Kesehatan Umum

3 November 2021

Mirip tapi Beda, Ini Perbedaan PCO dan PCOS yang Perlu Diketahui

Meski namanya mirip, PCO dan PCOS adalah dua kondisi yang berbeda, lho!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Nydia
Disunting oleh Debora

Moms sudah tahu belum, perbedaan PCO dan PCOS?

Nama keduanya memang sangat mirip, ya.

Meski sama-sama terjadi pada organ reproduksi wanita, ternyata keduanya merupakan kondisi yang berbeda, lho.

PCO (polycystic ovaries) adalah nama lain dari kista ovarium.

Kondisi ini terjadi ketika banyak sel telur yang menempel di dinding ovarium (indung telur).

Jika pada kasus kista ovarium biasanya hanya ada satu buah kista, pada wanita dengan PCO, jumlah kista ada lebih dari satu.

Sementara itu, PCOS (polycystic ovary syndrome) adalah gangguan hormonal yang membuat sel telur sulit matang dan gagal dilepaskan ke rahim. Sel-sel telur itu kemudian penumpuk di dalam rahim.

PCOS adalah kondisi yang cukup jarang terjadi.

Menurut riset pada 2010 di jurnal Human Reproduction Oxford, hanya terdapat 2,2-26,7% wanita usia 15 sampai 44 tahun yang mengalami sindrom ini.

Baca juga: Mengenal PCOS: Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya agar Bisa Hamil

Perbedaan PCO dan PCOS dari Segi Gejala

Salah satu perbedaan PCO dan PCOS ada pada gejalanya.

Umumnya, PCO tidak menimbulkan gejala yang signifikan.

Namun, ketika kista semakin banyak, beberapa gejala yang dapat dialami adalah:

  • Nyeri pada panggul, terutama jika bergerak.
  • Nyeri perut saat atau sebelum menstruasi.
  • Sakit setelah berhubungan intim.
  • Payudara terasa nyeri.
  • Perut bagian bawah terasa penuh dan berat.
  • Perut kembung dan terasa bengkak.
  • Mual dan muntah.

Pada kasus yang parah, penderita PCO juga bisa mengalami demam, pusing, pingsan, dan napas terengah-engah.

Sementara itu, pada PCOS, gejala juga seringkali tidak disadari.

Kondisi ini biasanya baru diketahui setelah memeriksakan diri ke dokter karena mengalami kenaikan berat badan drastis atau kesulitan memiliki anak.

Beberapa gejala umum dari PCOS adalah:

1. Gangguan Menstruasi

darah haid

Foto: Orami Photo Stock

Wanita yang menderita PCOS biasanya mengalami menstruasi yang tidak teratur.

Selain itu, darah yang keluar saat menstruasi juga lebih banyak dari yang seharusnya.

2. Mengalami Kenaikan Berat Badan

Menjaga Berat Badan (pexels.com SHVETS production).jpeg

Foto: Orami Photo Stock

Salah satu gejala yang umum dialami oleh penderita PCOS adalah kenaikan berat badan yang cepat, dan sulit dikontrol.

3. Pertumbuhan Bulu di Area yang Tidak Biasa

cara menghilangkan kumis

Foto: Orami Photo Stock

Tumbuhnya bulu di ketiak atau area intim adalah hal yang wajar.

Namun, penderita PCOS sering mengalami pertumbuhan bulu di area yang tidak biasa, seperti wajah, perut, dan dada.

4. Jerawat di Berbagai Bagian Tubuh

Glitz-7--6-Cara-Alami-untuk-Menghilangkan-Jerawat-di-Punggung.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Selain pada wajah, penderita PCOS juga sering mengalami pertumbuhan jerawat di berbagai bagian tubuh.

Misalnya di dada dan punggung, dalam jumlah banyak.

5. Kulit Menggelap dan Berminyak

benjolan di selangkangan

Foto: Orami Photo Stock

Kulit penderita PCOS juga bisa jadi lebih berminyak dan gelap.

Terutama di area leher, selangkangan, dan juga bagian bawah payudara.

6. Rambut Rontok

rambut-rontok-pada-remaja.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Rambut wanita yang menderita PCOS cenderung rontok dan menipis.

Pada beberapa kasus juga bisa botak di area pucuk kepala.

Baca juga: Mengenal Folikel Antral dan Kaitannya dengan Kesuburan Wanita

Perbedaan PCO dan PCOS dari Segi Penyebab

kista ovarium - gejala (medicalnewstoday).jpg

Foto: Orami Photo Stock

Hal yang jadi penyebab juga menjadi salah satu perbedaan PCO dan PCOS.

Pada kebanyakan kasus, PCO disebabkan oleh functional cyst.

Ini adalah kondisi ketika folikel yang berisi sel telur di ovarium tidak pecah.

Kemudian, terbentuklah benjolan kecil di permukaan ovarium hingga menjadi kista.

Sementara itu, penyebab PCOS adalah gangguan metabolisme.

Gangguan ini menyebabkan tubuh memproduksi hormon androgen berlebihan.

Akibatnya, sel telur sulit untuk diproduksi atau dimatangkan.

Gangguan metabolisme yang menyebabkan PCOS bisa disebabkan oleh banyak faktor.

Salah satunya adalah faktor genetik atau keturunan.

Hal ini diungkapkan dalam sebuah penelitian pada 2006 yang diterbitkan di jurnal Endocrine.

Selain itu, PCOS juga bisa disebabkan oleh gangguan pada sel darah putih yang membuat tubuh sulit mengatasi peradangan yang terjadi.

Komplikasi PCO vs PCOS

Infertilitas Pada Wanita, Seperti Apa Gejalanya? 3

Foto: Orami Photo Stock

Perbedaan PCO dan PCOS juga terletak pada risiko komplikasi yang ditimbulkannya.

Pada beberapa kasus, PCO dapat menyebabkan beberapa komplikasi, seperti:

  • Posisi ovarium bergeser.
  • Peningkatan risiko infeksi ovarium.
  • Perdarahan dalam ovarium.

PCO umumnya tidak memengaruhi tingkat kesuburan wanita.

Hal ini berbeda dengan PCOS yang bisa menimbulkan risiko komplikasi yang lebih serius, termasuk gangguan kesuburan.

Hal ini karena PCOS terjadi akibat berlebihannya kadar hormon androgen, sehingga sel telur sulit untuk matang.

Bila kehamilan berhasil terjadi, risiko keguguran atau melahirkan prematur bisa saja mengintai.

Selain itu, PCOS juga bisa meningkatkan risiko gangguan metabolisme seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi.

Perbedaan PCO dan PCOS dalam Hal Pengobatan

Konsumsi Pil KB, Akankah Pengaruhi Produksi ASI? 3

Foto: Orami Photo Stock

Perbedaan PCO dan PCOS lainnya yang perlu dipahami adalah soal pengobatannya.

Pada dasarnya, PCO adalah kondisi yang umum terjadi dan jarang menimbulkan komplikasi serius.

Pada beberapa kasus, kista pada ovarium bisa hilang dengan sendirinya dalam beberapa bulan.

Namun, bila kista tak kunjung mengecil, dokter mungkin akan melakukan tindakan pengobatan seperti pemberian pil KB hormonal, atau operasi.

Baca juga: Simak Penyakit Kelamin yang Mengganggu Fertilitas dan Perlu Diwaspadai

Sementara itu, pengobatan untuk PCOS biasanya lebih rumit.

Hal ini karena kista dapat berkembang menjadi semakin parah hingga berisiko menyebabkan kanker.

Pengobatan yang biasanya diberikan dokter akan disesuaikan dengan keluhan yang dialami.

Misalnya, untuk melancarkan haid, dokter dapat meresepkan pil hormonal dan terapi progestin.

Ini juga bermanfaat untuk mencegah terbentuknya sel kanker.

Untuk meningkatkan kesuburan, dokter bisa meresepkan obat-obatan lain, seperti pil anti-estrogen, letrozole, metformin dan suntik gonadotropin.

Selain obat-obatan, operasi pengangkatan kista juga bisa diperlukan jika kondisi semakin parah dan berisiko menyebabkan kanker.

Itulah pembahasan mengenai perbedaan PCO dan PCOS.

Dapat diketahui bahwa keduanya adalah kondisi yang berbeda, tetapi tetap perlu diwaspadai.

Bila mengalami gejalanya, segera periksakan diri ke dokter ya, Moms!

  • https://doi.org/10.1093/humrep/dep399
  • https://link.springer.com/article/10.1385/ENDO:30:1:19
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ovarian-cysts/symptoms-causes/syc-20353405
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pcos/symptoms-causes/syc-20353439
  • https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/polycystic-ovary-syndrome
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait