Trimester 1

TRIMESTER 1
17 Februari 2021

Penyebab dan Cara Mengatasi Pendarahan Saat Hamil

Pendarahan bisa disebabkan oleh kurangnya hormon progesteron
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya Fiona
Disunting oleh Adeline Wahyu

Saat hamil, Moms tentu akan mengalami beberapa jenis perubahan fisik pada tubuh. Seperti adanya rasa mual dan muntah, berat badan bertambah, nyeri di beberapa bagian tubuh, dan lain sebagainya.

Namun, Moms juga bisa mengalami beberapa kondisi yang mungkin dirasa mengkhawatirkan. Salah satunya adalah pendarahan saat hamil.

Menurut jurnal Obstetrics And Gynecology, setidaknya sebanyak 30 persen wanita mengalami pendarahan saat hamil pada trimester pertama kehamilan.

Tetapi, terjadinya pendarahan saat hamil ini bisa menjadi bagian yang sangat normal di masa awal kehamilan.

Banyak wanita mengalami pendarahan di awal, namun memiliki kehamilan yang sehat hingga akhir.

Berikut ini penjelasan lebih lanjut tentang penyebab dan bentuk pencegahan pendarahan saat hamil.

Baca Juga: Perjuangan ketika Hamil Muda dengan Rahim Retro dan Mengalami Perdarahan

Penyebab Pendarahan Saat Hamil Muda

"Pendarahan saat hamil dapat terjadi pada sekitar 20 persen ibu hamil dan pendarahan dapat terjadi dalam jumlah cukup banyak," jelas dr. Zeissa Rectifa Wismayanti, Sp.OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, RS Pondok Indah – Bintaro Jaya.

Terkadang, saat terjadi penempelan embrio di dinding rahim, dapat terjadi perdarahan ringan.

Sekitar 20% wanita mengalami pendarahan selama 12 minggu pertama kehamilan mereka.

Tak hanya itu, berikut beberapa penyebab pendarahan saat hamil yang terjadi di trimester awal kehamilan.

1. Pendarahan Implantasi

"Perdarahan implantasi adalah pendarahan saat hamil yang terjadi pada beberapa wanita hamil sekitar 7-14 hari setelah terjadi konsepsi/pembuahan," tambah dr. Zeissa.

Biasanya perdarahan ini berhenti dalam 1-2 hari. Hal ini tidak berbahaya dan tidak membutuhkan pengobatan.

Hal ini biasanya terjadi pada periode ketika haid seharusnya terjadi.

Maka itu terkadang ibu hamil menganggap perdarahan implantasi sebagai haid dan tidak menyadari bahwa ia sedang hamil.

2. Keguguran

Penyebab pendarahan saat hamil, keguguran salah satunya

Foto: Orami Photo Stocks

Karena keguguran paling sering terjadi selama 12 minggu pertama kehamilan, keguguran cenderung menjadi salah satu masalah terbesar dengan pendarahan saat hamil di awal kehamilan.

Keguguran bisa terjadi pada sekitar 15% sampai 20% kehamilan, biasanya selama 12 minggu pertama kehamilan.

Namun, pendarahan saat hamil trimester pertama tidak selalu berarti Moms keguguran atau kehilangan bayi.

Bahkan, jika detak jantung terlihat pada USG, lebih dari 90% wanita yang mengalami pendarahan vagina trimester pertama tidak akan mengalami keguguran.

Kekurangan genetik terbatas pada embrio spesifik adalah penyebab keguguran paling umum. Di beberapa kasus, keguguran ini masih bisa diselamatkan.

3. Kehamilan Ektopik

Pada kehamilan ektopik, implan embrio yang dibuahi berada di luar rahim, biasanya di tuba falopi. Jika embrio terus tumbuh, ini dapat menyebabkan tuba falopi pecah, yang dapat mengancam jiwa Moms.

Meskipun kehamilan ektopik berpotensi berbahaya, itu hanya terjadi pada sekitar 2% kehamilan.

Gejala lain dari kehamilan ektopik adalah kram atau rasa sakit yang kuat di perut bagian bawah, dan sakit kepala ringan.

Beberapa faktor yang meningkatkan risko kehamilan ektopik adalah sebagai berikut:

  • Riwayat penyakit radang panggul, riwayat operasi atau ligasi tuba fallopi.
  • Rwayat infertilitas selama lebih dari dua tahun, memiliki IUD (alat kontrasepsi yang ditempatkan di rahim).
  • Merokok, atau sering melakukan douching.

Namun, hanya sekitar 50 persen wanita yang mengalami kehamilan ektopik.

Baca Juga: 4 Risiko Setelah Hamil Anggur yang Bisa Terjadi

4. Kehamilan Molar (Trofoblas Gestasional)

pendarahan-saat-hamil-ini-penyebabnya.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Pendarahan saat hamil pada kondisi ini cukup sering dialami sebagian wanita.

Ini adalah kondisi yang sangat langka di mana jaringan abnormal tumbuh di dalam rahim, bukan di bayi.

Dalam kasus yang jarang terjadi, jaringan memiliki sifat kanker dan dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh.

Gejala-gejala lain dari kehamilan molar adalah mual dan muntah yang parah, serta pembesaran rahim yang cepat.

5. Perubahan Serviks

Selama kehamilan, darah ekstra mengalir ke serviks. Hubungan seksual atau tes Pap Smear, yang menyebabkan kontak dengan serviks, dapat memicu perdarahan.

Jenis pendarahan saat hamil yang satu ini tidak mengkhawatirkan.

6. Infeksi Rahim

infeksi rahim bisa menyebabkan pendarahan

Foto: Orami Photo Stocks

Setiap infeksi serviks, vagina, atau infeksi menular seksual (seperti klamidia, gonore, atau herpes) dapat menyebabkan pendarahan saat hamil pada trimester pertama.

7. Gagal Embrio

Penyebab pendarahan saat hamil, mungkin Moms mengalami blighted ovum (juga disebut gagal embrio).

Ultrasonografi akan menunjukkan bukti kehamilan intrauterin, yaitu embrio gagal berkembang sebagaimana mestinya di lokasi yang tepat.

Hal ini dapat terjadi jika janin tidak normal dalam beberapa hal dan umumnya tidak disebabkan oleh berbagai hal.

Penyebab Pendarahan Saat Hamil Trimester Kedua

Sedangkan pendarahan saat hamil semester kedua, apa yang kira-kira penyebabnya? Yuk kita cari tahu Mom.

1. Placenta Previa

Pendarahan saat hamil ini terjadi ketika plasenta terletak rendah di dalam rahim dan sebagian atau seluruhnya menutupi pembukaan jalan lahir.

Placenta previa sangat jarang terjadi pada akhir trimester ketiga, hanya terjadi pada satu dari 200 kehamilan.

Plasenta previa yang berdarah, yang tidak menimbulkan rasa sakit, adalah keadaan darurat yang membutuhkan perhatian medis segera.

Faktor risiko plasenta previa meliputi kondisi berikut:

Baca Juga: Ini Penyebab Pendarahan Subkorionik saat Hamil, Waspada!

2. Solusio Plasenta

pendarahan saat hamil muda-1.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Menurut penelitian dalam Solusio Placenta, ini adalah keadaan terlepasnya plasenta sebelum persalinan, baik sebagian atau seluruhnya, dari tempat implantasi yang normal.

Salah satu penyebab pendarahan saat hamil ini terjadi pada sekitar 1 persen kehamilan dan bisa sangat berbahaya bagi ibu dan bayi.

Tanda dan gejala lain dari solusio plasenta adalah nyeri perut, gumpalan dari vagina, rahim lunak, dan nyeri punggung dan pendarahan saat hami.

Faktor risiko solusio plasenta termasuk kondisi berikut:

3. Ruptur Uterus

Sekitar 40 persen wanita yang mengalami ruptur uterus yang bisa menyebabkan pendarahan saat hamil.

Meskipun jarang terjadi, bekas luka dari operasi caesar sebelumnya dapat robek selama kehamilan.

Pecahnya uterus dapat mengancam jiwa, dan membutuhkan operasi caesar darurat atau segera.

Gejala lain dari ruptur uterus adalah sakit dan nyeri pada daerah perut.

Faktor risiko lain mengalami ruptur uterus adalah seperti berikut:

  • Trauma.
  • Penggunaan oksitosin (Pitocin) yang berlebihan, obat yang membantu memperkuat kontraksi.
  • Bahu bayi tersangkut di tulang kemaluan selama persalinan.

4. Vasa Previa

trimester kedua juga rentang terhadap pendarahan

Foto: Orami Photo Stock

Dalam kondisi yang sangat langka, pembuluh darah bayi yang berkembang di tali pusar atau plasenta melewati lubang ke jalan lahir.

Vasa previa bisa sangat berbahaya bagi bayi karena pembuluh darah bisa sobek, menyebabkan bayi mengalami pendarahan hebat dan kehilangan oksigen.

Tanda-tanda lain dari vasa previa termasuk detak jantung janin yang tidak normal dan pendarahan yang berlebihan.

Penyebab perdarahan saat hamil ini termasuk cedera atau lesi pada serviks dan vagina, polip, kanker, dan varises.

Baca Juga: Pendarahan setelah Berhubungan Seks saat Hamil, Normalkah?

5. Persalinan Prematur

Pendarahan vagina di akhir kehamilan mungkin hanya menjadi tanda bahwa tubuh Moms sedang bersiap untuk melahirkan.

Beberapa hari atau minggu sebelum persalinan dimulai, sumbat lendir yang menutupi pembukaan rahim akan keluar dari vagina, dan biasanya akan memiliki sejumlah kecil darah di dalamnya.

Jika pendarahan dan gejala persalinan dimulai sebelum minggu ke 37 kehamilan, segera hubungi dokter karena Moms mungkin mengalami persalinan prematur.

Nah, berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis American Academy of Neurology, bayi yang lahir prematur ternyata juga berisiko mengalami epilepsi saat dewasa.

Pencegahan Pendarahan Saat Hamil Muda

perdarahan saat hamil

Foto: verywellfamily.com

Sebagai bentuk pencegahan pendarahan saat hamil muda, untuk mengurangi aktivitas fisik dan mendapatkan istirahat yang cukup.

Pencegahan dari pendarahan saat hamil muda adalah diharapkan para ibu hamil mengurangi aktivitas fisik dan mencukupi waktu istirahat, juga mencukupi kebutuhan hormon progesteron, sebagai hormon yang berperan dalam perkembangan janin.

Walaupun merupakan kondisi yang mungkin mencemaskan, Moms tidak perlu khawatir bila terjadi pendarahan saat hamil muda, selama pendarahan tersebut ringan.

Beberapa pendarahan selama kehamilan tidak dapat dijelaskan.

Moms bisa saja mengalami pendarahan saat hamil sedang, yang hampir sama beratnya dengan periode haid yang teratur, sepanjang masing-masing trimester kehamilan tanpa sebab yang jelas dan tidak perlukan perawatan lebih lanjut.

Pendarahan yang bukan merupakan indikasi langsung keguguran pasti dapat terjadi selama kehamilan.

Diagnosis Pendarahan Saat Hamil Muda

pendarahan dalam kehamilan

Foto: Orami Photo Stocks

Mengutip National Health Service, untuk mengetahui penyebab pendarahan saat hamil, dokter mungkin perlu melakukan pemeriksaan vagina atau panggul, pemindaian ultrasound, atau tes darah untuk memeriksa kadar hormon.

Dokter juga akan bertanya tentang gejala lain, seperti kram, nyeri, dan pusing. Terkadang, bisa cukup sulit untuk mengetahui apa yang menyebabkan pendarahan saat hamil muda.

Jika gejala pendarahannya tidak parah dan janin tidak dalam waktu dekat untuk dilahirkan, Moms akan dipantau, dan dalam beberapa kasus, dirawat di rumah sakit untuk observasi.

Pendarahan berat pada trimester pertama, terutama jika disertai dengan rasa sakit, dikaitkan dengan risiko keguguran yang lebih tinggi.

Sementara, pendarahan bercak tidak berbahaya, terutama jika hanya berlangsung 1-2 hari.

Baca Juga: Pendarahan Implantasi di Awal Kehamilan, Berbahayakan?

Mengatasi Pendarahan Saat Hamil Muda

perdarahan saat hamil

Foto: Orami Photo Stocks

"Ketika mengalami pendarahan saat hamil, maka sebaiknya segera menemui dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk dilakukan pemeriksaan," tambah dr. Zeissa.

Biasanya akan melakukan pemeriksaan kondisi janin. Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan dengan spekulum vagina, untuk mengetahui apakah terdapat kemungkinan penyebab lain pendarahan saat hamil.

Melansir Better Health, cara mengatasi pendarahan saat hamil ketika di rumah, dapat melakukan cara seperti berikut ini,

  • Perbanyak istirahat.
  • Menggunakan pembalut daripada tampon saat vagina mengeluarkan darah.
  • Menghindari seks. Seks dapat dilanjutkan setelah pendarahan berhenti.
  • Mengonsumsi obat pereda nyeri ringan, seperti parasetamol.

Catat waktu pendarahan dimulai dan aktivitas apa pun yang mungkin berkontribusi pada perdarahan, pakai pembalut atau panty-liner untuk mengetahui seberapa banyak pendarahan terjadi.

Namun apabila perdarahan terjadi dalam jumlah yang cukup banyak disertai atau tanpa demam, atau ada keluhan kram perut yang memberat, maka ibu hamil harus segera menemui dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Sambil menunggu untuk diperiksa oleh dokter, cobalah duduk, angkat kaki, dan minum segelas besar air.

Terakhir, tanyakan pada diri sendiri apakah mengalami gejala lain seperti kontraksi, sakit punggung, mual, perubahan penglihatan, atau penurunan aktivitas bayi.

Nah, itulah beberapa hal yang perlu Moms ketahui tentang pendarahan saat hamil. Jika Moms mengalaminya, segera konsultasikan ke dokter ya.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait