Trimester 2

TRIMESTER 2
8 Maret 2021

Ternyata, Ini Penyebab dan Cara Mengatasi Darah Tinggi saat Hamil!

Kok, tekanan darah jadi melonjak tinggi saat hamil. Padahal tidak punya riwayat sebelumnya, kenapa ya?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya Fiona
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Tak sedikit Moms yang mengalami tekanan darah tinggi saat hamil. Meski padahal tidak ada riwayat tekanan darah tinggi sebelumnya.

Kondisi ini memang cukup umum terjadi. Bahkan Centers for Disease Control and Prevention mengatakan bahwa di Amerika Serikat, tekanan darah tinggi terjadi di 1 dari 12 kehamilan pada wanita usia 21-44 tahun.

Meski begitu, Moms tetap harus waspada dan jangan meremehkan hasil tekanan darah yang melonjak saat hamil, ya. Pasalnya, bisa jadi hal ini menimbulkan masalah yang lebih serius lainnya.

Mari kita simak ulasan lebih lanjut tentang tekanan darah tinggi saat hamil!

Penyebab Tekanan Darah Tinggi saat Hamil

artikel hero ibu hamil hipertensi

Foto: Orami Photo Stocks

Bila Moms mengalami hal ini, biasanya hasil tekanan darah Moms akan menunjukkan angka mulai dari 140/90 mmHg atau lebih tinggi.

Saat hamil, jumlah darah di dalam tubuh Moms akan meningkat sebanyak 45 persen dari biasanya. Hal ini membuat jantung harus kerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Hal ini yang kemudian dapat memicu darah tinggi saat hamil.

Dalam medis, kondisi ini disebut dengan hipertensi gestasional. Dilansir dari American College of Obstetricians and Gynecologists, umumnya hipertensi gestasional baru terlihat ketika Moms memasuki usia kehamilan ke-20 minggu.

Namun, jika ini yang terjadi, Moms tak perlu khawatir. Pasalnya kondisi yang disebut dengan hipertensi gestasional ini akan normal kembali setelah persalinan.

Baca Juga: Apa Dampak Darah Tinggi Pada Ibu Hamil dan Janin?

Beberapa hal bisa menyebabkan tensi tinggi saat hamil, di antaranya:

  • Kehamilan pertama lebih cenderung berisiko mengalami tekanan darah tinggi
  • Kehamilan kembar
  • Usia saat hamil di atas 35 tahun
  • Obesitas
  • Riwayat hipertensi sebelum kehamilan
  • Kolesterol tinggi

Risiko Hipertensi Kronis pada Ibu Hamil

1200 95641369 woman wearing fake pregnant belly

Foto: Orami Photo Stocks

Sementara, Moms butuh lebih waspada jika mengalami tekanan darah tinggi saat hamil belum genap 20 minggu. Kondisi ini biasanya dikenal dengan hipertensi kronis.

Moms yang mengalami hipertensi kronis biasanya telah memiliki riwayat hipertensi sebelum hamil.

Sayangnya, sebagian besar Moms tidak menyadari hal ini sebelumnya dan baru tahu ketika melakukan pemeriksaan kehamilan.

"Ibu hamil juga berisiko mengalami menurunnya aliran darah ke plasenta ketika darah tinggi saat hamil terjadi," dr. Yuslam Edi Fidianto, Sp.OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan. RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Baca Juga: Ibu Hamil dengan Darah Tinggi, Mungkinkah Melahirkan Normal?

Hipertensi kronis berisiko menimbulkan beragam dampak negatif pada bayi dan Moms. Berikut adalah dampak yang mungkin terjadi apabila darah tinggi saat hamil:

  • Persalinan caesar. Moms yang punya hipertensi umumnya akan dianjurkan untuk melakukan operasi caesar. Pasalnya, persalinan normal dapat memperparah hipertensi yang dialami.
  • Preeklampsia. Kondisi ini umumnya terjadi jika hipertensi kronis tidak ditangani dengan baik sehingga merusak organ-organ tubuh Moms. Gejala yang muncul saat dampak negatif ini terjadi seperti kejang-kejang.
  • Janin gagal tumbuh. Tekanan darah tinggi yang melonjak bisa menghambat pasokan makanan dan oksigen untuk si bayi. Hal ini membuat bayi mengalami gangguan tumbuh kembang di dalam rahim. Umumnya dokter akan menyarankan untuk segera melakukan persalinan prematur, karena jika dibiarkan akan mengancam nyawa Si Kecil.
  • Kerusakan organ tubuh ibu. Darah tinggi saat hamil membuat organ tubuh Moms mengalami masalah di sebagian orang.
  • Risiko penyakit jantung di kemudian hari. Jika mengalami darah tinggi saat hamil, ini berisiko Moms akan terkena serangan jantung atau gangguan jantung lainnya di kemudian hari.
  • Terjadi abruptio plasenta. Ini adalah kondisi darah tinggi saat hamil dan terjadi komplikasi kehamilan serius saat plasenta terputus dari rahim.

Mengutip Pregnancy Birth Baby, tekanan tensi tinggi saat hamil menjelang persalinan, nantinya bayi akan dipantau oleh dokter. Selama persalinan, jantung bayi akan terus dipantau dan Moms mungkin mendapat infus untuk memberi cairan dan obat.

Jika kondisi tampak memburuk selama persalinan, Moms mungkin memerlukan operasi caesar darurat.

Begitu juga yang menderita pre-eklamsia, biasanya Moms disarankan untuk melahirkan di rumah sakit bersalin besar yang dapat memberikan perawatan ahli untuk bayi dan ibunya.

"Selain itu, risiko darah tinggi saat hamil kepada bayi di antaranya adalah bayi lahir prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah, sindrom pernapasan, sampai kepada kematian," tambah dr. Yuslam.

Maka itu, bila Moms mengalami hal ini, Moms harus selalu periksa ke dokter supaya kondisinya terpantau.

Pemicu Tekanan Darah Tinggi saat hamil

perencanaankehamilanhipertensihero

Foto: Orami Photo Stocks

Salah satu masalah yang kerap terjadi saat hamil adalah tekanan darah naik. Kondisi darah tinggi saat hamil ini umumnya disebabkan oleh perubahan hormon ketika memasuki kehamilan.

Beberapa pemicu yang menyebabkan darah tinggi saat hamil antara lain:

  • Obesitas
  • Gaya hidup tidak sehat, seperti merokok dan jarang olahraga
  • Kehamilan yang pertama kalinya
  • Punya riwayat hipertensi di dalam keluarga
  • Hamil ketika berusia di atas 35 tahun
  • Kehamilan terjadi dengan bantuan medis, misalnya IVF

Namun kasus darah tinggi saat hamil di setiap orang berbeda-beda. Mungkin saja ia memang memiliki riwayat darah tinggi sebelumnya.

Baca Juga: Ketahui 5 Risiko Melahirkan Normal dengan Hb Rendah

Cara Mengatasi Tekanan Darah Tinggi saat Hamil

hipertensi 01

Bila Moms punya riwayat tekanan darah tinggi sebelumnya, Moms harus ekstra waspada. Pasalnya mungkin saja tekanan darah Moms bisa meningkat tiba-tiba.

Meski begitu, Moms tak perlu cemas. Ada beberapa hal yang bisa membuat kehamilan Moms aman dan sehat walau mengalami darah tinggi saat hamil, yaitu:

  • Rutin periksa ke dokter. Hal ini mesti Moms lakukan, apalagi jika Moms punya riwayat hipertensi sebelumnya.
  • Minum obat tekanan darah tinggi sesuai anjuran dokter.
  • Tetap olahraga rutin. Sesuaikan aktivitas fisik dengan kondisi Moms. Mulai dengan kegiatan yang tidak begitu memberatkan misalnya, berenang atau yoga.
  • Menerapkan pola hidup sehat. Sebaiknya, Moms hindari beragam makanan dan minuman olahan. Perbanyak makan buah dan sayur supaya mendapat asupan gizi yang baik.

Melahirkan bayi seringkali dapat menyembuhkan preeklamsia, salah satu pemicu tensi tinggi saat hamil.

Saat membuat keputusan ini, dokter akan mempertimbangkan beberapa faktor, termasuk seberapa parah, berapa usia kehamilan dan apa potensi risiko terhadap bayi.

Misalnya ketika Moms hamil berusia lebih dari 37 minggu, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk melahirkan prematur dalam mengatasi darah tinggi saat hamil.

Mengutip Mayo Clinic, menyusui tetap dianjurkan bagi kebanyakan wanita yang memiliki tekanan darah tinggi saat hamil, bahkan ketika minum obat. Biasanya, obat tekanan darah alternatif direkomendasikan.

Kehamilan menyebabkan pergeseran hormon serta perubahan psikologis dan fisik. Hal ini dapat menimbulkan stres, yang dapat membuat tekanan darah tinggi saat hamil lebih sulit untuk dikelola. Cobalah mengurangi stres seperti yoga dan meditasi.

Jika tekanan darah tinggi disebabkan oleh kondisi medis seperti penyakit ginjal, penting untuk membicarakan dengan dokter tentang obat apa yang aman dikonsumsi selama kehamilan.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait