Kesehatan Umum

19 Oktober 2021

Penyakit Rabies: Gejala, Penyebab, Jenis Luka, dan Pertolongan Pertama

Lakukan pertolongan pertama dan bawa ke dokter
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya Fiona
Disunting oleh Widya Citra Andini

Jika kita mendengar istilah rabies, ini tak jauh dari penyakit yang disebabkan gigitan hewan tertentu. Ternyata, tak hanya anjing saja lho pemicu dari penyakit satu ini.

Mari ketahui penyebab, gejala, dan cara mengatasi penyakit rabies, Moms.

Gejala Rabies

Gejala Rabies pada Anak-anak, Ini Penjelasannya

Foto: Orami Photo Stocks

Rabies adalah penyakit virus yang fatal, mematikan, tetapi dapat dicegah, Moms.

Melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penyakit ini dapat menyebar ke manusia dan hewan peliharaan, jika mereka tergigit atau tercakar oleh hewan rabies.

Di Amerika Serikat, rabies banyak ditemukan pada hewan liar seperti kelelawar, rakun, sigung, dan rubah.

Namun, di sejumlah negara lain, gigitan anjing menjadi salah satu penyebab utama rabies.

Lantas, apakah gejala yang ditimbulkan apabila kita mengalami ini? Menurut Mayo Clinic, gejala dari terkena gigitan hewan rabies adalah:

Bahkan apabila virus ini telah menyerang ke organ dalam, dapat menyebabkan beberapa organ tubuh mengalami kelumpuhan sementara, lho.

Biasanya, gejala tersebut dapat mulai timbul beberapa hari pasca gigitan pertama. Tak jarang, sebagian orang melihat gejala rabies menyerupai tanda penyakit flu.

Baca Juga: Marasmus, Kekurangan Gizi pada Anak yang Dapat Berakibat Fatal

Penyebab Penyakit Rabies

Anak-Digigit-Anjing--Ini-Cara-Menangani-Rabies-pada-Anak-Hero.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Penyakit rabies disebabkan oleh virus yang bernama rabies. Virus ini menyebar melalui air liur hewan yang terinfeksi.

Hewan yang terinfeksi dapat menyebarkan virus dengan menggigit hewan lain atau manusia.

Dalam kasus yang jarang terjadi, rabies dapat menyebar ketika air liur yang terinfeksi masuk ke luka terbuka atau selaput lendir, seperti mulut atau mata.

Sangat berisiko tinggi apabila kita memiliki luka terbuka pada kulit, Moms.

Hewan mamalia menjadi salah satu penyebab yang membawa virus satu ini.

Berikut sejumlah hewan yang berisiko tinggi membawa virus rabies:

  • Kucing
  • Sapi
  • Anjing
  • Musang
  • Kambing
  • Kuda
  • Monyet dan banyak lagi

Dalam kasus yang jarang terjadi, virus dapat menular dari penerima donor organ atau yang baru saja melakukan transplantasi organ.

Hal ini biasanya karena pendonor organ tersebut sebelumnya telah memilki virus rabies satu ini.

Baca Juga: Ini Perbedaan Rebonding dan Smoothing, Serupa Tapi Tak Sama!

Jenis Luka Akibat Rabies

menangani rabies pada anak

Foto: onespray.co.uk

Seperti ditulis di situs Kemenkes RI, ada 2 kondisi luka akibat rabies, yakni:

Luka risiko tinggi

Luka pada lapisan dalam, leher, muka, kepala, jari tangan dan kaki, dan area kelamin.

Jenis luka ini lebar, dalam, serta banyak di sejumlah area. Penderita yang mengalaminya akan diberikan vaksin PEP antirabies dan serum antirabies.

Luka risiko rendah

Jilatan hewan pada kulit terbuka, serta cakaran atau gigitan kecil yang menimbulkan lecet di area badan dan kaki. Penderita hanya akan diberikan vaksin PEP antirabies.

Namun, jika virus rabies telah mencapai susunan saraf pusat, pemberian vaksin PEP antirabies tidak akan dapat menangani rabies dengan sepenuhnya.

Baca Juga: Dianggap Tumbuhan Liar Biasa, Ketahui 5 Manfaat Daun Pecut Kuda

Faktor Risiko Terkena Rabies

menangani rabies pada anak

Foto: todayifoundout.com

Tidak hanya karena gigitan hewan tertentu, terkena rabies bisa terjadi karena beberapa faktor berikut.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko rabies meliputi:

1. Travelling ke Tempat Tertentu

Moms, penyakit rabies telah lama ada dan awal penyebarannya terjadi di Afrika.

Nah, bepergian ke negara berkembang di mana rabies lebih mudah ditemukan, ini cukup berisiko tinggi. Hal ini termasuk negara di Afrika dan Asia Tenggara.

Melansir lomboktimurkab.go.id, rabies di Indonesia sendiri pertama kali ditemukan pada hewan kerbau oleh Esser (1884), anjing oleh Penning (1889), dan pada manusia oleh E.V.de Haan (1894).

Kemudian ditemukan kasus berikutnya di daerah Jawa Barat.

2. Menjelajah Gua

Menesuluri gua memang salah satu pengalaman yang menguji adrenalin kita.

Namun, aktivitas seperti ini cukup berisiko tinggi untuk kita bertemu dengan hewan liar yang mengidap rabies.

Hewan seperti kelelawar sangat mudah untuk kita temukan di sejumlah gua.

Untuk mencegah hal ini terjadi, hindari bepergian atau berlibur ke tempat ini ya, Moms.

3. Luka Terbuka di Tubuh

Luka di kepala, leher, atau tempat terbuka lainnya sangat berisiko tinggi terkena rabies. Virus rabies akan lebih mudah menyebar ke otak dengan cepat, lho.

Selain itu, bekerja di laboratorium yang meneliti virus rabies juga memiliki risiko yang sama, Moms.

Baca Juga: Cerita Sejarah Sunan Muria yang Suka Berdakwah di Daerah Pedalaman

Cara Mengatasi Gigitan Rabies

menangani rabies pada anak

Foto: kidspot.co.nz

Menangani rabies harus segera dilakukan setelah anak digigit anjing atau hewan liar.

Sebab, penyakit ini bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani oleh dokter.

Moms pasti akan panik saat mengetahui anak digigit anjing.

Selain ngeri melihat bekas lukanya, Moms juga cemas memikirkan apakah anak akan tertular rabies.

Karena itu, ketahui cara menangani rabies pada anak, terutama jika Moms tinggal di daerah yang banyak terdapat anjing atau hewan liar.

1. Mencuci Luka Gigitan

Nah, Moms juga bisa melakukan langkah pertolongan pertama untuk menangani rabies sebelum ke dokter atau rumah sakit.

Cuci luka segera dengan air banyak dan mengalir serta sabun sekitar 15 menit. Hal ini untuk membuang liur hewan yang menjadi sumber virus.

Setelah itu, berikan antiseptik seperti povidone iodine atau alkohol 70% untuk membunuh virus di dalamnya.

2. Segera ke Dokter

Biasanya, hewan kelelawar menyukai tinggal di loteng atau tempat yang tidak diketahui.

Apabila ada dugaan tubuh tergigit kelelawar, segera pergi ke dokter meskipun tidak menemukan bekas gigitan di kult.

Kalau terlihat ada gigitan, jangan panik, Moms. Langsung datangi dokter atau rumah sakit terdekat segera mendapatkan perawatan.

3. Imunisasi Rabies

Ketika telah di klinik, biasanya dokter tidak akan menunggu sampai gejala muncul karena akan terlalu terlambat.

Biasanya, ia akan menangani rabies dengan serangkaian imunisasi antirabies (PEP) untuk berjaga-jaga.

Tujuannya adalah untuk membentuk antibodi yang akan menetralisasi virus rabies.

Baca Juga: Rabies Meluas di NTB, Mengapa Bisa Terjadi?

4. Hindari Menggunakan Herbal

Untuk menangani rabies, jangan gunakan obat tradisional seperti minyak, daun sirih, atau tumbuh-tumbuhan, ya.

Diketahui, herbal-herbal tersebut dapat mengiritasi dan memparah luka.

Segera kunjungi klinik terdekat untuk diatasi dengan obat khusus melawan virus rabies.

Selain itu, jangan sentuh luka secara langsung dengan tangan telanjang. Gunakan sarung tangan atau benda lainnya untuk mengurangi risiko infeksi.

Itulah gejala, penyebab, jenis luka, dan cara pengobatan penyakit rabies. Jangan panik lagi apabila mengalami hal ini ya, Moms!

  • https://www.cdc.gov/rabies/index.html
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rabies/symptoms-causes/syc-20351821
  • https://www.kemkes.go.id/article/view/19022800004/satu-gigitan-anjing-bisa-renggut-nyawa.html
  • https://nakeswan.lomboktimurkab.go.id/baca-berita-187-mengenal-rabies-dan-sejarahnya-di-indonesia.html#:~:text=Rabies%20di%20Indonesia%20pertama%20kali,ketiganya%20ditemukan%20di%20Jawa%20Barat.
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait