Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

Perkembangan Anak | Aug 9, 2018

Pendek Belum Tentu Kurang Gizi atau Stunting, Bisa jadi Karena Hal Ini

Bagikan


Belakangan, stunting marak diperbincangkan. Stunting alias pendek karena kurang gizi memang sudah jadi masalah nasional. Lebih dari 35 persen balita Indonesia divonis stunting.

Meskipun ciri utama stunting adalah pendek, Moms sebaiknya jangan curiga dulu jika tubuh Si Kecil pendek. Mari kita simak ulasannya!

Pendek Belum Tentu Stunting

Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, Sp.A(K), Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM mengatakan bahwa stunting merupakan bagian kecil dari perawakan pendek.

“Tidak semua orang pendek itu stunting. Untuk memastikannya harus dibawa ke dokter anak,” kata dr Damayanti.

Dr Damayanti menjelaskan, jika menemukan anak lebih pendek dibandingkan dengan teman sebayanya, yang pertama harus diperhatikan adalah apakah tubuh anak proporsional atau tidak. Jika tidak, itu berarti ada kelainan genetik.

Dr Damayanti mencontohkan Ucok Baba yang punya badan tidak proporsional. Kasus seperti ini, lanjutnya, sebenarnya bisa ditangani jika diketahui lebih awal. Ada terapi khusus bisa diberikan untuk kondisi ini, seperti terapi hormon dan terapi enzim. Kondisi ini bukanlah stunting.

“Jika proporsional, harus dicek lagi apakah masuk kategori normal atau patologis,” terang dr Damayanti.

Menurutnya, anak pendek tetapi tubuhnya proporsional bisa jadi tidak mengalami masalah apa-apa. Ini yang masuk kategori normal. Kemungkinannya, anak tersebut memang punya turunan pendek atau late bloomer.

Baca Juga: 3 Tips Sehat Membantu Anak Tumbuh Lebih Tinggi

Cara Menghitung Tinggi Potensial Anak

Turunan pendek bisa diketahui dengan memprediksi tinggi potensial anak. Dr Damayanti menjelaskan, cara cepat untuk menghitungnya adalah dengan rumus: (tinggi badan ayah) + (tinggi badan ibu) + 13)/2 untuk anak laki-laki dan ((tinggi badan ayah) + (tinggi badan ibu) - 13)/2 untuk anak perempuan.

Dengan kata lain, anak pendek bisa jadi karena ayah dan ibunya juga pendek. “Misalnya Pak Habibie. Badannya kecil, tapi otaknya luar biasa. Keluarganya memang punya postur tubuh seperti itu. Ini tidak termasuk stunting,” ungkap dr Damayanti.

Selain punya turunan pendek, pendek yang masuk kategori normal juga bisa terjadi karena ada turunan late bloomer. Menurut dr Damayanti, beberapa anak memang pendek hingga mereka masuk usia remaja.

“Saat remaja dan masuk puber, mereka langsung tumbuh tinggi. Ini umumnya terjadi juga pada orang tua mereka,” terangnya.

Jika Si Kecil tidak masuk dalam kategori itu, Moms baru boleh curiga apakah Si Kecil termasuk stunting atau tidak. Stunting itu, lanjut dr Damayanti, punya tubuh proporsional tapi tidak bisa gagal tumbuh karena asupan nutrisinya yang buruk.

Untuk memastikan apakah Si Kecil masuk kategori stunting atau tidak, Moms sebaiknya langsung membawa Si Kecil ke dokter anak untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

“Kita akan pastikan juga dengan rontgen tulang dan ada hitung-hitungannya sendiri. Dokter nanti yang akan memastikan anak masuk kategori mana,” katanya.

Jadi, saat menemukan Si Kecil lebih pendek dari teman sebayanya, Moms jangan dulu curiga stunting. Sebaiknya, Moms lakukan pemeriksaan mandiri atau langsung ke dokter untuk mendapat kepastian. Jika diketahui lebih awal, stunting masih bisa diperbaiki lho, Moms.

(AND)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.