Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Perkembangan Anak | Sep 12, 2018

Perlukah Membedakan Mainan Anak Laki-laki dan Perempuan? Ini Kata Ahli

Bagikan


Perlukah Membedakan Mainan Anak Laki-laki dan Perempuan? Ini Kata Ahli

Mainan tentu lekat sekali dengan keseharian anak-anak kita. Sebagai orang tua kita pun sering mempertimbangkan jenis mainan yang tepat sesuai jenis kelamin Si Kecil. Dan tak jarang kita mendengar kalimat berikut: 

“Adek, kamu, kan, anak laki-laki, kok main boneka?”

“Aduh Kakak, masa anak perempuan main bola!”

Ya, mungkin tanpa sadar Moms pernah berucap demikian. Padahal, menurut para ahli, sebaiknya kita tidak membatasi, membedakan, atau memisahkan mainan untuk anak laki-laki dan anak perempuan, lho.

Baca Juga : Bolehkah Anak Laki-Laki Bermain Boneka?

Terkait hal tersebut, Prof. Melissa Hines dari Cambridge University, seperti dikutip The Guardian, mengidentifikasi adanya kesejangan gender dalam preferensi mainan untuk anak-anak.

Penelitian menunjukkan bahwa ‘desain’ otak anak laki-laki memang cenderung untuk mengekspresikan minat awal pada permainan fisik, melibatkan motorik dan permainan atau mainan yang bergerak. Misalnya, mobil-mobilan.

Baca Juga : 5 Ide Sensory Play untuk Balita di Rumah, Berantakan Tapi Seru!

Di sisi lain, otak perempuan didesain untuk cenderung mengekspresikan minat tertentu misalnya bermain peran. Maka tak heran bila anak perempuan memilih boneka sebagai mainannya.

Meski hasil studi menyatakan demikian, namun karena subyek penelitian adalah bayi dan balita maka sulit untuk dianalisa lebih lanjut.   

Riset lainnya mengungkap tentang dampak paparan hormon androgen terhadap janin dalam kandungan. Jadi, hal tersebut tidak hanya menyangkut gender anak.

Maka tak heran bila anak laki-laki cenderung memilih mobil-mobilan ketika di tokok mainan. Sedangkan, anak perempuan relatif memilih boneka.

Baca Juga : Seberapa Banyak Mainan yang Boleh Dimiliki Anak?

Nah, pada kenyataannya, banyak toko mainan yang memisahkan atau membedakan penempatan mainan untuk anak berdasarkan gender. Memang tak dipungkuri, mau tak mau pembedaan itu memudahkan kita untuk mencari mainan. 

Akan tetapi, bila kita mau pahami lebih lanjut, realita seperti itu justru seperti sebuah klaim bahwa anak laki-laki memang tak ingin bermain/permainan yang mengasah ketajaman keterampilan verbal dan kreativitas, seperti bermain peran atau boneka.

Sebaliknya, anak perempuan  dinilai tidak mau atau tidak tertarik dengan bermain/melakukan permainan yang mengasah keterampilan spasial, misalnya balok susun dan lainnya.    

Padahal Moms, hakikat bermain adalah sebenarnya untuk mendorong eksperime dan mendukung anak untuk bermain dengan bermacam permainan yang menurut mereka menyenangkan.

Tidak ada batasan, tidak terkotak-kotak, tidak dibedakan dan tidak dipisahkan antara mainan anak laki-laki dan perempuan.

Justru Moms, kita harus menyadari bahwa menurut penelitian, menentukan mainan berdasarkan gender terhadap anak bisa menimbulkan efek negatif.

Terkait hal ini, Elizabeth Sweet, seorang sosiologis sekaligus dosen di University of California menyebutkan, banyak riset yang mengungkap bahwa mainan bergender membentuk prefensi mainan dan gaya bermain Si Kecil.

Baca Juga : Tips Memilih Mainan yang Aman untuk Anak

Dampak Jangka Panjang Jika Membatasi Mainan Anak Berdasar Jenis Kelamin

Riset juga menegaskan bahwa dampak buruk jangka panjang bisa terjadi bila kita selalu membatasi anak pada satu ‘gender’ mainan. Di antaranya, membatasi anak bermain ‘berdasarkan gender’ nya justru dapat membatasi kemampuan atau keterampilan mereka.

Anak-anak juga menjadi sulit untuk mengembangkan minat dan bakat karena secara tak langsung dibatasi. Padahal, minat dan bakat mereka bisa dikembangkan secara optimal.

Disebutkan pula bahwa membatasi alat permainan juga menghambat perkembangan kognitif anak-anak, bila dibandingkan dengan alat permainan yang cenderung netral.

Karena itulah, jangan sampai kita menganggap enteng masalah ini. Bagaimana pun, memisahkan, membedakan atau mengelompokkan  mainan, secara tak langsung menunjukkan ketidakadilan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Dampak lain yang perlu kita pahami Moms, permainan yang dibatasi berdasarkan gender ini juga bisa menghambat aspirasi mereka terhadap karier di kemudian hari.

Mengenai hal ini, riset mengungkapkan bahwa anak-anak sudah memiliki ide yang jelas tentang pekerjaan mereka di masa depan. Misalnya, anak laki-laki menyebutkan pofesi dokter, pilot, pembalas, pesepak bola, presiden dan sebagainya.

Baca Juga : Pentingnya Mainan Edukasi Bagi Anak

Sedangkan, anak perempuan menyebuatkan profesi seperti model atau ibu rumah tangga. Nah, ide ini tentunya akan sulit untuk diubah kelak sehingga pada akhirnya mengaruhi struktur angkatan kerja.

Maka, para anak perempuan akan memilih ‘mainan khusus perempuan’. Secara tak langsung, hal ini mengajarkan mereka untuk tumbuh menjadi wanita yang tenang, lemah, tunduh, tak memiliki kompetisi, memprioritaskan kecantikan dan glamor.

Selain itu, mengurus anak dan memasak di rumah menjadi dua tujuan hidup utama mereka.  

Baca Juga : 6 Trik Agar Anak Mau Membereskan Mainannya Sendiri

Kemudian, anak laki-laki akan berpikir bahwa mereka harus menjadi sosok yang gaduh, kasar dan tertarik pada kegiatan berupa aksi untuk menghindari label lemah.

Alhasil, penguatan stereotip gender ini membawa pada ketidakadilan atau tidak setara gender sehingga justru bisa berbahaya.

Karena itulah, yuk Moms mulai menetralisasi gender produk mainan anak-anak. Berikan anak pilihan yang sama, tanpa melihat jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Mereka akan berusaha setara dengan orang lain tanpa melihat gender baik dalam kehidupan pribadi, sosial dan profesional mereka di kemudian hari.

Jadi, biarkanlah anak memilih mainan yang disukainya. Anak tak boleh dipaksa untuk patuh pada gagasan masa lalu orang tua yang membatasi permainan dari status gender.

(HIL)

Sumber:  theguardian.com, bbc.com

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.