COVID-19

8 Juli 2021

Penyemprotan Disinfektan di Jalan dan Ruang Terbuka Tidak Efektif, Mengapa? Ini Penjelasan WHO!

Alih-alih melindungi, penyemprotan disinfektan di ruang terbuka justru bisa berdampak buruk pada kesehatan
placeholder

Foto: Freepik.com

placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya Fiona
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Baru-baru ini sosial media digempari dengan isu penyemprotan disinfektan di luar ruangan dinilai tidak efektif.

Hal ini didukung dari pernyataan seorang pakar penyakit menular Dr Faheem Younus dari University of Maryland, Amerika Serikat.

Dari sosial media pribadinya melalui Twitter, ia mengkritik bahwa aktivitas penyemprotan disinfektan di jalanan adalah sia-sia.

Pada unggahannya, ia menampilkan sejumlah kegiatan penyemprotan disinfektan di Indonesia yang baru-baru ini dilakukan oleh pemerintah.

Kontroversial Disinfektan.png

Foto: twitter/faheemyounus

Lantas cuitannya ini menarik perhatian masyarakat Indonesia terkait langkah pencegahan kasus COVID-19.

Benarkah pernyataan tersebut dinilai tidak efektif? Yuk cari tahu bersama faktanya, Moms!

Fakta Penyemprotan Disinfektan

Seperti kita tahu, penularan infeksi COVID-19 disebabkan dari transmisi antar manusia melalui droplets. Hal ini bisa ketika seseorang tengah batuk, bersin, berbicara tanpa menggunakan masker.

Bukti saat ini menunjukkan bahwa virus menyebar terutama di antara orang-orang yang melakukan kontak dekat satu sama lain, biasanya dalam jarak 1 meter (jarak pendek).

Seseorang dapat terinfeksi ketika aerosol atau tetesan yang mengandung virus terhirup atau bersentuhan langsung dengan mata, hidung, atau mulut.

Nah lantas apakah benar disinfektan menjadi langkah dalam upaya penyebaran COVID-19? Berikut faktanya.

1. Disinfeksi Ruang Publik

Disinfektan Luar Ruangan.jpg

Foto: theeconomictimes.com

Mengutip panduan upaya penularan COVID-19 menurut World Health Organization (WHO), penyemprotan atau pengasapan skala besar di ruang publik seperti jalan atau pasar terbuka untuk virus COVID-19 atau patogen lainnya tidak direkomendasikan.

Jalanan dan trotoar tidak dianggap sebagai jalur penularan COVID-19.

Menyemprotkan disinfektan, bahkan di luar ruangan, dapat membahayakan kesehatan manusia dan menyebabkan iritasi atau kerusakan mata, pernapasan, atau kulit.

Bahkan tanpa adanya kotoran atau sampah, penyemprotan bahan kimia tidak akan cukup membersihkan seluruh permukaan untuk menonaktifkan patogen virus.

2. Ruang Disinfektan Juga Tidak Efektif

Ruang Disinfektan.jpg

Foto: meeco.net

Moms, ruang disinfektan dinilai juga tidak efektif dan justru bisa membahayakan kesehatan masyarakat.

Aktivitas ini bisa berbahaya secara fisik dan psikologis bagi manusia.

Bahkan ini tidak akan mengurangi kemampuan orang yang terinfeksi untuk menyebarkan virus melalui tetesan atau kontak, lho.

Jika seseorang yang terinfeksi COVID-19 melewati ruang desinfeksi, dan ketika mereka berbicara, batuk, atau bersin masih dapat menyebarkan virus ke orang lainnya.

Baca Juga: 5 Fakta Vaksin COVID-19 untuk Anak Usia 12-17 Tahun, Moms Wajib Tahu!

3. Area Tepat untuk Disinfektan

Ketahui Cara Membuat Disinfektan dari Produk Pembersih Rumah Tangga Berikut Ini.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Disinfektan boleh dilakukan asal memperhatikan tempat atau area yang dianjurkan menurut WHO.

Kegiatan disinfeksi penting untuk mengurangi potensi kontaminasi virus COVID-19 di lingkungan non-kesehatan, seperti di rumah, kantor, sekolah, pusat kebugaran, gedung yang dapat diakses publik, pasar, transportasi dan restoran.

Disinfektan dengan membersihkan permukaan yang sering disentuh seperti di bawah ini:

Jika disinfektan akan dilakukan dalam ruangan, sebaiknya melalui kain atau lap yang direndam dalam disinfektan, ya.

4. Aturan Disinfektan

Bayi-yang-terpapar-disinfektan-rumah-tangga-berisiko-kelebihan-berat-badan-Hero.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Desinfektan dan kandunganya harus dipilih dengan cermat untuk menghindari kerusakan permukaan.

Bahkan ini untuk menghindari atau meminimalkan efek toksik pada kesehatan manusia.

Sejumlah aturan yang perlu diketahui dalam melakukan disinfeksi seperti berikut ini:

  • Hindari menggabungkan disinfektan, seperti pemutih dan amonia, karena campuran dapat menyebabkan iritasi pernapasan dan melepaskan gas yang berpotensi fatal.
  • Jauhkan anak-anak, hewan peliharaan, dan orang lain selama disinfeksi produk sampai kering dan tidak berbau.
  • Buka jendela dan gunakan kipas angin untuk ventilasi.
  • Jauhi bau jika terlalu kuat.
  • Larutan disinfektan harus selalu disiapkan di area yang berventilasi baik.
  • Cuci tangan setelah menggunakan disinfektan apa pun, termasuk tisu permukaan.
  • Gunakan APD minimum saat melakukan disinfektan di tempat non-perawatan kesehatan.

5. Membersihkan Area Permukaan

Disinfektan Ruang Publik.jpg

Foto: marthastewart.com

Lantas jika disinfektan ruang publik tidak efektif, apa langkah alternatifnya?

Virus yang menyebabkan penyakit COVID-19 dapat mendarat di permukaan.

Ada kemungkinan orang terinfeksi jika mereka menyentuh permukaan dan kemudian menyentuh hidung, mulut, atau mata mereka.

Mengutip panduan dalam Centers for Disease Control and Prevention (CDC), membersihkan area terkontaminasi dengan produk yang mengandung sabun atau deterjen dapat mengurangi kuman dan mengurangi risiko infeksi di ruang publik.

Ini dinilai langkah tepat ketika masyarakat mengunjungi tempat umum seperti rumah sakit, tempat olahraga, restoran, sekolah, perkantoran atau tempat publik lainnya.

6. Mencegah Penularan dengan Mencuci Tangan

bahayakah gunakan hand sanitizer - cara terbaik untuk mencuci tangan.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Kebersihan tangan salah satu yang disorot penting dalam upaya pencegahan COVID-19.

Dalam kebanyakan situasi, risiko infeksi dari menyentuh permukaan cukup rendah.

Cara paling andal untuk mencegah infeksi dari permukaan adalah dengan mencuci tangan secara teratur atau menggunakan pembersih tangan.

Mencuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan handsanitizer harus dilakukan sebelum menyentuh permukaan, barang, hewan peliharaan, dan orang-orang di lingkungan rumah tangga.

7. Menjaga Jarak di Ruang Publik

etika batuk dan bersin

Foto: Orami Photo Stocks

Saat berada di luar ruangan, setiap orang harus selalu mengikuti langkah-langkah pencegahan penualran seperti physical distancing. Ini setidaknya satu meter dari orang lain.

Selain itu diringi dengan menutup mulut dan hidung dengan siku tertekuk atau tisu saat batuk atau bersin.

Serta selalu hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut ketika tangan belum dicuci.

Serta yang paling penting yakni menghindari tempat kerumunan, Moms.

Baca Juga: Catat! Syarat Vaksinasi COVID-19 untuk 18 Tahun Ke Atas di DKI Jakarta

Itu dia Moms penjelasan terkait disinfektan sebagai langkah pencegahan infeksi COVID-19. Semoga membantu ya!

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/community/disinfecting-building-facility.html

https://www.who.int/news-room/q-a-detail/coronavirus-disease-covid-19-cleaning-and-disinfecting-surfaces-in-non-health-care-settings

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait