Kesehatan

KESEHATAN
1 April 2021

Yuk! Kenali Gejala hingga Faktor Penyebab Perilaku Impulsif

Perilaku impulsif adalah perilaku ketika Moms bertindak cepat tanpa memikirkan konsekuensinya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Lolita
Disunting oleh Amelia Puteri

Impulsif adalah perilaku ketika Moms bertindak cepat tanpa memikirkan konsekuensinya. Tidak ada hal lain yang terlintas di pikiran Moms selain keinginan untuk melakukan tindakan tersebut.

Namun, Moms tidak sendiri, sebagian orang pasti pernah berperilaku impulsif.

Entah itu ketika membeli barang yang tidak diperlukan, kecanduan obat-obatan, atau melakukan hal-hal yang malah merugikan diri sendiri karena tidak melalui pertimbangan yang matang.

Dari hal-hal impulsif itulah kita belajar untuk mengendalikan cara kita berperilaku saat melakukan hal-hal yang diinginkan.

Perilaku ini belum tentu merupakan gangguan mental, tetapi bisa jadi hanya kondisi kesehatan mental sesaat saja.

Mengontrol keinginan memang sulit dan bagi sebagian orang, hal ini bisa jadi perjuangan sangat melelahkan. Impulsif terjadi di bagian integral dari berbagai kondisi, termasuk kecanduan obat, obesitas, gangguan hiperaktif defisit perhatian, dan penyakit Parkinson.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perilaku impulsif, yuk, simak penejasannya berikut ini!

Baca Juga: 6 Tips Menghadapi Suami Selingkuh, Hindari Bertindak Impulsif

Pengertian Impulsif

impulsif

Foto: Orami Photo Stocks

Dilansir dari jurnal berjudul Hypothalamus-hippocampus circuitry regulates impulsivity via melanin-concentrating hormone, perilaku impulsif diartikan sebagai menanggapi tanpa pemikiran yang tidak jelas akan konsekuensi dari tindakan seseorang sebelumnya.

Menjadi impulsif tidak selalu merupakan hal yang buruk, tetapi hal itu sering kali dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Perlu diketahui, perilaku impulsif tak selalu berarti gangguan mental. Meski begitu, terkadang perilaku ini merupakan bagian dari adanya gangguan kontrol pada keinginan atau gangguan kesehatan mental lainnya.

Perilaku ini bisa jadi gangguan mental apabila seseorang mengalami hal-hal sebagai berikut:

  • Ada pola perilaku impulsif;
  • Tidak dapat mengendalikan keinginan;
  • Ada tanda dan gejala penyakit mental lainnya;

Meski demikian, jangan mendiagnosis gangguan mental tanpa mengonsultasikannya terlebih dahulu ke dokter ahli ya, Moms.

Baca Juga: Gangguan Mental pada Wanita, Ini Gejala dan Jenis-jenisnya

Hal yang Terjadi saat Seseorang Berperilaku Impulsif

impulsif

Foto: Orami Photo Stocks

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa perilaku impulsif cenderung bertindak cepat dan tidak memikirkan konsekuensi atas tindakan yang dilakukan.

Hal ini tentu menimbulkan perubahan pada hormon hingga perilaku yang beragam. Lalu, apa yang terjadi jika Moms berperilaku seperti ini? Berikut penjelasannya.

1. Peptida Impulsif

Secara khusus, para ilmuwan menemukan peptida yang disebut hormon konsentrasi melanin (MCH). Dalam jurnal berjudul A role of melanin-concentrating hormone producing neurons in the central regulation of paradoxical sleep, telah mengaitkan peptida ini dengan perilaku kecanduan obat dan makanan.

MCH adalah sebuah neurotransmitter yang diproduksi di hipotalamus dan juga berkaitan dengan perubahan suasana hati, keseimbangan energi, dan siklus tidur-bangun.

Para ilmuwan melakukan berbagai percobaan pada tikus untuk menguji peran MCH dalam perilaku impulsif.

Dalam percobaan pertama, mereka memberi tikus sebuah tuas. Ketika tikus menekannya, mereka menerima pelet makanan, tetapi hadiahnya hanya tersedia setiap 20 detik.

Jika tikus menekan tuas sebelum 20 detik habis, jam akan menyala kembali, dan mereka harus menunggu lebih MCH ke otak mereka.

Baca Juga: Ketika Pasangan Mengidap Gangguan Mental

2. Memengaruhi Bagian Hipotalamus dan Hipokampus

Dalam publikasi jurnal berjudul Are The Dorsal and Ventral Hippocampus functionally distinct structures? dengan memindai otak hewan pengerat, para ilmuwan bisa mendapatkan gambaran tentang jalur saraf yang terlibat.

MCH atau hormon konsentrasi melanin yang berjalan dari hipotalamus lateral ke hipokampus ventral tampaknya menjadi kuncinya.

Hipotalamus lateral terlibat dalam berbagai fungsi, termasuk perilaku makan; hipokampus ventral dikaitkan dengan stres, suasana hati, dan emosi.

Gejala dan Contoh Perilaku Impulsif

impulsif

Foto: Orami Photo Stocks

Perilaku impulsif ditandai dengan tindakan secara spontan dan tidak ada pertimbangan bagaimana hal itu dapat memengaruhi dirinya sendiri maupun orang lain.

Seseorang dengan perilaku ini cenderung hanya memikirkan kejadian saat ini. Masih ada sejumlah gejala dan contoh perilaku impulsif lainnya yang harus Moms waspadai yakni:

  • Bingeing: terlalu konsumtif dan memanjakan diri dalam hal-hal seperti berbelanja, berjudi, dan makan.
  • Destruction of property: menghancurkan barang-barang milik sendiri atau orang lain saat sedang marah.
  • Escalating problems: mempermasalahkan hal kecil dan membesar-besarkan masalah
  • Frequent outbursts: kehilangan kendali untuk menenangkan diri dan melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan.
  • Lots of starting over: sering memulai hal baru ketika membuat kesalahan atau hal tersebut dirasa tidak sesuai dengan keinginannya. Misalnya, keluar masuk grup secara tiba-tiba untuk memulai hal baru setelah melakukan tindakan impulsif.
  • Oversharing: berbicara tanpa berpikir dan berbagi detail yang intim.
  • Kekerasan fisik: bereaksi berlebihan dengan melakukan tindakan fisik secara mendadak
  • Seks berisiko tinggi: melakukan hubungan seks tanpa kondom atau metode pengaman lainnya, terutama dengan orang yang status imsnya tidak diketahui
  • Menyakiti diri sendiri: menyakiti diri sendiri di tengah panasnya kemarahan, kesedihan, atau kekecewaan

Baca Juga: 3 Gangguan Kesehatan Mental yang Bisa Serang Ibu Hamil

Penyebab Perilaku Impulsif

impulsif

Foto: Orami Photo Stocks

Bagaimana kita membuat keputusan adalah proses yang kompleks.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang berperilaku impulsif, salah satunya karena kondisi dan situasi yang mendesak atau kurangnya pengendalian diri.

Studi berjudul Impulsivity: A Predisposition Toward Risky Behaviors menunjukkan bahwa perilaku ini ada hubungannya dengan lobus prefrontal yakni bagian otak besar yang terbesar dan terletak di bagian depan otak.

Penelitian lain berjudul Brain functional connectivity changes in children that differ in impulsivity temperamental trait menunjukkan hubungan antara impulsif dan konektivitas otak.

Meski begitu, para peneliti masih harus melakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami sepenuhnya hubungan antara impulsif dan kepribadian, konektivitas otak, fungsi otak, kondisi fisik, seperti lesi otak dan stroke, juga bisa menimbulkan gejala seperti perilaku impulsif.

Baca Juga: 8 Jenis Gangguan Kesehatan Mental yang Perlu Kita Kenal

Faktor Risiko Perilaku Impulsif

impulsif

Foto: Orami Photo Stocks

Siapa pun bisa sering berperilaku seperti ini, tetapi terkadang itu bisa menjadi tanda kelainan yang mendasarinya. Berikut ini adalah beberapa gangguan yang dapat menyebabkan impulsif.

Penyebab pasti gangguan ini tidak diketahui. Mereka dapat berkembang karena kombinasi faktor-faktor yang meliputi:

  • Genetika;
  • Lingkungan Hidup;
  • Fungsi otak;
  • Kerusakan otak;
  • Perubahan fisik di otak;
  • Trauma masa kecil;
  • Gangguan kepribadian ambang;
  • Gangguan kepribadian borderline, yakni kondisi kesehatan mental yang melibatkan ketidakstabilan emosi. Gejalanya meliputi: impulsive, citra diri yang buruk, perilaku berbahaya, menyakiti diri sendiri;
  • Gangguan bipolar, yakni kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrem, sering kali maniak atau depresi.

Baca Juga: Mengenal Pseudobulbar, Gangguan Mental yang Membuat Joker Tertawa Tak Terkendali

Dalam peningkatan mood secara intens (episode manik), risiko seseorang untuk berperilaku impulsif lebih tinggi.

Selain itu, faktor lain yang menyebabkan perilaku ini adalah terlalu berenergi, perasaan gelisah, jengkel, dan marah, pikiran balap dan banyak bicara, euphoria, kurang tidur, pengambilan keputusan yang buruk, dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Penyandang ADHD dapat merasa sulit untuk memperhatikan dan mengontrol perilaku ini. Beberapa faktornya bisa meliputi kegelisahan, lupa, mengganggu orang lain, kesulitan fokus atau berkonsentrasi.

Penggunaan zat-zat tertentu, seperti alkohol, dapat memecah hambatan. Ini dapat menyebabkan perilaku impulsif. Di sisi lain, perilaku ini dapat berkontribusi pada perkembangan gangguan penyalahgunaan zat.

Lebih lanjut, faktor lain yang bisa terjadi adalah adanya gangguan kepribadian antisosial, yakni gangguan kepribadian yang melibatkan perilaku impulsif dan manipulatif.

Tak hanya itu, cepat marah, kesombongan, bohong, agresivitas, kurangnya penyesalan, gangguan ledakan terputus-putus juga harus diwaspadai sebagai gejala perilaku impulsif.

Dalam gangguan ledakan intermiten, seseorang sering mengalami episode perilaku impulsif atau agresif. Contohnya adalah marah, kekerasan fisik, kemarahan di jalan.

Kleptomania juga merupakan gejala lain dari tindakan impulsif. Kondisi ini ditandai dengan tidak dapat menahan keinginan untuk mencuri.

Orang dengan kleptomania cenderung memiliki gangguan kesehatan mental yang berdampingan, termasuk kecemasan dan depresi.

Pyromania, yakni gangguan kesehatan mental yang langka (sejenis gangguan kontrol impuls) di mana tidak dapat mengontrol impuls untuk menyalakan api juga bisa menjadi faktor penyebab impulsif.

Selanjutnya, trikotilomania, yakni melibatkan keinginan yang kuat untuk mencabut rambut sendiri.

Kondisi ini merupakan jenis gangguan obsesif-kompulsif, meskipun sebelumnya diklasifikasikan sebagai gangguan kontrol impuls.

Terakhir, cedera otak atau stroke. Cedera otak atau stroke dapat menyebabkan perubahan perilaku, termasuk impulsif, penilaian yang buruk, rentang perhatian yang pendek

Baca Juga: Perhatikan dengan Seksama, Ini 4 Tanda Gangguan Kesehatan Mental pada Anak

Waktu Tepat Berkonsultasi ke Profesional

impulsif

Foto: Orami Photo Stocks

Perilaku impulsif dapat menyebabkan perilaku tidak pantas lainnya dengan konsekuensi yang berpotensi serius.

Penelitian berjudul “Impulsivity: A Predisposition Toward Risky Behaviors” menunjukkan hubungan antara perilaku ini dan bunuh diri pada orang yang memiliki gangguan kepribadian ambang, penyalahgunaan narkoba pada mereka yang menggunakan banyak obat, episode manik, episode depresi.

Penelitian lain menunjukkan hubungan antara impulsif dan perilaku kekerasan. Jika Moms atau anak Moms sering berperilaku impulsif, temui dokter.

Moms bisa mulai dengan dokter perawatan primer atau dokter anak. Jika perlu, mereka dapat memberi rujukan ke spesialis kesehatan mental.

Baca Juga: 3 Gangguan Kesehatan Mental Pascamelahirkan, Waspada!

Cara Mengontrol Perilaku Impulsif

impulsif

Foto: Orami Photo Stocks

Bagaimana pendekatan perilaku ini tergantung pada penyebabnya. Dalam banyak kasus, orang tersebut tidak bersalah. Mereka mungkin tidak memiliki kemampuan untuk berubah.

Namun, ada beberapa cara yang bisa Moms lakukan untuk setidaknya mengontrol perilaku impulsif. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

  • Menyadari bahwa Moms memiliki perilaku ini yang perlu dikendalikan. Oleh karena itu, Moms perlu belajar dan berlatih untuk berhenti dan berpikir sebelum bertindak.
  • Selain itu, hindari atau persulit Moms untuk terjun ke hal-hal yang menyenangkan dan memanjakan, seperti pesta, berbelanja, atau minum minuman keras.
  • Jika beberapa cara tersebut tidak bisa mengatasi perilaku impulsif, Moms perlu datang ke ahli kesehatan untuk berkonsultasi dan memberikan penanganan terbaik.

Nah, itulah serba serbi mengenai perilaku impulsif hingga cara mengontrolnya.

Jika Moms mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas, pastikan untuk langsung berkonsultasi pada ahli agar medapatkan penanganan yang lebih tepat.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait