Parenting Islami

20 Agustus 2021

Jangan Tertukar, Ini Perbedaan Mahram dan Muhrim

Penggunaan mahram dan muhrim ini seringkali tertukar
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Amelia Puteri

Mahram dan muhrim merupakan dua istilah yang cukup familiar, tetapi apakah Moms mengetahui perbedaan mahram dan muhrim?

Pasalnya, penggunaan kata mahram dan muhrim seringkali kurang tepat atau terbalik-balik dalam masyarakat.

Lalu apakah arti mahram dan muhrim yang sesungguhnya agar penggunaan kata ini tepat? Simak selengkapnya.

Perbedaan Mahram dan Muhrim

perbedaan mahram dan muhrim

Foto: Orami Photo Stock

Berikut perbedaan mahram dan muhrim yang perlu Moms serta Dads pahami agar penggunaannya lebih tepat dalam bahasa sehari-hari.

Istilah mahram dijumpai dalam pembahasan pernikahan.

Mahram ialah perempuan yang tidak boleh dinikahi (dalam permasalahan nikah) atau wanita yang tidak dapat membatalkan wudhu ketika bersentuhan dengan lawan jenisnya (dalam permasalahan bersuci).

Dua orang yang punya hubungan mahram diperbolehkan menyentuh satu sama lain, baik bersalaman atau lainnya.

Menurut Imam an-Nawawi seperti yang dikutip dari laman Konsultasi Syariah, "Setiap wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, disebab sesuatu yang mubah, karena statusnya yang haram."(Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 9:105)

Kemudian beliau memberikan keterangan untuk definisi yang beliau sampaikan:

  • Haram untuk dinikahi selamanya, artinya ada wanita yang haram dinikahi, namun tidak selamanya. Seperti adik istri atau bibi istri. Mereka tidak boleh dinikahi, tetapi tidak selamanya. Karena jika istri meninggal atau dicerai, suami boleh menikahi adiknya atau bibinya.
  • Disebabkan sesuatu yang mubah, artinya ada wanita yang haram untuk dinikahi selamanya dengan sebab yang tidak mubah. Seperti ibu wanita yang pernah disetubuhi karena dikira istrinya, atau karena pernikahan syubhat. Ibu wanita ini haram untuk dinikahi selamanya, namun bukan mahram. Karena menyetubuhi wanita yang bukan istrinya, karena ketidaktahuan bukanlah perbuatan yang mubah.
  • Karena statusnya yang haram, karena ada wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, namun bukan karena statusnya yang haram tetapi sebagai hukuman. Misalnya, wanita yang melakukan mula’anah dengan suaminya. Setelah saling melaknat diri sendiri karena masalah tuduhan selingkuh, selanjutnya pasangan suami-istri ini dipisahkan selamanya. Meskipun keduanya tidak boleh nikah lagi, namun lelaki mantan suaminya bukanlah mahram bagi si wanita.

Baca Juga: 9 Macam Puasa yang Diharamkan dalam Ajaran Islam, Catat!

Dalam agama Islam, mahram terbagi menjadi 3 macam. Berikut penjelasannya sebagaimana disarikan dari kitab Hasyiah Al-Bujairimi.

1. Mahram Sebab Nasab

mahram karena nasab

Foto: Orami Photo Stock

Seluruh perempuan kerabat/saudara itu mahram terkecuali perempuan yang masuk di bawah mulai dari anak bibi/sepupu (dari ayah) dan anak bibi/sepupu (dari ibu) sampai ke bawah.

Dalam garis besar ada 7 golongan:

  • ibu, nenek, sampai ke atas
  • Anak perempuan, cucu, sampai ke bawah
  • Saudara perempuan
  • Anaknya saudara laki-laki sampai ke bawah
  • Anaknya saudara perempuan sampai ke bawah
  • Bibi (dari ayah). Namun, mulai dari anak bibi (sepupu) sampai ke bawah tidaklah mahram sehingga boleh untuk dinikahi
  • Bibi (dari ibu). Namun, mulai dari anak bibi (sepupu) sampai ke bawah tidaklah mahram sehingga boleh untuk dinikahi

Baca Juga: Ini Adab Bersin dan Menguap dalam Islam, Moms Wajib Tahu! 

2. Mahram Sebab Susuan (Saudara Susuan)

Selanjutnya, penjelasan mengenai perbedaan mahram dan muhrim adalah tentang mahrab sebab susuan.

“Perempuan mahram sebab susuan itu adalah perempuan yang mahram sebab nasab.”  

Mahram sebab susuan itu sama dengan apa yang terdapat dalam mahram sebab nasab. Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas.

Baca Juga: 9 Cara Mendidik Anak Perempuan dalam Islam, Yuk Amalkan!

3. Mahram Sebab Nikah

mahram karena menikah

Foto: Orami Photo Stock

  • Mertua
  • Anak tiri (jika sudah sang ayah tiri sudah berhubungan badan dengan istrinya)
  • Ibu tiri
  • Menantu
  • Saudara perempuanya istri.

Semuanya ini (mahram sebab nasab, nikah, susuan) dihukumi mahram yang bersifat selamanya. Terkecuali saudara perempuanya istri. Jika istri meninggal atau ditalak (dicerai) maka saudara perempuan (mantan) istri menjadi halal untuk dinikahi.

Pengertian dan golongan wanita yang haram dinikahi atau mahram telah disebutkan dengan jelas dalam Alquran terutama dalam surat An-Nisa ayat 23 dan ayat 24. Wanita-wanita yang disebutkan dalam ayat berikut ini hukumnya haram untuk dinikahi.

"Diharamkan atas kamu(mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yangperempuan, saudarasaudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yangperempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anakperempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu;saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua);

Anak-anak istrimu yangdalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belumcampur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamumengawininya; (dandiharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); danmenghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yangtelah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi MahaPenyayang." (An-Nisa’:23)

"Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.

Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (An-Nisa’:24)

Baca Juga: Mengenal Muhasabah, Introspeksi Diri yang Dianjurkan dalam Islam

Pengertian Muhrim

muhrim

Foto: Orami Photo Stock

Sementara melansir laman resmi NU Online, istilah muhrim biasa dikenal dalam pelaksanaan ibadah haji atau umrah, yakni Ihram (tahapan awal seseorang menunaikan haji/umrah).

Orang yang sedang melaksanakan Ihram disebut Muhrim (orang yang ihram).

Itulah perbedaan mahram dan muhrim yang wajib untuk Moms serta Dads ketahui.

Jangan sampai salah lagi dalam memaknai perbedaan mahram dan muhrim, ya!

  • https://islam.nu.or.id/post/read/126793/jangan-keliru-ini-beda-mahram-dan-muhrim
  • https://konsultasisyariah.com/7425-muhrim-dan-mahram.html
  • https://dalamislam.com/dasar-islam/perbedaan-muhrim-dan-mahram
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait