Gratis Ongkir minimum Rp 300.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Health | May 8, 2018

Penyakit Thalasemia di Indonesia Meningkat, Apa Penyebab dan Cara Mengatasinya?

Bagikan


Kasus penyakit thalasemia di Indonesia rupanya meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit thalasemia ini.

Berdasarkan data dari Yayasan Thalasemia Indonesia bahkan angkanya terus meningkat sejak 2012, di mana dari 4.896 kasus terus meningkat menjadi hingga 8.616 kasus pada tahun 2017.

Apakah sebenarnya penyakit thalasemia? Apa penyebab dan cara mengatasinya? Simak ulasannya berikut:

Penyebab Thalasemia

Thalasemia merupakan sebuah penyakit di mana terdapat kelainan sel darah merah, sel tersebut mudah pecah sehingga para pengidapnya membutuhkan transfusi darah. Namun demikian, transfusi darah akan menyebabkan tubuh kelebihan zat besi.

Saat tubuh kelebihan zat besi makan risiko yang mungkin terjadi adalah komplikasi seperti gagal jantung, diabetes, gangguan ginjal, osteoporosis dan masih banyak lagi.

Sedangkan bila thalasemia tidak ditangani dengan transfusi darah akan menyebabkan anemia akut dan akan berakibat fatal.

Apakah hal yang menjadi penyebabnya? Rupanya thalasemia merupakan penyakit genetik yang diwariskan oleh orang tua, dengan kata lain penyakit ini tidak menular.

Terdapat dua jenis thalasemia yaitu mayor dan minor. Pada kondisi thalasemia mayor penderita membutuhkan transfusi darah seumur hidupnya. Sementara thalasemia minor hanyalah pembawa yang kondisi tubuhnya sama sebagaimana orang normal.

Thalasemia terjadi ketika ada kelainan atau mutasi pada salah satu gen yang terlibat dalam produksi hemoglobin. Jika hanya satu orang tua yang menjadi pembawa thalasemia, maka Moms mungkin menderita talasemia minor.

Jika kedua orang tua Moms adalah pembawa thalasemia, maka peluang lebih besar untuk mewarisi bentuk penyakit yang lebih serius.

Baca juga: Bayi Mama Pucat? Hati-Hati Terkena Anemia Defisiensi Besi!

Gejala Thalasemia

Gejala-gejala thalasemia dapat bervariasi. Beberapa yang paling umum termasuk:

- Deformitas tulang, terutama di wajah

- Urine berwarna gelap

- Pertumbuhan dan perkembangan tertunda

- Kelelahan berlebihan dan kelelahan

- Kulit kuning atau pucat

Tidak semua orang memiliki gejala thalasemia. Tanda-tanda gangguan juga cenderung muncul kemudian di masa kanak-kanak atau remaja.

Mengatasi Thalasemia

Mengatasi thalasemia tergantung pada jenis dan tingkat keparahan penyakit yang terjadi. Dokter akan memberi pengobatan yang paling tepat untuk setiap kasus thalasemia seperti:

- Transfusi darah

- Transplantasi sumsum tulang

- Obat-obatan dan suplemen

- Kemungkinan operasi untuk mengangkat limpa atau kandung empedu

Dokter juga mungkin akan meminta Moms untuk tidak mengonsumsi vitamin atau suplemen yang mengandung zat besi bila Moms membutuhkan transfusi darah.

Orang yang menerima transfusi darah menerima zat besi ekstra yang tidak mudah disingkirkan tubuh. Besi dapat menumpuk di jaringan, yang bisa berpotensi fatal.

Jika menerima transfusi darah, Moms mungkin juga membutuhkan terapi chelation. Terapi ini merupakan terapi dengan cara menerima suntikan bahan kimia yang mengikat dengan besi dan logam berat lainnya yang membantu menghilangkan zat besi tambahan dari tubuh.

Apakah Moms pernah merasakan gejala-gejala seperti di atas? Jangan ragu untuk memeriksakan kondisi kesehatan ke dokter, ya!

(MDP)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.