Trimester 3

25 Maret 2021

Yuk Kenali Pre Eklampsia saat Kehamilan dan Cara Mengatasinya!

Mengatasi pre eklampsia selama kehamilan merupakan perkara serius.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya Fiona
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Pre eklampsia ditandai oleh tekanan darah tinggi dan protein dalam urin, pertanda kesehatan ginjal yang memburuk.

Tidak semua orang mengalami gejala pre eklampsia, jadi penting untuk melakukan pemeriksaan prenatal secara teratur.

Pre eklampsia biasanya berkembang setelah usia kehamilan sekitar 20 minggu, tetapi ada faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan dokter merekomendasikan tindakan pencegahan sedini mungkin sejak 12 minggu.

Biasanya sembuh setelah bayi dilahirkan, tetapi ibu yang sudah mengalaminya harus menyadari peningkatan risiko masalah kardiovaskular di masa depan.

Meskipun jarang, wanita dapat mengalami tekanan darah tinggi dan tingginya protein urin hingga enam minggu setelah melahirkan, suatu kondisi serius yang dikenal sebagai pre eklampsia postpartum.

Baca Juga: Mengenal Hipertensi Pulmonal, Tekanan Darah Tinggi yang Terjadi di Paru-Paru

Penyebab Pre Eklampsia

penyebab-pre-eklampsia.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Penyebab pasti dari pre eklampsia tak tentu, namun ia melibatkan beberapa faktor. Mengutip dari Mayo Clinic, pre eklampsia terjadi dari plasenta, organ yang memberi makan janin selama kehamilan.

Di awal kehamilan, pembuluh darah baru berkembang dan berevolusi untuk mengirim darah ke plasenta secara efisien.

Pada wanita dengan pre eklampsia, pembuluh darah ini sepertinya tidak berkembang atau berfungsi dengan baik. Terjadi penyempitan pembuluh darah dan membatasi jumlah darah yang dapat mengalir melaluinya.

Penyebab perkembangan abnormal dalam kehamilan ini mungkin termasuk:

  • Aliran darah tidak mencukupi ke rahim
  • Kerusakan pembuluh darah
  • Masalah dengan sistem kekebalan
  • Genetik

Baca Juga: Program Hamil Kembar, Mulai dari Cara Alami Hingga Medis

Mengenal Pre Eklampsia Ringan

adult-belly-body-54289 (1).jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Pre eklampsia terjadi ketika ibu hamil memiliki tekanan darah tinggi serta protein dalam tubuh.

Gejala awal pre eklampsia adalah peningkatan tekanan darah. Tekanan darah yang melebihi 140/90 milimeter dapat menjadi indikasi pre eklampsia ringan atau berat.

Biasanya, pre eklampsia dikategorikan berdasarkan tingkat keparahannya, dan yang membedakan antara pre eklampsia ringan dan berat adalah tindakan pengobatannya.

pre eklampsia ringan dapat menyebabkan eklamsia, suatu kondisi serius yang dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi ibu dan bayi dan, dalam kasus yang jarang terjadi, menyebabkan kematian.

Tak jarang wanita dengan pre eklampsia nganrimengalami kejang.

pre eklampsia ringan ditandai dengan gejala:

Dokter mungkin akan memantau ibu hamil dengan pre eklampsia untuk mengetahui keadaan janin dan ibunya. Obat melalui saluran infus dilakukan untuk menurunkan tekanan darah atau dengan suntikan steroid.

Hal ini juga untuk membantu perkembangan paru-paru janin.

Dokter masih belum mengerti apa yang menyebabkan pre eklampsia. Namun, mereka tahu pasti gejala seperti apa yang harus diwaspadai oleh wanita hamil, kata Dr. Liona Poon, M.D., seorang profesor klinis di Universitas Cina Hong Kong yang penelitiannya sebagian berfokus pada pre eklampsia.

Perkiraannya bervariasi, tetapi pre eklampsia memengaruhi sekitar 3 persen kehamilan di Amerika Serikat, menurut analisis data senilai 30 tahun yang diterbitkan dalam jurnal BMJ pada 2013.

Kondisi tersebut dialami hingga 15 persen kehamilan.

Jika ibu hamil didiagnosis menderita pre eklampsia, Dr. Grobman berkata, “Ibu hamil tidak perlu khawatir. Nantinya, keadaan akan membaik. Saat ini, hal yang paling efektif untuk mengobati pre eklampsia adalah persalinan, baik diinduksi maupun operasi caesar. Kapan harus melahirkan, tergantung keadaan ibu dan umur kehamilannya. Kita juga harus memperhitungkan risiko kelahiran prematur," katanya.

Baca Juga: Ketahui Cara Mengatasi Pusing Saat Hamil dan Penyebabnya

Gejala Pre Eklampsia Berat

gejala-preeklampsia-berat.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Mengutip American Pregnancy Association, pre eklampsia berat tak jarang ada yang mengalami sakit kepala, penglihatan kabur, ketidakmampuan mentolerir cahaya terang, kelelahan, mual/muntah, buang air kecil sedikit, nyeri di perut kanan atas, sesak napas, dan kecenderungan mudah memar.

Pre eklampsia berat adalah masalah yang lebih serius.

Diagnosis pre eklampsia berat memerlukan gambaran dasar dari pre eklampsia ringan serta beberapa indikasi masalah baik pada ibu atau bayinya. Dengan demikian, salah satu temuan berikut juga diperlukan untuk diagnosis pre eklampsia berat:

  • Tanda-tanda masalah sistem saraf pusat (sakit kepala parah, penglihatan kabur, perubahan status mental)
  • Keterbatasan pertumbuhan janin yang parah
  • Tanda-tanda masalah hati (mual dan/atau muntah disertai sakit perut)
  • Tanda-tanda masalah pernapasan (edema paru, warna kebiruan pada kulit)
  • Stroke
  • Trombositopenia (jumlah trombosit rendah)
  • Tekanan darah sangat tinggi (lebih dari 160 sistolik atau 110 diastolik)
  • Output urin sangat rendah (kurang dari 500mL dalam 24 jam)

S. Ananth Karumanchi, MD Profesor Kedokteran, Harvard Medical School sedang berusaha mencari tahu dan mengembangkan terapi obat untukpre eklampsia. Temuan mereka dipublikasikan dalam jurnal Nature Biotechnology.

Dr. Moore, misalnya, menderita pre eklampsia berat hingga mengalami penurunan jumlah trombosit. Jika jumlah trombositnya turun di bawah ambang batas tertentu, darahnya tidak akan bisa membeku setelah dia melahirkan putrinya.

Jadi dokternya mengawasi dan hampir melakukan operasi caesar darurat pada umur kandungan 32 minggu.

Namun, pada akhirnya trombositnya stabil hingga kehamilan dapat diteruskan.

Baca Juga: Cara Mencegah Preeklamsia Berulang pada Kehamilan Berikutnya

Faktor Risiko Pre Eklampsia

preeklampsia-Hero.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Meskipun pre eklampsia tidak dapat didiagnosis sampai usia kehamilan sekitar 20 minggu, ada beberapa faktor risiko yang dicari oleh perawat kandungan pada trimester pertama. Berikut ini adalah daftarnya:

  • Pernah mengalami pre eklampsia sebelumnya
  • Memiliki saudara yang pernah mengalami pre eklampsia
  • Hamil di usia 40 tahun atau lebih
  • Hamil kembar
  • Kelebihan berat badan
  • Kehamilan pertama
  • Program bayi tabung

Grobman mengatakan bahwa, saat ini, semua dokter harus menilai riwayat medis pre eklampsia, jadi pastikan pengasuh kandungan mengenal kondisi ibu hamil dengan baik.

Para ahli bekerja untuk meningkatkan kualitas skrining untuk risiko pre eklampsia.

Mencegah Kondisi Pre Eklampsia

Pengobatan-pre-eklampsia.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Para peneliti terus mempelajari cara-cara untuk mencegah pre eklampsia, tetapi sejauh ini, belum ada strategi yang jelas muncul.

Namun Moms bisa menerapkan beberapa langkah dalam mencegah kondisi ini terjadi selama kehamilan.

Misalnya dengan makan sedikit garam saat kehamilan, membatasi kalori, atau mengonsumsi bawang putih atau minyak ikan.

Meningkatkan asupan vitamin C dan E serta vitamin lainnya juga penting untuk menjaga kesehatan janin dan ibu hamil.

Beberapa penelitian telah melaporkan hubungan antara kekurangan vitamin D dan peningkatan risiko pre eklampsia. Selain mengonsumsi suplemen untuk kebutuhan vitamin D, berjemur adalah cara alami dalam meningkatkan vitamin D dalam tubuh.

Baca Juga: 13 Cara Mengatasi Mual saat Hamil, Bye Morning Sickness!

Gangguan Tekanan Darah Tinggi saat Kehamilan

pre-eklampsia-ringan-berat.jpg

Foto: Oami Photo Stocks

Tekanan darah tinggi saat kehamila dapat memicu penyakit tertentu, tak hanya pre eklampsia.

pre eklampsia diklasifikasikan sebagai salah satu dari empat gangguan tekanan darah tinggi yang dapat terjadi selama kehamilan. Tiga lainnya adalah:

  • Hipertensi gestasional. Wanita dengan hipertensi gestasional memiliki tekanan darah tinggi tetapi tidak ada kelebihan protein dalam urin atau tanda-tanda kerusakan organ lainnya. Beberapa wanita dengan hipertensi gestasional akhirnya mengalami pre eklampsia.
  • Hipertensi kronis. Hipertensi kronis adalah tekanan darah tinggi yang terjadi sebelum kehamilan atau yang terjadi sebelum 20 minggu kehamilan. Tetapi karena tekanan darah tinggi biasanya tidak memiliki gejala, mungkin sulit untuk menentukan kapan mulainya.
  • Hipertensi kronis dengan pre eklampsia. Kondisi ini terjadi pada wanita yang telah didiagnosis dengan tekanan darah tinggi kronis sebelum kehamilan, tetapi kemudian terjadi tekanan darah tinggi dan protein yang memburuk dalam urin atau komplikasi kesehatan lainnya selama kehamilan.

Baca Juga: Mengenal Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS), Salah Satu Risiko Komplikasi pada Kehamilan Kembar

Nantinya, setelah bayi lahir, gejala pre eklampsia akan hilang. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, kebanyakan wanita akan kembali normal tekanan darahnya 48 jam setelah melahirkan.

Bagi kebanyakan wanita dengan pre eklampsia, gejalanya akan berangsur hilang dan fungsi hati dan ginjal kembali normal dalam beberapa bulan.

Namun, dalam beberapa kasus, tekanan darah dapat meningkat kembali beberapa hari setelah melahirkan.

Untuk kasus seperti ini, perawatan lanjutan dengan dokter dan pemeriksaan tekanan darah rutin penting bahkan setelah bayi lahir.

Nah, itulah serba-serbi mengenai pre eklampsia ringan dan berat. Lebih baik dicegah dengan gaya hidup yang sehat, ya. Gaya hidup yang sehat dapat memperkecil risiko penyakit ini.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait