Parenting Islami

19 Februari 2021

Ini Posisi Hubungan Suami Istri dalam Islam dan Adabnya, Catat!

Cari tahu mana yang diperbolehkan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Pernahkah Moms bertanya-tanya seperti apa posisi hubungan suami istri dalam Islam yang dianjurkan dan diperbolehkan? Yuk cari tahu jawabannya di sini.

Dengan kesempurnaannya, Islam mengatur semua aktivitas manusia. Mulai dari membuka mata di pagi hari, hingga menutup mata di malam hari untuk beristirahat. Bahkan hingga masuk ke masalah personal seperti hubungan suami istri.

Hubungan suami istri hadir bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis semata, tetapi juga menjadi pahala bahkan membuahkan manfaat bagi kesehatan. Salah satunya adalah hasil penelitian dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang menemukan bahwa hubungan seksual yang baik adalah setiap empat malam sekali.

Selain itu, hal yang sering menjadi pertanyaan pasangan suami istri adalah bagaimana posisi hubungan suami istri dalam Islam. Sebab, ada banyak posisi yang bisa digunakan saat berhubungan suami istri namun memberi keraguan apakah hal tersebut dibenarkan dalam Islam

Baca Juga: 7 Aktivitas Setelah Bercinta yang Semakin Hangatkan Hubungan Suami-Istri

Posisi Hubungan Suami Istri dalam Islam

Posisi Hubungan Suami Istri Dalam Islam -1

Foto: Orami Photo Stock

Bagaimana posisi hubungan suami istri dalam Islam? Dilansir Islam Pos, Islam membolehkan suami istri menggunakan beragam gaya atau posisi berhubungan intim sepanjang menuju ‘tempat yang benar’. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas:

“Umar datang menemui Rasulullah SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, binasalah aku.” Rasulullah bertanya: “Apa yang membinasakanmu?”. Umar menjawab: “Aku mengalihkan tungganganku tadi malam,” Rasulullah diam, tidak menjawab apapun. Kemudian turunlah ayat:

“Istri-istrimu adalah (laksana) tanah tempat bercocok tanam bagimu, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu sebagaimana saja yang engkau kehendaki,” (QS Al Baqarah: 223). (Rasulullah pun bersabda) “Engkau boleh dari depan atau belakang, tetapi jangan ke dubur dan saat haid.”

Berdasarkan hadis tersebut, Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Zaadul Ma’ad menerangkan bahwa posisi hubungan suami istri dalam Islam yang paling baik adalah saat suami berada di atas istri. Posisi ini juga menunjukkan kepemimpinan suami atas istrinya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan." (QS An Nisa’: 34).

Baca Juga: Sadari Pentingnya Koneksi Emosional Bagi Hubungan Suami Istri

Adab Posisi Hubungan Suami Istri dalam Islam

Posisi Hubungan Suami Istri Dalam Islam -2

Foto: Orami Photo Stock

Berhubungan suami istri termasuk urusan kehidupan yang penting. Termasuk posisi hubungan suami istri dalam Islam. Selain memberikan petunjuk mengenai posisi hubungan suami istri, Islam juga memiliki adab berhubungan yang harus dilaksanakan, karena hubungan intim bukan hanya sekedar kenikmatan dan penyaluran gairah seksual, tapi juga bernilai ibadah.

Rasulullah SAW menekankan hal ini agar manusia bisa menahan pandangan dan mampu mengaga diri dari sesuatu yang haram. Sebab, sesuatu yang halal dan mengandung pahala adalah melakukan hubungan intim dengan pasangan yang sah, yakni suami atau istri untuk menyalurkan hasratnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Wahai para pemuda, siapa yang mampu menikah diantara kamu semua, maka menikahlah. Karena ia lebih dapat menahan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Siapa yang belum mampu, hendaknya berpuasa, karena ia sebagai tameng.” (HR Bukhori dan Muslim).

Ada beberapa adab posisi hubungan suami istri dalam Islam, yakni:

Baca Juga: Demi Kesehatan, Ini 3 Hal yang Wajib dilakukan Wanita Setelah Berhubungan Seks

  • Niat. Ini dimaksudkan agar terhindar dari sesuatu yang haram. Berniat untuk memperbanyak keturunan dari umat Islam akan menjadi pahala terhadap perbuatan ini. Dari Abu Dzar RA sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Dalam kemaluan salah satu di antara kamu itu shodaqoh –maksudnya dalam berjima dengan istrinya- mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah satu diantara kita menyalurkan syahwatnya dia mendapatkan pahala? Beliau menjawab: “Apakah pendapat anda kalau sekiranya diletakkan pada yang haram, apakah dia mendapatkan dosa? Begitu juga kalau diletakkan yang halal, maka dia mendapatkan pahala.” (HR Muslim).
  • Melakukan foreplay. Misalnya dengan cumbuan, rayuan, permainan dan ciuman. Dahulu Nabi SAW juga melakukan hal tersebut. Hal ini juga dapat membedakan manusia dengan hewan yang hanya langsung melakukan hubungan.
  • Berdoa. Baik suami atau istri dapat membaca doa: “Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkan syetan dari kami dan jauhkan syetan dari apa yang Engkau rezkikan kepada kami. Rasulullah SAW bersabda: “Kalau Allah mentakdirkan diantara keduanya anak, syetan tidak akan (dapat) mencelakainya selamanya.” (HR Bukhori).
  • Diperbolehkan melakukan hubungan intim lewat qubul (kemaluannya) dari sisi mana saja. Baik dari depan atau belakang dengan syarat harus di kemaluannya. Rasulullah SAW bersabda: “Baik depan atau belakang selagi itu di kemaluannya (tidak apa-apa)." (HR Bukhori dan Muslim).
  • Tidak boleh lewat dubur. Rasulullah SAW bersabda: “Dilaknat orang yang mendatangi istrinya di duburnya.” (HR Ibnu Ady).
  • Jika suami ingin kembali berhubungan seks, dianjurkan berwudlu terlebih dulu. Rasulullah SAW bersabda: “Kalau salah satu di antara kamu telah mendatangi istrinya kemudian ingin mengulanginya, hendaknya dia berwudu di antara keduanya, karena hal itu lebih bersemangat dalam mengulanginya.” (HR Muslim).
  • Diperbolehkan mandi bersama. Aisyah RA berkata: “Dahulu saya mandi bersama Nabi SAW dalam satu bejana antara diriku dan dirinya. Bergantian tangan kami dan beliau mendahuluiku sampai saya mengatakan ‘Biarkan untukku, biarkan untukku’ berkata, “Keduanya dalam kondisi junub.” (HR Bukhori dan Muslim).
  • Diharamkan berhubungan intim saat istri sedang haid. Akan tetapi diperbolehkan bagi suami menikmati selain dari kemaluan, berdasarkan hadits daei Aisyah RA: “Dahulu Rasulullah SAW menyuruh salah satu di antara kita ketika haid agar memakai (pembatas) kain kemudian suaminya dapat menikmatinya.” (Muttafaq ‘alaihi).

Meski memiliki posisi hubungan suami istri dalam Islam yang terbaik, suami sitri bisa mengeksplor bagian tubuh lainnya untuk mendapatkan kepuasan, kecuali lewat dubur.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait