Kehamilan

18 Desember 2019

Kondisi Polihidramnion pada Janin: Penyebab, Dampak, dan Pengobatannya

Kondisi ini sangat jarang terjadi pada ibu hamil
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Dina Vionetta

Yuk, simak penjelasan tentang polihidramnion pada janin di bawah ini.

Ada satu kondisi di masa kehamilan yang relatif jarang terjadi, yaitu sekitar satu persen kehamilan. Kondisi tersebut dinamakan polihidramnion pada janin.

Menurut American Association of Pregnancy (AAP), polihidramnion terjadi ketika ada kelebihan cairan ketuban menumpuk di dalam rahim selama kehamilan.

Dalam kebanyakan kasus, dampak polihidramnion tidak berbahaya, tetapi bisa berpotensi menyebabkan komplikasi kehamilan yang serius. Ketahui penjelasan lebih lanjut tentang dampak polihidramnion pada janin berikut ini.

Baca Juga: Kebiasaan Saat Hamil Ini Meningkatkan Risiko Berat Badan Bayi Lahir Rendah

Penyebab Polihidramnion pada Janin

polihidramnion pada janin-1.jpg

Foto: mom.com

Menurut jurnal Geburtshilfe und Frauenheilkunde, penyebab umum polihidramnion pada janin meliputi diabetes gestasional, anomali janin dengan janin yang terganggu cairan ketuban, infeksi janin, dan penyebab lain yang lebih jarang.

Diketahuinya kondisi polihidramnion pada janin dengan melakukan pemeriksaan USG. Selain itu, menurut Mayo Clinic, penyebab polihidramnion pada janin lainnya termasuk hal-hal berikut ini:

  • Cacat lahir yang memengaruhi saluran pencernaan bayi atau sistem saraf pusat
  • Sindrom transfusi kembar, (kemungkinan komplikasi dari kehamilan kembar identik, di mana satu kembar menerima terlalu banyak darah dan yang lainnya terlalu sedikit)
  • Kekurangan sel darah merah pada bayi (anemia janin)
  • Ketidakcocokan darah antara ibu dan bayi

Tetapi, seringkali, penyebab dari polihidramnion pada janin ini tidak diketahui secara pasti.

Baca Juga: Epilepsi pada Masa Kehamilan: Penyebab, Gejala, Risiko, dan Pengobatannya

Dampak Polihidramnion pada Janin

polihidramnion pada janin-2.jpg

Foto: thebump.com

Jika polihidramnion pada janin terjadi dalam tingkat ringan, biasanya tidak menyebabkan komplikasi. Tetapi dalam kasus yang parah, ada risiko tertentu, termasuk:

  • Ketuban pecah dini
  • Lahir prematur
  • Kelebihan pertumbuhan janin
  • Risiko bayi sungsang (lebih banyak cairan, bayi dapat sulit untuk menundukkan kepala)
  • Solusio plasenta (plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum melahirkan)
  • Perdarahan postpartum
  • Prolaps tali pusat (tali rontok dari vagina sebelum bayi)
  • Malposisi janin
  • Kelahiran mati

Risiko ini akan bervariasi berdasarkan seberapa lama masa kehamilan dan seberapa parah kondisinya. Secara umum, semakin parah polihidramnion pada janin, semakin tinggi risiko komplikasi selama kehamilan atau persalinan.

Baca Juga: Mengenali Komplikasi Kehamilan Placenta Accreta, Harus Waspada!

Pengobatan Polihidramnion pada Janin

polihidramnion pada janin-3.jpg

Foto: mom.com

Mengutip website gerakan March of Dimes, dalam banyak kasus, kondisi polihidramnion pada janin yang ringan akan hilang dengan sendirinya. Ada juga yang akan menghilang ketika penyebabnya diperbaiki.

Misalnya, jika detak jantung bayi yang menyebabkan masalah, maka penyedia layanan kesehatan dapat memberikan obat untuk memperbaikinya.

Jika Moms memiliki polihidramnion pada janin, biasanya akan melakukan ultrasonik seminggu sekali atau lebih sering untuk memeriksa kadar cairan ketuban.

Memiliki terlalu banyak cairan ketuban dapat membuat seorang ibu tidak nyaman. Dokter mungkin memberikan obat yang disebut indometasin. Obat ini membantu menurunkan jumlah urin yang dihasilkan bayi, sehingga menurunkan jumlah cairan ketuban. Polihidramnion pada janin pun terhindarkan.

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait