Newborn

15 Juni 2021

4 Fungsi Plasenta Bayi dan Serba-serbinya, Moms Wajib Tahu!

Segala macam yang perlu Moms ketahui tentang plasenta bayi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Karla Farhana

Sebenarnya, apa sih fungsi plasenta bayi? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini yuk Moms!

Plasenta bayi atau lebih dikenal dengan nama ari-ari bayi dipercaya sebagian masyarakat sebagai saudara kembar si jabang bayi. Tentu Moms pernah mendengar ada semacam kepercayaan tertentu bahwa ada hubungan 'gaib' antara si jabang bayi dengan plasentanya.

Tak heran, plasenta diperlakukan secara baik, bahkan dilakukan berbagai macam ritual yang tidak ada kaitannya dengan agama. Biasanya para orangtua atau pihak keluarga akan menguburkan plasenta dengan berbagai ritual khas.

Padahal, sebenarnya tidak masalah apabila plasenta bayi tersebut dibuang begitu saja. Tetapi, sebagai pencegahan terjadinya penyalahgunaan plasenta, maka sebaiknya plasenta ini dikuburkan.

Jika Moms sedang hamil, mungkin bertanya-tanya apa fungsi, dan faktor apa yang dapat memengaruhinya, serta apa saja bentuk plasenta bayi.

Baca Juga: Hamil dengan Plasenta Previa Bisa Melahirkan Normal?

Pengertian Plasenta Bayi

pengertian plasenta bayi

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip Mayo Clinic, plasenta adalah organ yang berkembang di rahim selama kehamilan. Struktur ini menyediakan oksigen dan nutrisi untuk janin yang sedang tumbuh dan membuang produk limbah dari darah bayi.

Plasenta merupakan sebuah perantara yang tumbuh seiring dengan berkembangnya janin dalam rahim ibu. Plasenta yang selama 9 bulan lebih menopang dan menemani kehidupan janin selama dalam perut ibu akan keluar bersamaan dengan lahirnya bayi.

Plasenta pada bayi menempel pada dinding rahim, dan tali pusar bayi muncul darinya. Organ tersebut biasanya menempel di bagian atas, samping, depan atau belakang rahim.

Plasenta bayi terdiri dari 200 lebih pembuluh dan vena halus, berbentuk mirip gumpalan hati mentah. Permukaan maternal yang menempel pada rahim, tampak kasar dan berongga. Warnanya merah tua dan terbagi dalam 15-20 tonjolan cotyledon, yang merupakan villi atau tonjolan berbentuk jari.

Permukaan fetus amat lembut, dengan tali pusar biasanya terdapat di bagian tengah. Bila tali pusar di bagian pinggir disebut battledore plasenta. Plasenta bayi yang sudah dewasa, berbentuk seperti piringan datar.

Beratnya sekitar 500 gram, diameternya 20 cm (8 inci) tebal bagian tengahnya 2,5 cm (1 inci). Ukuran dan berat plasenta disesuaikan dengan ukuran janin.

Dalam kasus yang jarang terjadi, plasenta bayi mungkin menempel di area bawah rahim. Ketika ini terjadi, itu disebut plasenta berbaring rendah atau plasenta previa.

Terbentuknya plasenta untuk janin terjadi sejak usia kehamilan memasuki minggu pertama. Plasenta berfungsi mengantarkan zat-zat yang dibutuhkkan janin seperti oksigen, darah ibu, sampai nutrisi-nutrisi bagi proses tumbuh kembang janin sejak minggu pertama sampai tiba saat lahir.

Serta membantu membuang zat-zat sampah dari tubuh seperti karbondioksida dan urin. Plasenta akan dikeluarkan pada tahap 3 persalinan.

Baca Juga: Plasenta Putus saat Hamil, Mengapa Bisa Terjadi?

Fungsi Plasenta

fungsi plasenta

Foto: Little Earthling Photography

Lantas, apa fungsi plasenta bayi? Berikut uraiannya seperti dirangkum dari Jurnal BJA Education.

1. Pertukaran Gas

Fungsi plasenta bayi yang pertama adalah untuk pertukaran gas. Paru-paru janin tidak ikut serta dalam pertukaran gas saat berada di dalam rahim, sehingga plasenta sepenuhnya bertanggung jawab atas transfer oksigen dan karbon dioksida ke dan dari janin yang sedang berkembang.

  • Oksigen. Oksigen adalah molekul kecil yang dengan mudah melintasi plasenta melalui difusi pasif. Transfer oksigen terutama bergantung pada gradien tekanan parsial oksigen antara darah ibu di ruang intervillous dan darah janin di arteri umbilikalis (kurang lebih 4 kPa).
  • Karbon dioksida. Karbon dioksida juga melintasi plasenta dengan mudah melalui difusi pasif. Transfer dari janin ke ibu bergantung terutama pada gradien tekanan parsial karbondioksida antara darah janin di arteri umbilikalis dan darah ibu di ruang intervili (kurang lebih 1,8 kPa).

2. Transfer Metabolik

Fungsi plasenta bayi yang selanjutnya adalah transfer metabolik. Apa saja?

  • Glukosa. Janin memiliki kapasitas glukoneogenesis yang sangat kecil, sehingga glukosa ibu menjadi sumber energi utamanya. Difusi pasif glukosa melintasi plasenta tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan janin dan oleh karena itu difusi yang difasilitasi menggunakan berbagai transporter glukosa diperlukan.
  • Asam amino. Asam amino untuk sintesis protein janin ditransfer dari ibu ke janin melalui transpor aktif. Ada beberapa protein transporter yang dikhususkan untuk asam amino anionik, kationik, dan netral. Banyak dari protein ini mengangkut bersama asam amino dengan natrium: pengangkutan natrium ke bawah gradien konsentrasinya menyeret asam amino ke dalam sel.
  • Asam lemak. Asam lemak penting untuk sintesis senyawa yang terlibat dalam pensinyalan sel (misalnya prostaglandin dan leukotrien), dan untuk produksi fosfolipid janin, membran biologis, dan mielin. Lipoprotein lipase, enzim yang membelah lipoprotein menjadi asam lemak bebas, terletak di permukaan plasenta ibu.4 Asam lemak bebas dan gliserol ditransfer dari ibu ke janin terutama melalui difusi sederhana, tetapi juga melalui penggunaan protein pengikat asam lemak .4,5.
  • Elektrolit, vitamin, dan air. Ion natrium dan klorida terutama ditransfer melintasi plasenta melalui difusi pasif, meskipun transpor aktif mungkin berperan. Ion kalsium, zat besi, dan vitamin ditransfer melalui transpor aktif yang dimediasi oleh pembawa. Air bergerak dengan difusi sederhana sesuai dengan gradien tekanan hidrostatis dan osmotik. Protein saluran air tertentu dalam trofoblas dapat membantu perjalanannya.

3. Fungsi Endokrin

Fungsi plasenta bayi selanjutnya adalah fungsi endokrin. Plasenta adalah organ endokrin yang menghasilkan sejumlah hormon peptida dan steroid penting.

  • Gonadotropin korionik manusia. Human chorionic gonadotropin (HCG) adalah hormon glikoprotein yang diproduksi pada awal kehamilan oleh syncytiotrophoblast. Produksi mencapai puncaknya pada usia kehamilan kurang lebih 8 minggu. HCG merangsang korpus luteum untuk mengeluarkan progesteron yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup kehamilan.6 Deteksi HCG dalam urin membentuk dasar dari alat tes kehamilan komersial.
  • Laktogen plasenta manusia. Laktogen plasenta manusia (HPL) juga diproduksi oleh syncytiotrophoblast. Ini mengurangi sensitivitas insulin ibu, yang menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah ibu. Ini merangsang produksi surfaktan paru janin dan sintesis hormon adrenokortikotrofik dan membantu mendorong perkembangan payudara ibu untuk produksi ASI. HPL mengubah ibu dari pengguna karbohidrat utama menjadi pengguna asam lemak, sehingga menghemat glukosa untuk janin.
  • Varian hormon pertumbuhan manusia. Varian hormon pertumbuhan manusia diproduksi oleh syncytiotrophoblast dan mempengaruhi pertumbuhan plasenta itu sendiri. Ini juga merangsang glukoneogenesis dan lipolisis ibu, mengoptimalkan ketersediaan nutrisi untuk janin yang sedang berkembang
  • Estrogen dan progesteron. Hingga akhir minggu kedelapan kehamilan, korpus luteum mengeluarkan progesteron. Plasenta secara bertahap mengambil alih peran ini dan produksi progesteron meningkat sampai sebelum persalinan. Progesteron penting dalam mencegah kontraksi uterus dan permulaan persalinan. Estrogen merangsang pertumbuhan rahim dan perkembangan kelenjar susu.

4. Fungsi Imunologis

Fungsi plasenta lainnya adalah fungsi imonologis. Meskipun sebagian besar protein terlalu besar untuk melewati penghalang plasenta, antibodi IgG ibu dapat menyeberang dari ibu ke janin melalui pinositosis untuk memberikan kekebalan pasif dalam beberapa bulan pertama kehidupan.

Syncytiotrophoblast memiliki reseptor untuk fragmen Fc dari IgG; IgG yang terikat kemudian diendositosis menjadi vesikel sebelum dilepaskan oleh eksositosis ke dalam darah janin.

Transfer ini dimulai pada awal kehamilan dan meningkat secara eksponensial pada trimester ketiga. Antibodi yang menyebabkan gangguan autoimun ibu (misalnya miastenia gravis) juga dapat melintasi plasenta dan mempengaruhi janin.

Hal yang Memengaruhi Kondisi Plasenta Bayi

faktor yang pengaruhi kesehatan plasenta bayi

Foto: Orami Photo Stock

Dalam American Journal of Obstetrics & Gynecology, plasenta adalah organ yang sangat kompleks dan menarik. Selama kehamilan, fungsi plasenta bayi adalah sebagai paru-paru, usus, ginjal, dan hati janin.

Plasenta juga memiliki aksi endokrin utama yang mengatur fisiologi dan metabolisme ibu serta menyediakan lingkungan yang aman dan protektif di mana janin dapat berkembang.

Ada ragam faktor yang dapat memengaruhi kesehatan plasenta selama kehamilan, sebagian bisa dikendalikan, dan sebagian tidak. Berikut ini beberapa hal yang memengaruhi kesehatan plasenta bayi.

1. Usia Ibu

Beberapa masalah plasenta bayi lebih sering terjadi pada wanita yang hamil di usia lebih tua, terutama setelah usia 40 tahun.

2. Ketuban Pecah sebelum Persalinan

Ketuban pecah sebelum persalinan bisa mengganggu fungsi plasenta bayi. Selama kehamilan, janin dikelilingi dan diberi bantalan oleh selaput berisi cairan yang disebut kantung ketuban. Jika kantung bocor atau pecah sebelum persalinan dimulai, atau disebut pecah ketuban, risiko masalah plasenta tertentu meningkat.

3. Kondisi Kesehatan Tertentu

Kondisi kesehatan tertentu juga ternyata bisa mengganggu plasenta bayi. Tekanan darah tinggi dapat memengaruhi kondisi dari plasenta bayi. Selain itu, setiap kondisi yang mengganggu kemampuan darah untuk menggumpal atau meningkatkan kemungkinan penggumpalan meningkatkan risiko masalah tertentu pada plasenta pada bayi.

4. Kehamilan Kembar atau Ganda

Kehamilan kembar bisa mengganggu fungsi plasenta bayi. Jika Moms hamil dengan lebih dari satu bayi, Moms mungkin berisiko tinggi mengalami masalah plasenta tertentu.

5. Operasi Rahim

Operasi rahim bisa mengganggu fungsi plasenta bayi. Bila Moms pernah menjalani operasi sebelumnya pada rahim, seperti operasi caesar atau operasi untuk mengangkat fibroid, Moms berisiko lebih tinggi mengalami masalah tertentu pada plasenta bayi.

Selain itu, jika Moms pernah mengalami masalah plasenta selama kehamilan sebelumnya, maka mungkin juga akan berisiko lebih tinggi untuk mengalaminya lagi.

6. Trauma Perut

Trauma pada perut, seperti jatuh, kecelakaan mobil atau jenis pukulan lainnya, dapat meningkatkan risiko plasenta bayi terlepas dari rahim secara prematur (solusio plasenta). Kondisi ini bisa mengganggu fungsi plasenta.

Baca Juga: Virus Corona Bisa Menginfeksi Plasenta? Seperti Ini Penjelasannya

Bentuk Plasenta Bayi

bentuk plasenta bayi

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip Healthline, bentuk plasenta bayi seperti pancake atau cakram. Plasenta janin ini melekat di satu sisi ke rahim ibu dan di sisi lain ke tali pusat bayi.

Plasenta bertanggung jawab atas banyak fungsi plasenta penting dalam hal pertumbuhan bayi. Ini termasuk memproduksi hormon, seperti hormon estrogen, human chorionic gonadotropin (hCG), dan progesteron.

Bentuk plasenta bayi memiliki dua sisi. Sisi luarnya biasanya berwarna merah tua, sedangkan sisi janin tampak mengkilat dan warnanya hampir menembus cahaya atau transparan.

Ketika seorang ibu melahirkan bayinya, dokter akan memeriksa plasenta janin tersebut untuk memastikan setiap sisi tampak seperti yang diharapkan.

Dilansir melalui Placenta Journal, plasenta umumnya berbentuk bulat-oval, tetapi bentuk "tidak beraturan" sering terjadi. Dalam data Proyek Perinatal Kolaboratif, bentuk tidak teratur dikaitkan dengan berat bayi lahir rendah untuk berat plasenta, menunjukkan plasenta dengan bentuk yang bervariasi telah mengubah fungsinya.

Bentuk plasenta bayi juga bisa dipengaruhi dengan kondisi sang ibu, terutama jika Moms memiliki diabetes.

Mengutip International Journal of Multidisciplinary Research Development, sebuah studi observasional prospektif dilakukan pada 70 plasenta (20 plasenta dari Kelompok Kontrol dan 50 plasenta dari Kelompok Diabetes).

Hasilnya, besar ibu diabetes memiliki plasenta sirkular (52%), namun sebagian besar kontrol menunjukkan plasenta oval (70%). Studi ini juga mengungkapkan peningkatan berat plasenta yang signifikan dari ibu diabetes dibandingkan dengan kontrol.

Alhasil, plasenta dengan ibu diabetes berbeda secara signifikan dari kehamilan normal yang mungkin terkait dengan perubahan fungsi fisiologis plasenta dan pada akhirnya hasil janin

Baca Juga: Penjelasan Tentang Plasenta Anterior yang Harus Moms Ketahui

Gangguan Fungsi Plasenta Bayi yang Bisa Terjadi

gangguan plasenta bayi

Foto: Orami Photo Stock

Biasanya, plasenta menempel di bagian atas atau samping rahim. Dalam beberapa kasus, plasenta berkembang di lokasi yang salah atau menempel terlalu dalam ke dinding rahim.

Gangguan plasenta janin ini yang disebut plasenta previa, plasenta akreta, plasenta increta atau plasenta perkreta.

Mengutip Beth Israel Deaconess Medical Center, gangguan fungsi plasenta biasanya didiagnosis dengan USG pada trimester kedua (sekitar 18 hingga 20 minggu setelah kehamilan).

1. Plasenta Previa

Gangguan fungsi plasenta bayi yang pertama adalah plasenta previa. Plasenta previa terjadi ketika plasenta bayi menutupi sebagian atau seluruh serviks. Melansir Hindawi Journal of Pregnancy, insiden plasenta previa adalah 3-5 per 1.000 kehamilan di seluruh dunia dan masih meningkat karena peningkatan angka operasi caesar.

Jika Moms memiliki plasenta previa di awal kehamilan, biasanya hal tersebut tidak menjadi masalah. Namun, bisa menyebabkan perdarahan serius dan komplikasi lain di kemudian hari.

Untuk membatasi pendarahan selama kehamilan, tim kebidanan mungkin akan merekomendasikan untuk menghindari aktivitas yang dapat menyebabkan kontraksi.

Hal ini termasuk berhubungan seks, douching, menggunakan tampon, atau melakukan aktivitas yang dapat meningkatkan risiko pendarahan, seperti berlari, jongkok, dan melompat.

Baca Juga: Plasenta Akreta Mempersulit Wanita Untuk Hamil Kembali

2. Plasenta Akreta

Gangguan plasenta bayi yang selanjutnya adalah plasenta akreta. Pada kehamilan tanpa kelainan plasenta, plasenta bayi biasanya terlepas dari dinding rahim segera setelah lahir.

Melansir Pregnancy Birth & Baby, saat plasenta tumbuh terlalu dalam ke dinding rahim, kondisi ini dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar selama atau setelah melahirkan dan dapat mengancam jiwa.

Jika kondisi ini didiagnosis selama kehamilan, pasien kemungkinan akan membutuhkan persalinan sesar dini diikuti dengan histerektomi. Plasenta akreta paling umum terjadi dari gangguan plasenta janin lainnya.

Bila Moms didiagnosis dengan plasenta akreta, bidan akan dialihkan ke tim spesialis dengan fokus khusus pada gangguan plasenta.

Tim ini terdiri dari spesialis kedokteran ibu-janin, urologi, onkologi ginekologi, radiologi intervensi, anestesi kebidanan, perawatan kritis, keperawatan, dan bank darah.

3. Placenta Inkreta dan Perkreta

Gangguan fungsi plasenta bayi yang selanjutnya adalah plasenta inkreta dan perkreta. Plasenta inkreta terjadi ketika plasenta bayi tumbuh setidaknya setengah jalan melalui dinding rahim dan menempelkan dirinya ke otot uterus. Dari semua kasus akreta, increta dan perkreta, plasenta inkreta terjadi sebanyak 15 persen.

Sementara itu, plasenta perkreta terjadi ketika plasenta tumbuh seluruhnya melalui dinding rahim.

Dalam beberapa kasus, jaringan plasenta akan terus tumbuh menjadi organ panggul di dekatnya, termasuk kandung kemih atau usus besar. Plasenta perkreta adalah jenis gangguan plasenta yang paling tidak umum, terjadi pada sekitar 5% dari semua kasus gangguan plasenta.

Baca Juga: 3 Tanda Pengapuran Plasenta Saat Hamil, Wajib Tahu!

Metode Pengeluaran Plasenta Bayi

cara mengeluarkan plasenta bayu

Foto: Orami Photo Stock

Setelah mengetahui fungsi plasenta bayi, Moms juga perlu memahami proses pengeluaan plasenta. Sebelum pengeluaran plasenta bayi, Moms akan mengalami kontraksi ringan yang berlangsung sekitar satu menit, kontraksi ini akan membantu memisahkan plasenta dari dinding rahim dan berpindah melalui jalan lahir sehingga Moms dapat mendorongnya ke luar.

Mengutip What to Expect, pada tahap selanjutnya, praktisi dapat melakukan beberapa cara berikut:

1. Menarik Tali Pusat

Tim medis dapat membantu mempercepat pengiriman plasenta dengan menarik tali pusat secara lembut dengan satu tangan sambil menekan rahim dengan tangan lainnya. Atau menekan dan mendorong bagian atas rahim ke bawah, dan meminta Moms untuk mendorong pada waktu yang tepat.

Tetapi bila Moms Anda melahirkan melalui operasi caesar, dokter akan mengangkat langsung plasenta bayi tersebut.

2. Pemberian Obat

Dokter akan memberikan beberapa oksitosin melalui suntikan atau pada IV untuk mendorong kontraksi rahim, yang akan mempercepat pengeluaran plasenta, membantu mengecilkan rahim kembali ke ukuran dan meminimalkan perdarahan.

3. Memeriksa Plasenta Setelah Dikeluarkan

Doktee akan memeriksa plasenta bayi untuk memastikannya utuh. Jika tidak, dokter akan memeriksa rahim secara manual untuk menemukan fragmen plasenta dan membuang yang tersisa.

Moms mungkin bisa merasa lapar dan haus terutama jika proses persalinan lama dan tidak bisa makan atau minum, serta mengalami berbagai macam emosi terutama kelegaan, kegembiraan, dan ketidaksabaran untuk melihat Si Kecil.

Itu dia Moms, informasi seputar fungsi plasenta dan hal-hal yang bisa diketahui tentang plasenta bayi dan bentuknya.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait