelepasan telur ini kemudian diaplikasikan pada pil KB untuk mencegah kehamilan dengan mencegah pelepasan telur dari ovarium.

Baca Juga: Pentingnya Premarital Check Up, Persiapan Kehamilan 2 Bulan Sebelum Menikah

10. Ciri Lain Saat Memasuki Masa Ovulasi

Ciri fisik lain dari masa ovulasi adalah adanya lendir elastis yang keluar dari vagina. Lendir ini merupakan tanda Moms sedang dalam masa subur.

Sementara cara yang paling akurat untuk memastikan ovulasi adalah dengan USG di kantor dokter, atau dengan tes darah hormonal, walau ada banyak cara untuk melacak ovulasi di rumah.

Moms juga bisa mengecek suhu tubuh basal. Sebelum ovulasi, suhu tubuh basal berada di angka 36,1-36,4 derajat Celsius. Saat ovulasi, suhunya meningkat jadi 36,4-37 derajat Celsius.

Penelitian yang dikutip Medical News Today telah membuktikan bahwa indera penciuman menjadi lebih sensitif saat ovulasi. Moms juga terlihat lebih menarik di mata pasangan saat ovulasi.

11. Ovulasi Meningkatkan Gairah Seks

Membahas tentang tanda-tanda ovulasi, tubuh Moms biasanya akan menunjukkan beberapa tanda peningkatan kesuburan saat ovulasi mendekat.

Ini akan memengaruhi keinginan Moms untuk melakukan hubungan seks, sehingga menjadi saat yang tepat untuk melakukannya. Terutama, jika ingin potensi untuk hamil tinggi.

Moms dapat menggunakan tes prediktor ovulasi untuk membantu menentukan hari paling subur sebelum melakukan hubungan seks.

Beberapa penelitian menemukan ini dapat membantu Moms hamil lebih cepat.

12. Berovulasi Lebih dari Satu Kali

Bisakah perempuan berovulasi lebih dari sekali dalam siklus tertentu?

Jawabannya adalah, bisa. Beberapa orang ada yang bisa berovulasi lebih dari sekali dalam satu siklus.

Satu studi dari tahun 2003 yang dikutip Healthline menunjukkan, bahwa beberapa bahkan mungkin memiliki potensi untuk berovulasi dua atau tiga kali dalam siklus menstruasi tertentu.

Tidak hanya itu, dalam sebuah wawancara dengan NewScientist, peneliti utama mengatakan bahwa 10 persen dari peserta penelitian benar-benar menghasilkan dua sel telur dalam satu bulan.

Ada juga yang mungkin melepaskan banyak telur selama satu ovulasi baik secara alami atau sebagai bagian dari bantuan reproduksi. Jika kedua telur dibuahi, situasi ini dapat mengakibatkan kelipatan fraternal, seperti lahirnya bayi kembar.

Baca Juga: Ingin Punya Anak Kembar? Ini 7 Cara Meningkatkan Peluang Hamil Bayi Kembar Secara Alami

13. Ada yang Dinamakan"Jendela Subur"

Enam hari menjelang dan saat ovulasi, memunculkan fase yang biasa disebut "jendela subur." Ini adalah periode waktu ketika hubungan seksual dapat menyebabkan kehamilan.

Sperma mungkin menunggu selama beberapa hari di saluran tuba setelah berhubungan seks, siap untuk membuahi sel telur setelah akhirnya dilepaskan. Setelah sel telur berada di saluran tuba, ia hidup selama sekitar 24 jam sebelum tidak dapat lagi dibuahi, sehingga mengakhiri masa subur.

14. Bagaimana Jika Siklus Ovulasi Tidak Teratur?

Jika Moms rutin melacak ovulasi dari satu bulan ke bulan berikutnya, mungkin Moms memperhatikan bahwa tidak berovulasi secara teratur atau dalam beberapa kasus tidak berovulasi sama sekali. Bila terjadi demikian, ada baiknya untuk segera berbicara dengan dokter ya, Moms.

Meskipun faktor lain seperti stres atau diet dapat memengaruhi hari ovulasi yang tepat dari bulan ke bulan, ada juga kondisi medis, seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS) atau amenore, yang dapat membuat ovulasi tidak teratur atau berhenti sama sekali.

Kondisi ini dapat menyebabkan gejala lain yang berhubungan dengan ketidakseimbangan hormon, termasuk kelebihan rambut wajah atau tubuh, jerawat, dan bahkan infertilitas.

Baca Juga: 5 Masalah Sistem Reproduksi Ini Bisa Menghambat Kesuburan

Jadi, jika Moms berencana melakukan cek kehamilan dengan test pack, lakukan mendekati periode menstruasi untuk hasil yang lebih pasti.

Para ahli merekomendasikan berhubungan seks setiap hari terutama di sekitar ovulasi. Buat janji dengan dokter jika upaya Moms tidak menghasilkan kehamilan setelah satu tahun (lebih cepat jika berusia di atas 35 tahun).

Itulah fakta-fakta yang harus Moms ketahui tentang ovulasi. Semoga bisa membantu program hamilnya, ya Moms. Selamat mencoba!

  • https://www.healthline.com/health/womens-health/what-is-ovulation#if-you-arent-ovulating
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/150870
  • https://www.webmd.com/baby/ss/slideshow-understanding-fertility-ovulation
  • https://www.verywellfamily.com/things-you-may-not-know-but-should-about-ovulation-1960238
  • https://tnfertility.com/2019/07/everything-you-need-to-know-about-ovulation/
  • https://www.healthline.com/health/pregnancy/shettles-method#takeaway
  • https://www.yourfertility.org.au/everyone/timing
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait