Trimester 3

1 September 2021

Moms Wajib Tahu, Ini Peran Bidan dalam Persalinan

Ketahui peran bidan lebih lanjut di bawah ini, Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Amelia Puteri

Moms mungkin sudah sangat familiar dengan bidan yang biasanya mendampingi selama masa kehamilan hingga persalinan. Namun, apakah Moms telah memahami peran bidan? Jika belum, simak artikel berikut, yuk.

Menurut Permenkes Nomor 1464/Menkes/Per/IX/2010 pasal 1 ayat 1, bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang telah teregistrasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sementara berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bidan adalah seseorang yang telah diakui secara reguler dalam program pendidikan kebidanan sebagaimana yang diakui yuridis, dimana ia ditempatkan dan telah menyelesaikan pendidikan kebidanan dan telah mendapatkan kualifikasi serta terdaftar disahkan dan mendapatkan ijin melaksanakan praktik kebidanan.

Baca Juga: Persalinan dengan Bantuan Bidan atau Dokter Kandungan? Ayo Kulik Dulu!

Peran Bidan dalam Persalinan

Peran bidan sebenarnya tidak hanya dalam proses persalinan, tetapi dimulai dari perencanaan persalinan, hingga masa nifas. Berikut penjelasan lengkapnya yang perlu Moms ketahui.

1. Perencanaan Persalinan

peran bidan dalam persalinan - 1

Foto: Orami Photo Stock

Sebelum persalinan dilakukan, bidan akan membantu para ibu hamil untuk melakukan perencanaan persalinan. Dalam hal ini, meliputi:

  • Melakukan pemeriksaan ibu hamil (ANC) sesuai standar minimal 4 kali selama hamil, dimulai dari melakukan pemeriksaan keadaan umum, menentukan taksiran partus (sudah dituliskan pada stiker), keadaan janin dalam kandungan, pemeriksaan laboratorium yang diperlukan, pemberian imunisasi TT, pembuatan tablet fe, pemberian pengobatan/tindakan apabila ada komplikasi.
  • Melakukan penyuluhan dan konseling pada ibu hamil dan keluarga mengenai tanda-tanda persalinan, tanda bahaya persalinan dan kehamilan, kebersihan pribadi dan lingkungan, kesehatan dan gizi, penyuluhan/konseling tentang perencanaan persalinan (bersalin di bidan, menyiapkan transportasi, menyiapkan biaya, menyiapkan donor darah), perlunya inisiasi menyusui dini dan ASI eksklusif, KB pasca persalinan.
  • Melakukan kunjungan rumah untuk memberikan pelayanan ANC bagi ibu hamil yang tidak datang ke bidan, penyuluhan pada keluarga tentang perencanaan persalinan, motivasi persalinan di bidan pada waktu menjelang taksiran partus, membangun komunikasi persuasif dan setara dengan Forum Peduli KIA dan dukun untuk peningkatan partisipasi aktif unsur-unsur masyarakat dalam peningkatan kesehatan ibu dan anak.
  • Melakukan rujukan dengan melibatkan peran serta kader dan tokoh masyarakat.
  • Melakukan pencatatan pada kartu ibu, kohort ibu, dan buku KIA.
  • Membuat laporan PWS-KIA.
  • Memberdayakan unsur-unsur masyarakat termasuk suami, keluarga, dan kader untuk terlibat aktif dalam Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi.

Baca Juga: Ini Pentingnya Cek Rutin Ginekologi ke Dokter Kandungan, Bisa Cegah Kanker Serviks

2. Persalinan

peran bidan dalam persalinan - 2

Foto: Orami Photo Stock

Dalam peran bidan yang satu ini, bidan membantu proses persalinan sesuai dengan standar, dengan cara:

  • Mempersiapkan sarana prasara persalinan aman termasuk pencegahan infeksi.
  • Memantau kemajuan persalinan sesuai dengan partograf.
  • Melakukan asuhan persalinan normal sesuai standar.
  • Melakukan manajemen aktif kala III (MAK III).
  • Melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
  • Melakukan perawatan bayi baru lahir, termasuk pemberian salep mata, vitamin K1 dan Imunisasi Hep B0.
  • Melakukan tindakan PPGDON apabila mengalami komplikasi.
  • Melakukan rujukan bila diperlukan.
  • Melakukan pencatatan persalinan pada kartu ibu, kohort ibu dan bayi, register pelayanan, buku KIA.
  • Membuat pelaporan PWS dan AMP.

3. Masa Nifas

peran bidan dalam persalinan - 3

Foto: Orami Photo Stock

Tidak hanya sampai disitu, peran bidan dalam persalinan juga berlanjut hingga Moms mengalami masa nifas usai persalinan. Bidan pun ditugaskan untuk memberikan pelayanan nifas sesuai dengan standar, antara lain:

  • Melakukan kunjungan nifas (KF1, KF2, KF lengkap), (KN1, KN2) antara lain, perawatan ibu nifas, pelayanan KB pasca persalinan, perawatan bayi baru lahir, imunisasi, termasuk pemberian obat tetes/salep mata antibiotika, suntikan vitamin K1 mg dosis tunggal pada paha kiri antero lateral, pemberian imunisasi HBV-0 di paha kanan, pemberian vitamin A 200.000 IU ibu nifas 2 kali (warna merah), perawatan payudara.
  • Melakukan penyuluhan dan konseling pada ibu, keluarga dan masyarakat mengenai tanda-tanda bahaya dan penyakit ibu nifas, tanda-tanda bayi sakit, kebersihan pribadi lingkungan, kesehatan dan gizi, ASI ekslusif, perawatan tali pusat, KB pasca salin, dan KB pasca persalinan.
  • Melakukan rujukkan apabila diperlukan.
  • Melakukan pencatatan pada Kohort bayi dan buku KIA.
  • Membuat laporan PWS-KIA dan AMP.

Baca Juga: Ketahui Perbedaan Bidan dan Doula

Peran Bidan Sebagai Pelaksana

peran bidan sebagai pelaksana

Foto: Orami Photo Stock

Selain berperan dalam perencanaan, persalinan, hingga pascapersalinan, bidan juga memiliki peran sebagai pelaksana dalam melaksanakan profesinya.

Berikut penjelasannya yang dikutip dari Jurnal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Peran bidan sebagai pelaksana terdiri dari 3 kategori tugas, yaitu tugas mandiri, tugas kolaborasi, dan tugas ketergantungan.

1. Tugas Mandiri

Tugas-tugas mandiri bidan, meliputi:

  1. Menetapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan yang diberikan.
  2. Memberi pelayanan dasar pranikah pada anak remaja dan dengan melibatkan mereka sebagai klien. Membuat rencana tindak lanjut tindakan/layanan bersama klien.
  3. Memberi asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal.
  4. Memberi asuhan kebidanan kepada klien dalam masa persalinan dengan melibatkan klien/keluarga.
  5. Memberi asuhan kebidanan pada bayi baru lahir.
  6. Memberi asuhan kebidanan pada klien dalam masa nifas dengan melibatkan klien/keluarga.
  7. Memberi asuhan kebidanan pada wanita usia subur yang membutuhkan pelayanan keluarga berencana.
  8. Memberi asuhan kebidanan pada wanita dengan gangguan sistem reproduksi dan wanita dalam masa klimakterium serta menopause.
  9. Memberi asuhan kebidanan pada bayi dan balita dengan melibatkan keluarga dan pelaporan asuhan.

2. Tugas Kolaborasi

Tugas-tugas kolaborasi (kerja sama) bidan, yaitu:

  1. Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga.
  2. Memberi asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan risiko tinggi dan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
  3. Mengkaji kebutuhan asuhan pada kasus risiko tinggi dan keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
  4. Memberi asuhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan dengan risiko tinggi serta keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga.
  5. Memberi asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dengan risiko tinggi serta pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi bersama klien dan keluarga.
  6. Memberi asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan risiko tinggi dan pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi bersama klien dan keluarga.
  7. Memberi asuhan kebidanan pada balita dengan risiko tinggi serta pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi bersama klien dan keluarga.

Baca Juga: 7 To-do List Persiapan Persalinan di Rumah Sakit, Jangan Ada yang Terlewat!

3. Tugas Ketergantungan

Tugas-tugas ketergantungan (merujuk) bidan, yaitu:

  1. Menerapkan manajamen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai dengan fungsi keterlibatan klien dan keluarga.
  2. Memberi asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada kasus kehamilan dengan risiko tinggi serta kegawatdaruratan.
  3. Memberi asuhan kebidanan melalui konsultasi serta rujukan pada masa persalinan dengan penyulit tertentu dengan melibatkan klien dan keluarga.
  4. Memberi asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu dalam masa nifas yang disertai penyulit tertentu dan kegawatdaruratan dengan melibatkan klien dan keluarga.
  5. Memberi asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan kelainan tertentu dan kegawatdaruratan yang memerlukan konsultasi serta rujukan dengan melibatkan keluarga.
  6. Memberi asuhan kebidanan kepada anak balita dengan kelainan tertentu dan kegawatdaruratan yang memerlukan konsultasi serta rujukan dengan melibatkan klien/keluarga.

Itulah peran bidan dalam persalinan dan sebagai pelaksana. Semoga informasi yang telah diberikan membuat Moms semakin paham dengan peran bidan, ya.

  • http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/08/Konsep-Kebidanan-dan-Etikolegal-dalam-Praktik-Kebidanan-Komprehensif.pdf
  • https://jurnal.pekalongankota.go.id/index.php/litbang/article/view/47
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait