COVID-19

8 April 2021

Pria Filipina Meninggal Dunia, Dihukum Squat Jump 300 Kali Karena Langgar Aturan Lockdown

Bukan pertama kali Filipina berlakukan penyiksaan kepada pelanggar aturan lockdown
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Teti
Disunting oleh Amelia Puteri

Dalam mengatasi pandemi COVID-19, setiap negara memiliki aturan yang berbeda sebagai upaya pencegahan kasus COVID-19.

Namun baru-baru ini, seorang pria Filipina bernama Darren Manaog Penaredondo meninggal setelah dihukum melakukan squat jump 300 kali oleh polisi karena melanggar aturan karantina COVID-19.

Sebagai informasi, pemerintah Filipina menerapkan aturan ketat pembatasan di Provinsi Cavite, Pulau Luzon, untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Namun Marlo Solero, kepala polisi Kota General Trias, mengatakan tidak ada hukuman fisik bagi orang yang ketahuan melanggar jam malam, hanya pengarahan saja dari petugas.

Dia mengatakan kepada media lokal, jika ada petugas ketahuan menjatuhkan hukuman kepada pelanggar maka itu tidak dibolehkan, seperti yang dikutip dari bbc.com.

Simak kronologinya berikut ini.

Baca Juga: Antibodi dari Vaksin COVID-19 Terdeteksi di ASI, Si Kecil Berpotensi Kebal COVID-19!

1. Pergi Keluar untuk Membeli Air

pria Filipina meninggal.jpg

Foto: viralpress.com

Pihak keluarga mengatakan Penarodondo dihentikan polisi ketika hendak membeli air pukul 18.00 waktu setempat di Provinsi Cavite pada Kamis lalu. Sehari setelah dihukum, dia pingsan dan kemudian meninggal.

Kerabat Penaredondo, Adrian Lucena, mengumumkan kematian pria itu di Facebook. Dia mengatakan kerabatnya itu dan juga orang lain yang melanggar jam malam disuruh melakukan squat jump 100 kali secara bersamaan.

Jika mereka gagal melakukannya, maka hukuman diulang lagi dari awal. Sekelompok pria itu akhirnya melakukan sampai 300 kali squat jump.

Lebih lanjut kakaknya menerangkan, bahwa Penaredondo kemudian pulang ke rumah pukul 06.00 pada hari Jumat dengan kesakitan. Kekasihnya mengatakan kepada media lokal, Rappler, bahwa pacarnya itu berusaha keras untuk bergerak sepanjang hari.

"Seharian itu dia kepayahan untuk berjalan, dia hanya bisa merangkak. Tapi saat itu saya tidak terlalu menganggapnya serius karena dia bilang badannya cuma pegal-pegal," kata Reichelyn Balce.

Sehari kemudian dia pingsan dan berhenti bernapas. Balce meminta tolong tetangganya untuk menyelamatkan kekasihnya, tapi sayangnya ia telah meninggal dunia.

Baca Juga: Shalat Tarawih di Luar Rumah Dibolehkan Selama Ramadhan 2021, Dengan Persyaratan

2. Kasus Akan Diselidiki Lebih Lanjut

polisi pilipin bbc.jpg

Foto: bbc.com

Ony Ferrer, Walikota General Trias memerintahkan kepala polisi untuk menyelidiki kejadian ini. Dia menyebut dugaan hukuman fisik semacam itu adalah "penyiksaan."

Lebih lanjut, Ferrer mengatakan dia sudah menghubungi keluarga Penaredondo.

Baca Juga: Varian Virus Corona Baru di Inggris dengan 17 Mutasi dan Lebih Menular, Ini 5 Faktanya

3. Bukan Kasus Penyiksaan Pertama

Rodrigo Duterte bbc.jpg

Foto: bbc.com

Awal bulan ini, kelompok pembela hak asasi Human Rights Watch (HRW) mengatakan, para pelanggar aturan lockdown di Filipina mengalami penyiksaan.

HRW menuturkan ada sejumlah kasus ketika polisi dan pejabat setempat menghukum warga masuk ke kandang anjing atau dipaksa duduk di tengah panasnya sinar matahari.

Dalam pidato yang disiarkan televisi Kamis lalu, Presiden Rodrigo Duterte mengancam warga yang melanggar aturan lockdown.

"Saya tidak akan ragu. Perintah saya kepada polisi dan tentara, juga pejabat desa, kalau ada masalah atau ada pelanggaran dan nyawa Anda terancam maka tembak mati mereka," kata Duterte.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait