Kesehatan

3 September 2021

Bell's Palsy: Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Bell's palsy tak hanya bisa terjadi pada orang dewasa tetapi juga anak
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Widya Citra Andini

Bell's palsy atau di Indonesia sering disebut belpasi adalah kelumpuhan saraf pada wajah yang diakibatkan oleh peradangan dan pembengkakan saraf yang mengontrol otot pada sisi wajah.

Dikutip dari SAGE Journals, Bell's palsy adalah penyakit mono-neuropati akut yang paling umum yang dinamai oleh ahli anatomi asal Skotlandia, yang bernama Sir Charles Bell.

Menurut The Royal Children's Hospital Melbourne, belpasi merupakan kondisi kelumpuhan otot pada salah satu bagian wajah.

Untuk lebih jelasnya, yuk kenali lebih dalam tentang penyakit ini!

Gejala Bell's Palsy

Sama seperti penyakit lainnya, belpasi juga penyakit yang menimbulkan gejala saat menyerang tubuh.

Berikut berbagai gejala Bell's palsy:

  • Perubahan bentuk wajah yang akan sulit untuk tersenyum
  • Mata sulit berkedip dan terus berair pada salah satu bagian wajah
  • Sakit kepala
  • Mengeluarkan air liur
  • Nyeri pada rahang atau belakang telinga
  • Kemampuan indera perasa berkurang

Penyebab Bell's Palsy yang Perlu Diwaspadai

bells-palsy.jpg

Foto: leighbrainandspine

Sebenarnya, penyebab belpasi belum diketahui pasti, tetapi penyakit ini biasanya berkaitan dengan infeksi virus.

Melansir Mayo Clinic, berikut daftar virus yang menyebabkan beberapa penyakit, tetapi juga berkaitan dengan belpasi.

  • Herpes simpleks, yang menyebabkan luka dingin dan herpes genital
  • Herpes zoster, yang menyebabkan cacar air dan herpes zoster
  • Epstein-Barr, yang menyebabkan mononukleosis menular
  • Infeksi sitomegalovirus
  • Adenovirus, yang menyebabkan penyakit pernapasan
  • Rubela, yang menyebabkan campak jerman
  • Virus gondok, yang menyebabkan gondongan
  • Flu B, yang menyebabkan flu
  • Coxsackievirus, yang menyebabkan flu Singapura
  • HIV, yang merusak sistem kekebalan tubuh
  • Sarkoidosis, yang menyebabkan peradangan organ
  • Penyakit Lyme, yang merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh kutu yang terinfeksi.

Baca Juga: Sindrom Putri Duyung, Penyakit Langka yang Ditandai dengan Menyatunya Kedua Kaki

Faktor Risiko Terjadinya Belpasi

faktor risiko bells palsy

Foto: Orami Photo Stock

Siapa saja yang dapat terkena Bell’s palsy? Dilansir dari Doctor NDTV, belpasi dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita yang biasanya akan terjadi di usia 15-45 tahun.

Namun, ada beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan terjadinya belpasi, yakni:

  • Sedang hamil, terutama pada trimester ketiga, atau yang berada di minggu pertama setelah melahirkan
  • Memiliki infeksi saluran pernapasan atas, seperti flu atau pilek
  • Mengalami infeksi paru-paru
  • Memiliki penyakit diabetes
  • Memiliki riwayat keluarga dengan kondisi belpasi.

Meski serangan berulang dari Bell's palsy jarang terjadi, tetapi dalam beberapa kasus, ada riwayat keluarga dengan serangan berulang.

Hal ini menunjukkan kemungkinan untuk menurunkan belpasi secara genetik pada anggota keluarga lainnya.

Komplikasi Penyakit Belpasi

komplikasi bells palsy

Foto: Orami Photo Stock

Kasus Bell's palsy ringan biasanya dapat sembuh total. Namun, pada kasus yang lebih parah bisa saja melibatkan kelumpuhan total.

Komplikasi dari penyakit belpasi mungkin termasuk:

  • Kerusakan permanen pada saraf wajah.
  • Pertumbuhan kembali serabut saraf yang tidak normal. Hal ini dapat menyebabkan kontraksi otot-otot tertentu yang tidak disengaja ketika penderitanya mencoba untuk menggerakkan organ lain (synkinesis). Misalnya, ketika sedang tersenyum, mata di sisi yang sakit mungkin akan menutup.
  • Kebutaan sebagian atau seluruhnya pada mata yang tidak dapat menutup karena kekeringan yang berlebihan dan goresan pada selaput pelindung mata (kornea).

Diagnosis Belpasi pada Anak

diagnosis bell's pasy

Foto: Orami Photo Stock

Dalam mendiagnosis belpasi, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui sejauh mana kelemahan otot pada wajah.

Selain itu, dokter akan mengajukan pertanyaan tentang gejala, termasuk kapan gejala itu terjadi atau kapan pertama kali mengalami kelemahan otot.

Dokter juga dapat menggunakan berbagai tes untuk membuat diagnosis Bell's palsy. Tes-tes ini mungkin termasuk tes darah untuk memeriksa adanya infeksi bakteri atau virus.

Dokter mungkin menggunakan MRI atau CT scan untuk memeriksa saraf di wajah.

Baca Juga: Ketahui Gejala Campak pada Bayi dan Cara Mengatasinya

Cara Mengobati Bell's Palsy pada Anak

Bagaimana cara mengobati Bell's palsy? Simak di bawah ini yuk Moms!

1. Latihan Wajah

cara mengobati bells palsy pada anak.jpeg

Foto: Orami Photo Stock

Fisioterapi merupakan salah satu cara untuk memperkuat otot-otot wajah.

Prosedur dalam terapi ini dapat membantu kasus Bell’s palsy untuk meningkatkan koordinasi dan jangkauan gerakan.

Latihan ini lebih mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitasnya, setidaknya dilakukan 2-3 kali dalam sehari dengan pergerakan yang tepat.

Dalam kasus Bell’s palsy yang akut dapat memulainya dengan mengompres bagian wajah yang terkena dengan air hangat.

Lakukan pijatan untuk meningkatkan aliran darah pada otot-otot wajah.

Setelah itu dapat dilakukan gerakan tertentu pada wajah yang dapat merangsang otak memberi sinyal pada otot untuk menggerakan wajah dan akan lebih baik jika didampingi oleh ahli fisioterapi.

2. Elektrikal Stimulasi

Mengobati Bells Palsy Pada Anak 2.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Elektrikal stimulasi mungkin masih asing untuk dikenal. Ini adalah sebuah alat pengumpul otot lemah yang dirangsang oleh listrik untuk memperkuat otot.

Alat ini masuk ke dalam salah satu terapi fisik pada pasien yang ingin mengembalikan kekuatan dan kontraksi ototnya.

3. Perawatan Gigi

Mengobati Bells Palsy Pada Anak 3.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Pemicu Bell’s palsy juga bisa dari trauma, demam, dan pencabutan gigi. Otot wajah merupakan saraf yang paling sering lumpuh dibandingkan bagian tubuh lainnya, sehingga lebih rentan terjadi gangguan.

Maka dari itu, perawatan gigi juga dibutuhkan sebagai pencegahan terjadinya Bell’s palsy.

Pastikan gigi tidak mengalami pembusukan, atau mengalami kerusakan gigi dengan perawatan rutin seperti menggosok dan membersihkan gigi dengan benang.

Baca Juga: Sakit Gigi pada Anak: Penyebab, Risiko, dan Cara Mengatasinya

4. Terapi Pijat

terapi pijat

Foto: Orami Photo Stock

Terapi pijat dapat menjadi pilihan terapi yang dapat memulihkan Bell’s palsy. Terapi pemijatan merupakan manipulasi sistematik dan ilmiah jaringan tubuh yang dapat memperbaiki dan memulihkan.

Proses pemijatan ini memberikan manfaat untuk memberikan relaksasi otot dan mempertahankan tonus otot.

5. Obat-obatan

obat bell's pasy

Foto: Orami Photo Stock

Selain cara dan terapi yang telah disebutkan di atas, National Institute of Neurological Disorders and Stroke juga merekomendasikan penanganan belpasi dengan obat.

Bell’s palsy yang menyebabkan nyeri dapat mengonsumsi analgesik seperti ibuprofen atau parasetamol.

Sementara vitamin B6 dan B12 dapat dikonsumsi untuk pertumbuhan serabut saraf yang rusak.

Saat mengalami Bell’s palsy, setidaknya mata juga akan mengalami masalah seperti iritasi.

Maka dari itu penderita Bell’s palsy biasanya diberikan air mata buatan, latihan mengedipkan mata secara manual, hingga tindakan operatif.

Hidup dengan Bell's palsy dapat membuat seseorang merasa tertekan, stres, atau cemas. Bicaralah dengan dokter jika penyakit ini memengaruhi kesehatan mental anak Moms.

Kebanyakan pasien belpasi akan pulih dalam waktu 9 bulan, tetapi bisa juga memakan waktu lebih lama.

Menurut studi yang diterbitkan dalam Journal of Child Neurology, para peneliti menemukan bahwa usia pasien yang lebih muda mungkin merupakan faktor prognostik yang baik sehingga bisa mempercepat waktu pemulihan pada anak-anak dengan Bell palsy.

Jadi, sebaiknya Moms segera mengunjungi dokter jika menemukan adanya gejala belpasi pada anak-anak. Semakin cepat diobati, peluang untuk sembuh menjadi lebih besar.

Meski demikian, dalam sejumlah kecil kasus, kelemahan wajah ini bisa menjadi permanen.

Oleh karena itu, kembalilah ke dokter jika tidak ada tanda-tanda perbaikan setelah 3 minggu perawatan. Selain itu, beberapa kasus mungkin perlu diobati dengan operasi.

Baca Juga: Cyclist's Palsy: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi

Itulah serba-serbi penyakit belpasi yang sebaiknya orang tua pahami. Semoga informasinya bermanfaat, ya!

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bells-palsy/symptoms-causes/syc-20370028
  • https://www.nhs.uk/conditions/bells-palsy/
  • https://www.healthline.com/health/bells-palsy#causes
  • https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0194599813505967
  • https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0883073819877098
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait