Kesehatan Umum

22 Desember 2021

Penyakit Minamata: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Pencegahannya

Bijak dalam mengonsumsi lebih baik daripada mengobati
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Nevy
Disunting oleh Widya Citra Andini

Penyakit Minamata adalah kondisi saat seseorang keracunan merkuri dalam kadar yang sangat tinggi.

Kondisi tersebut umumnya disebabkan oleh mengonsumsi jenis ikan tertentu.

Meski termasuk ke dalam salah satu jenis makanan sehat, terkadang ikan bisa membahayakan nyawa seseorang.

Dilansir dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merkuri adalah salah satu zat yang dapat memicu gangguan kesehatan.

Jenis logam berat ini secara alami terdapat di dalam tanah, air, dan udara.

Merkuri juga terkandung dalam limbah pabrik, yang kemudian mencemari air.

Nah, kandungan merkuri di dalam air inilah yang mengendap dalam tubuh ikan, dan hewan air lainnya, yang kemudian di makan oleh manusia.

Untuk lebih jelasnya mengenai penyakit Minamata, berikut ini serba-serbi yang perlu Moms ketahui!

Pengertian dan Sejarah Penyakit Minamata

Penyakit Minamata: Pengertian, Penyebab, Gejala, dan Pencegahannya

Foto: Orami Photo Stock

Dilansir dari Ministry of The Environment Government of Japan, penyakit Minamata adalah penyakit keracunan yang merusak sistem saraf, terutama sistem saraf pusat.

Penyakit ini berbeda dengan keracunan merkuri anorganik yang merusak ginjal dan organ tubuh lain.

Dilansir dari Very Well Health, penyakit ini ditemukan pada pertengahan 1950-an, tepatnya tahun 1956, di kota Minamata, Jepang.

Penyakit Minamata sendiri terjadi akibat pelepasan limbah industri methylmercury dari pabrik kimia bernama Chisso Corporation.

Pembuangan limbah tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, yaitu dari tahun 1932 hingga 1968.

Limbah biologis tersebut terakumulasi Teluk Minamata dan Laut Shiranui, kemudian mengendap pada kerang dan ikan di perairan tersebut.

Perairan tersebut menjadi salah satu sumber kehidupan masyarakat domestik, yang mengakibatkan keracunan merkuri.

Selain manusia, pembuangan limbah selama lebih dari 30 tahun juga meracuni kucing, anjing, dan babi.

Parahnya, pemerintah setempat dan pabrik kimia tersebut tidak berbuat banyak untuk mencegah polusi yang sudah menyebar dan meracuni banyak makhluk hidup.

Baca juga: 10 Ikan Hias Air Laut yang Cocok untuk Pemula dengan Perawatan Mudah

Waspadai dan Tangani Gejala Segera

penyebab cedera otot hamstring.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Sama seperti penyakit lainnya, gejala penyakit Minamata pada masing-masing penderita akan berbeda.

Bahkan, beberapa dari pengidap mengalami kematian seketika, akibat sistem kekebalan tubuh yang rendah.

Zat beracun tersebut bisa masuk ke dalam tubuh dalam banyak cara, seperti paparan langsung pada kulit, udara yang dihirup, dan makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Paparan dalam intensitas tinggi dapat memicu penurunan sistem kekebalan tubuh secara drastis.

Jika sudah begitu, sejumlah organ penting dalam tubuh, seperti paru-paru, jantung, dan ginjal akan mengalami penurunan fungsi.

Paparan merkuri pada janin dapat mengakibatkan cacat lahir atau kematian pada dini.

Sedangkan pada bayi dan anak-anak, paparan merkuri dapat merusak dan mengganggu fungsi otaknya.

Hal tersebut membuat mereka mengalami penurunan kemampuan berpikir dan belajar di kemudian hari.

Semakin tinggi intensitas paparan merkuri pada tubuh, semakin tinggi pula risiko gangguan kesehatan terjadi.

Dilansir dari Better Health, berikut ini sejumlah gejala saat seseorang terpapar merkuri:

  • Mengalami kelemahan otot.
  • Mengalami gejala gangguan saraf, seperti kesemutan, mati rasa, mendengar, dan berbicara.
  • Mengalami gejala gangguan koordinasi tubuh, seperti sulit atau tidak bisa berjalan dan tubuh gemetar atau tremor.
  • Mengalami gejala gangguan penglihatan, bahkan kebutaan.
  • Mengalami keterlambatan tumbuh kembang.
  • Mengalami gejala gangguan mental.
  • Mengalami kerusakan paru-paru.

Penyakit Minamata adalah kasus keracunan merkuri yang terbesar dan terkenal dalam sejarah.

Sebagian besar penderita yang terpapar mengalami sejumlah gejala yang telah disebutkan.

Rendah atau tingginya kadar merkuri dalam tubuh ikan akan tergantung pada usia ikan dan jenis makanannya.

Jika ikan tersebut mengonsumsi makhluk hidup yang ada di perairan tersebut, otomatis akan terpapar merkuri.

Ada beberapa jenis ikan yang dinilai memiliki kandungan merkuri yang tinggi. Ikan tersebut, termasuk:

  • Ikan tenggiri
  • Ikan tuna
  • Ikan hiu
  • Ikan todak
  • Ikan marlin
  • Ikan nila

Baca juga: Bergizi, 10 Ragam Ikan Air Tawar yang Banyak Dikonsumsi di Indonesia

Penyebab Penyakit Minamata

Seperti pada penjelasan sebelumnya, penyakit Minamata adalah kelainan fungsi saraf yang dipicu oleh keracunan akut akibat merkuri.

Penyebab utamanya adalah mengonsumsi ikan atau kerang yang terkontaminasi logam berat arsen dan merkuri dalam jumlah tinggi.

Merkuri merupakan logam berat yang sangat sulit untuk dikeluarkan jika sudah masuk ke dalam tubuh.

Bila tercemar dalam waktu yang lama, kadarnya otomatis semakin tinggi, hingga menimbulkan penyakit warga lokal Minamata.

Selain dari perairan daerah tersebut, merkuri juga dapat ditemukan di alam bebas secara alami.

Keracunan merkuri sendiri baru akan terjadi jika seseorang mengonsumsi merkuri yang sudah terkontaminasi dengan bakteri.

Hal tersebut membuat struktur merkuri menjadi berubah menjadi metil merkuri.

Paparan zat tersebut dalam jumlah besar memicu keracunan, yang menyerang otak dan sistem saraf pusat seseorang.

Adakah Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan?

tas kain untuk belanja.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Meski zaman sudah berkembang menjadi lebih maju. Belum ada penawar khusus yang mampu mengatasi keracunan metil merkuri.

Sejauh ini langkah pengobatan dilakukan untuk meredakan gejala yang muncul, serta membuang racun merkuri yang mengendap dalam tubuh.

Meski risiko terpapar merkuri tinggi, bukan berarti Moms tidak bisa memberikan ikan pada Si Kecil.

Ikan menjadi salah satu jenis lauk yang memiliki banyak manfaat bagi Si Kecil.

Oleh karena itu, sebaiknya Moms bijak dan hati-hati dalam memilih, ya.

Berikut ini beberapa cara yang bisa Moms lakukan guna mencegah paparan merkuri pada ikan yang dikonsumsi:

1. Batasi Ikan yang Berpotensi Mengandung Merkuri

Langkah pertama ini perlu dilakukan oleh wanita yang sedang merencanakan kehamilan, ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi serta anak-anak.

Moms bisa mengonsumsi ikan alternatif lain dari yang telah disebutkan, seperti udang, ikan lele, mujair, salmon, teri, dan kakap

Untuk mencukupi asupan protein dan lemak baik yang dibutuhkan tubuh, sebaiknya konsumsi ikan tersebut sebanyak 200-350 gram seminggu.

Ikan sebanyak 200-350 gram bisa dibagi dalam 2-3 porsi.

Ibu hamil juga tidak boleh mengonsumsi ikan mentah, apapun jenisnya.

2. Perhatikan Label Kemasan Sebelum Membeli

Langkah selanjutnya dilakukan dengan memastikan produk yang dibeli sudah lulus uji Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Lembaga tersebut sudah mengatur batas aman konsumsi bagi logam berat, termasuk merkuri, dalam setiap produk makanan yang dijual.

Hal tersebut tertuang dalam peraturan BPOM nomor 23 tahun 2017.

Baca juga: Ini Jenis Ikan Molly dan Panduan untuk Memeliharanya di Rumah

Dengan melakukan kedua langkah tersebut, otomatis dapat meminimalisir risiko paparan merkuri dalam tubuh.

Jika Moms atau orang terdekat merasakan keluhan yang dicurigai sebagai gejala keracunan merkuri, segera periksakan diri ke dokter, ya!

Selain kedua langkah tersebut, penting juga untuk memperhatikan sumber makanan laut yang dibeli secara langsung.

Pastikan Moms tidak membeli ikan atau olahannya dari perairan yang dinilai telah terkontaminasi limbah.

Penting juga untuk mengetahui perairan mana yang sedang dalam penyelidikan pemerintah.

Hal tersebut juga harus diwaspadai demi keselamatan keluarga dan orang tercinta.

  • https://www.env.go.jp/en/chemi/hs/minamata2002/ch3.html
  • https://www.verywellhealth.com/minamata-disease-2860856
  • https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mercury-and-health
  • https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/mercury-exposure-and-poisoning
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait