Gizi

2 Desember 2021

Catat Moms, Ini Jenis Pengawet Makanan Alami dan Buatan

Ada yang baik untuk kesehatan, ada juga yang berbahaya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Debora
Disunting oleh Widya Citra Andini

Kalau berbicara seputar pengawet makanan, jangan sampai Moms hanya memikirkan mengenai zat-zat berbahaya yang tidak baik untuk kesehatan.

Sebab, sebenarnya pengawet makanan itu diperlukan, dalam batasan yang aman dan bahan yang tepat serta alami.

Dilansir dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, pengawet (preservative) adalah bahan tambahan pangan untuk mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman, penguraian, dan perusakan lainnya terhadap pangan yang disebabkan oleh mikroorganisme.

Jadi, sebenarnya pengawet makanan itu dibutuhkan dalam beberapa kondisi.

Perlu dipahami, produk makanan dapat terkontaminasi dengan berbagai mikrobiota patogen yang dapat mencemari makanan.

Pada gilirannya, hal ini bisa berpengaruh pada kesehatan. Untuk itu, diperlukan pengawet makanan.

Ada yang disebut pengawet makanan alami, ada juga yang disebut pengawet makanan buatan. Nah, lebih lengkapnya, simak ulasan berikut ini, ya!

Baca Juga: 11 Pengharum Kulkas dari Bahan Alami, Bye Bau Tak Sedap!

Jenis Pengawet Makanan Alami

Pengawet makanan alami biasanya dapat Moms temukan di dapur. Pengawet makanan alami ini bekerja dengan baik dibandingkan dengan pengawet buatan.

Selain itu, tentunya akan jauh lebih sehat. Berikut ini beberapa jenis pengawet makanan alami yang dapat Moms pilih, yaitu:

1. Bawang Putih

Bawang Putih.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Bawang putih menjadi bahan pengawet makanan alami yang bisa ditemukan di mana saja.

Bawang putih memiliki sifat antivirus yang membantu dalam memerangi bakteri, baik dalam tubuh maupun makanan yang Moms konsumsi.

Memasukkan satu siung bawang putih atau bawang putih cincang ke dalam sup, saus, atau hidangan lainnya membantu mencegah bakteri berbahaya dan membuat makanan tetap segar lebih lama.

Manfaat bawang putih untuk kesehatan yang sudah ditemukan sejak dahulu karena khasiatnya untuk mengobati infeksi bakteri, jamur, dan parasit.

Diungkapkan juga dalam Journal of Nutrition bahwa bawang putih mengandung antioksidan yang bisa melindungi tubuh dari kerusakan oksidatif.

Selain mudah untuk didapatkan, bawang putih juga memiliki kandungan yang baik untuk kesehatan sebagai bahan pengawet makanan alami.

Baca Juga: 6 Manfaat Bawang Putih untuk Kolesterol

2. Garam

Jika membahas seputar pengawet makanan alami, rasanya tidak lepas dari yang namanya garam (natrium klorida).

Garam efektif sebagai pengawet makanan alami karena mengurangi aktivitas air dari makanan.

Dilansir dari ACS Distance Education, garam telah digunakan sebagai pengawet makanan selama berabad-abad.

Pengawet makanan alami ini sudah sering ditambahkan ke makanan dan digunakan secara luas dalam pengawetan ikan, daging, dan sayuran.

Sayuran umumnya diawetkan dengan cara diasinkan dalam larutan garam dan air.

Sementara itu, daging dapat digosok dengan garam dan dikeringkan dengan larutan garam.

Mengawetkan dengan garam menjadi salah satu metode terbaik untuk menghambat pertumbuhan dan kelangsungan hidup mikroorganisme yang tidak diinginkan.

Melihat manfaat garam, sebenarnya perlu juga mempertimbangkan konsentrasi garam yang tinggi ternyata berpengaruh pada nilai gizi pada makanan.

Dilansir dari International Journal of Food Science and Technology, konsentrasi garam yang tinggi menghasilkan perubahan metabolisme sel.

Namun, dapat mengurangi nilai gizi makanan yang diawetkan karena komponen yang larut dalam air seperti vitamin dan mineral dapat dihilangkan.

Artinya, penting untuk memerhatikan kadar garam yang digunakan dalam mengawetkan makanan, ya, Moms.

Baca Juga: Mengenal Garam Epsom atau Garam Inggris Beserta Manfaatnya

3. Garam Himalaya

Garam Himalaya.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Garam himalaya juga sering disebut sebagai bahan pengawet makanan alami.

Menggunakan sedikit garam himalaya yang belum diproses dapat membantu mengawetkan makanan dengan cara yang lebih sehat.

Bedanya dengan garam, diulas dalam Medical News Today, garam himalaya secara kimiawi mirip dengan garam meja.

Kandungannya sekitar 98 persen natrium klorida, dan sisanya terdiri dari mineral seperti kalium, magnesium, dan kalsium.

Selain itu, garam himalaya juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.

Proses pencernaan dimulai di mulut dan garam himalaya dapat membantu mengaktifkan kelenjar ludah kita yang melepaskan amilase (enzim yang membantu mencerna karbohidrat).

4. Makanan Pedas

Makanan atau bumbu pedas dapat menjadi bahan pengawet makanan.

Moms dapat mencoba saus pedas dan mustard yang di dalamnya terdapat beberapa persentase cuka untuk membantu mengawetkan makanan.

Selain itu, Moms juga dapat mencoba makanan pedas sebagai bahan pengawet makanan alami.

Makanan pedas diketahui dapat melawan bakteri yang menyegarkan makanan agar lebih tahan lama.

Moms juga dapat mencoba cabai rawit sebagai bahan pengawet makanan alami berikutnya.

Baca Juga: Suka Makan Cabai Bikin Usus Buntu? Mitos atau Fakta?

5. Cuka

cuka.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Dilansir dari Encyclopedia of Food Sciences and Nutrition, cuka sudah sejak lama digunakan sebagai pengawet untuk keperluan rumah tangga dan industri makanan.

Cuka dapat bermanfaat dalam mengawetkan makanan, seperti sayuran, daging, ikan, dan buah-buahan yang dibumbui.

Cuka dibuat dari fermentasi larutan gula dan air dan bertindak sebagai pengawet alami yang efektif.

Asam asetat yang ada dalam cuka mampu membunuh mikroba dan menghambat pembusukan makanan.

Menambahkan cuka biasa ke dalam makanan tidak hanya dapat mengawetkan makanan, namun juga membantu meningkatkan rasanya.

Itulah beberapa pengawet makanan alami yang cukup populer.

Selanjutnya, apa saja yang dimaksud dengan bahan pengawet makanan buatan? Simak ulasan berikutnya, ya.

Baca Juga: 6 Manfaat Cuka untuk Membersihkan Peralatan Rumah Tangga

Jenis Pengawet Makanan Buatan

Jenis Pengawet Makanan Buatan.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Selain pengawet makanan alami, ada juga yang disebut jenis pengawet makanan buatan yang lebih pekat dan penggunaannya lebih sedikit.

Perlu dipahami, tidak semua pengawet makanan buatan berbahaya untuk kesehatan.

Namun, tetap ada dampak buruk yang mungkin ditimbulkan. Untuk itu, perhatikan takaran penggunaannya.

Bahan pengawet makanan buatan ini disebut juga Bahan Tambahan Pangan (BTP) oleh BPOM Indonesia.

BTP tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi secara langsung atau tidak dapat dijadikan sebagai bahan baku pangan.

Sebab, pengawet makanan buatan tidak mempunyai nilai gizi.

Bahan ini hanya ditambahkan ke dalam makanan untuk tujuan teknologis pada pembuatan, pengolahan, dan pengemasan makanan.

Dilansir dari BPOM Indonesia, beberapa jenis bahan pengawet makanan buatan yang diperbolehkan untuk digunakan yaitu:

  1. Asam sorbat dan garamnya
  2. Asam benzoat dan garamnya
  3. Etil para-hidroksibenzoat (Ethyl para-hydroxybenzoate)
  4. Metil para-hidroksibenzoat (Methyl para-hydroxybenzoate)
  5. Sulfit (Sulphites)
  6. Nisin
  7. Nitrit
  8. Nitrat
  9. Asam propionat dan garamnya
  10. Lisozim hidroklorida (Lysozyme hydrochloride)

Penggunaan jenis pengawet makanan buatan tersebut harus memenuhi batasan yang sewajarnya dan tidak boleh berlebihan.

Baca Juga: Kenali Pengawet Natrium Benzoat yang Memiliki Manfaat Bagi Tubuh

Jenis Pengawet Makanan yang Berbahaya

Jenis Pengawet Makanan yang Berbahaya.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Perlu diwaspadai, ada jenis pengawet makanan yang berbahaya dan sebenarnya dilarang penggunaannya oleh BPOM.

Namun, tetap saja ada oknum-oknum yang menggunakannya dan hal ini bisa berpengaruh pada kesehatan seseorang terutama dalam jangka panjang.

1. Formalin

Sempat ramai seputar tahu yang diawetkan dengan formalin agar tetap kenyal, ternyata ini adalah jenis pengawet makanan yang berbahaya.

Sebenarnya, formalin bermanfaat untuk bahan pembersih lantai, pembasmi serangga, pengawet produk kosmetik hingga mayat.

Formalin berbau tajam dan tidak berwarna. Senyawa ini dapat mengakibatkan efek seperti reaksi alergi dan iritasi, kemerahan, sakit perut, pusing, mata berair, dan mual muntah.

Jika dikonsumsi berkepanjangan, kemungkinan dapat sebabkan penyakit kanker.

2. Boraks

Moms pasti masih ingat tentang bakso boraks yang ramai diperbincangkan, di mana bakso ini diawetkan dengan menggunakan boraks. Tentunya ini berbahaya ya, Moms.

Boraks atau asam borat biasa digunakan sebagai antijamur kayu, pembasmi kecoa, antiseptik, pestisida, pembuatan cat atau keramik, serta disinfektan.

Jika ditambahkan ke dalam makanan, tentunya hal ini akan membahayakan fungsi organ tubuh.

Itulah penjelasan tentang pengawet makanan yang perlu dipahami.

Tetap berhati-hati dalam membeli bahan makanan di luar, ya, Moms!

  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11238796/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK50952/
  • https://www.hindawi.com/journals/jfq/2017/1090932/
  • https://www.sciencedirect.com/topics/food-science/vinegar
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/315081#what-is-pink-himalayan-salt
  • https://www.acsedu.co.uk/Info/Alternative-Living/Self-Sufficiency/Salting-Food.aspx
  • https://food.ndtv.com/food-drinks/6-natural-kitchen-ingredients-to-preserve-food-without-using-food-additives-1741112
  • http://ssu.ac.ir/cms/fileadmin/user_upload/Mtahghighat/tfood/ARTICLES/koliat/Salt_in_food_processing__usage_and_reduction_a_review.pdf
  • https://asrot.pom.go.id/img/Peraturan/PerKa%20BPOM%20No.%2036%20Tahun%202013%20tentang%20Batas%20Maksimum%20Pengawet.pdf
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait