Kesehatan Umum

6 September 2021

7 Langkah Proses Autopsi untuk Mengetahui Penyebab Kematian

Dilakukan oleh dokter forensik
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya Fiona
Disunting oleh Widya Citra Andini

Istilah autopsi mungkin tak asing lagi dan sering kita dengar, baik di berita televisi ataupun ketika menonton film kriminal.

Namun secara umum, kita jarang tahu proses dari autopsi ini sendiri. Apakah semua jasad atau mayat perlu melakukan rangkaian ini? Kalau tidak, apakah ada kriteria tertentu yang diperlukan melakukan ini?

Serta bagaimana proses dari pembedahan yang dilakukan oleh dokter ahli ini?

Mari ketahui bersama prosedur dan proses autopsi mayat secara umum. Simak, Moms!

Proses Autopsi Mayat

Proses Autopsi Mayat.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Sebelum mengetahui prosesnya, ada baiknya mengetahui pengertian dari proses pembedahan ini.

Melansir studi ilmiah dalam Live Science, autopsi atau otopsi adalah pemeriksaan medis terhadap tubuh dan organ seseorang yang telah meninggal dunia.

Melansir National Health Services, tujuan dalam melakukan prosedur ini untuk mengetahui penyebab dan cara ia meninggal dunia.

Umumnya dilakukan untuk mayat yang mengalami:

  • kematian tidak terduga, seperti kematian bayi secara mendadak
  • korban kekerasan yang tidak wajar atau mencurigakan, seperti bunuh diri atau overdosis obat
  • kecelakaan tertentu
  • penyebab kematiannya tidak diketahui

Dalam melakukan otopsi ini, perlu persetujuan dari pihak keluarga yang berwenang.

Baca Juga: Pemeriksaan Mammografi, Ini yang Harus Diketahui!

Nah, berikut tahapan serta proses dalam autopsi secara umum.

1. Pemeriksaan Fisik

Proses otopsi dimulai dengan pemeriksaan tubuh yang cermat. Hal ini untuk mengetahui identitas fisik serta menemukan bukti dari penyebab kematian yang tak diketahui.

Pemeriksaan fisik pada mayat meliputi:

  • Mengukur tinggi tubuh.
  • Mencatat karakteristik mata, panjang rambut, dan kulit.
  • Mengetahui jenis kelamin dan usia.

Berbagai bekas luka di sekitar tubuh juga dicatat sebagai bagian dari proses autopsi dalam pemeriksaan fisik.

2. Pemeriksaan Organ Dalam

Autopsi Proses Organ Dalam.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Dalam beberapa kasus, pemeriksaan internal atau organ dalam diperlukan dalam proses autopsi.

Ini adalah langkah pemeriksaan untuk melihat kondisi organ dalam pada tubuh mayat tersebut.

Organ dalam pada hal ini meliputi paru-paru, jantung, ginjal, pankreas, hati, lambung, dan otak jika diperlukan.

Sementara organ dalam pada wajah, tangan, kaki, ataupun lengan termasuk yang jarang diperiksa.

Proses otopsi ini untuk melihat apakah ada kerusakan pada organ dalam yang menjadi penyebab kematian.

3. Pembedahan Organ Dalam

Memang, tak semua membutuhkan proses ini dalam autopsi. Namun, sebagian kasus diperlukan pengangkatan organ untuk tujuan tertentu.

Melansir College of American Phatologists, cara paling umum untuk mengeluarkan organ dikenal sebagai metode Rokitansky.

Metode ini melibatkan mengeluarkan semua organ dalam secara sekaligus oleh dokter ahli.

Artinya, jantung, paru-paru, hati, ginjal, dan limpa dikeluarkan dalam satu kali dan kemudian dibedah di atas meja otopsi.

Pembedahan organ dilakukan untuk mengumpulkan sampel kecil jaringan organ untuk pemeriksaan lebih lanjut dengan mikroskop.

Baca Juga: Mengenal Imunoterapi, Pengobatan dan Harapan Baru Kanker Paru

4. Pengangkatan Otak

proses-autopsi-untuk-mayat.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Seperti diketahui sebelumnya, otak menjadi salah satu organ yang cukup penting dalam proses autopsi.

Untuk beberapa kondisi penyakit, diperlukan pemeriksaan otak untuk diobservasi lebih dalam.

Organ otak ini dikeluarkan untuk pemeriksaan jaringan, cairan yang dapat mengenali penyebab kematian yang tak diketahui.

Meski begitu, tak semua membutuhkan proses pengangkatan otak ya, Moms.

5. Pengembalian Organ Tubuh

Setelah semua organ diperiksa dan diambil sampel, para dokter forensik kembali meletakkan organ-organ tersebut ke dalam tubuh mayat.

Kemudian, proses autopsi selanjutnya tubuh akan dijahit kembali dengan utuh.

Beberapa kondisi, organ dalam yang tak layak lagi untuk 'dikembalikan' akan disimpan di tempat tertentu (atas persetujuan keluarga).

Proses pemerikaan dan pengambilan sampel sebelumnya akan membutuhkan beberapa waktu.

6. Menunggu Hasil Lab

Proses Autopsi Secara Umum

Foto: Orami Photo Stocks

Pengujian sampel dibutuhkan berdasarkan jaringan dan cairan tubuh seperti darah dari proses autopsi.

Melansir Johns Hopkins Medicine, proses autopsi biasanya memakan waktu 1 hingga 2 jam saja.

Yang lama adalah hasil observasi dari lab yang memeriksanya untuk mengetahui penyebab kematian tersebut. Bisa beberapa hari hingga berminggu-minggu.

7. Proses Pemakaman

Setelah otopsi selesai, jenazah atau mayat dapat diambil oleh pihak keluarga untuk melanjuti proses pemakaman.

Jika beberapa organ disimpan untuk pengujian lebih lanjut, pemakaman mungkin perlu ditunda selama beberapa hari atau minggu.

Hal ini apabila keluarga ingin tubuh mayat utuh sebelum dimakamkan atau dikremasi.

Dalam hal ini, pihak pemakaman bisa membuat kesepakatan dengan rumah sakit untuk waktu yang ditentukan.

Baca Juga: 11 Contoh Kuku yang Tidak Sehat, Bisa Jadi Tanda Anemia Hingga Penyakit Jantung

Mengenal Jenis-Jenis Autopsi

Jenis-Jenis Autopsi

Foto: Orami Photo Stocks

Setelah mengetahui prosesnya, tak kalah penting untuk tahu jenis-jenis prosedur autopsi itu sendiri.

Berikut beberapa jenis dan istilah autopsi yang sering dipakai, antara lain:

1. Otopsi untuk Hukum

Dikenal juga sebagai coroner autopsy, merupakan kondisi ketika petugas berwajib seperti polisi membutuhkan penyebab kematian seseorang.

Misalnya, jika orang tersebut dibunuh atau kematiannya cukup mencurigakan.

Autopsi jenis ini paling sering digunakan untuk korban kecelakaan atau korban kekerasan guna mengetahui penyebab pasti kematiannya.

Perlu persetujuan dari pihak keluarga sebelum melakukan otopsi koroner ini.

Biasanya hasil dari proses autopsi ini diperlukan sebagai barang-barang bukti ke jalur hukum selanjutnya.

2. Otopsi Medis

Jenis autopsi selanjutnya yakni yang berkaitan dengan medis atau klinis seseorang.

Tujuan otopsi berkaitan medis ini untuk mengetahui penyebab kematian mendadak yang diderita dari orang tersebut. Biasanya ada indikasi penyakit tertentu yang menyertainya.

Jika tidak setuju melakukan ini, pihak keluarga berhak menolak untuk melakukan proses pembedahan organ. Tak ada paksaan di dalam proses otopsi medis.

Kalaupun mereka menyetujuinya, ada batasan yang boleh dipilih oleh pihak keluarga. Misalnya sampel organ tertentu yang hanya boleh distudi lebih lanjut.

Baca Juga: Tanpa Operasi, Simak 12 Masker Payudara Hingga Cara Membuat Masker Payudara Alami

3. Otopsi untuk Akademis

Jika Moms pernah melihat film yang berkaitan dengan medis atau dunia kedokteran, tentu istilah ini tak asing lagi.

Jenis otopsi ankademis biasanya diperuntukkan bagi mahasiswa kedoktera yang sedang menempuh pendidikan.

Misalnya, untuk pembelajaran anatomi tubuh manusia atau pada saat belajar ilmu forensik.

Autopsi jenis ini tentu dilakukan dengan pengawasan dari dokter pengajar.

Tentunya, tubuh yang digunakan untuk proses ini tak bisa sembarang. Hanya dibolehkan untuk beberapa kondisi tertentu saja yang sesuai kesepakatan.

Dalam beberapa kasus, proses autopsi tak serta merta dapat mengetahui penyebab kematian yang mencurigakan.

Perlu investigasi lebih lanjut yang meliputi seseorang meninggal secara tidak wajar.

Untuk itu, biasanya autopsi bukanlah suatu tindakan yang utama dalam mengetahui penyebab kematian.

Perlu pemeriksaan lainnya yang berkaitan untuk mengungkap alasan yang mendasar terkait kematian mendadak.

Nah, itu dia penjelasan berkaitan proses autopsi atau pembedahan jenazah berserta jenis-jenisnya. Sekarang jadi lebih paham ya, Moms!

  • https://www.livescience.com/32789-forensic-pathologist-perform-autopsy-csi-effect.html
  • https://www.nhs.uk/conditions/post-mortem/
  • https://webapps.cap.org/apps/docs/store/PUB119_IntroAutopsy_Sample.pdf
  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/autopsy
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait