Kesehatan

9 Juli 2021

15+ Penyebab Vagina Gatal, Bikin Enggak Nyaman!

Vagina sering terasa gatal, Moms? Ada banyak penyebabnya, lho. Waspada dan tetap jaga kebersihan!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya Fiona
Disunting oleh Intan Aprilia

Daftar isi artikel

Vagina merupakan salah satu organ tubuh paling sensitif dan rentan terhadap infeksi. Sebagian dari Moms mungkin pernah mengalami gatal di area vagina. Hal ini membuat Moms tidak nyaman dan sangat mengganggu ya. Lantas apa penyebab vagina gatal, Moms?

Apabila tidak dicegah maupun diatasi, gatal pada area vagina akan jadi sangat mengganggu. Moms mungkin bertanya-tanya apa yang menjadi penyebab vagina gatal.

Gatal vagina merupakan gejala yang tidak nyaman dan terkadang menyakitkan yang sering terjadi akibat zat yang mengiritasi, infeksi, atau menopause.

Ini juga dapat terjadi sebagai akibat dari kelainan kulit tertentu atau penyakit menular seksual (PMS). Dalam kasus yang jarang terjadi, gatal pada vagina dapat berkembang karena stres atau kanker vulva.

Kebanyakan vagina gatal tidak perlu dikhawatirkan. Namun, Moms harus menghubungi dokter atau ginekolog ika rasa gatalnya parah atau jika Moms mencurigai memiliki kondisi yang mendasarinya.

Dokter dapat menentukan penyebab gatal pada vagina melalui pemeriksaan dan pengujian. Mereka juga dapat merekomendasikan perawatan yang tepat untuk gejala tidak nyaman ini.

Penyebab Vagina Gatal

Nah, daripada bertanya-tanya dan tidak menemukan jawabannya, yuk langsung simak saja ulasan penyebab vagina gatal yang kerap Moms alami di bawah ini.

1. Infeksi Jamur

Vagina Terasa Gatal? Mungkin Moms Mengalami Ini! 1.jpg

Foto: Freepik.com

Penyebab vagina gatal seringkali dikaitkan dengan infeksi jamur. Riset yang dilakukan Mayo Clinic menyebutkan bahwa ternyata 3 dari 4 wanita setidaknya pernah mengalami infeksi jamur pada vagina sebanyak 1 kali dalam seumur hidup.

Meskipun tidak termasuk penyakit menular seksual, tetapi salah satu penyebab infeksi jamur adalah kontak mulut ke vagina yang terjadi pada saat seks oral.

Cegahlah infeksi jamur dengan mengganti celana dalam secara teratur agar daerah vagina tidak lembap.

Baca Juga: 5 Cara Alami Hilangkan Gatal Pada Vagina

2. Iritasi karena Mencukur atau Waxing

Bagi Moms yang memilih untuk waxing atau mencukur bulu kemaluan, waspadalah terhadap bahaya iritasi. Setelah mencukur maupun waxing, kulit sekitar area vagina menjadi lebih sensitif.

Seperti yang dilansir oleh Young Women’s Health, gatal dapat terjadi ketika bulu pubik kembali tumbuh. Untuk mencegah hal ini terjadi, pastikan alat bercukur maupun alat waxing aman ya, Moms!

3. Alergi Akibat Produk Bahan Sehari-hari

Vagina Terasa Gatal? Mungkin Moms Mengalami Ini! 5.jpg

Foto: Freepik.com

Ternyata, penyebab vagina gatal bisa karena produk sehari-hari yang kita pakai, lho! Reaksi alergi bisa terjadi karena adanya kontak kulit sekitar vagina dengan produk yang Moms gunakan sehari-hari.

Cleveland Clinic menyebutkan alergi dapat disebabkan oleh tisu toilet, pembalut, maupun material celana dalam yang Moms pakai.

Vagina gatal dapat pula dialami oleh Moms yang alergi terhadap kondom berbahan lateks.

4. Penyakit dan Kelainan Kulit

Tak hanya itu, penyakit dan kelainan kulit juga salah satu pemicu gatal pada area vagina.

Menurut Harvard Health Publishing, beberapa kondisi kulit yang bisa jadi penyebab vagina gatal antara lain:

  • Eksim: kondisi peradangan kulit yang menyebabkan bercak merah, retakan tipis, dan kerak yang sangat gatal.
  • Psoriasis: kondisi di mana sel-sel kulit baru diproduksi terlalu cepat sehingga menimbulkan kulit bersisik dan gatal.
  • Lichen Sclerosus: kondisi inflamasi kulit yang biasanya terjadi pasca menopause. Menurut penelitian, 1 dari 30 wanita mengalaminya setelah menopause.

5. Ketidakseimbangan pH

Vagina Terasa Gatal? Mungkin Moms Mengalami Ini! 2.jpg

Foto: Unsplash.com

Penyebab vagina gatal lainnya adalah karena pH yang tidak seimbang. Ketidakseimbangan pH membuat bakteri dan jamur berkembang di area kemaluan sehingga mengakibatkan gatal.

Dilansir dari Medical News Today, ketidakseimbangan pH disebabkan oleh menopause atau saat menstruasi.

Hal ini dapat dicegah dengan selalu rajin membersihkan vagina dengan air bersih agar pH tetap seimbang dan teratur mengganti pembalut ya, Moms.

6. Bacterial Vaginosis (BV)

Bacterial vaginosis merupakan infeksi karena tidak seimbangnya jumlah bakteri baik dan bakteri jahat yang ada pada vagina. Rata-rata perempuan dengan umur 15-44 tahun yang mengalami gatal pada vagina disebabkan oleh bacterial vaginosis.

Kondisi tersebut tidak selalu menimbulkan gejala. Gejala yang muncul biasanya berupa:

  • Gatal pada vagina dan keluarnya cairan yang tidak normal dan berbau busuk.
  • Warna cairan mungkin tipis dan abu-abu kusam atau putih. Dalam beberapa kasus, mungkin juga berbusa.
  • Keputihan yang lebih encer daripada kental (kebalikannya terjadi pada infeksi jamur)

Bacterial vaginosis diobati dengan antibiotik oral, gel antibiotik vagina, atau krim. Jika tidak diobati, vaginosis bakterial dikaitkan dengan kelahiran prematur, infeksi setelah operasi, dan penyakit radang panggul.

Lakukan pencegahan dengan menjaga kebersihan vagina dan hindari produk-produk yang memicu iritasi.

Baca Juga: Sering Gatal di Selangkangan? Jangan-jangan Kita Terkena Penyakit Ini!

7. Penyakit Menular Seksual

Vagina Terasa Gatal? Mungkin Moms Mengalami Ini! 3.jpg

Foto: Unsplash.com

Penyebab vagina gatal dapat pula dipicu oleh penyakit menular seksual. Beberapa infeksi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual, antara lain chlamydia, ghonorrhea, dan trichomoniasis.

Menurut The Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penyakit menular seksual dapat dicegah dengan:

  • Tidak melakukan hubungan seks dengan pasangan yang berganti-ganti.
  • Menggunakan kondom dengan benar.
  • Setia pada pasangan.
  • Menerima vaksin HPV (human papillomavirus).

8. Faktor Menopause

Ketika menopause, tubuh mengalami ketidakseimbangan hormon yang dapat memicu terjadinya vaginal atrophy.

Vaginal atrophy merupakan kondisi penipisan, pengeringan, dan peradangan yang terjadi pada vagina saat tubuh kekurangan hormon estrogen.

Kondisi ini dapat dicegah dengan menjaga gaya hidup tetap sehat saat menopause.

Usia rata-rata untuk menopause pada wanita adalah sekitar 51 tahun, tetapi dapat terjadi lebih awal atau lebih lambat.

Wanita yang merokok cenderung mengalami menopause lebih awal dibandingkan wanita yang tidak merokok.

9. Stres dan Gangguan Kecemasan

Vagina Terasa Gatal? Mungkin Moms Mengalami Ini! 4.jpg

Foto: Unsplash.com

Keadaan mental seperti stres dan gangguan kecemasan dapat berpengaruh langsung terhadap kesehatan tubuh Moms, lho.

Dilansir dari Calm Clinic, stres dan gangguan kecemasan dapat memicu ketidakseimbangan bakteri pada vagina sehingga menyebabkan gatal.

Kurangi stres dengan perbanyak rileksasi dan rekreasi ya, Moms!

Baca Juga: 5 Jenis Olahraga untuk Mengatasi Stres

10. Kanker Vulva

Kanker vulva adalah jenis kanker yang terjadi pada area permukaan luar alat kelamin wanita. Vulva adalah area kulit yang mengelilingi uretra dan vagina, termasuk klitoris dan labia.

Salah satu gejala kanker vulva adalah gatal pada area vagina. Gejala lainnya berupa pendarahan, perubahan warna kulit permukaan alat kelamin, dan adanya benjolan di area kemaluan.

Lakukanlah pemeriksaan ke dokter untuk menerima pengobatan apabila gejala-gejala tersebut terus timbul.

11. Perubahan Hormon

penyebab vagina gatal: perubahan hormon

Foto: Orami Photo Stock

Penyebab vagina gatal selanjutnya adalah perubahan hormon. Saat menyusui, kadar estrogen Moms menurun. Perawatan juga menyebabkan kadar estrogen turun.

Estrogen yang rendah dapat menyebabkan lapisan vagina Moms menipis dan menyebabkan gatal serta iritasi. Gejala akan hilang saat Moms berhenti menyusui dan kadar estrogen meningkat lagi.

Baca Juga: Bibir Vagina Bengkak, Ketahui Penyebab dan Cara Mengobatinya

12. Kutu Kemaluan

Penyebab vagina gatal selanjutnya adalah kutu kemaluan. Makhluk mungil seperti kepiting ini menyebabkan rasa gatal yang hebat di area vagina dan kemaluan.

Mereka biasanya menempel pada rambut kemaluan. Mereka mungkin juga menempel pada area tubuh lain yang ditutupi rambut kasar.

Kutu kemaluan dapat diobati dengan lotion pembunuh kutu yang dijual bebas. Kasus yang parah mungkin memerlukan obat resep topikal.

13. Sabun atau Pewangi Tidak Cocok

penyebab vagina gatal susu kambing-2.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Jika Moms mengalami gatal-gatal, tetapi tidak mengalami gejala yang berhubungan dengan keputihan atau infeksi jamur atau bakterial vaginosis, salah satu pemicunya adalah produk alergen, lho.

Perubahan produk dapat menyebabkan kondisi yang disebut dermatitis kontak, di mana kulit bereaksi terhadap alergen atau iritan yang tidak sesuai.

Ini bisa seperti sabun baru, losion, pewarna, deterjen, atau bahkan pembalut.

"Beberapa wanita lebih sensitif terhadap produk beraroma atau pewarna dan benar-benar mengalami reaksi alergi," kata Dr. Audra Williams, MD, asisten profesor kebidanan dan ginekologi di University of Alabama di Birmingham School of Medicine.

Jadi, alih-alih penyebabnya infeksi atau ketidakseimbangan pada bakteri vagina, gatal juga bisa disebabkan oleh paparan sesuatu produk yang tidak cocok.

Lebih baik sekarang menggunakan produk tanpa beraroma ya, Moms!

14. Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi bakteri yang dapat terjadi di mana saja di saluran kemih termasuk ginjal, uretra, ureter dan kandung kemih.

ISK dapat menyebabkan nyeri panggul, urgensi untuk selalu buang air kecil, nyeri saat buang air kecil dan urin keruh dan berbau busuk.

Jika infeksi berada di dekat uretra kita, inu dapat menyebabkan gatal dan iritasi parah. Tak jarang menyebabkan sebagian wanita merasakan gatal pada area vaginya.

Segera konsultasi dengan dokter apabila merasakan gejala seperti ini untuk mendapatkan perawatan.

Baca Juga: Vagina Kering, Apa Penyebab dan Cara Mengatasinya?

15. Kondisi Lichen Sclerosus

penyebab-vagina-gatal-dan-basah.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Melansir National Health Service, lichen sclerosusa adalah suatu kondisi kulit yang menyebabkan area kulit berwarna putih dan warna tidak merata yang tampak lebih tipis dari kulit normal.

Ini umumnya mempengaruhi daerah anal dan genital, dan penyebab pastinya tidak diketahui.

Ketidakseimbangan hormon atau sistem kekebalan yang hiperaktif mungkin berperan satu sama lain.

Kondisi ini sering terjadi pada wanita setelah menopause. Gejala dan tanda lichen sclerosus adalah:

  • Kemerahan
  • Vagina gatal parah
  • Rasa sakit atau ketidaknyamanan
  • Bercak putih dan halus di kulit
  • Bercak keriput dan bernoda
  • Pendarahan atau robek di sekitar vagina
  • Sakit saat berhubungan intim
  • Luka melepuh, ulserasi, atau berdarah pada kasus yang parah

Dokter umumnya akan menyarankan krim/salep kortikosteroid yang dapat membantu kulit kembali ke normal dan mengurangi kemungkinan jaringan parut.

Lichen sclerosus bisa kambuh, jadi Moms mungkin perlu perawatan dan pencegahan lanjut dalam jangka panjang.

16. Herpes Genital

Herpes genital adalah jenis infeksi menular seksual, dan dapat disebabkan oleh dua jenis virus, yakni virus herpes simpleks 1 dan virus herpes simpleks 2.

Gejala herpes genital adalah lepuh kecil, yang dapat pecah membentuk luka terbuka di dekat alat kelamin, paha, atau anus.

Biasanya mengalami rasa terbakar, kesemutan, atau gatal-gatal sekitar vagina, rasa sakit saat buang air kecil dan keputihan yang tidak biasa.

Pada umumnya, dokter akan meresepkan obat antivirus untuk mencegah gejala semakin parah.

Moms juga dapat mengoleskan krim penghilang rasa sakit atau petroleum jelly ke area yang terkena untuk mengurangi rasa sakit saat buang air kecil.

Baca Juga: 5 Jenis Kelainan Penis Pada Anak Laki-Laki

Itulah beberapa penyebab vagina terasa gatal. Jaga kesehatan area kewanitaan dengan menjaga kebersihan dan jangan lupa konsultasikan ke dokter ya, Moms!

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/yeast-infection/symptoms-causes/syc-20378999
  • https://youngwomenshealth.org/2013/08/22/removing-pubic-hair/
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15175-vulvitis
  • https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/managing_common_vulvar_skin_conditions
  • https://www.cdc.gov/std/general/default.htm
  • https://www.nhs.uk/conditions/lichen-sclerosus/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait