Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Pasca Melahirkan | Sep 21, 2018

Ternyata Ini 6 Penyebab Kematian Ibu Setelah Melahirkan

Bagikan


Kasus kematian ibu pasca melahirkan masih terbilang mengkhawatirkan. Menurut data WHO tahun 2015, setidaknya 303.000 wanita di seluruh dunia meninggal menjelang dan selama proses persalinan.

Di Indonesia sendiri, sepanjang tahun 2011-2015 terdapat 126 kasus kematian ibu tiap 100.000 proses persalinan sukses. Untuk mengantisipasinya, Moms harus tahu penyebab kematian ibu setelah melahirkan!

1. Plasenta previa

Merupakan implantasi abnormal plasenta di dekat atau di atas serviks. Tanda dan gejala meliputi perdarahan vagina yang tiba-tiba, biasanya setelah 28 minggu. Plasenta previa dapat dengan mudah didiagnosis dengan ultrasound.

Jika tidak didiagnosis dengan tepat, perdarahan hebat bisa terjadi. Faktor risiko termasuk sebelum plasenta previa, kelahiran cesar, penggunaan alkohol selama kehamilan, wanita di bawah usia dua puluh, dan wanita di atas usia tiga puluh (meningkatkan risiko dengan usia lebih tinggi).

2. Solusio plasenta (abrupsio plasenta)

Kondisi ini terjadi saat plasenta memisahkan diri dari dinding rahim. Pemisahan itu menyebabkan perdarahan antara dinding rahim dan plasenta. Hal ini sangat berbahaya saat darah terjebak dalam rahim (pendarahan tersembunyi), karena dokter dan perawat tidak akan melihat tanda-tanda perdarahan.

Pelepasan plasenta bisa terjadi kapan saja, tapi sekitar 50% terjadi antara 30 minggu dan persalinan, dan 15% terjadi saat persalinan.

Abrupsio plasenta beresiko membahayakan bayi, tapi bisa juga menyebabkan kematian pada ibu karena perdarahan (kehilangan darah), gagal jantung atau gagal ginjal.

Baca Juga: Waspadai Penyebab Perdarahan Setelah Melahirkan

3. Ruptur uterus

Suatu kondisi yang mengancam jiwa dimana robeknya dinding rahim. Hal ini dapat terjadi sebelum atau selama persalinan, dan sebagian besar terkait dengan bekas luka rahim sebelumnya, seperti operasi sebelumnya atau operasi cesar.

Di ruang persalinan dan persalinan, malpraktik medis termasuk dorongan perut yang berlebihan (untuk membantu persalinan) atau penggunaan oksitosin atau pitocin yang tidak tepat, dapat menyebabkan ruptur uterus. Komplikasi ini bisa menyebabkan kehilangan darah ibu atau syok hipovolemik.

4. Non obstetrik bleeding

Perdarahan terjadi karena komplikasi ginekologi lainnya selama kehamilan. Ini bisa termasuk kanker serviks, cervicitis, polip, dan kanker vagina. Diagnosis biasanya dilakukan dengan menggunakan Pap smear, kultur, atau pemeriksaan dengan spekulum.

Perdarahan setelah persalinan dapat disebabkan laserasi selama operasi cesar atau oleh sebab-sebab alami. Dalam kedua kasus, perdarahan harus segera diidentifikasi untuk mencegah kehilangan darah yang signifikan.

5. Preeklampsia dan sindrom HELLP

Ini terjadi ketika seorang ibu memiliki tekanan darah tinggi yang berbahaya selama kehamilan. Kegagalan untuk mengobati preeklampsia dapat menyebabkan pemisahan plasenta, kejang maternal, atau sindrom HELLP.

Sindrom HELLP adalah sejenis preeklampsia yang melibatkan hemolisis, peningkatan enzim hati dan platelet rendah. Ibu dengan sindrom HELLP biasanya memiliki fungsi hati yang memburuk dengan cepat.

Baca Juga: Mengapa Timbul Ambeien Usai Melahirkan Normal?

6. Penyakit Jantung

Kehamilan menyebabkan perubahan luas pada fungsi jantung seorang wanita, ada peningkatan volume darah total 50%, penurunan resistensi vaskular, misalnya.

Wanita yang memiliki penyakit jantung berisiko tinggi mengalami kematian maternal, terutama karena perubahan ini.

Beberapa Hal yang Harus Diperhatikan

-Pastikan Anda rutin melakukan konsultasi ke dokter selama kehamilan dan menjelang persalinan. Setidaknya lakukan 4 kali konsultasi dokter selama masa kehamilan.

-Pastikan Anda mendapatkan akses terhadap tenaga keperawatan (dokter bersalin, bidan bersertifikat dan suster profesional) yang terampil saat persalinan dan perawatan setelahnya.

-Risiko dapat dikurangi secara signifikan jika masalah pada kehamilan dapat ditanggulangi sejak dini dan menjalani proses persalinan di klinik atau rumah sakit yang memiliki peralatan medis lengkap dan tenaga kesehatan yang terlatih.

Ditinjau oleh: dr. Adnan Yusuf

Sumber: meetdoctor.com

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.