Kehamilan

23 Juni 2020

Penjelasan Tentang Plasenta Anterior yang Harus Moms Ketahui

Plasenta terhubung ke bagian depan rahim
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Phanie
Disunting oleh Dina Vionetta

Plasenta sangat penting untuk kesehatan ibu dan bayi selama kehamilan.

Dikutip dari penjelasan Mount Sinai Hospital, plasenta memasok nutrisi, hormon, imunitas, dan oksigen ke janin.

Plasenta yang menjadi ‘teman’ janin dalam kandungan, terkadang memiliki kelainan yang dapat memengaruhi kesehatan ibu dan janin.

Salah satunya adalah plasenta anterior.

Berikut ini penjelasan mengenai plasenta anterior bagi Moms yang belum mengetahui lebih dalam mengenai kelainan plasenta ini.

Baca Juga: 3 Bahaya Plasenta Previa dan Tandanya, Waspada!

Plasenta Anterior

Ketahui Mengenai Plasenta Anterior.jpg

Foto: yimg.com

Plasenta adalah organ yang tumbuh di rahim selama kehamilan untuk memberi makan bayi dengan oksigen dan nutrisi melalui tali pusat. Plasenta menempel pada dinding rahim.

Menurut Medical News Today, plasenta anterior merupakan istilah medis untuk plasenta yang terhubung ke bagian depan rahim. Posisinya akan terletak di antara depan lambung dan janin.

Hal tersebut terjadi saat embrio menempel di bagian depan rahim yang paling dekat dengan abdomen.

Bagi Moms yang mengalami plasenta anterior, biasanya akan mempersulit Moms untuk merasakan gerakan janin.

Pada posisi plasenta anterior, gerakan bayi ditutupi plasenta dan gerakannya tidak dapat dideteksi.

Baca Juga: Hamil dengan Plasenta Previa Bisa Melahirkan Normal?

Efek Plasenta Anterior

Ketahui Mengenai Plasenta Anterior 2.jpg

Foto: healthline.com

Biasanya, posisi plasenta tidak mempengaruhi kehamilan atau janin.

Dikutip dari Stanford Children's Health, kelainan plasenta lain yang dapat memengaruhi adalah plasenta previa atau plasenta yang menghalangi serviks.

Jika Moms mengalami kelainan plasenta previa, Moms perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan perawatan dan berpotensi melahirkan secara caesar. Sementara plasenta anterior tidak sepenuhnya berbahaya.

Lokasi plasenta dapat berada di belakang, atas, kiri, atau kanan dinding rahim. Namun, kondisi ini akan mempersulit pendeteksian janin seperti detak jantung, posisi bayi, dan tendangan bayi selama dalam kandungan.

Detak jantung bayi biasanya akan terdengar pada minggu ke-8 dan ke-10 kehamilan. Dengan kondisi plasenta anterior, detak jantung akan sulit untuk didengar.

Plasenta akan meredam gerakan bayi yang seolah plasenta menjadi bantalan antara perut dan rahim, sehingga tendangan bayi akan sulit untuk dirasakan.

Plasenta anterior akan diketahui melalui pemeriksaan dokter di usia kehamilan 20 minggu dan dapat menggambarkan lokasinya.

Baca Juga: Terlambat Ditangani, Ini Bahaya Plasenta Previa bagi Ibu dan Janin

Risiko Plasenta Anterior

Ketahui Mengenai Plasenta Anterior 3.jpg

Foto: mothericity.com

Plasenta anterior memang tidak terlalu membahayakan, namun Moms perlu mengetahui bahwa kondisi tersebut akan menimbulkan komplikasi.

Posisi plasenta anterior yang rendah akan menyebabkan plasenta previa dan berpotensi operasi caesar saat persalinan.

Jika Moms pernah melakukan operasi caesar sebelumnya, kondisi ini dapat berkembang menjadi plasenta akreta, di mana posisi plasenta anterior berada di atas bekas luka operasi caesar.

Kondisi ini dapat menyebabkan plasenta tumbuh jauh ke dinding rahim juga ke dalam bekas luka operasi caesar.

Plasenta anterior akan memiliki risiko saat kelahiran melalui proses caesar atau normal. Ketika Moms melakukan operasi caesar, plasenta anterior dapat membuat sayatan lebih sulit dan berpotensi mengalami pendarahan hebat saat persalinan, sama halnya dengan persalinan normal.

Selain itu, plasenta anterior yang rendah tidak dapat mengembalikan posisi bayi yang sungsang.

Risiko lain yang akan terjadi apabila Moms memiliki kelainan plasenta ini adalah solusio plasenta, retardasi pertumbuhan, hipertensi, diabetes mellitus gestasional, bahkan kematian janin intrauterin.

Moms harus segera berkonsultasi dengan dokter bila mengalami plasenta anterior dengan gejala seperti sakit perut, pendarahan vagina, nyeri punggung yang parah, dan kontraksi uterus yang kuat.

Moms dapat meminimalisir dampak tersebut dengan rutin memeriksa kandungan, minum banyak air putih selama kehamilan, konsumsi gizi seimbang, menjauhkan diri dari rokok, melakukan olahraga ringan, dan tidak melakukan gerakan tiba-tiba.

Baca Juga: Virus Corona Bisa Menginfeksi Plasenta? Seperti Ini Penjelasannya

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait